“Barangsiapa yang banyak bicaranya, maka banyak pula kesalahan-nya; barangsiapa yang banyak kesalahannya, maka sedikit malunya; barangsiapa yang sedikit malunya, maka sedikit kehati-hatian dalam beragama-nya; barangsiapa yang sedikit kehati-hatian-nya, maka mati hatinya; dan barangsiapa yang mati hatinya, maka dia akan masuk neraka.” (Anonim)

  17191206_10210974809539307_8817580439575794092_n

Suatu hari saya dikirimi sebuah pesan melalui media sosial oleh seorang teman. Pesan itu merupakan hasil chat yang di screen shoot. Dalam chat ini tergambar  terjadi semacam ketidaknyamanan komunikasi. Akan tetapi, dalam pilihan bahasa, teman ini terlihat sangat bijak karena dia akhirnya mengalah dengan memberi emoticon senyum dan jempol.

Rupanya ketidaknyamanan  tidak bisa ditahan teman ini karena dia kemudian membaginya dengan saya. Pertanyaan pertama setelah membaca hasil chat yang dikirim ke saya adalah ‘apa yang bisa dibantu?’. Pertanyaan ini kemudian membuat teman ini sepertinya agak sedih karena dia kemudian mengirim emoticon menangis. Saya pun mengklarifikasi pertanyaan dengan menjelaskan bantuan apa yang dibuthkannya dari saya. kalau hanya sekedar mendengar cuhatan hatinya, saya akan diam dan membaca semua tulisan yang dikirim via media sosial ini.

Teman ini kemudian mengurai kronologi kejadian sehingga chat yang berujung  miskom ini terjadi. Berawal dari niat baiknya memberi informasi atas ketidakjelasan sebuah iven. Maksud dia adalah agar pihak yang bertanggungjawab bisa mengklarifikasi keadaan yang sebenarnya. Niat baik kawan ini direspon secara nyelekit oleh penanggung jawab. Dengan menggunakan bahasa sarkasme, pihak penanggung jawab ini pun membuat teman ini kaget. Dengan bijak, kawan ini menjelaskan tujuannya. Akan tetapi, sepertinya antaramereka terjadi goresan-goresan ketidaknyamanan.

Dialog dalam sebuah paguyuban media sosial ini sudah pasti dibaca anggota yang lain. Buktinya adalah respon anggota paguyuban ini dengan menganggap kejadian ini sebagai trending topik. ‘Ada apa antara kamu dan dia?’, demikian tanya kawan-kawan anggota paguyuban ini saat bertemu. Di sinilah teman ini semakin tidak nyaman.

Curhatan yang cukup lama itu akhirnya bermuara pada diskusi kami tentang kehidupan berbahasa. Sebagai alat komunikasi, bahasa merupakan media yang sangat powerful (Revita, 2015). Melalui mulut sebagai alat ucap, dilengkapi oleh alat produksi bunyi lainnya manusia berbahasa. Kalaupun jika dilihat dari proses keluarnya bahasa dari mulut adalah melalui yang namanya otak (thought), sering filter otak ini tidak berjalan maksimal. Dikatakan demikian, apa yang ingin dikatakan akan langsung disampaikan. Di sinilah proses filter qalbu sangat diperlukan. Itu pulah sebabnya, Revita (2018) dalam bukunya Kaleidoskop Linguistik menyebutkan pentingnya berpikir dengan hati atau qalbu.

Dalam sebuah diskusi dengan seorang dokter spesialis hati, saya baru menyadari bahwa sebenarnya yang disebut ‘sakit hati’ itu adalah ‘liver yang bermasalah’. Akan tetapi jika sakit hati mengacu kepada hal yang abstrak, ini berhubungan dengan qalbu. Inilah peran ilmu dan iman.

Banyak orang yang berpendidikan tinggi. Mereka sudah pergi sekolah kemana-mana, sampai ke luar  negeri.  Artinya mereka memiliki ilmu yang banyak. Akan tetapi, dangkalnya iman menyebabkan mereka gagal menjaga bahasa. Tidak jarang bahasa yang dikeluarkan membuat orang tersakiti dan tersinggung. Bahasa ini tidak hanya bertemali dengan pola, tetapi juga pilihan kata. Pilihan pola dan pilihan kata yang tidak tepat ini menjadikan keterancaman muka orang lain (Brown dan Levinson, 1987). Saat muka orang lain terancam, di sinilah letaknya ketidaksantunan (impoliteness) (Revita, 2016; Culpepper, 1998).

Saat agama diimplementasikan dalam berbahasa, tuturan yang diproduksi pasti mempertimbangkan kenyamanan orang lain. Inilah yang bagi orang Minang disebut dengan mangango sabalum mangecek. Apa yang akan dikatakan  seyogyanya harus dipikirkan dan kemudian diturunkan ke qalbu lebih dulu sebelum dia keluar lewat mulut. Saat ucapan yang dikeluarkan sudah menggores hati orang lain, tidak jarang sulit untuk sembuh dan kembali seperti sedia kala. Meski maaf akan diberikan, apa yang dikatakan akan menjadi catatan atas masa lalu. Apa yang diucapkan akan melekat dan menjadi label bagi dirinya (Chaika, 2007). Language is the mirror of personality ‘Bahasa cerminan pribadi’.

Bersama Wako Padang_

Akan lebih sulit jika pola berbahasa dengan pilihan yang tidak pas itu sudah mendarah daging. Adalah watak dirinya dengan bahasa yang selalu menyakiti orang lain. Dalam ilmu psikologi, watak dipastikan tidak akan dapat berubah, berbeda halnya dengan sifat. Bahkan, Allah pun mengatakan dalam Al-quran Surat An-Nisa, ayat 155, Allah akan mengunci hati orang-orang yang kafir, yang suka melanggar janji dan merubah perkataannya (Al Maidah, ayat 13). Dengan kata lain, orang-orang berwatak yang jauh dari nilai agama suatu saat akan dibiarkan Allah dengan kesombongan dan kekafirannya itu.

Naudzubillahiminzalik!

Saya pun teringat dengan salah seorang teman yang kalau bicara selalu balapia-lapia. Dia seperti habis makan mercon setiap berbicara. Bahkan ada yang menyebutkan, tidak ada manusia di fakultas tempat dia bekerja yang tidak tersinggung olehnya. Karena apa? Kata-katanya.

Apa yang dikatakan selalu mencari lawan. Pernah suatu ketika bertemu dengan lawan yang lebih tangguh, akhirnya dia diam. Akan tetapi, bukan pelajaran yang diambil. Dia tidak berubah menjadi lebih baik. Justru perilaku berbahasanya semakin parah. Bahasa-bahasanya adalah bahasa yang mencari lawan.

Jika masyarakat punya aturan bertutur kato nan ampek, dia  hanya memiliki dua, kato mandaki  dan manurun. Akibatnya, orang dianggap sama besar atau lebih kecil. Tidak ada kato malereang atau mandaki meskipun berbahasa kepada orang yang lebih tua atau mantan dosennya.

Yang parahnya lagi, nasihat-nasihat kebaikan sering dibagi di group media sosial. Apa yang dikirimnya itu seakan-akan menjadi topeng ‘kejahatan’ yang dilakukan. Apa yang disampaikan  di group itu adalah casing pembungkus kebusukan.

Beberapa kali teman mengingatkan dan memberitahu. Akan tetapi, hatinya seperti sudah tumpul (Revita, 2016). Dia menganggap apa yang dilakukannya selalu benar. Bahkan dalam banyak kesempatan, dia selalu menggunakan, ‘kamu salah…kamu salah’. Artinya, dia tidak pernah salah. Hingga ketika berdiskusi dengannya seperti debat kusir yang tiada guna. Debat ini menjadi sebuah kekonyolan kalau dilanjutkan.

Dikatakan sesungguhnya sebagian perkataan itu ada yang lebih keras dari batu, lebih pahit daripada jadam, lebih panas daripada bara, dan lebih tajam daripada tusukan. Sesungguhnya hati adalah ladang, maka tanamlah ia dengan perkataan yang baik, karena jika tidak tumbuh semuanya niscaya akan tumbuh sebagian.

Apa yang dikatakan ibarat menanam sesuatu di hati. Apabila yang dikatakan adalah kebaikan, maka yang tumbuh pun kebaikan. Meski tidak memenuhi ladang itu sepenuhnya, paling tidak ada yang tumbuh, yakni kebaikan.

Hadis Rasulullah yang diriwayatkan Abu Daud  menyebutkan Aku jamin rumah di dasar surga bagi yang menghindari berdebat sekalipun ia benar, dan aku jamin rumah di tengah surga bagi yang menghindari dusta walaupun dalam bercanda, aku jamin rumah di puncak surga bagi yang baik akhlaknya.

Semoga!

 23845282_1772235006403335_1262849804_n

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris

FIB Unand

Sudah dimuat di Harian Singgalang, 15 April 2018, Hal. A-5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation