Jujurlah kalian selalu, karena sesungguhnya kejujuran itu mengantarkanmu pada kebaikan; dan kebaikan itu sesungguhnya mengantarkanmu menuju surga. Sedang dusta hanya akan mengantarkanmu pada keburukan dan dosa; dan sesungguhnya dosa itu mengantarkanmu menuju neraka.” Nabi Muhammad SAW  (HR. Bukhori & Muslim )

Padeks_4 Jan 2018

Adalah sebuah alkisah. Seorang pemimpin bernama Yorkshire dipilih menjadi khalifah bukan karena kompetensinya, tetapi ada konspirasi untuk tujuan tertentu sehingga beberapa pihak sepakat untuk menaikkan dan mendudukkan dia menjadi imam bagi sekelompok orang di institusi tertentu. Entah apa yang membuat Yorkshire ini awalnya mau saja dijadikan ‘robot’ oleh kelompok konspirasi ini. Yang jelas, secara pribadi Yorkshire sering mengakui ketidakmampuannya dalam memenej. Sangat sering dia melontarkan ketidakbisaanya ini kecuali hanya untuk disuruh dan diperintahkan melakukan sesuatu. Sederhananya, Yorkshire ini memang sadar ‘sesadar-sadarnya’ bahwa dia tidak bisa dan tidak mampu. Akal sehat yang seharusnya digunakan terabaikan begitu saja. Hati yang seyogyanya menjadi filter karena berbasis pada iman dan aqidah pun sepertinya sudah dilupakan.

Hingga  akhirnya Yorkshire pun duduk menjadi seorang khalifah. Yorkshire terlihat agak petantang-petenteng. Meskipun dalam sikap petantang-petenteng itu tercermin kegamangan, Yorkshire tetap bertahan dengan kepedeannya.

Setahun sudah Yorkshire menjadi khalifah. Tanda-tanda kesemrawutan mulai terlihat. Ketidakmampuan Yorkshire mulai  membuahkan hasil. Banyak umat yang mulai terzalimi. Yorkshire terlihat santai. Ketika jumlah umat yang menjadi korban semakin banyak, Yorkshire mulai terlihat panik. Akan tetapi dia masih yakin dengan back up  yang dilakukan pemilihnya. Sampai kemudian, ibarat bisul yang sudah matang, kepemimpinan  Yorkshire mulai menuai badai. Orang-orang yang memilih Yorkshire mulai menjauh dan membelakanginya. Yorkshire pun akhirnya ditinggal sendiri kecuali oleh orang-orang yang pernah dia sakiti dan zalimi.

Orang-orang yang sebenarnya terzalimi oleh terpilihnya Yorkshire tidak mau meninggalkan Yorkshire. Meskipun apa yang pernah dilakukan Yorkshire sangat jahat, keyakinan bahwa Allah sudah mengatur semua hal membuat mereka tetap menyokong dan membantu Yorkshire. Sayangnya Yorkshire sudah tumpul hati (Revita,  2017). Yorkshire tidak melihat dukungan dan bantuan orang-orang yang pernah dia sakiti sebagai sebuah kebaikan.. Justru kejahatan kedua dilakukan Yorkshire dengan menzalimi orang-orang ini.

Melalui kuasanya sebagai pengambil kebijakan, Yorkshire menyunat hak orang-orang ini. Ibarat melihat semut di seberang lautan, gajah di pelupuk mata tidak kelihatan. Inilah yang terjadi pada Yorkshire .

Upaya mencari keadilan pun dilakukan orang-orang ini, tetapi Yorkshire tutup mata. Yorkshire tidak memberi kesempatan untuk informasi yang berimbang. Dengan kata lain, informasi dari dua arah sebagai dasar untuk memperoleh kebenaran tidak dilakukannya. Bahkan, dengan rasa tanpa bersalah, keputusan diambil Yorkshire. Tindakan semena-mena ini pun dijalankan Yorkshire. Orang ini kembali memasrahkan diri karena Allah itu Maha Kuasa. Tidak ada kuasa yang melebihi kekuasaan Allah.

Apa yang dialakukan orang ini sebenarnya juga dilakukan oleh yang lain dan Yorkshire sendiri. Sayangnya hati yang tumpul (Revita, 2016) ini benar-benar sudah membatu sehingga kebenaran seakan-akan tidak punya tempat lagi. Yang ada hanya balas dendam dan  kebencian.  Bahkan ketika diberi pandangan positif pun, Yorkshire mementalkan itu dengan sikap penuh kebencian dan menghindari yang namanya tegur sapa. Yorkshire memang sudah lupa dengan usianya yang tidak lagi muda. Bahwa kakinya sebelah sudah di liang kubur, demikian apa yang dikatakan banyak orang, serta penyakit yang sering menyerangnya tidak lagi menjadikan dia insyaf. Justru Yorkshire semakin menjadi.

Kasihan Yorkshire!

Ada juga seseorang yang tidak dikenal Yorkshire kemudian mengikuti langkahnya. Namnya Ms. Snake. Ms. Snake juga menjadi khalifah tetapi awalnya diangkat memang karena dinilai memiliki kemampuan. Ms. Snake ditimkan dengan beberapa orang lain untuk menjalankan sebuah institusi pengisi otak. Karena ada beberapa orang, Ms. Snake terlihat profesional dan objektif. Barangkali, kerumpangan kepemimpinan Ms. Snake dilengkapi oleh anggota tim yang lain.

Hingga suatu waktu, Ms. Snake tinggal sendiri karena anggota tim ada yang pindah dan berpulang ke rahmatullah. Ms. Snake mulai tidak terkontrol. Dia sering berperilaku tidak tepat dan pas. Saat dikritisi, Ms. Snake terlihat keberatan. Keberatannya itu direspon melalui sikap menghindar orang yang mengkritik bahkan tidak melakukan tegur sapa.

Seiring berjalannya waktu, kepemimpinan Ms. Snake mulai dipertanyakan beberapa konsumennya yang kritis. Yang mengherankan, di balik ketenangannya Ms. Snake mampu membuat konsumennya yang lain  ikut seperti kerbau dicucuk hidungnya. Konsumen yang kritis ini tidak tinggal diam. Mereka tetap mengkritisi tetapi dengan cara lain, yaitu diam dalam bahasa dan beraksi melalui tindakan nyata. Dalam kondisi ini, ada penyusup masuk. Beberapa pengkhianat berhasil mengambil ‘muka’ Ms. Snake sehingga Ms. Snake sangat percaya kepadanya. Melalui mulut manis, pengkhinat ini berbahasa seakan-akan dia adalah makhluk yang paling patuh dan penurut ‘sedunia’.

Keadaan mulai kacau tetapi tidak ricuh. Kelompok kritisi mulai memperlihatkan bawah mereka tidak tinggal diam. Latar belakang pendidikan tidak rendah serta basis keilmuan yang  berbeda dengan kualifikasi yang ‘luar biasa’ menunjukkan betapa kelompok ini terlihat sangat cerdas dalam bersikap dan mengontrol emosi. Tidak ada kritik  lewat kata-kata. Justru   yang dilakukan adalah diam dan aksi. Dalam hubungannya dengan berbahasa, Leech (1986) menyebutnya dengan don’t do FTA. Diam tidak membuat seseorang kalah tetapi dengan diam dalam konteks tertentu menjadikannya sebagai orang yang berkelas. Diam seperti itu adalah wujud dari kesantunan (Revita, 2013). Diam seperti ini adalah emas.

Ms. Snake pun tidak tinggal diam. Dia melancarkan aksi balas dengan membuat peraturan yang sifatnya ‘memaksa’. Melalui posisinya sebagai penguasa tunggal, Ms. Snake mengancam para pengisi otak. Ancaman pertama adalah untuk menjaga jarak dengan konsumen. Jika ada yang tidak patuh akan dipecat. Beberapa pengisi otak yang masih berpikir dengan logika dan memiliki hati tidak mau mematuhi ancaman itu. Ms. Snake pun marah. Pengisi otak yang dinilainya melawan pun dipanggil dan diperintahkan untuk mengundurkan diri.

Hati Ms. Snake sudah mulai menghitam. Dia menutup mata atas kebenaran. Perintah yang jelas keluar dan melanggar norma kenormalan tetap dipakai. Bahwa orang yang salah seharusnya diberi peringatan 1, 2, dan 3 tidak lagi diacuhkan. Keberanian pengisi otak untuk bertahan dengan dasar aturan hukum dan agama membuat dia bisa bertahan. Ms. Snake dibuat seperti speechless.

Perilaku dan kepemimpinan Ms. Snake tidak berhenti di situ saja. Dia mulai menjalankan misi-misi berbungkus kebaikan dan kesejahteraan pengisi otak. Konsumen mulai dikuras. Yang cuek akhirnya menjadi lahan Ms. Snake untuk mengeruk materi. Yang kritis tetap diam dalam kata tetapi merespon dengan aksi. Ms. Snake sangat marah. Dia pun akhirnya mengeluarkan aturan bahwa A adalah Z, jika ada yang mengatakan A adalah A, maka silahkan keluar dan mundur menjadi konsumennya. Benar-benar sebuah tirani.

Kasihan Yorkshire dan Ms. Snake. Dia sudah menjadi korban jaman now. Dia hanya mengutamakan sesuatu yang akan menguntungkannya saja. Kejujuran dalam bentuk transparansi kepemimpinan baginya tidak penting. Meskipun mengetahui bahwa yang dilakukannya keliru, Yorkshire dan Ms. Snake sudah hanyut dengan dunia jaman now. Yorkshire dan Ms. Snake sudah buta dengan kebenaran.

Sabda Rasulullah di atas sepertinya tidak pernah melekat di hati Yorkshire dan Ms. Snake. Mereka sepertinya menghindari jalan menuju surga dengan memilih menjadi orang yang tidak jujur dan tidak amanah. Itu pulalah sebabnya, Rasulullah mengatakan ketika memilih khalifah bukan orang yang tepat dan tidak memiliki kompetensi, padahal kita tahu itu, artinya kita sedang menunggu kehancuran.

Ini adalah realitas.

Realitas di jaman now!

Penulis adalah

Dosen Prodi Linguistik Pascasarjana dan KepalaPusat Pengembangan Pendidikan LP3M

Universitas Andalas

Sudah dimuat di Harian Padang Ekspres, 4 Januari 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation