Dari Abdullah bin Amr bin Al Ash RA, dari Nabi Muhammad saw yang bersabda: “Bukanlah orang yang menyambung (silaturahim) itu adalah orang yang membalas (kebaikan orang lain), akan tetapi penyambung itu adalah orang yang jika ada yang memutuskan hubungan ia menyambungnya. (HR. Ahmad, Al Bukhari, Abu Daud, At Tirmidzi dan An Nasa’i)33e208df-e0aa-434b-ad06-ccf9a3093424

 

Secara etimologi, kata silaturahim  berasal dari Bahasa Arab yang disusun  oleh dua kata shilah dan Rahim. Shilah artinya menyambung dan rahim  adalah kekeluargaan. Secara umum, silaturahim diartikan sebagai menghubungkan tali kekerabatan, atau menghubungkan kasih sayang dengan cara saling berkunjung terutama terhadap saudara atau anggota keluarga sendiri bahkan terhadap tetangga atau saudara seiman. Silaturahim sering disebut juga kunci rezki karena dengan bersilaturahim usia kita dipanjangkan. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu . (QS. Al-Nisa’: 1).

Kata silaturahim sudah sangat familiar dengan masyarakat Indonesia karena penggunaannya sering  digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Walaupun ada juga orang yang menggunakan kata silaturahim dengan silaturahmi secara bergantian, sebagian ahli berpendapat perbedaan itu tidak perlu dipermasalahkan. Silaturahim disebutkan lebih merujuk pada hubungan kekeluargaan, sementara silaturahmi bersandar pada sikap kasih sayang secara universal. Hakikatnya adalah dengan bersilaturahim, hubungan baik antarmanusia bisa dipertahankan dan dijaga.

Dalam sebuah referensi yang dibaca, silaturahim dalam persektif Islam dibagi atas tiga. Pertama adalah silaturahim umum, yaitu silaturahim karena kesatuan agama. Silaturahim ini wajib dilakukan dengan menunaikan hak dan kewajiban baik yang bersifat fardhu atau anjuran (sunnah). Silaturahim ini dilakukan dengan cinta dan kasih, saling menasehati, amar makruf nahi munkar dan lain-lain. Kedua, silaturahim khusus, yaitu silaturahim kepada kerabat, ibu bapak, saudara kandung, kakek nenek, paman, cucu dst. Silaturahim ini dilakukan dengan memberikan perhatian kepada mereka, membantu moril dan materil, santun dan semua sikap yang memberikan pencerahan dan kemaslahatan mereka. Ketiga adalah silaturahim dengan kerabat non muslim, dengan cara memberikan kebajikan dan bersikap ihsan.

Dalam sebuah kisah, ketika Asma binti Abu Bakar memperoleh hadiah dari ibunya Qatilah tetapi ditolak Asma karena ibunya masih musyrik. Melihat kejadian ini, Aisyah bertanya kepada Rasulullah saw. Kemudian turunlah ayat 8 Surat Al-Mumtahanah  yang menyebutkan Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil).

Dari ketiga jenis silaturahim ini, dapat dinyatakan bahwa hubungan baik dengan semua orang hendaknya harus dijaga. Akan ada banyak manfaat yang akan diperoleh. Salah satunya saya sebut dengan mempersempit dunia.

21462550_10212647436073925_7567656820392475602_n

 

Dunia yang begitu luas akan terasa sangat sempit saat hubungan kita baik dengan banyak orang. Saya katakan demikian karena hubungan baik akan memudahkan kita dalam banyak hal. Beberapa kejadian saya alami yang membuktikan ini.

Ketika pertamakali berkunjung ke Makassar, saya sedikit agak khawatir juga karena pesawat diperkirakan mendarat di malam hari. Selain itu, saat transit terjadi penundaan lebih kurang dua jam. Artinya, menjelang tengah malam saya baru akan sampai di Kota Maros itu.

Berbekal keyakinan bahwa kota sebesar Makasar dipastikan akan tetap hidup walau sudah tengah malam, saya tetap tenang dan menikmati perjalanan. Tanpa diduga, dalam perjalanan menuju pesawat ke Makassar, saya dikabari kawan yang menetap di sana bahwa dia sudah menunggu saya di bandara. Saya sangat kaget karena itu adalah di luar pikiran dan perkiraan.

 

17361634_1289157861149344_8195560741687266763_n  Ike_Makassar1

Bertemu dengan sahabat yang berjumpa pertama kali dalam sebuah konferensi sangatlah menyenangkan. Yang sangat surprised adalah saya tidak hanya diantar ke hotel tempat menginap tetapi juga dibawa city tour. Saya merasakan service sahabat ini sungguh luar biasa.

Kejadian yang lain adalah ketika saya ditugasi memberi pelatihan ke sebuah universitas di daerah Teluk Kuantan. Mengunjungi daerah yang belum pernah didatangi serta perolehan informasi yang tidak banyak di media sosial membuat saya banyak berpasrah. Amannya kemudian ialah saya memilih melakukan perjalanan di siang hari. Dengan asumsi, semua masalah-masalah insidentil dan yang tidak diharapan akan dapat diselesaikan karena hari masih siang.

Yang mengejutkan adalah ketika saya bertemu orang-orang yang ramah dengan hospitality  yang sangat tinggi. Dimulai dari sopir yang membawa saya ke sana hingga pihak yang mengundang. Mereka sangat menyenangkan dan membuat saya terkagum-kagum.  Yang lebih menyenangkan adalah hubungan baik itu masih terjalin dan terpertahankan sampai kini. Teman-teman dari Teluk Kuantan masih sering menyapa. Walau hanya sekedar say hi atau meminta dan berbagi informasi.

Saya merasakan betapa indahnya sebuah hubungan baik. Berawal dari tidak kenal, menjadi kenal, bahkan kemudian menjadi saudara. Di sinilah kuatnya power  sebuah silaturahim.

Apakah kita akan melupakan yang namanya silaturahim?

Pd Sidimpuan

Seorang sahabat pernah bercerita kepada saya betapa dia sangat senang berkomunikasi   dengan banyak orang. Komunikasi yang berujung pada semakin bertambahnya orang-orang yang menjadi saudaranya. Dengan demikian jaringan sosial yang dia miliki semakin lebar dengan lubang-lubang semakin kecil. Dia pun merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena sekelilingnya adalah saudara.

Revita (2018) dalam sebuah tulisannya mengatakan bahwa the more you have good relationship with others, the smaller the world will be. Dengan kata lain,  silaturahim yang positif akan membuat semua orang menjadi care  dengan kita. Khawatir akan sendiri tidak pernah muncul dalam pikiran karena ada sahabat dan keluarga yang senantiasa membantu kita.

Apakah ada silaturahim negatif?

Jawabnya harusnya tidak. Akan tetapi tidak jarang ada kejadian orang yang silaturahimnya berujung pada perpecahan. Dalam sebuah iven pertemuan keluarga besar, saya pernah menyaksikan terjadinya pertengkaran akibat topik pembicaraan dan bahasa-bahasa yang tidak pas. Padahal iven itu adalah bagian dari prosesi pembasuh dukacita. Ironisnya semuanya berujung pada perseteruan.

Kenapa masih ada orang yang mau memutus silaturahim?

Ego masing-masing yang diketengahkan membuat banyak orang lebih memilih memutuskan silaturahim. Tidak jarang saudara kandung sampai tidak bertegur sapa hanya akibat mempertahankan keyakinan yang keliru. Pernah suatu ketika, sahabat curhat kepada saya saat saudara kandungnya lebih memilih menjauh dari keluarga akibat hasutan istrinya. Cerita fitnah yang ditebar si istri tanpa ada cross check, membuat si saudar ini mengumbar marah. Akibatnya, hubungan kakak beradik menjadi terputus. Gagal menjaga lisan (Revita, 2016) dan emosional mendengar hasutan (Revita, 2017) membuat silaturahim menjadi bercerai-berai. Ini pulalah yang disebut Brown dan Levinson (1986) gagal menjaga muka orang lain (face threatening act).

Singgalang 1 April 2018_1

Alangkah naifnya! Hadits Rasulullah, ‘Tidak akan masuk surga pemutus silaturahim’.

Salah satu pemutus ini adalah karena lidah (Revita, 2018).

Betapa indahnya silaturahim. Semoga kita termasuk ke dalam orang-orang yang senantiasa menjaga silaturahim. Aaamiin.

IMG_7628

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris FIB

Universitas Andalas

Sudah dimuat di Harian Singgalang, 1 April 2018, hal. A-5

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation