*To err is human; to forgive is divine* ( Alexander Pope)

*Tua adalah keniscayaan, dewasa adalah pilihan  (Anonim)

 singgalang 8 april 2018_2

Kutipan pertama saya ambil dari sebuah karya seorang penyair dari Inggris, Alexander Pope yang hidup di abad 17. Dikatakan, salah itu manusiawi dan memaafkan itu Ilahi. Kutipan kedua ini sangat sering saya dengar diucapkan oleh orang-orang bijak ketika berdiskusi tentang hidup dan kehidupan.

Pesan yang memiliki makna tidak jauh berbeda ini kemudian menggiring saya pada beberapa kejadian beruntun yang saya alami dalam waktu yang berdekatan. Berlanjut diskusi dengan seorang sahabat, Angga Pramana, Dosen Fakultas Pertanian Universitas Islam Teluk Kuantan Singingi, akhirnya tulisan ini lahir sebagai hasil dari kolaborasi dua ilmu yang secara harfiah jauh hubungannya, ilmu agroteknologi dan linguistik.  Meskipun demikian, bahwa ilmu ini pada awalnya berasal dari satu titik yaitu, filsafat dapat dibuktikan melalui pengayakan dari konsep yang disebut dengan  organoleptik.

singgalang 1 april 2018_2 TK

 

Apa itu Organoleptik?

Organoleptik disebut juga dengan uji indra atau uji sensori. Pengujian organoleptik adalah pengujian yang didasarkan pada proses pengindraan.

Pengindraan diartikan sebagai suatu proses fisio-psikologis, yaitu kesadaran atau pengenalan alat indra akan sifat-sifat benda karena adanya rangsangan yang diterima alat indra yang berasal dari benda tersebut. Pengindraan dapat juga berarti reaksi mental (sensation) jika alat indra mendapat rangsangan (stimulus).

Reaksi atau kesan yang ditimbulkan karena adanya rangsangan dapat berupa sikap untuk mendekati atau menjauhi, menyukai atau tidak menyukai akan benda penyebab rangsangan. Kesadaran, kesan dan sikap terhadap rangsangan adalah reaksi psikologis atau reaksi subyektif. Pengukuran terhadap nilai / tingkat kesan, kesadaran dan sikap disebut pengukuran subyektif atau penilaian subyektif. Disebut penilaian subyektif karena hasil penilaian atau pengukuran sangat ditentukan oleh pelaku atau yang melakukan pengukuran.

Ini adalah deskripsi tentang uji organoleptik yang ditilik dari bidang ilmu teknologi pangan. Pada dasarnya, uji organoleptik ini digunakan untuk mengindentifikasi  bahan makanan berdasarkan kesukaan dan kemauan untuk mempegunakan suatu produk. Ituah sebabnya, unsur objektiftas dalam uji organoleptik realatif tinggi karena berhubungan dengan indrawi seseorang dalam memunculkan reaksi psikologisnya ketika diberi ransangan. Ransangan itu dapat bersifat mekanis (tekanan, tusukan), bersifat fisis (dingin, panas, sinar, warna), sifat kimia (bau, aroma, rasa). Pada waktu alat indra menerima rangsangan, sebelum terjadi kesadaran, prosesnya adalah fisiologis, yaitu dimulai di reseptor dan diteruskan pada susunan syaraf sensori atau syaraf penerimaan.

Bagian organ tubuh yang berperan dalam pengindraan adalah mata, telinga, indra pencicip, indra pembau dan indra perabaan atau sentuhan. Kemampuan alat indra memberikan kesan atau tanggapan dibedakan berdasarkan jenis kesan, intensitas kesan, luas daerah kesan, lama kesan dan kesan hedonik. Jenis kesan adalah kesan spesifik yang dikenali misalnya rasa manis, asin. Contoh lainnya adalah  kesan yang ditimbulkan dari mencicip dua tetes larutan gula memberikan luas daerah kesan yang sangat berbeda dengan kesan yang dihasilkan karena berkumur larutan gula yang sama. Lama kesan atau kesan sesudah “after taste” adalah bagaimana suatu zat rangsang menimbulkan kesan yang mudah atau tidak mudah hilang setelah mengindraan dilakukan.

Terdapat gambaran yang cukup spesifik bagaimana organoleptik digunakan untuk mengindikasikan rasa dan menjadi dasar atau alat penguji atas kualitas suatu benda.

 

Apa Hubungan Organoleptik dan Linguistik?

Sebagai ilmu yang mempelajari bahasa, Linguistik sebenarnya tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi pad uji rasa atau organoleptik ini. Bisa diambil sebuah  contoh yang sedang viral sekarang. Ketika seorang putri mantan presiden kemudian membacakan puisi yang menyinggung dan mengoyak hati umat Islam. Apa yang terjadi?

Timbul reaksi bermacam-macam. Ada yang merespon dengan membalas membuat puisi yang sama yang sifatnya mengingatkan. Ada juga yang mengekspresikan lewat kata-kata kemarahan. Ada yang melakukan tuntutan hukum.

Beragamnya respon ini merupakan analogi dari apa yang dirasakan seseorang ketika indra perasanya mencoba sebuah benda. Kenapa hal demikian bisa terjadi? Salah satu jawabannya adalah pengalaman.

Pengalaman dalam Linguistik termasuk dalam konteks. Konteks adalah segala sesuatu yang mewadahi terjadinya pertuturan (Revita, 2014). Dengan konteks, seseorang menggunakan pikiran, akal, dan hatinya untuk memilih tuturan. Melalui konteks, tuturan yang tepat diidentifikasi sehingga terproduksilah rangkaian kata-kata yang keluar melalui alat ucap.

Hal senada disebutkan oleh Odgen dan Richard  dalam bukunya Theory of Meaning (1927). Dikatakan adanya hubungan yang dekat antara sebuah simbol dengan referen yang diacu. Akan tetapi, acuan itu hendaknya melalui pikiran dulu (thought). Pikiran ini dalam pemahaman saya bertemali dengan pengalaman. Pengalaman ini membantu seseorang dalam mencari apa acuan dari simbol itu.

Singgalang 8 April 2018_3

Jika simbol adalah sesuatu yang tidak pernah diketahui dan dialami, mustahil benda yang diacu dapat diperoleh. Misalnya, ketika simbol yang digunakan adalah S-A-L-J-U = salju, sangat tidak mungkin bagi orang mencari acuannya atau bendanya jika mereka belum tahu sebenarnya salju itu apa. Mereka akan blank karena tidak ada pengalaman.

Demikian juga halnya dalam berbahasa. Sangatlah perlu diperhatikan aspek-aspek yang dapat memicu terjadinya multitafsir yang potensial terjadi akibat adanya perbedaan rasa. Rasa ini juga akan berbeda ketika suasana hati sedang tidak nyaman.

Orang yang mood-nya sedang tidak bagus cenderung sensitif dalam memaknai sebuah tuturan. Seperti halnya orang yang lidahnya baru saja terminum air panas, akan memberikan penilaian rasa berbeda terhadap sebuah benda dibandingkan dengan orang yang berlidah ‘normal’.

Itulah sebabnya, Revita (2018) menyebutkan hendaknya berkata-kata tidak hanya menggunakan mulut, tetapi juga hati. Berpikir tidak hanya menggunakan otak, justru berpikirlah menggunakan hati. Artinya, seseorang memang harus perlu menimbang dan me-recheck  semua perkataan yang akan dikeluarkan. Agar tidak ada yang tersakiti. Agar tidak ada yang merasa tidak nyaman. Ketidaknyamanan itu tidak menutup berujung pada ketidakharmonisan. Ketidaknyamanan orang lain tidak mustahil  berakhir di penjara.

Banyak orang yang gagal menjaga  mulutnya yang kemudian menjadi dasar bagi orang lain untuk melakukan tuntutan. Banyak contoh di sekitar yang dapat dijadikan pedoman dalam menjaga ‘mulut’ dan ‘hati-hati berbicara’ agar tidak menjadi bumerang bagi diri sendiri.

Semoga organoleptik ini membuat kita semakin cerdas dalam berbahasa dan berujung pada semakin kecilnya dunia karena semua adalah sahabat kita. Semua merasa nyaman dengan cara kita berbahasa. Semoga!

 

 

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris

FIB Unand

Sudah dimuat di Harian Singgalang 8 April 2018, Hal. A-5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation