Orang Padang membeli gelas, Gelas dibeli bergambar bunga

Ke kampus Uniks pergi bertugas, Di  Kuantan Singingi lah lokasinya

TK3 

Pantun ini terlahir ketika saya ditugaskan  ke Kabupaten Kuantan Singingi, Propinsi Riau.  Ketika diminta untuk memberi pelatihan di Kampus Universitas Islam Kuantan Singingi (UNIKS), saya mencoba mencari informasi terkait daerah yang belum pernah saya kunjungi tersebut. Dari sekian banyak daerah yang sudah saya kunjungi, wilayah Propinsi Riau termasuk yang jarang menjadi tujuan. Saya tidak mengetahui kenapa karena selalu saja ada kendala setiap berniat untuk datang ke propinsi yang kaya dengan minyak bumi ini.

Bahkan, walaupun hanya membutuhkan waktu sekitar 8 jam dari Padang dan dengan banyaknya view yang indah, ke Pekanbaru saja saya baru sekali berkunjung. Kalau ini diceritakan pada banyak orang, mereka selalu mentertawakan saya karena yang jauh malah lebih sering didatangi. Hingga akhirnya saya menjadikan sebuah agenda untuk berlibur di Pekanbaru. Kunjungan ke Pekanbaru di akhir tahun lebih banyak dinikmati di dalam hotel karena kemacetan menghampiri setiap tempat di tengah kota. Meskipun demikian, paling tidak liburan saat itu sudah menjadi panjawek tanyo apakah saya sudah pernah ke Pekanbaru atau belum.

TK6

Hingga kunjungan kedua ke Propinsi Riau harus dilaksanakan. Daerah tujuannya adalah Kabupaten Kuantan Singingi. Nama kabupaten yang resmi berdiri tahun 1999 ini berasal dari dua buah Sungai Kuantan dan Sungai Singingi yang mengapit wilayah ini. Nama kabupaten ini pun sering disingkat menjadi Kuansing.

Beribukota Teluk Kuantan, masyarakat masih senang menyebut Taluk dibandingkan Teluk. Kata Taluk dalam interaksi lisan lebih sering digunakan dan dinilai lebih popular dibandingkan Teluk.

Seperti biasa, saya mencoba mencari moda transportasi dan lama perjalanan dari Padang menuju Teluk Kuantan. Semakin saya mencarinya, serasa semakin kesulitan informasi diperoleh karena yang saya peroleh hanya itu ke itu saja. Apa yang saya inginkan tidak tercapai. Hingga akhirnya saya mulai menyerah.

Berbekal informasi dari panitia dan teman yang sudah terlebih dulu berangkat ke Teluk Kuantan, saya memulai tugas ini dengan membaca  Bismillah. Dimulai dari memesan tiket pada sebuah  agen perjalanan beberapa hari menjelang kebaragkatan, saya pun agak sedikit nyinyir meminta posisi duduk yang dianggap aman. Hal ini terjadi karena ada informasi dari beberapa orang bahwa  jalan ke Teluk Kuantan berbelak-belok. Selain itu, saya pun memilih berangkat siang dengan harapan bisa menikmati  pemandangan sepanjang perjalanan.

Pengalaman dimulai dari dijemputnya saya oleh sopir travel yang sangat ramah. Cerita dan guyonan dilakukan sepanjang perjalanan.. Kebetulan di sebelah saya duduk seorang ibu muda yang cukup talkative. Saya sangat senang karena  bisa menggali informasi tentang Teluk Kuantan darinya.

Pertanyaan saya berkisar pada lamanya perjalanan yang akan ditempuh, kondisi jalan, situasi di Teluk Kuantan, lokasi hotel tempat saya menginap, makanan khas, dan tidak lupa destinasi wisata. Jawaban yang diperoleh tidak jauh berbeda dengan informasi yang saya browsing di internet. Simpulannya, kecil kemungkinan saya akan mengunjungi objek wisata dalam tugas ini. Selain objeknya jauh dari lokasi pelatihan, jumlah objek itu pun sangat terbatas dan relatif belum dikelola secara professional.

Agenda jalan-jalan akhirnya dicoret dari daftar kegiatan. Agenda kuliner pun demikian adanya. Disebutkan makanan khusus dari Teluk Kuantan adalah sejenis gelamai tetapi dibungkus dengan daun pandan/tikar. Saya teringat pernah dibelikan oleh seorang sahabat yang berkunjung ke Jambi dan membawakan makanan serupa. Akan tetapi, gelamai  yang enak dan dijamin baru biasanya dijual di pasar tradisional. Sangatlah tidak mungkin ke pasar tradisional di pagi hari karena pelatihan dijadwalkan mulai dari pagi.  Kembali agenda ini dicoret.

Akhirnya saya menyerahkan saja pada keadaan yang ada. Dima tumbuah disiangi. Saya akan melihat berbagai kemungkinan. Semuanya tidak bisa dipaksa karena tujuan utama ke sana adalah bekerja.

TK5

Sampai di Teluk Kuantan sekitar pukul 4 sore, saya langsung menuju hotel. Sempat sedikit kebingungan dengan lobby hotel. Namun, saat turun dari mobil, saya sudah didatangi oleh dua bapak-bapak, Pak Chitra dan Pak Wayan, panitia dari kegiatan ini. Mereka dengan sigap membantu saya dan menuntun ke kamar tempat istirahat.

Di hotel yang dikelilingi oleh pemandangan hijau, saya mencoba merebahkan badan untuk rehat agar dapat maksimal di esok harinya memberi pelatihan. Sekitar dua jam kemudian, hujan deras turun diiringi petir yang besar. Bagi saya, hujan adalah berkah. Harapan saya saat itu adalah kedatangan pertama kali ke Teluk Kuantan ini diharapkan membawa berkah karena disambut oleh turunnya hujan.

Service pertama yang diberikan adalah  ketika saya diajak makan malam ke sebuah rumah makan khas Jawa. Lidah saya yang tidak terlalu ajeg  dengan makanan Padang membuat saya menikmati menu yang dihidangkan saat itu. Ada pecel ayam dengan sayuran segarnya. Selesai makan malam, dalam pikiran saya saat itu adalah kembali ke hotel. Justru di tengah gerimis Kota Teluk Kuantan, saya dan satu teman lain diajak city tour. Kami pun dibawa berkeliling kota menikmati Teluk Kuantan di malam hari. Bahkan kami juga diajak melihat kampus UNIKS yang berlokasi sedikit lebih tinggi dari kota. Dalam cahaya malam, Kampus Uniks terlihat sangat cantik. Sungai Kuantan yang lokasinya sering dijadikan arena pacu jalur ikut menjadi tujuan city tour  malam itu.

TK4

Jalur  adalah bahasa lokal untuk perahu panjang. Di masa lampau, pacu jalur diselenggarakan untuk merayakan hari kelahiran (Maulid) Nabi Muhammad dan hari-hari keagamaan lainnya. Selain itu juga buat menyambut para pembesar dari Kerajaan Indragiri yang sesekali beranjangsana. Lalu, ketika Belanda berkuasa, pacu jalur diadakan untuk merayakan hari kelahiran Ratu Wilhelmina. Kini pacu jalur diadakan setiap bulan Agustus guna merayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia.

Pemandangan yang sangat indah di malam hari. Sayang saya tidak bisa menikmati secara sempurna karena hujan masih turun dan kondisi fisik yang kurang fit  saat itu membuat saya harus menahan diri. Hingga malam hampir larut, saya diantar kembali ke hotel untuk istirahat malam. Sesampai di hotel, saya langsung tepar  karena letih di perjalanan dan akibat dari  minum obat.

Keesokan harinya, tugas pertama yang saya lakukan adalah memberi materi tentang proses belajar mengajar. Dihadiri oleh hampir 75 orang peserta, saya merasa tidak asing. Berada di antara teman-teman dosen Uniks ini serasa di rumah sendiri. Mereka terlihat sangat welcome. Keingintahuan dengan  bertanya lebih jauh mengenai banyak hal sangat tinggi. Kehebatan panitia dan moderator dalam memancing peserta untuk terlibat aktif ikut mendukung. Terlebih lagi, kelucuan tidak jarang menghampiri dalam diskusi. Suasana benar-benar terasa riang dan blur tanpa adanya jarak yang dalam antara narasumber dengan peserta.

TK7

Salah satu kebiasaan ketika mengunjungi daerah baru adalah memperhatikan masayarakat lokal dalam bertutur. Di sini, saya tidak melihat adanya perbedaan yang menyolok antara bahasa yang digunakan masyarakat Teluk Kuantan dengan Bahasa Minangkabau. Beberapa kali saya sengaja memilih menggunakan Bahasa Minangkabau, akan tetapi komunikasi tetap berjaan dengan baik. Dalam beberapa referensi yang saya baca, Kuansing disebut juga dengan Rantau Kuantan atau daerah perantau orang Minang (Amran, 1981). Dalam kehidupan sehari-hari pun, masyarakat Kuansing menggunakan budaya Minangkabau (Yakub, 1987).

Keberadaan saya selama 3 hari di Teluk Kuantan memiliki kesan yang indah. Perilaku tutur masyarakat Teluk Kuantan tidak jauh berbeda dengan masyarakat Minangkabau. Selain itu, cara bertutur yang cenderung bersifat metaforis menjadikan interaksi semakin nyaman. Rule of speaking (Revita, 2008) sepertinya saya temukan dalam pola berbahasa teman-teman di Teluk Kuantan, meskipun mereka bukan berasal dari Minangkabau.

TK

Yang jelas, apa pun budayanya, sejarahnya, atau asal-usulnya, bertutur memang menjadi sebuah aktivitas yang identik dengan manusia. Identitas itu akan tercermin dari tuturan dan strategi yang digunakannnya. Tuturan itu akan merefleksikan personal identity. Melalui bahasa yang digunakan, tergambar siapa dia yang akan diberi penilaian oleh mitra tuturnya. Seperti halnya teman-teman di Teluk Kuantan yang penuh dengan keramahan dalam bertutur dan hospitality.

 

 TK1

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris FIB

Universitas Andalas

Sudah dimuat di Harian Singgalang, 24 Maret 2018, Hal. A-5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation