*Without consistency, there is no moral strength (John Owen)

* Consistency is the foundation of virtue (Francis Bacon)

IMG-20180316-WA0047

Sekelompok mahasiswa   terlihat berwajah gundah menunggu saya yang masih rapat secara estafet. Hari itu memang penuh dengan kegiatan yang judulnya ‘rapat’. Di saat rehat, mahasiswa ini segera mengejar dan menjejali langkah saya. Mereka terlihat ingin menyampaikan banyak hal.

Saya mencoba memberi ruang agar mereka dapat menumpahkan kegundahan itu. Akan tetapi, waktu yang singkat sepertinya tidak cukup. Saya kemudian menawarkan waktu setelah rapat selesai dengan harapan mereka akan merasa terbantu setelah menyampaikan apa yang dirasa.

Sore saat  keluar dari ruangan rapat, saya lihat mahasiswa tadi masih menunggu bahkan dengan jumlah yang lebih banyak. Karena sudah beranjak petang, saya pikir yang lainnya hanya menemani temannya. Rupanya perkiraan saya keliru. Mereka semua datang untuk tujuan yang sama.

Duduk bersama mahasiswa yang berkeinginan agar saya mau mendengar dan membantu mencarikan solusi  bagi persoalan mereka adalah ‘sesuatu banget’. Hampir dua jam mendengar curhatan mahasiswa membuat saya  tidak bisa banyak berkomentar. Selain menyesak di dada, apa yang mereka ceritakan membuat saya sangat sedih dan memicu timbulnya pertanyaan yang saya sendiri tidak memiliki jawab dan tidak mampu menjawabnya. Salah satunya adalah konsistensi dalam ketidakkonsistenan.

IMG-20180319-WA0091

Konsisten dalam Cambridge Oxford Dictionary diartikan sebagai tidak berubah atau selalu bertindak atau terjadi secara sama. Selain itu, kata konsisten ini juga bermakna suatu kegiatan yang dilakukan terus menerus dengan benar tanpa keluar dari koridor atau jalur yang sudah ditetapkan.

Dari kedua definisi ini dapat ditarik benang merah bahwa dalam konsistensi itu ada sebuah ketetapan dengan bertahan di jalur yang ada untuk sesuatu yang benar. Bagaimana dengan inkonsistensi atau ketidakkonsistensian?

Inkonsistensi merupakan antonim dari konsistensi. Artinya dalam inkonsistensi terdapat ketidakpatuhan atas aturan dengan perilaku berubah-rubah dan keluar dari koridor. Apa yang terjadi jika konsistensi terjadi dalam ketidakkonsistensian atau inkonsisten?

Inilah yang saya sebut dengan mencla-mencle (Singgalang, 2016). Dalam ketidakkonsistenan ada ketidaklurusan. Ketidaklurusan inilah yang berujung pada tidak jelas dan tidak tegasnya sebuah kegiatan dilakukan.

Fenomena inilah yang banyak ditemukan dalam realitas terkini. Apa yang terjadi pada mahasiswa saya tersebut bukanlah baru pertama kali terjadi. Ada banyak kejadian serupa sebelumnya. Tidak tertutup kejadian ini juga akan terjadi di masa yang akan datang. Karena pembenaran dari sebuah kesalahan bukanlah sesuatu yang dapat berterima. Akan tetapi pembenaran itu justru menjadi preseden sehingga berlaku umum dan akhirnya menjadi kebiasaan.

Sebuah tulisan saya baca mengenai sikap permisif yang bersifat masiv. Sikap permisif ini dianggap tidak keluar dari jalur yang kemudian menjadi pembiasaan. Pembiasaan untuk ketidakbenaran dapat menyebabkan ketidakbenaran ini akhirnya menjadi benar.

Apakah ini yang kita harapkan?

Ranah pendidikan adalah salah satu wilayah dimana pembiasaan dibangun. Mulai dari pendidikan pra sekolah, anak-anak diajarkan dan dididik untuk melakukan sesuatu yang memenuhi aturan serta norma agama dan sosial. Bahkan, dalam diri anak-anak ditanamkan pendidikan berkarakter (Revita, 2017).

Dalam pendidikan berkarakter ini seorang anak dibentuk untuk memenuhi kriteria yang diharapkan.  Ibarat sebuah cetakan, anak akan terbentuk sesuai dengan format cetakan yang ada. JIka cetakannya berbentuk bulat, maka anak akan jadi bulat, semikian pula jika cetakannya segi empat tidak mungkin anak akan menjadi segitiga atau trapesium.

Siapa yang melakukan semua ini?

Ada guru di sekolah, dosen di perguruan tinggi, orang tau di rumah, dan masyarakat lingkungan. Keemua lini ini  bertanggungjawab atas pembentukan karakter anak.

Dalam beberpa referensi yang saya baca, karakter itu adalah sesuatu yang sudah mendarah daging. Berbeda halnya dengan watak yang dibawa sejak lahir. Watak yang dipertahankan  akan berubah menjadi karakter. Dengan kata lain, karakter ini melekat erat dan menjadi bagian dari jiwa/pribadi seseorang.

Karakter ini saya sebut juga sebagai budaya. Jika sesuatu yang sudah baik sudah menjadi karakter maka sesuatu yang baik ini juga dapat dikatakan sudah membudaya. Membangun sesuatu yang berkarakter atau berbudaya tidaklah mudah. Diperlukan waktu yang tidak pendek dan effort yang tidak sederhana. Di sinilah peran konsistensi.

Ketika mendengar keluhan seorang sahabat mengenai apa yang dirasakan dan beban yang harus dihadapi, tanpa sadar saya mengatakan bahwa sekeras-keras batu kalau senantiasa disiram dengan air, tidak tertutup kemungkinan batu itu perlahan-lahan akan berlubang, meskipun hanya berupa tetesan air.

Tetesan air jika dilihat secara harfiah, sering diabaikan dan direndahkan. Banyak orang yang menganggap tetesan atau rembesan air sebagai sesuatu yang tidak penting dan tidak membahayakan. Satu hal yang dilupakan adalah saat tetesan dan rembesan air ini sudah berkumpul maka kumpulan air akan memiliki daya yang sangat luar biasa. Kumpulan air  ini dapat menghancurkan rumah, gedung, bahkan sebuah wilayah yang luas.

Tetesan air merupakan analogi dari perjuangan untuk membangun karakter tadi. Ada beberapa pesan yang terimplikasi dari analogi ini. Pertama, jangan pernah menyerah untuk berjuanag dalam kebaikan meskipun harus melawan arus deras sekalipun. Kedua, sesuatu yang dikerjakan secara berulang dan konsisten pasti akan menghasilkan sesuatu. Usaha tidak akan pernah membohongi hasil. Apa yang dilakukan tidak pernah terjadi begitu saja tetapi hasil dari sebuah proses.

Ketiga adalah konsisten merupakan sesuatu yang perlu dipertahankan karena di situ ada wujud disiplin dan kukuh dengan pendirian. Orang yang tidak disiplin adalah orang yang tidak kukuh dengan pendirian dan sudah kalau tidak kukuh dengan pendirian sudah pasti tidak konsisten yang menyebabkan menjadi mencla-mencle.

Apa jadinya jika ketidakkonsistenan ini dipertahankan oleh seorang pengambil keputusan?

Jawabnya sudah pasti berbahaya karena perilaku tidak konsisten identik dengan tidak jujur. Lain di muka dan lain pula di belakang. Sekarang mengatakan A dan sebentar lagi berkata B. PAda si Anu menceritakan X tetapi ke si Badu cerita yang sama berubah menjadi Y.

Bahaya itu jika hanya berefek pada diri sendiri konsekuensinya mungkin tidak seberapa. Yang ironis adalah ketika melibatkan orang banyak dan masa depan orang lain. Betapa banyak korban yang jatuh. Apalagi ketidakkonsistenan ini bertemali dengan ketidaktahuan.

Dalam sebuah artikel yang ditulis Revita di Singgalang (2018) dikatakan menjadi imam tidaklah mudah karena makmum akan menjadi tanggungjawabnya dan kesalahan imam pasti diikuti oleh makmum. Dengan kata lain, ketidakkonsistensian janganlah sampai dilakukan oleh seorang imam karena kata imam dapat dikategorikan sebagai kata ‘sakti’ yang berlaku pada umat.

Itulah sebabnya Rasulullah mengatakan bahwa ketika kiat salah dalam memilih imam atau pemimpin maka tunggu sajalah kehancuran. Artinya, ketika imam yang dipilih tidak konsisten, maka jalan yang diikuti tidak lagi di dalam jalur tetapi sudah keluar. Kalau itu dikerjakan dengan konsisten, kehancuran sudah menanti.

Semoka kita dijauhi dari sikap tidak konsisten. Aaamiin.

 

 

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris

FIB Unand

Sudah dimuat di Harian Singgalang, 12 Agustus 2018 Hal. A-5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation