Sebuah tulisan entah tiba-tiba muncul saja saat saat saya sedang surfing di dunia maya. Tulisan itu saya baca berulang kali agar bisa menangkap dan memahami maksudnya. Dikatakan Kalau tugasmu adalah memberitahuku bagaimana aku harus melakukan pekerjaanku, paling tidak kau sendiri seharusnya tahu bagaimana cara melakukannya.

IMG-20180101-WA0016

Ulasan ringkas di bawah tulisan kemudian ini membuat saya  tergelitik untuk menulis. Berbekal beberapa kisah yang dialami oleh sahabat dan kejadian yang saya lihat di lingkungan sekitar. Sepertinya kutipan ini cocok dengan judul di atas. Dibalut dengan bahasa alay dan menggunakan Bahasa Indonesia non-standar, saya nilai sense  pesan dalam kutipan ini lebih mudah disampaikan.

Dimulai dari versi Bahasa Indonesia yang baik dan benar untuk sok tau dan Ndak mau tau. Sok tau  disusun oleh dua kata  sok + tau. Sok dalam KBBI (2012) dikatakan sebagai berlagak dan merasa mampu (padahal sebenarnya tidak mampu) dan tau adalah kata tahu yang mengalami delesi pada bunyi ‘h’ sehingga menjadi Bahasa Indonesia tidak formal. Tahu diartikan secara semantis sebagai mengerti akan sesuatu yang sudah dilihat atau dialami.

Dengan demikian sok tau  adalah berlagak merasa mengerti akan sesuatu hal yang seakan-akan dia sudah melihat atau alami, padahal belum. Sok tau  ini tidak jarang dipergunakan dan dirubah dalam tuturan lisan menjadi sok teu. Biasanya perubahan ini terjadi jika sikap sok tahu seseorang sudah dianggap berkelebihan dan membuat orang lain jengkel. Penggunaannya pun diiringi dengan aspek suprasegemental dan body language yang mendukung, seperti ekspresi mencemooh dan nada suara marah.

Ndak mau tau dalam Bahasa Indonesia dikatakan juga tidak mau tahu. Tidak mau tahu artinya tidak ingin mengerti sesuatu meskipun dia melihat dan mengalami sesuatu itu. Baik sok tau  atau tidak mau tau adalah suatu sikap dan sifat. Keduanya dinilai tidak ada yang baik atau lebih baik dibandingkan yang lainnya.

Apakah ada orang yang bersifat seperti ini?

Jawabnya adalah ada dan mungkin banyak.

Saya pernah menyaksikan seseorang yang diberi amanah untuk menjadi pimpinan tetapi tidak tepat dipanggil pemimpin. Perannya sebagai pimpinan dinilai hanya terpusat kepada pribadi. Banyak hal yang dikerjakan yang hanya membuat dia diuntungkan. Posisinya itu semakin mulus dengan tindakan-tindakan dan power yang dimiliki. Padahal nyata-nyata apa yang dialakukan berseberangan dengan aturan. Tapi dia tidak mau tahu dengan pelanggaran yang dialakukan.

Pimpinan dan pemimpin dalam linguistik dan arti semantis memiliki makna yang berbeda. Disebutkan pimpinan adalah orang yang paling di atas. Artinya, seorang dikatakan pimpinan karena dia memang berada di posisi atas di sebuah institusi atau lembaga.

Sementara itu, pemimpin adalah orang yang didahulukan (KBBI, 2012). Seorang pemimpin biasanya oleh orang Minangkabau akan didauluan salangkah, ditinggian sarantiang.

Sejalan dengan ini, beberapa ahli berpendapat bahwa pemimpin dianggap sebagai seseorang yang dengan berbagai cara untuk mencapai tujuan bersama. Dengan kata lain, seorang pemimpin pasti akan memikirkan kepentingan bersama, bukan kepentingan pribadi.

Inilah yang membedakan seseorang itu dikatakan sebagai pimpinan dan pemimpin. Semua pemimpin pasti pimpinan, tetapi tidak semua pimpinan itu menjadi pemimpin. Hal demikian terjadi karena dia bekerja hanya untuk kepentingan pribadi. Dia tidak pernah memikirkan kebaikan bersama, yang ada dalam pikiranya hanya keuntungan dan segala sesuatu yang memberi manfaat banyak kepadanya sebagai personal.

Saat pimpinan seperti ini diberi masukan, bukannya ditampung atau diakomodir, justru dengan arogannya dia membantah dan membenarkan apa yang dilakukan. Ironisnya, kaum penjilat pun ikut menumpang biduk hilir atas ketidakbenaran ini. Inilah yang dikatakan Revita dengan kebohongan berjamaah (Singgalang, 2018). Tidak hanya itu, kroni-kroni dan para penjilat ini  tidak mau tahu dengan apa pun keadaan di sekeliling. Sejauh mereka senang, pola yes, Sir tetap mereka pakai agar posisinya aman.

Yang memiriskan dalam kisah di atas adalah, pimpinan ini selalu mengatakan tidak tahu untuk banyak hal yang seharusnya menjadi tanggungjawabnya. Saat dikonfirmasi, jawaban tidak tahu adalah pilihan. Tidak tahu sepertinya menjadi jawaban favorit untuk sebiah amanah yang tidak sederhana. Tanggung jawab seperti apa yang akan dilakukan saat ditanya atas amanah ini?

Naudzubillahiminzalik!

Kisah kedua adalah ketika seorang pimpinan berlaku tidak mau tahu dengan lingkungan yang dipimpinnya. Dijadikan pimpinan di sebuah institusi dalam ranah pendidikan bernuasa religi. Religi dijadikan bumper untuk semua aktivitas dan kebijakan yang diambil. Ketidaktahuan banyak pihak ditambah dengan ketidakmautahuan menyebabkan perilaku ini semakin menjadi-jadi.

Saat diberi pandangan atas salah arah dan ‘jalan sesat’ yang sudah dilakukan, perilaku arogan dan takaburnya langsung muncul. Lebih parahnya lagi, mata hatinya seakan-akan ditutup walau sudah disiram dengan ayat-ayat suci Al-quran.  Tumpul hati (Singgalang, 2017), itulah yang terjadi pada dirinya. Dia sudah tidak mau tahu dengan lingkungan. Yang ada adalah kekuasaan. Hedonis dunia seakan merasuk dalam jiwanya dan menyebabkan dia tidak terkendali. Ibarat banteng lepas yang menanduk kesana-kemari mengejar matador yang berupaya mengarahkannya ke jalan yang benar.

Ini adalah realita orang-orang yang tidak mau tau. Dalam posisi sebagai pimpinan sekalipun, dia tetap bertahan dengan tidak mau tahu ini.

Kisah ketiga adalah orang yang sok tahu. Seorang sahabat mengeluhkan pimpinannya yang sok tau ini. Awalnya saya berpendapat bahwa sahabat ini keliru karena kecil kemungkinan seorang pimpinan akan sok tau. Justru, karena banyak yang dia tahu, makanya dia diangkat menjadi pimpinan.

Teman ini dengan tegas menyebutkan, justru pengangkatan sebagai pimpinan bukan karena kompetensi tetapi karena ‘ada apanya’. Istilah ‘ada apa’ ini membuat saya sedikit tergelak karena dalam sebuah tulisan yang ditulisa Revita  di Harian Singgalang, 2016, dikatakan dunia sekarang adalah dunia wale. Semuanya adalah kepentingan. Dasar hampir semua kegiatan adalah kepentingan. Tidak ada yang namanya teman tetapi kepentingan (pribadi).

Tulisan yang serupa ditulis Revita (2015) bahwa dunia adalah panggung sandiwara. Semua manusia adalah pemain yang melakoni peran tertentu. Peran itu ada yang sungguh-sungguh atau pura-pura. Kepura-puraan ini membuat dia menjadi manusi bertopeng (Revita, 2016)  yang bisa saja memilih topeng sesuka hati untuk menyembunyikan wajah aslinya.

sfrr1

Apakah kita akan tetap menjadi manusia bertopeng dalam dunia wale? Menjadi sok tau meskipun tidak tahu. Menjadi tidak mau tahu karena semuanya adalah sandiwara dengan peran pura-pura.

Yang pasti, semua  makhluk hidup pasti mati dengan membawa pertanggungjawaban atas perbuatannya. Tinggal kita memilih,  bertanggung jawab untuk menjadi amanah atau justru memilih menjadi seorang khianat hanya untuk motivasi duniawi.

 

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris

FIB Unand

Sudah dimuat Di Harian Singgalang, 29 April 2018, hal. A-5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation