Saat tidak ada lagi yang berani menyuarakan kebenaran, maka saat itulah akan menandakan kezaliman dan ketidakadilan akan tumbuh dengan suburnya.

Saat tidak ada lagi pertimbangan yang bijak, saat itulah muncul kesemena-menaan,

Saat tidak ada lagi “raso jo pareso”, maka saat itulah budi kan “binaso”

Maukah kita  itu semua terjadi di hadapan kita, Kawan-kawan….? singgalang 8 april 2018_2

Ini adalah postingan status kawan saya di sebuah media sosial. Postingan yang baru say abaca setelah beberapa hari berada di wall kawan ini sangat mengena di hati saya. Saya jatuh cinta dengan tulisan atau ekspresi pendek ini.

Saya mencoba menterjemahkan maksud kawan ini. Beberapa kejadian menjadi landasan bagi saya untuk memahami makna yang terkandung, tetapi saya gagal. Rasa kepo ini membuat keingintahuan saya semakin tidak terbendung. Kawan ini saya kontak untuk menanyakan konteks statusnya. Jawaban kawan itu hanyalah tawa sambil menyatakan bahwa saya pasti paham dengan apa yang ditulisnya itu.

Saya mencoba menebak dan memberikan beberapa pilihan. Kembali tawa kawan ini pecah dan menyebutkan semua interpretasi yang saya sebutkan adalah benar.

Saya menjadi speechless karena pandangan saya mirip dengan apa yang dipikirkan kawan ini. Sangat sering statemen serupa keluar dari mulut saya saat kawan-kawan lain mencurahkan perasaan mereka. Nasihat yang sering saya berikan adalah sabar dan berserah diri kepada Allah saat ujian datang. Ikhtiar adalah kewajiban. Ikhtiar berujung pada kepasrahan pada Allah untuk memutuskan semuanya. Man proposes, God disposes.

Postingan ini kemudian saya bawa untuk menjadi bahan diskusi dengan beberapa mahasiswa dan kawan lainnya dari komunitas berbeda. Karena dilemparkan saat berpuasa, seorang mahasiswa merespon dengan mengatakan apalagi kalau sedang berpuasa,ya Mam? Kita harus berbicara jujur. Apalagi untuk sebuah kebenaran.

Respon ini dibalas oleh mahasiswa lain dengan pendapat bahwa mereka akan berada dalam kesulitan jika harus berbicara jujur. Tidak semua orang mau menerima kejujuran karena tidak jarang yang jujur itu menyakitkan.

Pro dan kontra datang silih berganti. Saya sangat menikmati berbagai respon dari mahasiwa S1 ini karena dari sinilah saya bisa mengukur kedalaman dan pemahaman mereka terhadap realitas sosial. Selain itu, seberapa banyak sumber bacaan dan daya kritik terhadap sebuah tulisan juga dapat dilihat dari pendapat, respon, dan pandangan yang dilontarkan mahasiswa ini.

Respon tidak jauh berbeda juga datang dari kawan yang berprofesi sebagai guru. Menurut kawan ini, agama Islam juga mengajarkan sebagaimana yang disampaikan Rasulullah untuk menyampaikan kebenaran walau pahit. Artinya, menyampaikan kebenaran adalah salah satu bentuk pengamalan ajaran Rasul.

Diskusi ini kemudian menggiring saya pada beberapa kejadian yang dialami beberapa kawan. Dimulai dari tidak diterimanya hak seorang kawan untuk kegiatan yang jelas dan nyata adalah kewajiban pimpinan untuk memberikannya. Dalam aturan jelas tertulis bahwa kawan itu berhak menerima. Akan tetapi hak itu kemudian tidak diberikan karena aturan yang kemudian dikaburkan dan terkesan dipaksa untuk ‘mencegat’.

Kawan ini awalnya mencoba mengikuti aturan yang seakan-akan dibuat-buat ini. Dengan sabar dia perjuangkan apa yang diyakini sebagai haknya. Sayamh sekali. Walaupun sudah sampai kepada pihak pengambil keputusan, yang namanya hak kawan ini tetap tidak berhasil diperjuangkan. Beberapa pihak yang mencoba ‘mengambil muka’ yang sesungguhnya terlibat dalam konspirasi ini. Dengan memberikan alternatif yang seakan-akan bisa menjadi solusi untuk sebuah perjuangan atas kebenaran ditawarkan. Namun, jawaban kawan ini sangat sederhana. Dia mengatakan bahwa dia sudah sampai kepada pimpinan tertinggi dan pengambil kebijakan. Artinya ikhtiar yang dilakukan sudah maksimal.

Kawan ini tidak mau lagi bersentuhan dengan orang-orang yang memang sudah berniat untuk ‘mencegat’ haknya. Doa adalah ikhtiar terakhir. Allah tidak pernah tidur karena semua perbuatan baik dan buruk pasti akan ada balasannya. Kawan ini kemudian menyerahkan semuanya pada Allah.

Kejadian kedua tidak jauh berbeda dengan yang dialami kawan pertama ini. Masih terkait dengan hak yang tidak dia terima. Akan tetapi kawan ini tidak mau berbuat banyak. Begitu dia mengetahui haknya tidak dibayarkan karena ketidakbecusan orang-orang yang bertanggung jawab di bagian itu, kawan ini hanya mendiamkan dan membiarkan saja. keyakinannya, semua yang hidup pasti mati. Kematian adalah kepastian. Semua yang mati akan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Tidak satu perbuatan pun yang dapat disembunyikan.

Jika dunia bisa mendukung segala bentuk konspirasi sehingga yang benar bisa jadi salah, yang baik bisa jadi buruk, dan sebaliknya. Di akhirat hal-hal seperti ini mustahil terjadi. Allah dengan malaikat-malaikat-Nya tidak akan pernah alfa mencatat semua amal baik dan buruk manusia selama hidup.

Dunia setelah mati adalah kehidupan yang sesungguhnya. Untuk apa mengejar satu atau dua bungkah emas dengan mengorbankan dan merampok hak orang lain. Inilah yang diceritakan juga oleh Ibu Harnely Mahyeldi saat saya berdiskusi dengan beliau tentang perempuan, hidup, dan tanggung jawab. Berkah  itu indah. Saat mendapat banyak tetapi tidak berkah diibaratkan dengan air yang dipanaskan yang lama-lama akan menguap dan habis. Berbeda halnya ketika sedikit tetapi berkah karena serasa tidak pernah habis karena selalu ada da nada.

Keyakinan kawan ini kemudian menjadi cermin bagi saya. Bahwa menjadi jujur itu penting. Tidak ada yang perlu ditakutkan untuk menjadi orang jujur. Meskipun guyon seorang teman menyebutkan orang jujur itu akan terbujur. Saya sangat tidak percaya dengan itu. Meskipun banyak pecundang di dunia ini. Masih banyak juga orang-orang jujur yang memang berjalan di jalan yang lurus. Mereka itu bukan orang-orang biasa tetapi juga pemangku kebijakan.

Ini saya alami saat berbincang-bincang dengan salah seorang pimpinan di sebuah perguruan tinggi negeri di Indonesia. Dalam acara makan malam, saya yang duduk semeja dengan dia awalnya bercerita hal-hal yang ringan. Sampai kemudian permbincangan kami sampai kepada persoalan filosofi kejujuran.

Saya yang sudah mengetahui sepak terjangnya lewat banyak tulisan tentang pimpinan ini menjadi sangat kagum. Apa yang saya dengar tidak jauh berbeda dengan apa yang saya baca. Tulisan-tulisan orang tentang dia adalah benar adanya. Meskipun ada beberapa pihak yang kontra. Inilah kehidupan. Sabanyak nan sayang, sabanyak tu pulo nan banci.

Yang jelas, jujur bukanlah sesuatu yang harus dijauhi. Menjadi orang jujur haruslah dibudayakan dan dijadikan kebiasaan. Apalagi di Bulan Ramadhan, bulan yang suci ini. Bersikap dan berbicara jujur akan memperoleh pahala ganda. Belum lagi terlambat untuk memulai sesuatu yang baik. Semoga kita bisa istiqomah untuk menjadi orang yang jujur dan berani menyampaikan kebenaran. Aaamiin.

 

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris

FIB Unand

Sudah dimuat di Hariang Singgalang, 4 Juni 2018, Hal. A-5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation