Seminggu sudah kita berada di tahun 2018. Nuansa menyambut  tahun 2018 masih terlihat di beberapa tempat. Rutinitas mulai dijalankan setelah masyarakat menikmati libur akhir pekan yang cukup panjang di dua pekan terakhir di ujung tahun 2017.

IMG_2087

Jalan-jalan mulai ramai, meski belum lagi terlihat normal. Anak-anak pun kembali mengisi hari-hari mereka di sekolah setelah libur lebih kurang 2 minggu. Mereka pasti punya sekeranjang cerita tentang kegiatan mengisi liburan.

Sebagai salah satu dari sekian banyak orang tua yang anaknya sedang libur sekolah, saya pun ikut menjadi bagian dari orang-orang yang menemani anak-anaknya mengisi libur. Setelah disibukkan dengan seabrek kegiatan di sekolah, sudah selayaknya mereka diberi kesempatan untuk melepas penat dengan mengajak mereka berlibur.

Dimulai dengan memutuskan daerah tujuan libur, destinasi wisata yang akan dikunjungi, serta  agenda selama berlibur, saya serahkan kepada anak-anak untuk mendisainnya. Mereka juga saya arahkan untuk mencari tempat penginapan termasuk di dalamnya estimasi biaya yang dibutuhkan.  Hal ini merupakan salah satu upaya dalam proses edukasi agar mereka tahu bahwa segala sesuatu itu harus direncanakan dan disipakma sedemikian rupa. Bahwa apa yang diperoleh merpakan hasil dari sebuah  proses. Tidak ada yang terjadi lewat abrakadabra  dan sim salabim.

Ketiga anak saya, Anindya, Faiz, dan Aqeela memang terlihat antusias mencari objek-objek yang akan dikunjungi. Tanpa mereka ketahui, sebenarnya saya pun sudah melakukan usaha ‘tandingan’. Mencari tempat yang kira-kira mereka sukai dan nikmati di waktu libur.

Yang menarik adalah kalau saya mencari lewat ‘Mbah google’, mereka justru menggunakan media sosial instagram, mengidentifikasi dan menginventarisir tempat-tempat yang sudah dikunjungi kawan-kawan mereka. Mereka terlihat sangat semangat berdebat untuk mengatur rute. Hingga saat diskusi akhir. Mereka memutuskan untuk mengunjungi banyak tempat. Saat dianya alasan keputusan mengunjungi banyak tempat ini adalah untuk berselfie ria.

Saya hanya tersenyum dikulum karena  apa yang saya pikirkan rupanya kejadian. Si kakak Anind, sebagai anak yang tertua terlihat berhasil mempengaruhi adik-adiknya untuk mengikuti rencana tersebut. Kesukaan anak baru gede (ABG) sekarang memposting foto-foto mereka di berbagai tempat yang baru menjadi tantangan tersendiri.

Ketika saya tawarkan untuk berlibur di tempat yang lazim dikunjungi, mereka langusng menolak. Alasannya sudah banyak dikunjungi orang dan sudah tidak challenging. Kemudian, dengan tegas Faiz mengatakan bahwa kids jaman now menyukai sesuatu yang berbeda.

Kembali senyum kedua saya kulum. Anak seusia Faiz sudha sedemikian lugasnya berpendapat dan menggunakan istilah-istilah yang saya sendiri sebenarnya banyak belajr dari mereka. Rupanya kesukaan memperhatikan orang bertutur berbuah kayanya kosa kata gaul.

Si Adek Aqeela pun ikut-ikutan mendukung pendapat abangnya. ‘Kids jaman now tidak hanya melakukan yang biasa, Bunda tetapi luar biasa.’ Saya hanya terdiam karena kalah suara dengan mereka. Setelah saya ulas dan jabarkan beberapa informasi terkait rencana mereka, akhirnya jumlah tujuan wisata direduksi tetapi tetap yang berbeda. Bukan mall dan tempat bermain, tetapi pemandangan alam yang indahlah yang menjadi pilihan.

Dibekali masing-masing satu koper, mereka mulai menyiapkan kebutuhan selama berlibur. Saya tegaskan bahwa tidak ada pertanyaan dimana barang kepunyaan mereka karena masing-masing harus bertanggungjawab dengan kebutuhan dan barang masing-masing. Mereka benar-benar semangat. Ketidaksabaran untuk pergi berlibur terlihat jelas di antusiasme itu.

Meskipun saya sadar bahwa  waktu libur mereka bertumburan dengan padatnya jadwal  dan pekerjaan, saya mempercepat upaya penyelesaian tugas. Waktu-waktu mereka sudah cukup banyak disunat oleh aktivitas pribadi. Tapi ini adalah sebuah pilihan. Ini adalah realita.

Ada banyak anak yanga memiliki orang tua bekerja keduanya. Mereka memang harus dilatih dan disiapkan untuk mandiri. Tidak jarang mereka ‘matang’ lebih awal. Mereka akan menyelsaikan persoalan sendiri atau justru mencari solusi di dunia maya. Dunia maya ini memiliki semua jawaban atas pertanyaan dan keingintahuan anak-anak.

Di sinilah tantangan untuk orang tua jaman now. Meskipun disibukkan di dunia luar, bekerja, tidak berarti anak-anak dibiarkan lepas sehingga benar-benar menjadi kids jaman now. Satu kisah dari seorang teman yang anaknya sering menjadi korban bully teman kelasnya. Ada satu anak yang kebiasaan membuli ini tidak bisa dihilangkan sedemikian rupa. Ada-ada saja kejadian yang membuat anak teman ini menangis atau pulang dalam keadaan terluka. Setiap kejadian, teman ini awalnya selalu menyampaiakan ke pihak sekolah. Sepertinya pihak sekolah kurang respon. Hingga akhirnya, teman ini mulai kehilangan kesabaran.

Suatu ketika, sewaktu menjemput anaknya ke sekolah. Teman ini bertemu dengan  teman anaknya yang suka membuli ini. Si teman langsung bertanya dan menginterograsi si anak. Dari sinilah teman ini mengetahui bahwa si anak adalah anak dari orang tua jaman now. Orang tua yang benar-benar sibuk dan punya waktu yang sangat terbatas mengurus anaknya. Mengantar anak sekolah di pagi hari boleh dikatakan jarang dilakukan. Bahkan saat diberitahu kelakuan anaknya pun, dia seperti tidak merespon.

Apakah ini hidup yang benar-benar jaman now?

Hidup dimana ibarat kata orang, lamak jo gomok lah bacampua. Bahkan seorang teman saya menyebut  kantuik jo aia ludah lah bacampua. Semuanya seperti tidak lagi berbatas. Frame kehidupan sudah tidak ada lagi sehingga koridor-koridor seakan-akan terabaiakan. Tanggung jawab yang seharusnya dipikul dan dijaga tidak lagi dilakukan.

Saya menyebutnya dunia how-how. Semua pertanyaan tidak  perlu lagi dijawab karena jawabannya sudah ada di kepala semua orang. Bahwa hidup sekarang adalah hidup berbasis kepentingan. Orang tidak akan pernah mau berkorban untuk orang lain kalau tidak ada ‘kepentingan’.

Dalam sebuah diskusi dengan Buya Mas’oed Abidin, saat saya mempertanyakan apa yang saya katakana di atas, beliau dengan tersenyum mengomentari bahwa saya terlalu galau dengan dunia sekarang. Kegalauan saya itu  kemudian menjadi markah sendiri sehingga setiap bertemu, Buya Mas’oed akan mengatakan, ‘Ini Ibu yang galau dengan dunia sekarang’.

Benar apa yang dikatakan oleh Buay Mas’oed, kegalauan saya ini sudah hampir mencapai titik kulminasi. Mengutip beberapa ayat, Buya Mas’oed kemudian mencoba menjelaskan bagaimana seharusnya bersikap di dunia jaman now. Hidup di jaman now membuat kita tetap harus menjadikan agam sebagai pegangan. Seorang muslim, misalnya, tidak boleh melepaskan Alquran dan Hadis Rasul menjadi panduan hidupnya.

Tongkat yang mengarahkan adalah kedua Alquran dan Hadis ini. Bagaimanapun juga situasi dan kondisi kehidupan zaman now. Kedua warisan Rasulullah ini tidak boleh ditinggalkan. Meskipun judul kehidupan sekarang adalah jaman now tidak berarti kita hanyut dan kalah dengan keadaan. Apa pun kondisinya, pilihan kehidupan tetap ada di tangan kita. Sebagai anak, orang tua, orang yang bekerja di jaman now.Tidak ada istilah lepas tanggung jawab. Semuanya pasti akan dipertanggungjawabkan. Semua amanah, baik untuk diri sendiri, keluarga, atau umat pasti akan dipertanggungjawabkan.

Semoga di kehidupan jaman now, kita tetap di jalan-Nya. Aamiin.

 

 

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sasatra Inggris

FIB Unand

 Sudah dimuat di Harian Singgalang, 7 Januari 2017, Hal. A-11

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation