Orang yang salah mungkin membuatmu bersenang-senang, namun

 orang yang tepat akan membuatmu tenang (anonim)

 3

Kutipan ini mengingatkan saya kepada sebuah kisah tentang seorang teman yang teraniaya akibat ketidakpahaman dan ketidakbecusan pihak yang didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting tempat dia bekerja. Sifat yang perfeksionis ditambah dengan perilaku yang tidak mau merugikan orang lain membuat hampir semua aktiftas orang ini dijalankan dengan well prepared. Apalagi jika itu berhubungan dengan banyak orang, upaya untuk meminimalisir kesalahan dan kerugian pihak lain selalu menjadi prioritas utama.

Sampai kemudian muncul sebuah kejadian. Perbuatan tidak bertanggung jawab dari salah satu anggota kelompok didikannya menyebabkan timbulnya huru-hara kecil. Bahwa mulut tidak akan pernah bisa diam menyimpan rahasia memicu ketidaknyamanan  teman ini. Si teman mencoba meluruskannya dengan mengklarifikasi permasalahan. Saat bertemu dengan orang yang bertanggung jawab terhadap persoalan ini, bukan penyelesaian yang didapat, justru dimunculkan masalah baru. Respon yang diberikan bukannya bersifat konstruktif tetapi malah defensif dan tidak memberi solusi.

Hingga diam dijadikan pilihan. Diam dianggap paling tepat di situasi itu karena sikap pihak yang bertanggung jawab ini  dianggap jauh dari profesionalisme. Semuanya tidak berakhir di situ saja  karena berlanjut dengan terpotongnya hak yang harus diterima.

Merasa perlu meyakinkan adanya ketidakberesan, akhirnya persoalan di trace back. Hingga berujung pada kesimpulan adanya ketidakpahaman dan lepas tanggungjawab dari orang yang seharusnya bertanggungjawab menyelesaikan masalah itu. Simpulan ini diambil  karena sepertinya masalah justru berasal dari ketidakpahaman penanggung jawab ini  hingga berlanjut pada hal lain. Parahnya lagi, sebagai penanggung jawab yang harusnya juga mengontrol berbagai hal serta  memastikan semua hak dan kewajiban anggotanya berjalan sesuai prosedur tidak dipenuhi. Yang terjadi adalah dia hanya menyelamatkan dirinya sendiri.

Perilaku ini semakin tergambar jelas ketika ada pihak yang menjadi pembanding. Pihak pembanding ini ibarat antara langit dan bumi. Dia begitu perhatian dengan semua hal yang terkait dengan anggotanya. Meskipun ketika mengambil kebijakan juga menguntungkan pada dirinya secara personal, tetapi kebijakan itu sebenarnya berpihak kepada orang-orang yang menjadi tanggungjawabnya selaku imam dari makmumnya (Revita, Padang Ekspres 2018).

Sekarang semuanya sudah terjadi. Penanggung jawab ini bersikap seakan-akan tidak ada kejadian. Dia merasa tidak ada masalah karena dia sudah selamat. Kepentingan pribadinya sudah tercapai.

Sungguh suatu keadaan yang memiriskan!

Karena dalam posisinya sebagai penanggung jawab atas sebuah institusi, dia adalah juga seorang pimpinan, dia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpin. Bahkan, sebagai seorang individu, dia pun akan bertanggung jawab untuk segala perbuatannya.

Apa yang terjadi?

Inilah yang saya sebut dengan ‘mati rasa’.

Dalam KBBI (2008), mati rasa diartikan sebagai tidak mempunya perasaan lagi. Arti yang tidak jauh berbeda ketika dihubungkan dengan ranah kedokteran. Mati rasa dsebut juga dengan tidak dapat merasakan apa-apa. Dengan kata lain, indera perasa tidak lagi berperan disebabkan oleh beberapaa faktor. Misalnya, ketika dibius atau dianastesi, seorang pasien akan merasakan mati rasa agar  tidak merasa sakit ketika diperlakukan secara medis.

Bagaimana dengan mati rasa yang sesuai dengan makna KBBI di atas? Siapa saja yang dapat mengalami mati rasa? Apa yang menyebabkan mereka menjadi mati rasa?

Dalam sebuah referensi yang saya baca, dalam ilmu psikologi, ada yang disebut dengan ‘tumpul hati’ (Revita, 2016). Tumpul hati ini terjadi salah satunya dipicu oleh rasa tidak peduli yang  dilakukan terus-menerus. Akibatnya, timbul sikap acuh, apatis , dan berujung pada tumpul hati. Ketika hati sudah tumpul, rasa itu mulai menipis.

Masyarakat Minangkabau termasuk kelompok yang menjadikan rasa ini sebagai salah satu ciri khas mereka. Inilah yang disebut dengan raso. Raso  dibao naiak, pareso dibao turun demikian ungkapan dalam Bahasa Minangkabau. Artinya, seorang Minangkabau senantiasa harus memiliki perasaan yang  kemudian di cross check pada diri sendiri.

Misalnya  ketika kita berkeinginan untuk mencubit orang lain, cobalah lebih dulu mencubit diri sendiri. Jika terasa sakit atau tidak nyaman, perasaan serupa akan dirasakan oleh orang yang kena cubitan kita. Bisa jadi lebih.

Demikian juga dalam berperilaku lainnya. Akan lebih bijaksana ketika kita mengnadaikannya pada diri sendiri. Apalagi jika dia dalam posisi seorang pimpinan. Tidak jarang memang orang lupa ketika posisinya sudah ‘di atas’. Mereka lupa dengan rakyat jelata yang kalau bukan tanpa rakyat jelata ini, mereka tidak akan pernah sampai ke posisi sebagai seorang pimpinan.

Tidak hanya dalam berperilaku. Dalam bertutur pun, yang namanya raso  atau rasa harus diperhatikan. Seorang mahasiswa pernah curhat kepada saya atas perlakuan yang diterima. Ketika mengurus persyaratan untuk ujian, bukannya peayanan dan respon positif yang diterima. Justru mahasiswa ini merasa direndahkan karena dianggap mendesak padahal belum di posisi akan di drop out. Rasanya tidak satu mahasiswa pun mau termasuk dalam kelompok yang harus dipaksa keluar dari kampus karena melebih waktu masa studi yang sudah dialokasikan.  Apalagi bagi mereka yang terbilang masa studinya standar. Sangatlah tidak bijak mengeluarkan statement yang justru mengancam muka.

Mengancam muka (Brown dan Levinso, 1986) disebut juga dengan menyakiti orang lain melalui bahasa. Bahasa itu sangat powerful  (Revita, 2015). Bahkan, Napoleon dalam sebuah tulisannya menyebutkan, lidah bisa lebih tajam dari sebilah pedang. Bahkan, lidah ini mampu membunuh ribuan manusia, lewat kata-kata.

Bagi orang-orang yang sudah mengalami mati rasa, mereka tidak mengenal semua istilah ini. Mereka tidak menyadari atau tidak mau tahu ketika apa yang dikatakan dan dilakukan akan menyakiti orang lain. Bagi mereka pada umumnya hanyalah kepentingan pribadi belaka. Sejauh, tujuan utama pribadinya terpenuhi, kalaupun harus menyakiti atau mengorbankan orang lain, tidak ada masalah.

Kenapa hal demikian sampai terjadi?

Seorang teman menyebutnya karena dunia sekarang adalah dunia wale-wale. Segala sesuatu penuh dengan ketidakjelasan. Bahwa kita, manusia adalah berbeda. Perbedaan yang seharusnya dijadikan media untuk menjadi lebih cerdas dalam hal tenggang rasa dan tepa selira.Tapi itu tidak terjadi. Justru perbedaan membangun terjadinya friksi. Friksi ini kemudian membuat terjadinya perseteruan. Perseteruan semakin dalam ketika kekuasaan mulai ikut ambil bagian. Melalui kuasa, maka perilaku menindas yang lemah pun tidak terhentikan.

Mengerikan memang. Tetapi itulah realita. Bahwa ada yang namanya mati rasa dalam hati manusia sehingga mereka menjadi manusia bengis, sadis, dan tidak berperasaan. Semoga kita terlindung dari semua ini dan tetap menjadi manusia yang ‘memiliki hati’. Aamiin!

 

 

Ike Revita

Dosen Pascasarjana Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Andalas

Sudah dimuat di Harian Padang Ekspres, 6 Mei 2018, Hal.1

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation