‘Hasil dari ilmu adalah tindakan bukan pengetahuan’

 Hari itu entah kenapa saya  sangat malas untuk menyetir mobil sendiri. Padahal ada banyak agenda yang dikerjakan dan membutuhkan mobilitas cukup tinggi. Berpikir ada transportasi on line yang bisa menjadi pilihan untuk memanjakan diri akhirnya saya memutuskan untuk beraktivitas menggunakan moda umum.

22780374_10214770359877989_9171483737091763948_n

Pilihan pertama saya adalah naik angkutan kota (angkot). Angkot ini merupakan moda yang sering  menjadi pilihan dalam berpergian di dalam kota. Meskipun ada ojek, pengalaman yang tidak nyaman membuat saya jarang memilih moda ini.

Duduk di atas angkot memiliki dinamika tersendiri. Bertemu banyak orang dengan berbagai gaya membuat saya memperoleh banyak pelajaran. Walaupun keadaan yang paling menakutkan adalah saat penumpang yang akan naik memegang rokok yang sedang menyala, tetapi saya tetap memilih angkot. Meskipun dibayangi oleh hembusan asap rokok, dengan menutup hidung dan melotot kepada si perokok, naik angkot memiliki nuansa tersendiri.

Angkot yang pertama saya naiki didominasi oleh anak sekolah dan ibu-ibu yang akan ke pasar. Tidak ada kejadian yang menarik perhatian kecuali fenomena penumpang yang kesemuanya asyik memainkan jarinya di keypad mobile phone mereka. Awareness akan lingkungan sekitar sepertinya sudah mulai meluruh. Setiap penumpang yang naik begitu sudah duduk akan langsung meraih handphone mereka dan asyik dengan handphone itu. Bahwa yang di depan atau di samping mereka bisa jadi tetangga, teman, guru, atau orang tua teman sepertinya tidak terperhatikan. Aksi mereka pun bermacam-macam. Ada yang sambil tersenyum, berpikir keras, bahkan tertawa sendiri.

Pemandangan ini saya nikmati sampai di tujuan yang mengharuskan saya berpindah ke angkot berikutnya. Di dalam angkot terlihat seorang ibu dengan anaknya yang berusia sekitar 4-5 tahun. Tidak lama naik segerombolan anak muda yang saya perkirakan adalah mahasiswa. Di tangan masing-masing mereka terlihat makanan dan minuman. Duduk di dalam angkot sambil makan, tertawa, dan memegang hand phone membuat saya sedikit agak terganggu. Suara mereka yang berisik seakan berpacu dengan kerasnya musik angkot. Dengan suara sedikit berteriak saya meminta sopir untuk mengecilkan volume musik.

Kembali dalam perjalanan, saya mengamati tingkah polah penumpang angkot. Yang sangat menarik perhatian saya adalah ekspresi anak kecil yang duduk berhadapan dengan kelompok remaja ini. Pandangan si anak tidak terlepas dari makanan yang mereka pegang. Terlihat bagaimana anak itu membayangkan  andai dia yang memakan makanan itu.  Pandangan itu diikuti oleh degupan air ludah. Sekali-sekali dia melihat pada ibunya. Si ibu terlihat berusaha mengalihkan pandangan anak. Akan tetapi tidak berhasil.

Pandangan saya alihkan ke kelompok remaja ini. Beberapa memang menyadari pandangan anak kecil ini. Sayangnya mereka acuh saja. Justru sambil mengunyah cemilan itu, sekali-sekali mereka meyeruput minuman sampai berbunyi. Pemandangan ini mengingatkan saya pada almarhum ibu yang selalu mengingatkan kami anak-anaknya untuk tidak makan di depan anak kecil jika tidak mampu dan tidak mau membaginya. Sebaliknya juga, kami selalu diingatkan untuk tidak pernah mancagun  melihat orang lain makan. Kalau ingin, kami boleh meminta kepada kedua orang tua bukan orang lain.

Saat itu saya tidak mengerti. Yang saya tahu hanyalah saya harus patuhi itu. Sekarang baru saya sadari betapa semuanya itu berhubungan dengan etika. Logika sederhananya, bagaimana mungkin kita makan-makan di depan orang lain sementara orang lain itu hanya menjadi penonton.  Apalagi di depan anak-anak yang secara usia memang belum memahami konteks secara utuh. Yang mereka mau adalah ketika melihat punya orang, apalagi yang berhubungan dengan makanan, terbersit keinginan untuk memiliki tanpa paham apakah itu boleh atau tidak. Keinginan itu tidak jarang diikuti rengekan atau tangisan. Di sinilah terkandung nilai yang seyogyanya dipahami semua orang ketika berhadapan dengan anak kecil. Keterbatasan pengetahuan anak kecil membuat orang dewasa yang harus mundur  dan mau mengerti keadaan ini.

Di sinilah perlu yang namanya basa-basi. Dalam KBBI (2012), basa-basi dinamakan juga sopan santun atau tata krama dalam pergaulan. Basa-basi ini merupakan salah satu soft skill yang dimiliki manusia dalam menjaga hubungan interpersonal. Malnowski (1913) seorang antropolog dari Polandia  menyebutkan basa-basi sebagai upaya dalam menjaga social binding. Dengan basa-basi kualitas seseorang bisa terlihat. Seberapa baik hubungan sosialnya dengan orang lain.

Dalam forum, tidak jarang ditemukan orang yang ‘pelit’dengan basa-basi. Di antara keramaian dan orang-orang yang dikenalnya, dengan santai mereka makan tanpa sepatah katapun mau berbasa-basi menawarkan makanan itu pada orang yang berada di dekatnya. Apakah terasa sulit dan berat untuk memproduksi satu kalimat, ‘Makan, Pak/Bu?’

Ataukah basa-basi itu dianggap mubazir? Basa-basi bukan lagi sesuatu yag dianggap efektif. Justru basa-basi adalah kegiatan yang sudah basi alias expire sehingga tidak perlu dipakai lagi. Dalam sebuah artikel yang ditulis Revita (2017) dikatakan bahwa salah satu indikator keberhasilan manusia itu bukan dari berapa banyak harta yang dikumpulkannya, tetapi dari seberapa banyak orang yang peduli padanya. Kepedulian itu lahir sebagai hasil dari tata karma yang salah satunya tercermin dalam basa-basi ini.

Tata krama dalam bentuk basa-basi di banyak kelompok masyarakat bahkan sudah dijadikan aturan yang mengikat, baik secara sosial, agama maupun budaya. Aturan ini kemudian dijadikan norma yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Tatkala norma ini dilanggar maka akan diberikan hukuman sosial bagi pelanggarnya.

Ini adalah gambaran yang ideal. Kodisi terkini adalah basa sudah basi sehingga harus dibuang. Kalaupun dikoarkan menjadi norma, semua itu hanya tinggal  nama. Norma sudah banyak dinilai sebagai sesuatu yang unik dan antik. Harganya sudah sangat mahal. Banyak orang  yang sangat keberatan untuk menjadikan norma sebagai sesuatu yang patut dimiliki.

Ironisnya lagi, basa-basi ada yang dianggap aneh. Orang yang suka berbasa-basi bahkan dinilai tidak konsisten karena menyampaikan sesuatu yang tidak sejalan dengan niat. Inilah yag perlu diluruskan bahwa basa-basi bukan hanya sekedar lips service  tetapi juga bagian dari etika, norma, dan nilai baik yang idealnya harus ditanamkan. Basa-basi bukan sekedar bahasa yang keluar dari mulut tanpa makna. Ada pesan mendalam yang terkandung dalam basa-basi. Misalnya, ketika bertemu dengan sahabat lama di dekat rumahnya, saat berpisah tidak ada tawaran untuk mampir, masuk ke rumah, atau sekedar minum kopi/teh. Inferensi yang diambil adalah sombong. Sombong adalah kata yang tepat ditujukan untuk sahabat lama ini. Kata sombong ini akan diikuti dengan penjelasan yang sangat panjang dengan menghubungkan pada banyak hal. Mungkin dia sudah kaya, sudah menjadi orang hebat, atau mentang-mentang tinggal di kota adalah beberapa poin yang mungkin disangkutkan dengan sikap ini

Yang pasti, basa bukanlah sesuatu yang basi. Basa akan tetap berpadanan dengan basi yang berkonotasi positif. Kalaupun ada orang yang barek muncuang  untuk berbasa-basi, tentu ada alasan yang dapat menjelaskannya.

Sikap basa-basi merupakan cerminan dari ketinggian budi pekerti. Norma yang melekat dalam basa-basi adalah indikasi keberadaban. Seseorang yang beradab senantiasa mempertahankan dan mengamalkan nilai-nilai positif  budayanya. Bukan memangkas begitu saja kecuali jika menjadi orang yang tidak beradab sudah menjadi pilihan bahkan dianggap sebagai hal yang biasa. Kalau demikian adanya, ceritanya tentu menjadi berbeda.

Sudah dimuat di Harian Padang Ekspres, Rabu 6 januari 2017, Hal. 4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation