Pernahkah anda mendengar istilah ‘kebohongan berjamaah’? Berjamaah biasanya berhubungan dengan kebaikan. Sementara itu, kebohongan adalah salah satu perbuatan yang identik dengan hal yang negatif. Tidak hanya itu, berbohong kalau dikembangkan lebih jauh lagi adalah sesuatu yang menjadi bagian dari sifat yang disebut dengan munafik?

IMG-20171105-WA0032

Apakah berbohong itu?

Berbohong berasal dari kata ‘bohong’ yang diawali dengan prefix ber-. Dalam KBBI (2012) bohong diartikan sebagai tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Bohong dikatakan juga sebagai dusta. Sementara itu, berbohong adalah menyatakan sesuatu yang tidak benar atau berdusta.

Islam sebagai agama yang banyak diyakini umat di Indonesia mengajarkan agar manusia tidak berbohong. Hal ini sesuai dengan Hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim bahwa “Kejujuran menuntun pada kebajikan, kebajikan dapat menghantarkan ke surga. Sesungguhnya kebohongan itu menyeret manusia pada kejahatan , sedang kejahatan itu dapat menyeret pada neraka.”  Berbohong bahkan dinyatakan hukumnya haram. Artinya, jika kebohongan dilakukan, maka orang itu akan berdosa.

Di dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah mereka yang tidak mengimani (mempercayai) tanda-tanda kekuasaan Alloh. Mereka adalah kaum pendusta” (An-Nahl: 105).

Betapa berbahayanya sikap berbohong ini karena Allah sangat membenci sifat ini. Seorang pendusta dianggap orang yang tidak mempercayai dan mengimani adanya kekuasaan Allah. Naudzubillahiminzalik!

Sementara itu, kebohongan   (juga disebut kepalsuan) adalah jenis penipuan dalam bentuk pernyataan yang tidak benar, terutama dengan maksud untuk menipu orang lain, seringkali dengan niat lebih lanjut untuk menjaga rahasia atau reputasi, perasaan melindungi seseorang atau untuk menghindari hukuman atau tolakan untuk satu tindakan.

Sebuah kebohongan biasanya didukung oleh puluhan kebohongan lainnya. Logikanya adalah ketika seseorang berbohong, dia akan menciptakan data-data baru agar kebohongannya terkesan benar adanya. Bahkan, tidak jarang kebohongan ini melibatkan nama orang lain seakan-akan menjadi jaminan bahwa kebohongannya itu adalah kebenaran.

Bagaimana kalau kebohongan itu dilakukan secara berjamaah karena jamaah artinya bersama-sama. Berjamaah dilakukan oleh lebih dari satu orang karena salah satu akan menjadi pemimpin dan lainnya akan mengikut. Berjamaah lazimnya dilakukan ketika shalat yang dipimpin oleh seorang imam dan diikuti oleh makmum atau jamaah. Sekarang kebohongan dilakukan secara berjamaah. Kebohongan itu dipimpin oleh seseorang dan diamini oleh pengikut-pengikutnya untuk mengiyakan kebohongan itu.

14102631_10208822921542952_4843916666509871026_n

Kalau sudah demikian, seperti apa jadinya masa depan?

Ada beberapa peristiwa yang masuk dalam pengamatan saya terkait dengan perilaku berbohong dan kebohongan berjamaah ini. Pertama adalah ketika seseorang yang didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting alias pimpinan di sebuah institusi pendidikan berbasis agama dinilai melakukan kebohongan berjamaah. Dimulai dari informasi yang diberikan yang sifatnya membalikkan fakta. Power yang dimiliki membuat dia seakan-akan legal melakukan  sebuah kebohongan. Kebohongan itu tidak hanya terkait dengan aktivitas pendidikan tetapi juga ada upaya semacam pembohongan ‘publik’. Melalui tutur kata yang manis ditambah dengan kemampuan membolak-balik lidah, banyak orang yang percaya.

Menelan informasi yang belum tentu benar adanya secara mentah menyebabkan banyak masyarakat terpedaya. Bahkan, menggunakan data-data yang membalikkan fakta, informasi ini terkesan seakan-akan benar adanya.

Kebohongan ini menjadi berjamaah ketika ada pihak-pihak yang mungkin saja di bawah tekanan kuasa atau tidak memiliki pilihan karena suatu alasan kemudian ikut mengiyakan berita bohong ini. Ironisnya, mereka ini adalah orang-orang yang idealnya menyampaikan kebenaran. Justru kejujuran mereka adalah modal karena mereka adalah model bagi anak-anak didiknya.

Akibatnya, kebohongan seorang pemimpin yang disupport anggotanya dapat dikategorikan sebagai sesuatu yag bersifat jamaah. Terlepas dari ketidaktahuan, yang paling fatal adalah mereka yang mengetahui secara pasti bahwa itu adalah informasi bohong tetapi tetap mengiyakannya. Kemudian mereka bersikap pura-pura tidak tahu.

Seorang teman mengatakan bahwa dunia sekarang adalah dunia wale. Disebutkannya demikian karena banyak hal yang tidak jelas yang kemudian didukung oleh orang lain. Ketidakjelasan itu kemudian dijadikan alasan untuk bertindak.  Hal demikian terjadi karena adanya kepentingan (Revita, 2018). Alasan kepentingan menjadikan orang tidak lagi menggunkan logika dan hatinya dalam bertindak. Sejauh maunya terpenuhi, apakah itu melanggar aturan atau sebuah dosa tidaklah lagi menjadi pikiran. Bahwa hidup akan mati dan semua perbuatan akan dipertanggungjawabkan tidak pernah mampir ke dalam pikiran mereka sehingga semuanya dilanyau dan apa saja dimamah.

Sungguh realitas yang mengerikan!

Kebohongan berjamaah kedua saya temukan dalam sebuah statement  seorang mantan pejabat yang dia sendiri tidak konsisten dengan pernyataannya. Untuk membela sebuah ketidakbenaran, dia pun menyampaikan informasi yang pernah dibantahnya saat menjabat. Naifnya, pernyataan itu kemudian dia bantah sendiri dalam sebuah tulisan yang ditulis di media cetak. Tujuannya hanya satu, yakni kepentingan. Parahnya lagi, statemen ini kemudian dijadikan dasar untuk membuat kebohongan baru oleh pihak yang manumpang biduak ilia. Bahkan dijadikan landasan membuat kebijakan yang bersifat zalim.

Ketika dikonfrmasi, wajah innocent dan kalimat-kalimat berbungkus kemunafikan pun mengalir. Orang yang mendengar akan menganggap betapa bijaksananya di mantan pejabat ini. Faktanya, dia sedang membangun sebuah citra melalui rantai-rantai kebohongan yang didukung dan diiyakan kaki tangannya. Kaki tangan yang suatu saat akan mencampakkannya ketika sudah tidak berdaya.

Rangkaian seperti ini merupakan bentuk dari kebohongan berjamaah. Dilokomotifi oleh seseorang dan digerbongi oleh banyak orang yang membuat kebohongan itu ibarat rangkaian kereta api. Rangkaian itu akan semakin  panjang tatkala gerbong semakin banyak melekat dan ikut dengan satu lokomotif itu.

Gerbong inilah yang dikatakan sebagai jamaah atau pengikut dari lokomotif atau pemimpin yang menyampaikan kebohongan. Jamaah  yang secara etimologi berasal dari Bahasa Arab diartikan sebagai pengikut terlibat juga melakukan kebohongan. Meskipun dilakukan secara langsung atau tidak langsung, apalagi  dengan sadar mengiyakan sebuah kebohongan.

Di sinilah lobang mulai digali. Apalagi terjadi dalam ranah pendidikan dimana di sinilah tempatnya otak manusia diisi. Di sini pulalah orang tua menitipkan anak-anaknya untuk dididik dan dibentuk. Artinya, peran pendidik ini tidak sederhana. Mereka punya peran yang luar biasa.

Sayangnya, peran ini tidak dijalankan secara maksimal  sehingga yang jadi korban adalah masa depan. Anak-anak adalah masa depan yang kemudian diisi oleh kebohongan-kebohongan yang sifatnya sudah berjamaah.

IMG-20161117-WA0016

Apakah akan kita biarkan saja? Ini adalah tanggung jawab kita. Tetap diam, menonton, dan membiarkan kebohongan berjamaah? Semuanya kembali ke kita karena selemah-lemahnya iman adalah dengan diam. Ini pulah yang dikatakan Rasulullah dalam hadisnya yang diriwayatkan Muslim Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran hendaklah ia mengubah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika ia masih tidak mampu, maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman.

 

 

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris

FIB Universitas Andalas

 Sudah dimuat di Harian Singgalang, 22 April 2018, Hal. A-5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation