Tulisan ini terinspirasi ketika saya datang dan hadir sebagai penguji skripsi di sebuah jurusan di kampus.  Dalam diskusi, muncullah pernyataan dari seorang kawan ‘membina tetapi tidak membinasakan’. Pernyataan ini kemudian membuat saya tertawa karena ada beberapa konteks yang menggiring saya pada sebuah inferensi.

IMG-20180101-WA0057

Untuk memastikannya, saya pun menanyakan maksud dari pernyatan tersebut. Ulasan dari kawan ini rupanya tidak jauh berbeda dengan apa yang saya simpulkan. Ada dua kata kunci yang bisa dijadikan panduan. Pertama adalah ‘membina’ dan kedua adalah ‘membinasakan’.

Dalam KBBI (2012), kata membina diartikan membangun, mendirikan, atau mengupayakan menjadi lebih baik. Dari ketiga makna membina ini terlihat makna positif karena ada unsur perbaikan ke arah yang lebih baik.

Misalnya, ketika seseorang melakukan kesalahan, maka dilakukan pembinaan. Dengan kata lain, orang itu dibina agar dia tidak lagi melakukan kesalahan. Orang ini diarahkan dan ditunjukkan  ke  arah yang benar.

Selain itu, ada juga membina yang sifatnya agar sesuatu yang sudah baik meningkat menjadi lebih baik. Contohnya adalah seorang anak yang memiliki talenta musik. Kemampuan yang dimilikinya kemudian dibina agar terasah dan menjadi lebih baik. Muaranya adalah anak ini akan menjadi pemusik yang hebat dan handal.

Uraian di atas jelas memperlihatkan bahwa membina itu mengandung makna positif. Ada unsur-unsur positif atau kebaikan yang dibangun sehingga muaranya adalah kebaikan.

Apakah ada membina yang tidak positif?

Inilah yang dinamakan ‘membinasakan’.

Membinasakan secara semantis bermakna merusak,  menghancurkan, memusnahkan, atau membunuh sampai habis. Aktivitas membinasakan kontradiktif dengan membina, walau hanya dibedakan oleh bunyi ‘sakan’.

Contoh dari membinasakan misalnya ketika ada rumput liar tumbuh di sela-sela rumput yang sengaja ditanam di taman sebagai tanaman hias. Rumput liar ini harus dibinasakan karena tidak  hanya merusak pemandangan tetapi juga dapat membunuh tanaman hias ini. Artinya, rumput liar ini harus dibinasakan atau dibunuh habis agar tidak mengganggu.

Kalau yang dibinasakan adalah rumput liar dan dianggap mengganggu, sepertinya tidak salah. Yang menjadi masalah adalah ketika membinasakan dilakukan pada sesuatu yang seyogyanya menjadi tanggung jawab kita untuk dibina. Contohnya adalah anak.

Sebagian besar orang berpendapat bahwa tidak akan mungkin orang tua membinasakan anaknya. Yang ada adalah membina. Akan tetapi, kenyataannya adalah begitu banyak informasi dan berita di media masa yang menggambarkan orang tua menyakiti anaknya yang terkategori membinasakan. Si orang tua ini berbuat yang  kemudian malah merusak anaknya.

Misalnya, kasus anak yang dijual orang tua kandungnya untuk kemudian dijadikan pemuas nafsu laki-laki. Dalam riset yang dilakukan Revita (2016) disebutkan persoalan ekonnomi atau rendahnya tingkat pendidikan menjadikan orang tua nekat memperdagangkan putri kandungnya.

Hati mereka seperti sudah beku dan membatu saat transaksi dilakukan untuk anak yang pernah dikandungnya selama 9 bulan, dilahirkan, disusui, dan mungkin dengan susah payah dibesarkan.

Tidak hanya itu, ada juga orang tua yang tega mencelakakan anaknya dengan cara menodai dan memperkosa (Singgalang, 2017). Orang tua (bapak) rutiang ini dikatakan berhati binatang karena dengan buas dan tidak berperikemanusiaan menghancurkan masa depan anak gadisnya. Kalau pun dibandingkan dengan binatang, masih banyak hewan yang punya naluri untuk melindungi dan membina anaknya, tidak membinasakan.

Bagaimana dengan orang-orang yang diamanahi mendidik atau mengisi otak anaknya?

Apakah mereka ada yang berperilaku membinasakan?

Jawabnya adalah ada.

Sebuah kejadian membat saya sangat miris dan sedih. Kejadian di ranah pendidikan. Dalam pemahaman saya, ranah pendidikan itu adalah tempat dimana seseorang dibentuk melalui pembinaan berdasarkan capaian-capaian yang didisain institusi tertentu. Setiap institusi memiliki disain yang beragam tetapi memiliki payung yang sama. Apakah itu Diknas atau Ristekdikti.

Orang-orang yang diberi amanah ini berada dalam suatu koridor aturan yang memiliki tujuan sama, yakni mencerdaskan bangsa. Mencerdaskan bangsa melalui dunia pendidikan.

Dunia pendidikan pasti berhubungan dengan hal-hal yang sifatnya mendidik. Jika ditinjau makna mendidik itu dalam KBBI (2012) disebutkan sebagai memelihara dan memberi ajaran tentang akhlak dan kecerdasan pikiran. Dengan kata lain, dalam mendidik tidak hanya aspek kognitif yang diajarkan tetapi juga afektif dan psikomotorik.

IMG-20171230-WA0041

Mengajarkan aspek kognitif dirasa tidaklah terlalu sulit karena sifatnya hard skill. Berbeda halnya dengan aspek afektif, seperti akhlak atau soft skill, diperlukan keahlian khusus untuk mengajarkannya. Dalam beberapa referensi yang saya baca, pendidikan akhlak ini tidak diajarkan tetapi dicontohkan. Artinya, seorang guru atau dosen harus menjadi model bagi anak didiknya.  Itulah sebabnya ada ungkapan ‘Guru kencing berdiri, murid kencing berlari’.

Jika pendidik memberikan contoh yang keliru, tidak hanya ditiru oleh anak didiknya tetapi dikembangkan menjadi lebih buruk lagi. Sebuah artikel Revita yang dimuat di Harian Singgalang tahun 2017  menyampaikan hal yang berbeda. Yang kencing berlari adalah gurunya, sementara murid hanya kencing berdiri.

Kenapa hal demikian sampai terjadi?

Ada banyak hal yang melatarbelakangi kejadian ini. Salah satunya adalah lemahnya pemahaman tentang konsep mendidik yang sudah pasti harus membina sifatnya, bukan membinasakan.

Tidak jarang saya mendengar ketika seorang pendidik melontarkan kata-kata yang tidak pas. Tidak hanya itu, perbuatan dan perilakunya pun sangat tidak sejalan dengan label ‘guru’ atau ‘dosen’ yang melekat pada dirinya.

Dalam beberapa kali pelatihan yang saya berikan, seorang dosen itu adalah motivator dan fasilitator bukannya ‘pembunuh karakter’.

Melalui ucapan dan perbuatan, tidak jarang saya mendengar seorang dosen melabeli mahasiswa dengan kata-kata yang menurut saya tidak pantas, misalnya ‘bodoh’ atau ‘sampah’. Ketika mendengar label seperti ini, secara iseng saya melakukan observasi kecil-kecilan terhadap respon mahasiswa tatkala mereka diberi label tersebut.

Yang jelas, mahasiswa ini sangat tidak nyaman. Siapa pun, tidak hanya mahasiswa, seorang anak kecil pun yang dianggap tidak mengerti apa-apa pasti akan tidak suka jika diberi label yang tidak pantas. Apalagi seorang mahasiswa yang nota benenya adalah manusia dewasa yang diperlakukan dengan cara pendidikan orang dewasa (andragogi) bukannya pedagogi.

Ini adalah salah satu bentuk tindakan yang membinasakan. Ada pembunuhan karakter di situ yang tidak tertutup bermuara pada membinasakan kepribadian dan mental.

Ini adalah realita. Yang pasti, apa pun alasannya, perilaku membinasakan untuk sesuatu yang harusnya membina adalah tidak berterima.  Konsekuensi yang terjadi tidaklah sederhana. Apalagi jika dilakukan oleh orang-orang yang diberi amanah untuk mengisi otak dan hati. Semua perbuatan pasti ada pertanggungjawaban dan itu mutlak.

Semoga kita terlindungi dan tidak menjadi seorang pembunuh berdarah dingin yang dengan tanpa merasa bersalah membinasakan anak-anak yang seharusnya kita didik dan kita diberi amanah untuk mendidik mereka.

 

 

 

 

 

Penulis adalah Dosen Jurusan Sastra Inggris

FIB Unand

Sudah dimuat di Harian Singgalang, 5 Agustus 2018, Hal A-5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation