Lebaran sudah berlalu. Sekitar seminggu yang lalu, tepatnya 15 Juni 2018 atau 1 Syawal 1439 H,  umat muslim merayakan Hari Raya Idul Fitri. Setelah satu bulan lamanya menjalankan ibadah puasa di Bulan Ramadhan, mereka kembali ke rutinitas biasa.

IMG_1756

Datangnya hari raya ini pada umumnya diiringi dengan ucapan selamat dari banyak orang. Ucapan ini disampaikan melalui berbagai media apakah media sosial atau disampaikan secara langsung. Cara mengucapakan dan menyampaikannya pun bermacam-macam. Ada yang disampaikan menggunakan pantun, sitiran-sitira berbahasa Arab, atau menggunakan gambar yang menunjukkan suasana lebaran.

Isi ucapan itu pun hampir seragam. Yang jelas adalah mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri, permintaan maaf lahir dan batin, doa agar kita kembali fitrah setelah satu bulan berpuasa.

Ucapan-ucapan seperti ini terlihat sudah menjadi kebiasaan bagi banyak orang. Namun, dalam beberapa referensi yang saya baca dan kiriman dari beberapa teman, isi ucapan itu perlu diperbaiki karena tidak tepat dan kurang pas dalam arti lebaran itu sendiri.

Jika dimaknai secara semantis, Idul Fitri disusun oleh dua kata Idul + Fitri. Idul Fitri berasal dari Bahasa Arab aada – ya’uudu yang artinya kembali. Hari raya dinamakan id karena terjadi secara berulang dan dirayakan setiap tahun.

Fitri berasal dari Bahasa Arab  afthara – yufthiru yang berarti berbuka atau tidak puasa lagi. Dinamakan Idul Fitri karena Umat Islam tidak berpuasa lagi setelah berpuasa selamat satu bulan di  Bulan Ramadhan.

Kekeliruan yang sering terjadi adalah ketika sebagian orang mempertukarkan kata ‘fitri’ dengan ‘fitrah’. Makna ‘fitrah’ adalah Kondisi awal penciptaan, dimana manusia diciptakan pada kondisi tersebut. Di awal penciptaan atau saat dilahirkan, manusia memang berada dalam keadaan fitrah. Dalam perjalanan hidupnya, mamusia kemudian mengalami pergesekan sehingga menyakini berbagai macam agama. Singkatnya, fitrah memang diartikan kembali suci atau tidak berdosa.

Melaksanakan puasa tidak berarti menjadikan seseorang itu kembali suci atau tidak berdosa. Puasa satu bulan di Bulan Ramadhan belum menjamin seseorang akan bersih sebagaimana saat dia dilahirkan. Akan tetapi, penggunaan kata fitrah sebagai diksi yang dipilih saat mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri setidaknya bisa menjadi doa dan sugesti agar kita sebagai manusia senantiasa berupaya untuk mempertahankan kesucian atau berusaha meraih kesucian dalam hidupnya. Salah satunya melalui berpuasa di Bulan Ramadhan, paling tidak dapat dijadikan upaya untuk membentuk pribadi yang lebih baik.

Bulan Ramadhan disebut juga Bulan Ampunan karena  di bulan ini, ibadah kita dinilai berlipat ganda dibandingkan hari biasa. Bahkan di Bulan Ramadhan terdapat satu malam yang nilanya lebih dari Seribu Bulan. Inilah yang disebut dengan Malam Lailatul Qadar.

Firman Allah dalam Surat Al-Qadar ayat 1-3 yang artinya Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.”

Malam Lailatul Qadar ini selalu dinanti-nantikan oleh umat muslim. Di sepuluh hari terakhir Ramadhan, banyak orang yang melakukan i’tikaf atau berdiam diri di dalam masjid untuk mendapatkan ridha Allah serta bermuhasabah atau intorspeksi atas perbuatannya. Banyak orang berlomba-lomba beri’tikaf agar mereka dapat bertemu dengan Malam Lailatul Qadar ini.

Namun, hanya orang-orang pilihan yang diiizinkan Allah bertemu dengan Malam Lailatul Qadar. Orang pilihan ini adalah orang yang sangat beruntung karena malam Lailatul Qadar ini tidak diketahui secara persis kapan datangnya. Yang jelas, pencarian malam Lailatul Qadar inilah yang membedakan umat muslim untuk mengindikasikan orang-orang yang malas atau berusaha keras mencari malam ini.  Senantiasa mendekatkan diri pada Allah lewat i’tikaf juga menjadi upaya untuk mengumpulkan amal ibadah sebanyak mungkin.

Berakhirnya Ramadhan disambung oleh datangnya Idul Fitri. Idul Fitri ini disambut secara bermacam-mcam oleh kaum muslim. Yang paling menyolok adalah beberapa hari menjelang Idul Fitri, banyak orang mengunjungi toko untuk membeli pakaian baru. Selain itu, di setiap rumah tersedia bermcam-macam kue lebaran sebagai suguhan untuk tamu-tamu yang datang ke rumah.

Apakah filosofi dari baju baru dan kue lebaran ini?

Sejarahnya,  tradisi baju baru di hari raya sudah dimulai sejak tahun 1596. Tradisi itu sudah ada di dalam Kerajaan Banten, di mana ketika hendak memasuki Lebaran, masyarakat menyambutnya dengan menyiapkan baju baru.

Demikian pula halnya dengan kue lebaran. Tradisi ini tidak diketahui secara pasti kapan mulainya. Jika dihubungkan dengan kebiasaan bersilaturahim di waktu lebaran, secara tidak langsung seorang tuan rumah pasti akan menyuguhi makanan dan minuman. Ini adalah salah satu bentuk dari penghargaan kepada tamu. Suguhan ini kemudian disinyalir menjadi tradisi dimana lebaran identik dengan kue kering. Suguhan ini di daerah tertentu didukung oleh dihidnagkannya makanan berat seperti nasi atau ketupat untuk daerah tertentu.

Idul Fitri memang dinanti-nantikan semua umat muslim yang diawali dengan berpuasa selama satu bulan. Kegembiraan menyambut Idul Fitri akan dirasakan oleh semua orang. Berbaju baru dan berkue lebaran. Hampir semua orang mempersiapan datangnya Ramadhan dan Idul Fitri ini.

Sekarang bulan yang suci ini sudah pergi. Perlu waktu menunggu sekitar 11 bulan lagi untuk bertemu dengan Ramadhan. Hari Raya Idul Fitri pun sudah berlalu. Sisa-sisa kue lebaran mungkin masih ada. Akan tetapi, apakah kita berhasil mengambil hikmah dari Ramadhan dan Idul Fitri ini? Apakah nilai-nilai yang diajarkan agama dalam berpuasa di Bulan Ramadhan dengan Hari Raya Idul Fitrinya sudah kita dapatkan?

Jawabannya ada  di kita semua. Dalam doa dan ucapan menyambut lebaran, tergambar kebahagiaan. Namun, kebahagiaan itu seyogyanya tidak hanya terjadi sekali dalam setahun. Bahagia akan datangnya lebaran hendaknya senantiasa ada di setiap hari. Bahagia untuk mempertahankan yang baik dan meningkatakan yang baik itu menjadi lebih baik sehingga kita menjadi manusia beruntung dengan progress kebaikan.

Semoga kita termasuk ke dalam orang-orang yang selalu berubah menjadi lebih baik. Aamiin.

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Iggris

FIB Unand

Sudah dimuat di Harian Singgalang 24 Juni 2018, Hal. A-5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation