Kebahagiaan bukan semata-mata dalam bentuk materi,

bentuk perhatianlah kebahagiaan yang hakiki (Anonim)

C360_2016-07-24-09-47-03-395

Kutipan di atas jika dibaca sekilas memberi makna bahwa bahagia itu adalah saat kita memperoleh perhatian, bukan hanya materi semata. Interpretasi ini bila ditarik lebih jauh lagi mengandung makna yang tidak sederhana. Bahwa perhatian di atas materi dan perhatian menjadi sumber kebahagiaan adalah pesan yang ingin disampaikan pembuat kalimat bijak ini.

Membaca kalimat bijak ini mengingatkan saya pada banyak kejadian. Beberapa di antaranya adalah saat saya bertemu dengan kolega di suatu tempat pertemuan di luar kampus. Tidak ada sapa antara kami meski saya mencoba memandang kearah kolega tersebut. Saat itu saya mengambil kesimpulan positif bahwa karena tidak kenal makanya diam menjadi pilihan.

Di waktu dan tempat yang berbeda kembali kami bersua. Berada dalam satu ruangan mendiskusikan terkait institusi kami di masa depan. Pertemuan yang dihadiri oleh semua sivitas membuat tidak adanya keraguan bahwa kami adalah kolega. Tempat duduk yang berjauhan membuat kami kembali tidak bisa saling menyapa. Kembali simpulan positif saya ambil bahwa kondisi memang tidak memungkinkan untuk bertegur sapa saat itu.

Hingga ketigakalinya kami bertemu di jalan di kampus. Kalau kata Orang Minang, kami ampia batumbuak iduang. Tidak ada orang lain yang berjalan, selain kami. Saat berselisih itu, kembali saya dikejutkan karena jangankan akan menyapa, memandang saja tidak dilakukan oleh kolega ini. Sambil mengurut dada saya pun beristigfar.

Saya bertanya pada diri sendiri, ada apa dengan dunia sekarang?

Apakah jabatan sudah membuat orang lain kehilangan rasa? Apakah sebuah tegur sapa itu dapat merendahkan harga diri sehingga tidak perlu dilakukan? Atau tegur sapa tidak lagi dianggap perlu karena hanya akan membuang waktu dan tenaga?

Di saat yang tidak jauh berbeda, seorang teman dosen bercerita bagaimana tingkah mahasiswanya ketika bertemu dengan dia. Jangankan menyapa, menoleh saja tidak mau. Sambil berseloroh, saya mengomentari cerita teman ini bahwa hal demikian terjadi akibat dia yang suka marah-marah. Padahal saya tahu benar betapa sabar dan baiknya dosen ini. Kesabaran dan kebaikannya itu membuat dia tergolong ke dalam dosen yang disayangi banyak mahasiswa.

Kisah berikutnya adalah ketika saya mengantar putra saya ke sekolahnya. Di lingkungan sekolah yang dibungkus oleh nilai reliji ini saya berasumsi bahwa semua murida dan orang tua adalah keluarga sehingga tegur sapa antarkita pasti ada. Yang mengagetkan adalah ketika ssah satu wali murid yang batumbuak iduang  dengan saya di jalan yang relative sempit, jangankan menyapa atau tersenyum, menoleh juga tidak. Padahal bahu kita hampir bersentuhan di jalan itu.

Saya hanya tersenyum masam karena di dinding sekolah dan dalam ruang kantor terpampang jelas moto Salam, Senyum, Sapa. Sambil bergurau saya menemui pimpinan sekolah bahwa moto sebaiknya dilepas atau diganti karena tidak semua orang bisa membaca dan paham maksud dari moto itu.

Tiga kejadian ini kemudian membuat saya merenung cukup lama. Ada apa dengan kita?

Dalam sebuah artikel yang dimuat di Harian Singgalang (2016), saya menulis keroposnya moral kami. Tulisan itu juga terinspirasi dari beberapa kejadian yang terkait dengan apa yang disebut dengan moral atau etika.

Dalam Kamus Psikologi yang ditulis Chaplin (2006),   moral mengacu pada akhlak yang sesuai dengan peraturan sosial, atau menyangkut hukum atau adat kebiasaan yang mengatur tingkah laku. Sementara itu, etika yang pertama kali dikemukakan oleh filusuf Aristotles dimakanai sebagai ukuran perbuatan, baik atau buruk. Dengan kata lain, etika berhubungan dengan kebiasaan yang berhubungan  dengan moral.

Timbul pertanyaan baru, apakah akhlak yang baik dan buruk itu sudah tidak ada lagi? Apakah sudah mengerucut sehingga tinggal lagi menjadi satu, yakni akhlak buruk saja atau akhlak baik saja? Jika memang demikian adanya, tidak ada lagi batasan yang boleh dan tidak, baik dan buruk karena semuanya boleh dan semuanya baik.

Naudzubillahiminzalik!

Inilah realitas yang terjadi sekarang. Artikel saya di Singgalang, 29 Oktober lalu menyinggung bagaimana amanah tidak lagi dianggap sebagai sebuah tanggung jawab yang akan ditanyai di akhirat nanti. Amanah hanya sebuah label dan pembungkus kuasa. Istilah konsekuensi sepertinya sudah menguap sehingga amanah hanya tinggal di mulut.

Memang terkesan ada nada pesimis.  Waktu berjalan terasa begitu cepatnya. Berjalannya waktu seperti berkejaran dengan perubahan perilaku manusia. Karena kalau saja kita mau berkisah dan memahami budaya masyarakat Minangkabau yang sesungguhnya, uraian dan kenyataan yang saya ceritakan di atas tidak akan ditemukan.

Masyarakat Minangkabau dikenal dengan nan ampek. Ada raso, pareso, malu  dan sopan. Semuanya terintegaris dalam perilaku berbahasa dan sikap seorang Minangkabau. Salah satunya adalah lewat tutur sapa. Salam penyapa merupakan wujud dari nan ampek  orang Minangkabau.

Dalam ilmu bahasa atau Linguistik, sapaan merupakan wujud phatic communion. Hal senada dengan konsep yang disebutkan Malinowksi (1943). Berbasis dari hasil risetnya, antropolog dari Polandia ini berpendapat bahwa bagaimana budaya berperan besar dalam memenuhi keinginan manusia, salah satunya adalah kebahagiaan.

Melalui budaya tegur sapa dan melalui sapaan yang digunakan, ikatan sosial antaranggota masyarakat dapat dilakukan. Revita (2013) menyebutkan sapaan sebagai media untuk mempertahankan hubungan baik seseorang dengan yang lainnya. Dengan sapaan dan penggunaan kata sapaan yang tepat, hubungan baik dapat dipertahankan. Justru ketika sapaan sudah ditiadakan atau pilihan kata sapaan yang keliru, seseorang akan dinilai tidak sopan (Culpeper, 2012).

Dalam  masyarakat Minangkabau, orang yang seperti ini disebut dengan indak tau di nan ampek. Bahkan, Revita (2016) pernah menyebutkan, orang Minangkabau yang seperti ini adalah seorang Minangkabau yang sudah kehilangan Minangnya, sehingga yang tertinggal adalah ‘kabau’ saja.

Saya yakin tidak akan ada seorang pun yang mau dilabeli demikian. Artinya, semua orang  Minangkabau akan menolak jika dikategorikan sebagai makhluk itu. Akan tetapi, apakah semuanya mau melakoni peran sebagai seorang Minangkau yang diatur oleh etika-etika dalam norma dan budaya Minangkabau?

Apakah salam penyapa itu harus tetap digunakan? Apakah sapaan tetap dipakai saat bertemu dengan orang lain?

Jawabannya kembali ke pribadi masing-masing. Yang pasti, masyarakat Minangkabau dulu terkenal dengan pribadi yang adaptif. Kemampuan adaptasi ini tercermin dalam bervariasinya salam penyapa (Revita, 2012). Mulai dari arah mata angin, lokasi, atau aktifitas. Semuanya menunjukkan bahwa masyarakat Minangkabau bukan masyarakat yang sombong tetapi penuh dengan hospitality. Masyarakat yang ramah dan bersahabat.

Menyapa orang tidak hanya bertemali dengan etika, tetapi juga membuat orang lain bahagia. Yang jelas, hubungan yang baik dengan banyak orang dan  jauh dari sikap sombong adalah salah upaya mengamalkan pesan Rasulullah. Salah satunya dengan tetap menyapa.

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris

FIB Universitas Andalas

Sudah dimuat di Harian Singgalang, 14 Januari 2017, Hal. A-5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation