Puasa dalam KBBI (2012) diartikan sebagai menghindari makan, minum, dan sebagainya dengan sengaja (terutama bertalian dengan keagamaan). Kegiatan melakukan puasa disebut juga dengan berpuasa.

IMG-20170627-WA0017

Berpuasa identik dengan Umat Islam dan Bulan Ramadhan. Hal demikian terjadi karena puasa merupakan Rukun Islam yang ketiga yang wajib dilaksanakan oleh seorang Islam atau muslim yang sudah dijatuhi kewajiban untuk berpuasa. Berpuasa yang wajib dilakukan adalah di Bulan Ramadhan. Meskipun demikian, ada juga puasa yang dikerjakan seorang muslim di luar bulan ini dan dinilai sunat.

Seperti sekarang ini, masyarakat muslim Indonesia sedang melaksanakan ibadah yang perintahnya diturunkan dalam Surat Al Baqarah ayat 183. Dimulai sejak hari Kamis, tanggal 17 Mei 2018 lalu, tepatnya 1 Ramadhan 1439 H, umat muslim tidak hanya di Indonesia tetapi juga di dunia melakaukan ibadah puasa ini.

Istilah puasa lazim digunakan oleh masyarakat di Indonesia.  Meskipun ada juga sebagian yang menyebut dengan shaum. Secara etimologi, kedua kata puasa dan shaum memiliki makna yang berbeda.

Puasa berasal dari bahasa Sangskerta yang terdiri dari dua suku kata, yakni upa dan wasa. Upa merupakan perfiks yang berarti dekat, sedangkan Wasa berarti yang Maha Kuasa. Masyarakat Sunda sering terdengar mengatakan …anging Gusti Nu Maha Kawasa… yang artinya ‘ Hanya Tuhan Yang Maha Kuasa’.

Secara historis, penyebaran agama Islam di Indonesia dilakukan dengan tidak serta merta melepaskan masyarakat dari agama yang dipeluknya terlebih dulu, yakni Hindu. Justru Islam disebarkan dengan cara yang tidak memaksa sehingga para wali sebagai orang yang menyebarkan agama Islam di Indonesia melakukan pendekatan budaya, yakni dengan  masih tetap  memakai terminologi yang masyarakat penganut agama Islam tidak terlalu canggyung dengan agama yang baru dipeluknya. Salah satunya penggunaan istilah puasa yang lebih dekat kepada makna mendekatkan diri kepada yang Maka Kuasa.

Dalam pandangan saya, pilihan diksi puasa tidak perlu dijadikan masalah dalam penggunannya karena bila dihubungkan dengan filsosofi puasa yang dilakukan masyarakat muslim adalah juga dengan tujuan agar senantiasa dekat dengan Allah Swt. Bahkan, linguistik sendiri mengenal istilah yang disebut dengan perluasan makna. Ada makna kata yang meluas sesuai dengan kebutuhan masyarakat penggunanya. Selain itu, pemerkayaan kosa kata sebuah bahasa salah satunya memang dilakukan melalui adopsi atau adaptasi dari bahasa lain.

Sementara itu, shaum berasal dari bahasa Arab yang berarti menahan diri atau menjauhkan diri dari sesuatu. Secara fikh, shaum itu merupakan  menjauhkan diri dari makan , minum dan hubungan suami-istri ( jima ) antara suami dan istri dari fajar sampai matahari terbenam ( maghrib ) dengan sadar. Selain itu, shaum juga disebutkan menahan dari tindakan atau ucapan.

Dari kedua makna ini, dapat diambil kesimpulan bahwa dalam bershaum seseorang diwajibkan menahan diri untuk tidak makan dan minum, berhubungan suami dan istri, serta menahan diri dari perbuatan dan ucapan yang melanggar aturan agama mulai dari terbit fajar sampai dengan terbenam matahari.

Dari kedua piliha puasa dan shaum ini, saya pribadi lebih memilih menggunakan kata shaum karena memiliki nilai-nilai ibadah. Selain itu, ada kekuatan psikologis yang memberi dorongan tersendiri saat kata shaum dipilih untuk menyampaikan bahwa kita sedang berpuasa.

Adapun yang ingin digarisbawahi adalah bukan masalah pilihan kata antara shaum dan puasa semata, tetapi bagaimana filosofi shaum ini benar-benar diimplementasikan selama bulan Ramadhan dan bulan-bulan selanjutnya.

Sebuah pertanyaan datang dari seorang sahabat saat akan mengirim ucapan maaf menjelang Ramadhan. Adalah sangat membantu kehadiran beragam media sosial sebagai alat untuk menyambungkan diri seseorang denga  orang lain untuk menyampaikan permintaan maafnya. Kesibukan dan aktifitas pribadi menyebabkan seseorang tidak bisa bertemu langsung dengan kawan, sahabat, atau keluarganya untuk menyampaikan permintaan maaf sebagai wujud dari upaya membersihkan diri di Bulan Ramadhan.

Melalui media sosial, seperti whatsapp atau line dengan berbagaia strategi, seperti menggunakan pantun, seperti sebuah surat permohonan, atau menggunakan bahasa biasa yang secara eksplisit memang untuk meminta maaf, keinginan dan niat meminta maaf itu disampaikan. Inilah yang ditanyakan sahabat ini saat menggunakan kalimat …berhubung akan masuk Ramadhan….maka saya minta maaf…

Dalam pandanga saya, meminta maaf tidak hanya dilakukan menjelang Ramadhan tetapi harus setiap waktu. Permintaan maaf ini tidak dilakukan sekalai atau dua kali saja setahun, menjelang Ramadhan dan di Hari Raya Idul Fitri saja. Justru minta maaf dilakukan setiap waktu. Setiap bertemu atau akan berpisah dengan orang yang dikenal, seyogyanya permintaan maaf disampaikan.

Tidak jarang juga kita mendengar orang berkomentar…tidak boleh bergunjing, kan lagi puasa… Memang benar, karena shaum sebagaimana dijelaskan di atas memiliki salah satu makna menahan untuk tidak berbicara yang melanggar aturan agama, seperti bergunjing. Namun, tindakan bergunjing idealnya tidak hanya ditahan untuk tidak dilakukan selama Bulan Ramadhan. Justru, bergunjing adalah perbuatan yang dilarang agama dan artinya memang tidak boleh dilakukan kapan saja.

Kembali pikiran saya menjemput sebuah kejadian saat seorang kawan sibuk membicarakan keburukan orang lain di Bulan Ramadhan. Saat diingatkan, dengan ringan dia menjawab bahwa saat itu dia tidak shaum. Dengan kata lain, tidak ada halangan bagi dia untuk tidak menahan diri.

Jawabannya   yang ringan membuat orang-orang yang hadir di sekitar menjadi terdiam. Akan tetapi, ketika dia melanjutkan gunjingannya, seorang kawan langsung menimpali, silahkan kamu ngomongin orang lain karena kamu tidak shaum, kami adalah orang yang sedang shaum dan tidak akan membicarakn orang lain. Cari saja orang yang sama-sama tidak shaum denganmu untuk membicarakan orang lain…

Respon ini cukup telak karena kawan ini akhirnya terdiam. Statemennya menjadi boomerang bagi dirinya sendiri. Dia menjadi speechless karena orang menggunakan senjata dia untuk menghindari perbuatan yang dilarang agama.

Sekarang Ramadhan 1439 H sudah tiba. Masyarakat sudah disibukkan dengan pesiapan menyambut Ramadhan. Biasanya kesibukan akan terlihati di pasar karena kaum ibu akan menyiapkan masakan untuk shahur perdana. Para ibu akan memasakkan makanan yang akan memancing selera sehingga anggota keluarganya tetap bersemangat saat besahur.

Yang jelas, waktu shaum telah tiba. Selama satu bulan lamanya kita diwajibkan menahan diri dalam banyak hal di rentang waktu dari terbit fajar sampai terbenam matahari, dari Shubuh sampai Magrib. Paling tidak, satu bulan shamum ini menjadikan sebuah kebiasaan sehingga tertanam dalam diri untuk tetap bertahan melakukan kebaikan. Kebaikan untuk menjaga mulut dqan menghindari diri dari perbuatan yang justru membuat kita jadi celaka di akhirat kelak. Salah satunya menjaga dan mengerem mulut untuk tidak menyakiti orang lain.

Selamat bershaum. Semoga shaum di Bulan Ramadhan kali ini membawa perubahan yang lebih baik untuk kita semua. Aaamin

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris

Fib Unand

Sudah dimuat di Harian Singgalang, 20 Mei 2018, Hal. A-5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation