Epidemi dalam kamus kesehatan (http://kamuskesehatan.com/arti/epidemi/) didefinisikan sebagai  wabah penyakit yang secara signifikan lebih tinggi dari kejangkitan normal untuk penyakit itu. Terjadinya epidemi sebuah penyakit mungkin terkonsentrasi di suatu wilayah geografis tertentu atau di antara populasi tertentu. Dari definisi ini, ada dua hal yang perlu di-highlight, yakni wabah penyakit dan lebih tinggi dari kejangkitan normal.

Koran

Secara semantis, wabah berarti penyakit menular yang berjangkit dengan cepat, menyerang sejumlah besar orang di daerah yang luas, seperti wabah cacar, disentri, atau kolera (KBBI, 2012).  Sementara itu, penyakit   adalah suatu keadaan abnormal dari tubuh atau pikiran yang menyebabkan ketidaknyamanan, disfungsi atau kesukaran terhadap orang yang dipengaruhinya (Kamus Penyakit Medical App, 2017).

Dengan demikian, wabah penyakit dapat diartikan sebagai keadaan abnormal dari tubuh atau pikiran yang menyebabkan ketidaknyaman dan berjangkit serta menyerang banyak orang. Wabah penyakit dikatakan dapat menulari orang-orang yang berada di wilayahnya.

Bagaimana cara melindungi diri dari penyakit yang mewabah ini?

Salah satunya tentu dengan menjaga kebersihan. Kebersihan diri dan lingkungan. Selain itu, diperlukan imun tubuh yang kuat agar kuman-kuman penyakit itu tidak mau hinggap dan berhenti dalam tubuh kita. Imun itu salah satunya ditumbuhkan melalui gizi yang baik. Asupan makanan yang proposional dan sehat akan membuat tubuh jadi kuat dan terlindung dari serangan segala penyakit.

Bagaimana jadinya jika seseorang kena serangan penyakit dan menjadi korban atas wabah yang terjadi?

Pertanyaan ini sangat mudah dijawab. Jawabannya sudah pasti orang itu menjadi sakit alis tidak sehat. Sesuatu yang tidak normal akan terjadi dalam tubuhnya yang kemudian akan bereaksi dan menyebabkan ketidaknormalan. Hal ini akan berlanjut sampai kemudian orang ini disembuhkan melalui obat-obat kimia atau berbagai jenis alternatif pengobatan yang kemudian akan membawanya kembali ke  kondisi normal dan bersifat tidak menggangu sistemn dalam tubuh.

Jika yang sakit adalah fisik dan jiwa maka secara medis dapat diidentifikasi sehingga pengobatan dapat dilakukan dan  obatnya dapat dicarikan. Bagaimana jika yang sakit itu’qalbu’ atau hati?

Seorang teman pernah bercerita kepada saya. Pimpinan tempat dia bekerja adalah seseorang yang secara kompetensi dinilai sangat rendah. Dikatakan demikian karena di era jaman now ini (Revita, 2017) dia termasuk dalam orang yang masih gagap teknologi (gaptek). Kegagapannya ini sudah sangat kronis. Untuk membuka e-mail  saja, dia masih memerlukan bantua orang lain karena tidak familiar dengan itu. Selain itu, ketidakcakapan ini juga diakui sendiri bahwa dia memang tidak bisa dalam hal kepemimpinan. Yang dia mengerti hanya disuruh dan kemudian dikerjakan.

Selain itu, pengetahuannya terkait tanggung jawabnya sebagai pimpinan tidak lebih dari sesuatu yang berhubungan pembayaran dan honor regular. Itu pun jika berhubungan dengan dirinya sendiri. Bahwa dia didulukan selangkah dan ditinggikan seranting sebagai seorang pimpinan tidak dipedulikannya. Bahwa ada staf dan anggotanya yang adalah menjadi bagian dari yang harus diselamatkanyya terlebih dulu tidak pernah ada dalam pikirannya. Parahnya lagi, jumlah stafnya saja dia tidak tahu. Ketika ditanya, jawaban ‘tidak tahu’ diiringi dengan ‘saya lupa’adalah senjata anadalannya.

Terus, apa yang dia tahu?

Inilah epidemi penyakit baru. Penyakit lupa. Parahnya penyakit ini mewabah dan bersifat epidemis. Sering kita tonton di media televisi atau dibaca di media cetak, seseorang yang diduga melakukan ketidakbenaran dan tidak amanah atas apa yang diamanahkan kepadanya kemudian diciduk pihak berwajib. Saat diinterograsi, jawaban yang paling sering diberikan adalah ‘tidak tahu, atau ‘lupa’. Sepertinya kedua jawaban ini adalah yang paling aman. Di atas yang namanya ‘lupa’ dan ‘tidak tahu’ seseorang tidak bisa disalahkan. Bagaimana mungkin dituntut jika dia memang tidak tahu dan lupa alias tidak ingat.

Hal inilah yang kemudian dijadikan dasar dan alasan untuk menghindar dari sebuah tanggung jawab. Melalui ‘amnesia palsu’, dia menghindar dari tanggung jawab atas pelanggaran yang dilakukan.

Naudzubillahiminzalik!

Saya jadi ingat dengan curahan hati seorang mahasiswa ketika dia merasa haknya tidak diberikan sementara semua kewajiban sebagai mahasiswa sudah dilakukan. Hak ini dia coba perjuangkan melalui diskusi dan tanya jawab. Meskipun berujung pada ketidakadilan karena sepertinya tidak  ada solusi, mahasiswa ini harus menerima resiko. Dia menjadi korban atas ketidakbecusan pimpinan. Mahasiswa ini tidak bisa berbuat banyak. Impiannya dan orang tuanya seperti hancur lebur. Akan tetapi,  dia tidak berdaya. Hanya deraian air mata kepasrahan yang dapat dilakukan.

Ada sesuatu yang beyond our power. Pasrah dengan menyerahkannya pada Allah setelah berjuang adalah solusi terbaik. Tidak ada kuasa dan kekuatan melebih kekuasaan dan kekuatan Allah. Bahwa Allah tidak pernah tidur. Semua perbuatan akan ada balasannya.

Ini dijanjikan Allah dalam firman-Nya,  Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” (QS. Az Zalzalah: 7-8).

Allah tidak pernah ingkar dengan janji-Nya. Karena apa yang dikatakan dan dilakukan senantiasa dicatat oleh malaikat pencatat amal manusia yang bersifat Raqib dan Atid.

Tidak hanya itu, kecanggihan teknologi sekarang bahkan bisa menayangulangkan semua perbuatan dan perkataan manusia yang bersifat terekam. Misalnya, ketika menggunakan media sosial, kita dapat menjemput lagi histori percakapan yang sudah dilakukan. Menggunakan cara yang sophisticated, semua yang pernah dituliskan dapat ditayangkan.

Itulah sebabnya, istilah amnesia harusnya tidak ada lagi kecuali dalam ranah medis. Amnesia yang dibuat-buat mesti dihapuskan. Sayang, bukannya hilang tetapi semakin berkembang. Amnesia sudah menjadi epidemi.

Ini adalah jenis penyakit baru, yakni penyakit kalbu.

Apa obat yang tepat?

Salah satunya tentu agama. Agama adalah obat dari semua penyakit. Dalam kitab suci Alquran, misalnya, semuanya sudah diatur. Tidak ada yang tidak diatur dalam Al-Quran. Dengan memahami dan mengamalkan Al-Quran, segala penyakit akan tersembuhkan. Wabah-wabah yang menjadi epidemi tidak perlu lagi ditakutkan.

Sayangnya,  banyak orang yang mengetahui itu tetapi pura-pura amnesia. Parahnya lagi, kepura-puraan ini diekspresikan dengan sikap dan wajah innocent. Dia berperilaku seakan-akan tidak pernah ada kejadian. Ironisnya lagi, melalui amanah dan power  yang dimiliki, kesalahan dan amnesia kekinian, orang yang benar malah disalahkan, kesalahannya ditutup dengan amnesia dan innocence.

Sungguh epidemi yang berbahaya! Sekarang semuanya kembali ke kita, apakah mau menjadi korban epidemi penyakit kalbu ini atau justru membentengi diri dengan tetap memahami ayat-ayat Allah dan panduan Rasulullah lewat hadis. Semuanya kembali ke kita.

 

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris

FIB Unand

Sudah dimuat di Harian Singgalang, 21 Januari 2018, Hal.A-5

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation