Peraturan seringkali bisa disiasati namun asas kepatutan dan etika janganlah dikhianati

 (Najwa Shihab)

Padeks, 6 Juni 2018

 Kalimat bijak tidak jarang lahir dari sebuah pengamatan atas pengalaman orang lain atau justru dari pengalaman pribadi. Banyak juga kalimat bijak ini muncul dari hasil sebuah pengamatan melalui penelitian yang bersifat ilmiah.

Sebagaimana dalam kutipan di atas, Najwa Shihab menyebutkan bagaimana sebuah peraturan dengan begitu mudah diakali sehingga asas-asas kepatutan dan etika menjadi terkhianati.  Ketika pengkhianatan terhadap asas kepatutan dan etika sudah dilakukan, seperti apakah dunia ini di masa depannya?

Inilah yang menjadi pertanyaan dalam diri saya ketika membaca sebuah buku yang berjudul ‘Menabur Benih, Menuai Badai’. Buku yang ditulis oleh seorang guru dari Yogyakarta ini ditulis secara sederhana tetapi sangat realistis. Kerangka berpikir penulis berpijak pada realitas kekinian. Penulis begitu cerdas menguraikan fakta-fakta tentang aksi yang  berawal dilakukan secara sembunyi-sembunyi sampai berujung pada sebuah pembiasaan dan akhirnya berterima di masyarakat luas.

Sesuatu yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi ini biasanya adalah aib atau hal-hal yang tidak boleh diketahui orang banyak. Ketika orang lain tahu, tidak jarang pelakunya menjadi malu dan perbuatannya dinilai sebagai aib yang memang harus ditutupi. Perbuatan seperti ini dalam ajaran agama yang saya ketahui dikategorikan sebagai dosa. Perbuatan yang ketika orang lain mengetahuinya, kita menjadi malu. Perbuatan itu sudah pasti keluar dari koridor agama dan dilarang olah Allah Swt.

Sfri

 

Sayangnya, dosa ini dibiarkan begitu saja oleh masyarakat. Sikap permisif yang terkadang sudah ‘keterlaluan’ membuat dosa ini tidak lagi dianggap sebagai sesuatu hal yang memalukan. Justru pembiaran-pembiaran menggiring pada pembiasaan sehingga dosa itu tidak lagi dinilai sebagai dosa. Justru, dosa adalah suatu perbuatan yang orang banyak juga melakukannya dan hanya didiamkan oleh masyarakat.

Inilah yang disampaikan penulis. Sikap permisif yang secara tidak langsung berpotensi zalim kepada generasi masa depan. Barangkali saya terlalu vulgar menggunakan istilah zalim. Tetapi inilah kenyataannya karena sikap acuh tak acuh, dalih tidak mau mengurusi urusan yang bukan urusan kita, atau pikiran emang gue pikirin (EGP) secara tidak langsung  menjadikan masyarakat sekarang membangun kehidupan zalim pada generasi yang akan datang.

Jika dilihat secara semantis, dalam KBBI (2012), kata zalim termasuk kata benda atau nomina yang berarti tidak menaruh belas kasihan, tidak adil, dan kejam. Tiga arti zalim ini jika disederhanakan mengacu kepada satu makna umum yakni perbuatan yang tidak memiliki kalbu (Revita, 2017) karena tidak memiliki rasa belas kasih, berlaku tidak adil pada orang lain, dan termasuk ke dalam perbuatan yang kejam.

Dalam pandangan Islam, zalim dikatakan sebagai perbuatan yang menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya, baik mengurangi, menambahi, atau pun menyimpang. Zalim berasal dari bahasa Arab dholama yang berarti gelap.  Dalam surat Al Maidah ayat 47 dikatakan zalim itu merugikan orang lain dan menuruti amarah atau hawa nafsu. Apabila sudah berhubungan dengan masyarakat atau sosial, zalim seperti ini disebut dengan  dosa sosial.

Salah satu bentuk kezaliman yang cenderung sudah menjadi kebiasaan dan dinilai tidak lagi aneh adalah kebohongan. Dalam tulisan Revita (2018) yang berjudul ‘Kebohongan Berjamaah’ dikatakan sebuah informasi atau kabar disampaikan tidak sesuai dengan kebenarannya. Informasi ini didukung oleh orang lain yang notabenenya adalah tim atau anggota dari pemberi kabar ini sehingga terkesan menjadi berjamaah. Dipimpin oleh satu orang didukung oleh orang lain membuat kebohongan ini tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang tidak benar.

Pernyataan ini ditegaskan Revita dalam tulisannya di Padang Ekspres April 2018 ketika secara sadar seseorang melakukan kebohongan yang dikategorikan sebagai korupsi melalui manipulasi informasi. Korupsi lewat kata ini pun dilakukan secara berjamaah.

KBBI  (2012) mendefinisikan kata bohong sebagai menyatakan sesuatu yang tidak benar. Definisi ini tegas sejalan dengan makna zalim dalam pandangan Islam. Ketika seseorang berbohong, sebenarnya dia sudah melakukan penambahan atau pengurangan atas suatu hal, apakah itu bersifat informasi atau materi. Penambahan dan pengurangan ini berefek yang merugikan pada orang lain. Fatalnya jika sudah menimbulkan bahaya bagi orang banyak.

Sayangnya, kebohongan atau kezaliman sepertinya tidak lagi dinilai sebagai sesuatu yang memalukan. Pelaku bohong dan zalim sudah tidak malu lagi untuk berkata tidak benar dan merugikan orang lain. Mereka bahkan dengan berani dan terbuka memanipulasi fakta dan data. Perbuatan bohong dan zalim tidak lagi dianggap sebagai sebagai sebuah dosa. Bahwa ada kematian setelah kehidupan yang menuntut sebuah pertanggungjawaban seakan-akan tidak pernah terpikirkan oleh mereka. Ironisnya lagi, ini dilakukan secara masif oleh banyak pihak yang kadang-kadang adalah untuk tujuan dan kepentingan pribadi.

Di sinilah saya merasa sangat sedih. Saya teringat ketika pertama kali diinterview untuk menjadi seorang pendidik di kampus tercinta sekarang. Saat ditanya motivasi menjadi dosen, jawaban saya sangat politis. Membagi ilmu yang sudah didapat di perguruan tinggi. Di sinilah kemudian mind set saya diisi oleh Profesor yag keilmuannya sudah diakui dunia ini, andai diterima menjadi seorang dosen, saya hendaknya menjadi seorang pendidik, bukan pengajar. Pendidik adalah fasilitator, motivator, dan model bagi mahasiswanya.

Andai seorang fasilitator, motivator, dan juga model melakukan kebohongan atau kezaliman, sudah pasti mahasiswanya akan melakukan hal yang sama.  Kembali mind set positif ini diisi oleh promotor saya, Prof. I Dewa Putu Wijana yang berkunjung ke Padang setahun setelah saya menyelesaikan studi doktoral. Menjadi seorang doktor itu tidak susah, semua orang bisa. Yang sulit adalah menpertanggungjawabkan keilmuan sebagai seorang doktor dan menerapkan filosofi sebagai seorang doktor  tidaklah gampang. Oleh karena itu, menjadi manusia yang cerdas dalam emosi dan arif bijaksana dalam bersikap adalah sangat penting. Nasihat yang selalu berulang disampaikan setiap kami bertemu.

Di sini juga peran ilmu agama. Ilmu agama menjadi filter dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu agama itu menjadi saringan terakhir saat berperilaku. Dalam diskusi dengan seorang dokter ahli peyakit hati, saya sempat bergurau dengan memanggilnya dokter penyembuh sakit hati. Pak Dokter ini tersenyum hingga kami sampai pada topik bahwa  hati dan kalbu adalah dua hal berbeda. Jika semua manusia yang hidup dipastikan  punya hati tetapi tidak semua dari mereka memiliki kalbu. Akan tetapi, yang sakit tidak hanya hati tetapi juga kalbu. Artinya, ada orang yang secara fisik menderita sakit hati atau hepar dan secara psikis sakit kalbu.

Jika dihubungkan dengan perbuatan zalim di atas, pelakunya terkategori memiliki penyakit kalbu. Kenapa? Karena jiwanya sakit. Dia dengan tenang dan bahkan lewat wajah innocent  melakukan perbuatan yang nyata merugikan banyak orang.

Ironisnya, dia berada dalam posisi sebagai imam yang sudah pasti akan memiliki makmum. Makmum  akan mengikuti imamnya. Jika imam salah, makmum pasti salah. Kelak satu atau beberapa makmum ini akan menjadi imam yang akan menerapkan ajaran yang salah tadi. Berapa banyak makmum kemudian yang akan melakukan kesalahan berikutnya. Akan terjadi pelipatan-pelipatan.

Jika imam berkata bohong, makmumnya tidak tertutup kemungkinan akan mendukung kebohongan ini. Kebohongan berupa kezalimam ini nanti akan dipakai oleh banyak orang. Secara tidak langsung, imam ini sudah membangun sistem yang menjerumuskan umat. Dalam waktu dekat hasilnya memang belum kelihatan tetapi di masa yang akan datang benih kebohongan ini akan mulai berbuah. Buah kebohongan inilah yang akan dituai oleh generasi masa datang.

Yang pasti, si penebar kebohongan tidak akan lepas dari apa yang disebut dengan tanggung jawab. Janji Allah, semua perbuatan beik dan buruk akan ada balasannya. Penebar benih keburukan pasti akan menerima ganjaran yang setimpal.

Semoga kita dijauhkan dari perbuatan zalim ini. Aaamiin.

Penulis adalah

Dosen Prodi Linguistik Pascasarjana Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Andalas

Sudah dimuat di Harian Padang Ekspres 6 Juni 2018, Hal. 4

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation