“Perkataan tetap berada dalam belenggumu selama engkau belum mengucapkannya. Jika engkau telah mengucapkan perkataan itu, maka engkaulah yang terbelenggu olehnya. Oleh karena itu, simpanlah lidahmu, sebagaimana engkau menyimpan emasmu dan perakmu. Ada kalanya perkataan itu mengandung kenikmatan, tetapi ia membawa kepada bencana.”  (Anonim)

Padeks 2 April 2018

Kutipan yang entah siapa pertama kali mengemukakannya menunjukkan betapa lidah adalah organ yang perannya tidak sederhana. Sebagai alat pengecap, lidah juga menjadi media utama dalam berbicara atau berkata-kata. Keberadaan dan posisi lidah memembuat bunyi yang diproduksi oleh alat ucap menjadi berbeda. Inilah yang disebut juga dengan bagian dari sebuah artikulasi.

pungli

Artikulasi merupakan perubahan rongga dan ruang dalam saluran suara untuk menghasilkan bunyi bahasa. Daerah artikulasi terbentang dari bibir luar sampai pita suara di mana fonem-fonem terbentuk berdasarkan getaran pita suara disertai perubahan posisi lidah dan semacamnya (KBBI, 2012). Dengan demikian, artikulasi bertemali erat dengan alat ucap.

Alat ucap ini secara umum dibagi atas dua, yakni 1) artikulator pasif dan 2) artikulator aktif.  Artikulator pasif adalah organ-organ yang tak bergerak sewaktu terjadi  artikulasi  suara seperti bibir atas, gigi atas dan alveolum. Artikulator aktif bergerak ke arah artikulator pasif untuk menghasilkan berbagai bunyi bahasa dengan berbagai cara. Artikulator aktif utama adalah lidah, uvula, dan rahang.  Artinya, lidah menjadi salah satu alat bunyi yang memiliki pengaruh tidak sederhana dalam berbicara. Bahkan, dalam ilmu bahasa atau Linguistik, varian-varian bunyi dipengaruhi salah satunya oleh faktor posisi lidah.

Tidak mengherankan juga di saat orang-orang berkata atau berbicara akan  selalu dihubungkan dengan lidah. Sejalan dengan ungkapan yang menyebutkan berjalan pelihara kaki, berkata pelihara lidah  yang bermakna agar selalu hati-hati dalam bersikap dan berkata-kata karena mulutmu adalah harimaumu yang akan menerkan kepalamu. Apalagi jika sudah terkait dengan janji. Dikatakan kaki terdorong badan merasa, lidah terdorong emas padahannya. Semua janji harus ditepati apalagi janji adalah hutang yang wajib untuk dibayar.

Uraian di atas menggambarkan walau lidah terletak dalam mulut dan tersembunyi jika mulut ditutup, efek yang ditimbulkan lidah saat mulut sudah dibuka memang luar biasa. Dia bisa menjadi bumerang bagi pemiliknya sehingga menimbulkan kehancuran tidak hanya bagi pribadi tetapi juga umat.

Di sinilah perlunya qalbu sebagai filter dalam menggunakan lidah (Revita, 2017). Kapan lidah perlu digunakan untuk berkata dan kata-kata apa yang boleh diproduksi dan tidak boleh diproduksi oleh lidah.  Jika konsiderasi seperti ini dibawakan ke dalam qalbu, perseteruan-perseteruan akibat gagal dalam menggunakan lidah dapat dihindari.

Brown dan Levinson (1986) menyebutnya dengan upaya menjaga muka saat berkata-kata. Hal senada dikatakan Revita (2018) dalam bukunya  berjudul Sosiopragmatik  bahwa berkata idealnya mencari kawan bukan mencari lawan. Apa yang dikatakan seyogyanya meminimalisir konflik, tidak memperbanyak musuh dan mengurangi teman.

 

Apa Hubungan Lidah, Kata-kata, dengan Koruptor?

Sebagai alat yang menghasilan bunyi, lidah bertemali sangat erat dengan kata-kata. Kata-kata bisa dimainkan dengan membolak-balikkan lidah (Revita, 2016). Apalagi jika seperti ungkapan mulut satu lidah bertopang. Apa yang dikatakan berbeda dengan apa yang dipikirkan dan direncanakan. Kalau sudah demikian adanya, Naudzubillahiminzalik. Inikah yang disebut dengan bermuka dua atau bermuka seribu?

Ungkapan seperti inilah yang sering dipraktikkan seorang koruptor. Koruptor tidak jarang mempermainkan lidahnya dalam berbahasa agar perbuatannya itu dapat terbungkus lewat kata-kata. Melalui lidah yang memang tidak bertulang, seorang koruptor dengan mudah mengumbar kata-kata yang menjadi cover atas pembohongan fakta.

Dilihat secara semantis, koruptor dimaknai sebagai orang yang melakukan korupsi. Korupsi sendiri diartikan penyelewangan atau penyalahgunaan uang negara untuk kepentingan pribadi (KBBI, 2012). Dalam arti luas, korupsi merupakan penyalahgunaan jabatan untuk kepentingan pribadi.

Definisi ini memuat dengan jelas bahwa koruptor melakukan perbuatan yang bertentangan dengan aturan  untuk tujuan yang bersifat menguntungkan pribadi atau sekelompok orang. Apa yang dikorupsi oleh koruptor? Dalam arti sempit adalah uang. Kalau dikembangkan lagi, dalam hubungannya dengan jaman now, koruptor sudah merambah ke ranah yang lebih luas. Misalnya,  informasi.  Sangat sering seseorang dengan sengaja memangkas informasi yang berisi kebenaran untuk memenuhi nafsu pribadi dan memperoleh keuntungan. Memberikan informasi sepotong-potong dengan sengaja sehingga orang lain menangkap maksud dengan informasi yang sesungguhnya secara berbeda. Ujung-ujungnya adalah profit bagi si pemberi informasi.

Inilah yang dimaksud dengan korupsi fakta lewat kata-kata. Kebenaran sebuah fakta dipelintir agar lahir fakta baru yang berakhir dengan keuntungan pihak koruptor ini. Pelintiran informasi didisain secara sadar dan sistematis agar kebohongan yang dilakukan tertutupi. Tidak jarang, agar maksud ini tercapai dengan mulus dilakukan kebohongan berjamaah melibatkan pihak-pihak lain yang bisa jadi sadar atau tidak sadar mau mendukung perilaku koruptor ini. Alangkah naifnya jika hal demikian terjadi apalagi jika berhubungan dengan kemaslahatan umat.

Sebuah kejadian pernah saya saksikan ketika seorang pimpinan di ranah pendidikan melakukan hal seperti di atas. Melalui kuasanya, dia memberi informasi palsu kepada publik sehingga publik jadi terperdaya. Lewat kuasa yang dimilikinya, dia pun berhasil mengadu domba orang yang tidak tahu dengan orang yang mengetahui fakta secara jelas. Ironisnya, terjadi suudzon antaranggota publik yang terlibat langsung dengan kejadian ini. Muncul ketidakpercayaan. Kejadian dan modus serupa berjalan terus menerus sehinga terkesan menjadi sebuah sistem yangbdianggap benar dan berterima.

Orang yang menjadi korban koruptor pun semakin bertambah. Perdaya pun semakin merajalela lewat rangkaian kata-kata yang memanipulasi fakta. Bahkan, segala perjuangan dari pihak-pihak yang mencoba membangunkan koruptor ini menuju kabaikan seakan-akan sia-sia. Ibarat melempar bola ke lantai, bolanya bukan diam tetapi justru memantul semakin tinggi. Semakin dijauhkan dan dilemparkan ke tempat kebaikan, semakin keras pula pantulannya.

Apakah ini yang disebut dengan tumpul hati? (Revita, 2018). Hatinya sudah seperti batu sehingga tidak mempan lagi diberitahu akan sebuah  kebenaran. Yang lebih ironis adalah karena prioritas yang wajib berubah menjadi sunat dan sebaliknya yang sunat malah dijadikan wajib. Semuanya menjadi sungsang.  Haluan yang sebelumnya mengarah untuk mengisi otak dan hati anak-anak dengan nilai-nilai humanis dan agamis, berbelok menjadi berlawanan. Dunia edukasi seakan-akan beralih menjadi ajang mengumbar hawa nafsu, menunjukkan power yang tidak terkontrol dan kehilangan arah, ego yang tidak  beralasan.

Data-data kebenaran mulai terungkap. Akan tetapi ada penolakan dengan kembali melakukan korupsi fakta menggunakan kata-kata. Politik devide et impera yang pernah dilakukan Belanda saat menjajah Indonesia sekian ratus tahun yang lalu diaopsi dan diadaptasi dengan cara manis. Berbungkus kata-kata manis, fakta yang sudah tergerus ini kemudian ditebar kemana-mana. Dibumbui fitnah dan dusta, fakta recycle  ini tersebar dimana-mana.

Sebagian khalayak mulai terperdaya, tetapi Allah tidak pernah membiarkan kezaliman sehingga membuka mata orang-orang yang masih peduli. Upaya menegakkan kebenaran pun dilakukan dengan harapan hati koruptor ini akan terbuka dan berubah menjadi baik. Yang terjadi sepertinya jauh api dari panggang. Bukannya introspeksi diri, justru si koruptor semakin menjadi-jadi. Hatinya seakan-akan terbuat dari batu yang jauh dari agama.

Apakah ini efek dari di dalam darahnya telah mengalir darah hasil korupsi?

 

Bagaimana Menghadapi Koruptor Fakta Lewat Kata?

Prof. Dr. H. Mahmud Yunus dalam  Tafsir Qur’an Karim (1988) menjelaskan tentang korupsi yang disebutkan dalam Surat Ali Imran, ayat 161 bahwa patut jadi petunjuk bagi orang yang memegang tanggung jawab harta benda (Negara), supaya memeliharanya dan membaginya dengan jujur, lurus dan adil menurut mestinya dan sekali-kali jangan berlaku curang (korupsi), karena meskipun ia akan terlepas dari hukuman dunia, ia tiada akan terlepas dari hukuman di akhirat. Inilah perbedaannya orang yang beriman kepada Allah dari orang yang kafir. Orang kafir hanya takut kepada hukuman dunia semata-mata, sebab itu ia tiada takut berlaku curang dengan bersembunyi-sembunyi.

Ulasan Prof. Yunus ini menggambarkan bagaimana seorang koruptor ini tidak takut dengan hukuman akhirat tetapi hanyadunia. Melalui kata-kata yang sudah dimanipulasi, dia merasa dapat terselamatkan dari hukuman. Bahwa hidupnya akan mati  begitu jauh dari pikirannya. Bahwa semua perbuatan akan dipertanggungjawabkan tidak menjadi kekhawatiran.

Kalau sudah demikian adanya, adalah dia perlu diingatkan sebagaimana contoh kejadian yang diuraikan di atas. Kalau peringatan juga dijadikan senjata bagi si koruptor untuk membenarkan perbuatannya bahkan berlanjut pada fitnah, doa adalah senjata terakhir.

Yang jelas, perbuatan korupsi walaupun hanya manipulasi fakta dalam kata adalah tidak benar. Hal ini dikatakan Rasulullah,  ‘Barangsiapa di antaramu kami minta mengerjakan sesuatu untuk kami, kemudian ia menyembunyikan satu alat jahit (jarum) atau lebih dari itu, maka perbuatan itu ghulul (korupsi) harus dipertanggung jawabkan nanti pada Hari Kiamat. (HR. Muslim)’.

Harta yang diperoleh dari jalan tidak benar ini akan menggiring mereka ke neraka kelak. Untuk itu, Tobatlah para koruptor! Kembalikanlah hak orang lain yang diambil sebelum nyawa meregang badan! Insyaflah! Semoga!

 

Ike Revita

Dosen Prodi Linguistik Pascasarjana FIB Unand

 Sudah dimuat di Harian Padang Ekspres, 2 April 2018, Hal.1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation