Terakhir berkunjung ke Palembang di akhir tahun 2017 membuat saya tidak  surprised karena sebelumnya Palembang  merupakan daerah yang sering dikunjungi untuk berlibur. Begitu mendarat di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, saya langsung bertemu dengan miniatur jembatan ampera. Beberapa orang terlihat berfoto berlatarbelakang miniatur jembatan ampera ini.

palembang2Sepanjang jalan menuju pintu ke luar, berbagai macam songket tenunan asli Palembang terpampang dalam etalase. Pemandangan ini juga dapat digunakan untuk memperkaya pengetahuan dan melihat beberapa pilihan jika ingin berbelanja songket asli Palembang.

Perjalanan menuju hotel serasa membuat saya merasa tidak seperti di Palembang. Jalan yang sangat macet, sempit, dan berdebu terasa semakin kental karena sedang dilakukannya pembangunan jalur kereta api listrik. Rasa penasaran dengan kondisi Kota Palembang terkini membuat saya meminta sopir untuk bergerak menuju ikon Palembang, Jembatan Ampera.  Sungai Musi yang melintasi Kota Pempek ini terlihat tidak begitu bersih. Sampah terlihat mengapung di atas permukaan. Bau kurang sedap pun sedikit mengganggu usaha untuk menikmati sungan terpanjang di Pulau Sumatera ini.

Akan tetapi, memandang Sungai Musi dari kejauhan menunjukkan betapa Allah Maha Kuasa. Terlihat view yang sangat indah. Kapal-kapal kecil banyak berseliweran tetapi tidak membuat udara terlihat kotor.

Berfoto berlatar belakang Jembatan Ampera yang sesungguhnya dengan Sungai Musi yang mengalir tenang menjadi sensasi tersendiri. Beberapa angle Jembatan Ampera membuat sesi ‘futu-futu’  ini semakin menarik. Sesi ‘futu-futu’ ini semakin lengkap dengan mengunjungi Mesjid Agung. Mesjid Kota Palembang ini berlokasi memang tidak jauh dari Jembatan Ampera.

Berkunjung di dua tempat ini di Palembang belumlah cukup karena dari hasil browsing  di internet, Palembang memiliki banyak tujuan wisata untuk dikunjungi.

Itulah yang kemudian saya lakukan dalam kunjungan ke Palembang sekitar enam bulan berikutnya. Kedatangan kali ini bukanlah untuk kegiatan pribadi tetapi tugas. Memberi pelatihan untuk dosen beberapa Perguruan Tinggi Swasta membuat saya merasa senang karena setidaknya dalam kunjungan kali ini, spot-spot yang belum sempat didatangi setidaknya bisa  didatangi.

Dalam perjalanan menuju hotel, saya sangat kaget. 6 bulan telah merubah Pelambang. Macet, debu, serta pemandangan di jalan raya tidak separah yang saya lihat sebelumnya. Bahkan ketika dibawa ke Jembatan Ampera, saya sempat terkagum-kagum. Palembang terlihat sangat indah dengan sinar lampu yang memancar dari jembatan ini. Tidak hanya itu, patung Ikan Belida dengan air yang muncrat dari mulutnya menjadi daya tarik sendiri.

Seperti halnya patung Singa Merlion di Singapura, Patung Ikan Belida ini tidak kalah menarik.  Saya diajak berkeliling sepanjang Sungai Musi. Kemeriahan dan pesona Palembang semakin ‘menjadi’ karena banyaknya lampu-lampu dan hiasa-hiasan di jalan raya dengan ikon Asean Games.Palembang

Palembang memang sedang berbenah. Dijadikannya  Kota Palembang sebagai salah satu wilayah dilaksanakannya ajang pasta olah raga di Asia Tenggara ini menjadikan Palembang semakin cantik. Selain itu, kesan meriah dan gemerlap sangat kental.

Dimanjakan dengan makanan khas Palembang, pempek saya diajak ke Kampung Pempek. Berderet-deret toko menjual pempek. Saya mencicipi beragam pempek  yang sulit ditemui di Padang. Mulai dari  pempek bakar, tekwan, bahkan sampai lenggang. Tidak lupa, panitia juga mengajak saya kuliner martabak yang saya rasa mirip dengab makanan masyarakat India.

Dua hari memberi pelatihan terasa singkat. Peserta pelatihan sangat antusias. Mereka memiliki keingintahuan yang sangat tinggi untuk mengetahui banyak hal. Inilah yang membuat saya semakin bahagia. Rasanya perjalanan hampir satu hari karena harus transit dulu di Jakarta untuk menuju ke Palembang tidaklah terasa. Justru ada kepuasan batin tersendiri.

Tidak hanya itu, ada satu kejadian menarik dimana peserta begitu eager untuk mengajak saya shopping kain khas Palembang yang mereka sebut dengan jumputan. Mereka dengan semangat menjelaskan bahkan memperlihatkan contoh kain jumputan.

Jumputan merupakan salah satu cara dan proses dalam membatik. Batik jumputan adalah  adalah batik yang dikerjakan dengan cara ikat celup, di ikat dengan tali di celup dangan warna. Batik ini tidak menggunakan malam tetapi kainnya diikat atau dijahit dan dikerut dengan menggunakan tali. Tali berfungsi sama halnya dengan malam yakni untuk menutup bagian yang tidak terkena warna.

Menurut sejarah, teknik celup ikat berasal dari tiongkok, teknik ini kemudian berkembang sampai keindia dan wilayah-wilayah nusantara. Teknik celup ikat diperkenalkan ke nusantara oleh orang-orang india melalui misi perdagangan teknik ini mendapat perhatian besar terutama karena keindahan ragam hiasnya dalam rangkayan warna warni yang menaawan. Penggunaan teknik celup ikat ini antara lain di Sumatera, khususnya Palembang, di Kalimantan Selatan, dan di Jawa.

Menggunakan kendaraan umum  on line, kaum ibu pergi ke pasar dimana pedagang kain jumputan berkumpul. Sesampai di sana, saya agak kebingungan memilih karena tidak memahami secara utuh  filosofi dan sejarah kain jumputan saat itu. Yang jelas, setelah berkeliling masuk dan keluar toko, akhirnya ditemukan kain jumputan yang menurut saya cukup unik. Warna  dan modelnya tidak biasa.

Meskipun ibu-ibu yang menemani saya shopping ini gagal menjelaskan pesan dari gambar di kain jumputan, saya tetap puas. Paling tidak saya berhasil hunting dan milih-milih secara langsung.

Di saat ada yang menanyakan apakah di Padang juga ada kain jumputan, saya menjawab dengan guyon. Palembang punya ‘jumputan’ dan Padang punya ‘jemputan’. Saya tersenyum sendiri karena mereka pasti tidak memahami konteks.

Setelah saya jelaskan bahwa ada tradisi di suatu daerah di Sumatera Barat terkait jemputan ini, barulah mereka tertawa. ‘Jumputan’ dan ‘Jemputan’ menjadi bahan tawa karena perbedaan satu  huruf ‘e’ saja tetapi memiliki makna yang jauh berbeda.

Di sinilah kemudian saya berpromosi tentang indahnya Linguistik (Revita dalam Singgalang, 2016). Sebagai ilmu bahasa, Linguistik membahas banyak hal terkait bahasa, mulai dari bunyi dampai penggunaannya. Ada bunyi yang membedakan arti. Inilah yang disebut dengan fonem. Ada juga posisi yang membedakan arti. Misalnya, I-B-U, U-B-I, dan B-U-I. Meskipun disusun oleh bunyi yang sama, tetapi karena perbedaan posisi, maknanya menjadi berubah.

Termasuk juga ketika guyonnan disampaikan. Salah satunya adaah mengunakan bahasa sebagai objek Linguistik. Ada yang disebut dengan linguistic pun atau permainan bahasa. Bahkan Crystal daam bukunya ‘Language Play ‘ (2007) disebutkan bagaimana bahasa bisa menjadi game.

Tidak hanya itu, bahasa juga dipakai untuk berbagai macam tujuan. Dasarnya, sebagai alat komunikasi, bahasa tidak hanya digunakan  untuk tujuan informatif tetapi bisa juga ekspresif atau persuasif. Di sinilah indikasi betapa sesungguhnya bahasa sangat powerful. Banyak hal yang dapat dilakukan melalui bahasa.Palembang1

Kalau ada yang menganggap bahasa dan ilmu bahasa serta memandangnya sebelah mata adalah sebuah kenaifan dan kealpaan yang luar biasa. Tidak satu manusia pun yang mampu dan bertahan untuk tidak menggunakan bahasa, baik lisan maupun tulisan. Artinya, bahasa adalah ‘sesuatu’ yang dibutuhkan oleh semua manusia untuk berinteraksi dengan manusia lain.

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris

FIB Unand

Sudah dimuat di Harian Singgalang, 28 Juli 2018, Hal. A-5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation