‘Ibn Umar R.A berkata, Aku sudah mendengar Rasulullah Saw bersabda  “Tiap-tiap orang merupakan pemimpin dan bakal diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Satu orang kepala negeri dapat diminta pertanggungjawaban faktor rakyat yang dipimpinnya. Seseorang suami dapat ditanya aspek keluarga yangg dipimpinnya. Seseorang isteri yang memelihara rumah tangga suaminya dapat ditanya elemen tanggungjawab dan tugasnya. Bahkan satu orang pembantu/pekerja rumah tangga yang bertugas memelihara barang milik majikannya pula bakal ditanya dari elemen yang dipimpinnya. Anda sekalian pemimpin  bakal ditanya (diminta pertanggungan jawab) darihal faktor yang dipimpinnya. ‘(HR. Bukhari dan Muslim).

Kendari

Kutipan di atas merupakan Hadis Rasulullah yang menjadi pedoman bagi semua orang yang meyakini Islam sebagai agamanya. Al-Quran dan Hadis Rasul merupakan dua warisan yang tidak boleh lepas dari kehidupan umat manusia. Dengan kata lain, semua kegiatan yang dilakukan selalu berpijak kepada yang dua ini.

Dari kutipan hadis ini tergambar jelas bahwa seorang manusia itu adalah pemimpin (paling tidak) atas dirinya sendiri yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Tanggung jawab itu akan lebih banyak lagi jika ada amanah yang diberikan kepada kita sehingga pertanggungjawaban juga dilakukan atas amanah tersebut. Disebutkan, seorang suami akan dimintai pertanggungjawaban atas kelurga yang dipimpinnya, seorang istri demikian juga. Hal yang lebih lagi dilakukan pada seorang pemimpin umat atau masyarakat yang sudah pasti ditanyakan kepemimpinannya tersebut.

Jika diurai secara linguistic, persoalan tanggung jawab dapat bertemali dengan banyak aspek. Ditilik dari makna semantisnya, kata ‘tanggung jawab’ termasuk dalam nomina (kata benda) yang berarti keadaan wajib menanggung segala sesuatu (kalau terjadi sesuatu boleh dituntut, dipersalahkan, diperkarakan, dan sebagainya) (KBBI, 2012). Artinya, seseorang yang diberi tanggung jawab berada dalam posisi wajib menanggung segala sesuatu terkait dengan yang diberikan itu, baik positif atau negatif. Saya sebutkan demikian karena jika yang diberikan itu dijalankan dengan baik maka nilai positif yang diterima. Sebaliknya, jika tidak bisa bertanggung jawab atau tidak amanah, sudah pasti cap negatif akan diperoleh.

Tidak jarang kita mendengar seseorang yang terpilih menjadi seorang khalifah atau pemimpin kemudian di akhir masa jabatannya harus berurusan dengan pihak berwajib akibat adanya perbuatan-perbuatan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.  Tanggung jawab ini tidak tertutup berujung pada ‘hotel prodeo’. Akibatnya, kebebasan tertahan selama bebeapa waktu, keluarga jadi malu akibat aib yang sudah dilakukan, dan tidak jarang seseorang harus terusir dari kampung halamannya hanya karena lalai dalam tanggung jawab.

Artinya, tanggung jawab memang bukan hal yang sederhana. Meskipun ada sebagian orang yang menganggap amanah adalah hal yang sepele dan bahkan dianggap tidak penting.

Tulisan saya ini sebenarnya bertemali dengan apa yang sudah saya tulis dan dimuat di Harian Singgalang, 16 Februari 2018 lalu. Di sana saya berbicara tentang berbahasa yang dapat menjaga muka orang lain dan bahasa yang dapat merefleksikan pribadi. Dengan kata lain, dalam tuturan lisan seseorang tergambar sosok personalitinya. Melalui bahasa cinta, hubungan baik senantiasa terjaga. Sebaliknya, tidak jarang bahasa yang justru mencari lawan yang tercermin dari cara berbahasa, pilihan kata, termasuk topik yang dibicarakan.

Diceritakan tentang seseorang yang menganggap ketika tanggung jawab ditagih sebagai sesuatu yang perlu diabaikan. Tagihan atas sebuah tanggung jawab direspon dengan statemen..’Gitu aja kok repot!’. Respon ini sebenarnya mengimplikasikan betapa yang berbicara itu merasa tanggung jawab dapat diabaikan. Lebih jauh lagi, implikasinya adalah dia seseorang yang tidak bertanggung jawab.

Chaika (1982) dalam bukunya yang berjudul Language as Social Mirror mengatakan bahwa tuturan seseorang adalah dirinya. Saya bahkan menginterpretasikan  bahasa sebagai pakaian dan isi hati. Lewat bahasa, apa yang ada dalam hati dan pikirannya dapat ditebak. Pandangan senada disebutkan  Hypothesis Sapir-Whorf kalau bahasa mencerminkan pikiran dan isi kepala. Dengan  demikian, sistematika   berpikir pun dapat dilihat dari runut bahasa seseorang.

Jika dianalogikan dengan persoalan tanggung jawab, bahwasanya seseorang itu bertanggung jawab atau tidak juga dapat diidentifikasi dari bahasanya. Seperti judul tulisan ini, ‘Tanggung jawab…kok repot!’. Ada dua interpretasi dari tuturan ini.  Pertama, yang berbicara adalah orang yang benar-benar bertanggung jawab sehingga sebuah tanggung jawab adalah hal yang mutlak baginya. Karena terbiasa menjadi orang yang bertanggung jawab, dia merasa tidak ada yang sulit dengan sebuah tanggung jawab.

Kedua, yang berbicara adalah orang yang sama sekali tidak bertanggung jawab. Tanggung jawab bukanlah sesuatu yang perlu untuk dipikirkan apalagi dilakukan. Oleh karena itu, tidak perlu merasa repot untuk bertanggung jawab atas apa yang dialakukan atau yang diamanahkan.

Apakah ada orang yang seperti ini?

Di dunia ini Allah menciptakan segala sesuatu berpasangan. Ketika ada orang yang bertanggung jawab, sudah pasti ada juga orang yang tidak bertanggung jawab. Bagi mereka  yang tidak bertanggung jawab ini, yang ada dalam pikirannya hanyalah kepentingan dan keuntungan pribadi belaka. Sejauh itu menguntungan, persoalan taggung jawab dapat di kesampingkan.

Naudzubillahiminzalik!

Pandangan ini menggiring saya pada sebuah konteks diskusi yang  kemudian  berujung pada keluarnya tuturan seperti judul di atas. Pernyataan ini kemudian membuat sebuah komunitas menjadi ‘buncah’. Buncahnya adalah karena yang menyatakan dianggap memiliki ilmu pengetahuan, sudah melewati jenjang pendidian akademik tertinggi, bahkan sudah berada dalam level terpuncak dalam  ranah akademis. Tidak pantas dan tidak tepatnya diksi yang digunakan secara tidak langsung sudah merobohkan harga dirinya.

Di sinilah saya kemudian teringat lagi dengan sebuah tulisan yang dipublikasi di Singgalang (2017) ketika ada yang mengatakan pendidikan agama tidak penting karena yang paling penting itu adalah kehidupan beragama. Dituturkan oleh orang yang sama membuat asumsi banyak orang tidak lagi sebagai sebuah asumsi. Barangkali sudah sampai pada hipotesis atau tesis. Bahwa kalau pendidikan agama dianggap tidak perlu akan liner dengan orang yang tidak bertanggung jawab.

Ini pulalah yang diceritakan dalam sebuah kisah yang dikirim teman via media sosial, ada banyak orang yang tinggi pendidikannya, tetapi rendah nilai perilakunya. Dia tinggi di ilmu tetapi sangat rendah di attitude. Padahal orang yang berilmu adalah tempat orang bertanya. Dengan demikian, seorang yang berilmu akan memberikan informasi yang memang mencerdaskan banyak orang, memperjernih suasana, bukannya membodohi atau justru menciptakan masalah baru.

Kembali timbul pertanyaan lanjutan? Bagaimana dia memperoleh ilmunya sehingga dia sampai punya pandangan dan perilaku yang demikian? Bagimana kehidupan sosialnya?

Apa yang dituai adalah hasil dari apa yang ditanam. Segala sesuatu tidak terjadi begitu saja. Tidak lahir seperti sebuah sulap yang muncul melalui sim salabim. Semuanya melewati proses. Ujung itu akan bagus jika di awali dengan bagus. Linear dengan cara berpikir, ketika pikiran sudah diisi dengan yang negatif simpulan akhirnya tidak akan pernah berubah menjadi positif. Kecuali dia menyadari kekeliruannya dan mau merubah diri.

Hal ini akan sulit jika perilaku dan cara berpikir seperti ini sudah mendarah daging dan menjadi watak. Watak  tidak dapat dirubah kecuali masih dalam bentuk kharakter, demikian pendapat ahli psikologi. Bahkan, dalam agama Islam pun, ada suatu titik dimana seseorang hatinya sudah tumpul (Revita, 2017) sehingga potensi untuk berubah sangat kecil.

Orang-orang yang seperti ini patut dikasihani. Akan lebih perlu dikasihani adalah orang-orang yag memilih mereka dijadikan pemimpin. Betapa banyak kehancuran yang akan dihasilkan. Apalagi jika dia adalah seorang pengambil keputusan untum persoalan yang menyangkut khalayak.

Semoga kita menjadi orang-orang yang dapat menjaga amanah. Aamiin.

 

 

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris FIB

Universitas Andalas

Sudah dimuat di harian Singgalang, 25 Februari 2018, Hal. A-5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation