Ibu kita Kartini, Putri sejati, Putri Indonesia, Harum namanya

Ibu Kita Kartini, Pendekar Bangsa, Pendekar Kaumnya,Untuk Merdeka

Wahai Ibu kita Kartini, Putri yang Mulia, Sungguh besar cita-citanya, Bagi Indonesia

 29547798_1822078884752280_2104744666_n

Demikian bait syair lagu yang berjudul Ibu Kita Kartini. Lagu ini pada umumnya sudah diketahui dan hafal di dalam kepala anak-anak Indonesia karena dalam aktivitas di sekolah mereka juga diajarkan lagu-lagu nasional yang salah satunya adalah Lagu Ibu Kita Kartini ini.

Anak-anak manakah yang hafal dengan lagu Ibu Kita Kartini?

Apakah anak-anak jaman now atau jaman old?

Bagi saya pertanyaan di atas tidak perlu dijawab. Bahkan untuk persoalan apakah mereka hafal syair lagu itu atau tidak bukan juga menjadi highlight. Yang paling penting adalah bagaimana cita-cita Kartini dan pejuang perempuan lainnya diimplementasikan dalam kehidupan yang real. Apakah filosofi perjuangan Kartini itu benar-benar dipahami oleh semua perempuan yang kemudian diwujudkan dalam perilaku sehari-hari mereka? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan dijawab dalam tulisan tentang Kartini Jaman Now?

Seperti apakah Kartini  sesungguhnya?

Yang banyak diketahui orang adalah bahwa Kartini lahir pada tanggal 21 April. Oleh karena itu, setiap tanggal 21 April  dirayakan sebagai Hari Kartini. Dalam perayaan Hari Kartini ini, banyak kegiatan yang berbeda dari biasanya dilakukan. Berbagai perlombaan tidak jarang juga dilakukan, seperti lomba memakai kebaya, berkonde, atau pertandingan yang sifatnya berhubungan dengan perempuan.

Di balik tanggal 21 April ini, apakah semua orang yang merayakannya mengetahui perjuangan yang sesungguhnya sudah dilakukan Kartini sehingga dia dijadikan sebagai salah satu pahlawan nasional.

Dalam beberapa diskusi dengan berbagai kalangan dan masyarakat umum, jawaban yang mereka berikan hampir seragam, bahwa Kartini adalah pejuang wanita. Kartini adalah perempuan yang juga memperjuangkan emansipasi perempuan. Emansipasi yang mereka maksud adalah kesejajaran antara laki-laki dan perempuan.

Pendapat ini sepertinya perlu diluruskan. Ada  banyak informasi tentang Kartini dan konsep-konsep perjuangannya yang selama ini banyak salah kaprah dimaknai.

Pertama adalah buku yang berjudul ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ bukanlah ditulis oleh Kartini tetapi kumpulan surat hasil korespondensi Kartini dengan sahabatnya di Belanda yang kemudian dibukukan oleh J. H. Abendanon.  J. H. Abendanon  adalah Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda dari tahun 1900-1905. Kumpulan surat-surat  yang sudah dibukukan ini kemudian diterbitkan tahun 1911. Tahun 1922, buku ini kemudian dialihbahasakan ke Bahasa Indonesia oleh Armin Pane dan diterbitkan oleh Balai Pustaka berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang.

Dalam buku ini, tidak semua surat Kartini ditampilkan. Untuk alasan kronologis cerita, beberapa surat sengaja tidak dimasukkan dalam buku. Namun, kalimat-kalimat inspiratif banyak ditemukan, seperti Kita dapat menjadi manusia sepenuhnya, tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya.

Kutipan ini memiliki makna yang tidak sederhana. Implikasi yang terkandung di dalamnya menunjukkan bahwa seorang perempuan itu tidak akan dan tidak perlu kehilangan keperempuanannya untuk menjadi manusia sesungguhnya.

Inilah yang perlu direnungkan kaum perempuan atau kelompok yang memelintir sosok Kartini untuk menuntut kesetaraan dengan laki-laki. Di sinilah perlu digarisbawahi bahwa perempuan dan laki-laki secara kodrat berbeda. Mengandung, melahirkan, dan menyusui hanya dapat dilakukan oleh perempuan saja. Tidak satu laki-laki pun mampu melakukan tiga hal yang memang sudah ditakdirkan menjadi kelebihan kaum perempuan. Demikian juga dalam hal aktivitas yang menuntut fisik, tidak semua dapat diakukan perempuan. Seyogyanya, tidak perlu dilakukan pemakasaan atas suatu hal yang nyata-nyata sudah diciptakan dan diatur Allah Sang Pencipta.

Ini pulalah yang ditulis oleh Kartini dalam sebuah suratnya kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902,  Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.6

Jelas, tidak pernah Kartini menuntut agar perempuan dapat menjadi saingan bagi laki-laki. Yang ada  adalah perempuan yang kokoh dengan peran utamanya, yakni ibu dan pendidik manusia pertama.

Dalam perjalanan hidupnya, ada beberapa poin yang bisa diambil dri seorang Kartini. Pertama, Kartini adalah kepatuhan pada orang tua. Keinginan untuk bersekolah dan  melanjutkan pendidikan ke ELS (Europese Lagere School) setingkat Sekolah Dasar tidak diizinkan orang tuanya karena alasan adat. Kartini tidak melawan dan mengikuti perintah orang tuanya dengan belajar di rumah.

Kedua adalah gigih dalam berusaha. Tidak keluarnya izin dari orang tuaanya untuk melanjutkan studi tidak membuat Kartini patah semangat. Justru dia tetap berupaya mencari ilmu lewat kprespondensinya dengan kawan-kawan dari Eropah. Keinginan untuk memajuan diri sendiri dan kaum perempuan dilakukan melalui bertanya kepada ayahnya yang seorang Bupati di daerah Rembang.

Ketiga adalah Kartini memiliki pemikiran yang visioner. Melalui bacaan dan hasil korespondensinya ini, Kartini menggagas ide agar perempuan harus belajar, tidak hanya mengurus dapur, sumur, dan kasur. Bahwa perempuan adalah kelompok yang dimarjinalkan diperjuangkan Kartini agar mereka diberi kesempatan sehingga tidak menjadi kelompok sosial yang rendah lagi.

Keempat, kepedulian ssoaial Kartini yang sangat tinggi. Walaupun harus banyak menghabiskan hari-harinya di rumah tidak menjadikan Kartini berputus asa. Justru, keadaan ini dibuatkan kompensasi dengan mengumpulkan kaum  perempuan dan mengajarkan mereka tulisa baca di rumahnya. Kartini mengisi pemikiran kamum perempuan dengan wawasan, keterampilan,  dan ilmu pengetahuan.

Kelima adalah, Kartini  memiliki kehidupan yang religius. Inilah yang banyak tidak diketahui orang bahwa Kartini memiliki cita-cita dan harapan agar Islam tidak lagi difitnah dan dianggap sebagai agama yang memiliki citra buruk. Dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, Kartini menuliskan  Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disukai. Selain itu, dalam surat  ke Ny Abendanon, bertanggal 1 Agustus 1903, dia juga menulis Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah.

Apakah nilai-nilai yang terurai dalam diri Kartini   ini masih ditemukan dalam diri Kartini jaman now?

Banyak perempuan Indonesia yang sudah terpelajar dari  berbagai level jenjang pendidikan. Banyak posisi dalam banyak pekerjaan yang diduduki oleh perempuan. Akan tetapi, apakah hanya itu yang diharapkan Kartini? Bagaimana dengan perempuan sebagai seorang ibu?

Ada banyak perempuan di luar sana yang justru melupakan kodrat mereka ini. Kesibukan dengan ‘duniawi menjadikan mereka melupakan bahwa ada anak-anak yang membutuhkan mereka. Ada suami yang menjadi imam dalam rumah tangganyayang harus meraka patuhi. Mereka hanyut dengan hingar-bingar kehidupan sosial. Keberhasilan mereka adalah saat berhasil mengumpulkan materi sebanyak mungkin sehingga nilai-nilai budaya, agama, dan norma terabaikan.

Tidaklah dipungkiri bahwa perempuan jaman now memiliki multitasking. Tidak hanya sebagai istri dan ibu,  seorang perempuan juga menjadi partner bagi pasangannya, wanita karir karena ikut mencari nafkah untuk menopang kehidupan perekonomian keluarga, dan bagian dari kehidupan sosial. Sedikitnya, ada lima peran yang bergayut dalam diri seorang perempuan.

Walaupun demikian, tidak berarti perempuan itu harus meninggalkan budaya dan adat sebagaimana yang dicontohkan Kartini. Apakah Kartini jaman now adalah mereka yang jauh dari filosofis yang diajarkan Kartini? Kartini pasti akan menangis jika dia melihat apa yang diperjuangkannya jauh dari realitas kekinian.

16473125_10210651886586435_2899374358401411190_n

Kartini tidak menginginkan Kartini jaman now yang tidak peduli dengan nilai-nilai kebaikan sehingga menjadi hedonis. Justru Kartini jaman now harusnya mereka yang mampu mencerminkan sosok Kartini dengan kepribadian yang tetap mempertahankan moral value melalui perilaku.  Karena seperti itulah perempuan Indonesia yang seharusnya. Menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk kebaikan. Semoga!

 

Penulis

Ike Revita

Dosen Pascasarjana Unand, Peneliti dan Pemerhati Masalah Perempuan

Sudah dimuat di Harian Padang Ekspres 21 Aprl 2018, Hal.4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation