Seorang ibu tidak pernah memintamu untuk meletakkan dunia di tangannya, namun tutur kata yang halus, perangai yang santun, perilaku yang bertanggung jawab dari seorang anak yaitu kebahagiaan bagi seorang Ibu (anonim)

 IMG_2033

Kutipan di atas mengingatkan saya pada cerita Malin Kundang yang berubah jadi batu karena dikutuk ibunya. Demikian cerita rakyat yang berasal dari Minangkabau ini dari waktu ke waktu dikisahkan kepada generasi berikutnya. Akibat melawan dan tidak mau mengakui ibunya, Ibu Malin Kundang merasa kecewa dan marah sehingga keluarlah ucapan, ‘Ku kutuk kau jadi batu!’.

Kisah ini menjadi media bagi masyarakat Minangkabau yang terbiasa dengan tradisi lisan untuk melakukan upaya edukatif. Bahwa ibu adalah makhluk yang harus dihormati, disayangi, dan tidak boleh disakiti dirangkum dalam cerita rakyat yang kemudian cukup diyakini kebenarannya.

Keyakinan ini lahir salah satunya dibuktikan dengan adanya batu yang mirip dengan manusia dan disebutkan sebagai  Malin Kundang yang bersujud kepada ibunya memohon ampun. Selain itu, adanya batu lain berbentuk kapal di sekitar itu juga ikut mendukung sehingga masyarakat semakin yakin bahwa kisah Malin Kundang ini pernah ada. Berlokasi di daerah Pantai Aia Manih , Batu Malin Kundang menjadi salah satu destinasi wisata masyarakat yang berkunjung ke Kota Padang.

Apa yang akan saya ceritakan adalah prolog dari apa yang akan saya uraikan dalam tulisan ini. Jika dihubungkan dengan kutipan di atas, dapat diambil keseimpulan bahwa harapan seorang ibu terhadap anaknya ada tiga, yakni a) tutur kata yang halus; b) perangai yang santun; dan c) perilaku yang bertanggung jawab.

Tiga hal ini terkesan sederhana dan mudah tetapi cukup sulit untuk diwujudkan. Beberapa fakta terkini menunjukkan betapa banyaknya anak-anak yang bertutur kata tidak lagi halus, jauh dari yang namanya sopan dan santun, serta sikap-sikap bertanggung jawab sepertinya tidak lagi dinilai penting. Betapa banyaknya anak-anak yang gagal dalam bertutur sopan (halus), berperilaku sopan, dan tidak peduli dengan tanggung jawab.

Dalam beberapa artikel yang sudah dimuat di Harian Singgalang (2014, 2015, 2016, dan 2017), saya banyak berbiara tentang kesantunan dalam bertutur, perilaku yang sopan, dan sikap yang bertanggungjawab ini. Artikel-artikel ini pada umumnya berangkat dari fenomena yang saya saksikan atau dialami oleh para sahabat. Artinya, perjalanan waktu tidak selalu menjamin terjadinya perubahan dari yang buruk ke yang baik (Revita, Singgalang ,1/10/ 2017).

Kenapa hal demikian sampai terjadi?

Inilah tugas kita sebagai orang tua. Memberikan arahan dan panduan  yang membuat mereka setidaknya memenuhi tiga ekspektasi orang tua pada umumnya. Orang tua idealnya juga mampu menjadi model sehingga kebaikan yang dilakukan lewat tutur bahasa dan perilaku dengan mudah dapat diimitasi oleh anak.

Dalam diskusi dengan seorang psikolog dari UGM, dikatakan bahwa model pendidikan yang mumpuni itu sekarang adalah dengan modeling bukan lagi coaching semata. Akan lebih baik jika keduanya dikombinasikan tetapi dengan persentase modeling  yang tetap lebih besar. Sejalan dengan ini, saat berdialog dengan istri Gubernur Sumatera Barat, Ibu Nevi Prayitno, satu statement  beliau yang saya highlight bahwa pendidikan itu berakar dari rumah. Ibu adalah ustadzah terbaik dalam pendidikan anak.

Ucapan inilah yang selalu saya ingat karena sepertinya menjadi ibu tidak hanya sarat dengan tanggung jawab melahirkan dan menyusui anak saja, tetapi juga harus mampu memberikan pendidikan terbaik dari rumah. Melalui tangan  dan sentuhan ibu, jiwa seorang anak diisi.

Sehubungan dengan ini, banyak hal juga yang terkait dengan ibu yang mengandung daya luar biasa. Saya menyebut daya ini sebagai sebuah kesaktian. Kenapa demikian? Di telapak kaki ibu dikatakan ada surga. Ibu  adalah makhluk yang prioritasnya 3 kali lipat dibandingkan ayah. Dengan kata lain, kekuatan Ibu sangat luar biasa. Untuk itu, tidaklah salah jika banyak ucapan ibu yang mengandung kekuatan. Salah satunya sebagaimana yang dijelaskan di atas. Kekecewaan yang mendalam atas perilaku anaknya membuat kutukan seorang ibu berlaku. Malin Kundang langsung berubah menjadi batu begitu ibunya selesai mengutuk.

Terkait dengan ini, dalam linguistik ada istilah yang dinamakan dengan hipnotis bahasa. Dalam KBBI (2012) dikatakan hipnotis merupakan  salah satu ilmu yang digunakan untuk bermain dengan alam bawah sadar manusia, setelah seseorang memasuki alam bawah sadarnya kita bisa menanamkan sugesti tertentu dalam pikiran mereka dan membuat mereka melakukan hal-hal yang kita perintahkan. Hipnotis ini ada yang bersifat negatif dan positif. Hipnotis negatif ini yang digunakan oleh penjahat untuk merajah harta benda mangsanya.

Hipnotis juga dapat digunakan untuk hal yang positif. Misalnya untuk mengatasi orang yang mengalami depresi  dan  tidak bisa digali akar persoalannya. Melalui hipnotis, pasien akan berbicara sehingga pemicu stresnya dapat ditemukan. Selain itu, hipnotis juga dapat dilakukan untuk pengobatan bagi pencandu rokok yang berkeinginan untuk berhenti merokok.

Dalam sebuah media tentang ibu dan anak, saya juga mendapat informasi bahwa hipnotis dapat dilakukan kepada anak yang masih ngompol. Dengan membisikkan pada anak yang sudah mulai pulas tidurnya bahwa dia tidak akan ngompol dan bangun ketika kebelet pipis, upaya hipnotis ini dapat berhasil. Anak yang tidak bangun malam dan suka ngompol akan terbangun dan melakukan apa yang dihipnotiskan kepadanya.

Hipnotis serupa juga dapat diberikan kepada anak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Dorongan agar mereka semangat dalam belajar, percaya diri menghadapi ujian, dan banyak hal positif lainnya yang dapat dilakukan melalui hipnotis.

Hipnotis seperti ini sudah pasti menggunakan bahasa. Wardaugh (1986) menyebutkan bahasa sebagai arbitrary vocal symbol used for communication. Bahasa merupakan smbol bunyi yang bersifat arbitrer yang digunakan manusia untuk berkomunikasi.

Sebagai alat yang dapat digunakan untuk memberi informasi atau mengekspresikan diri, bahasa pun bisa dijadikan media untuk berbagai kegiatan. Banyak hal yang bisa dilakukan. Hipnotis termasuk hal yang baru. Bahasa untuk pengobatan menggunakan hipnotis.

Dengan bahasa, seseorang bisa berubah. Dengan bahasa, pikiran orang lain dapat diisi hal baik dan buruk. Apalagi jika bahasa itu keluar dari mulut seorang ibu. Dayanya akan semakin luar biasa.

Ibu memang fantastis. Ibu tidak hanya seorang perempuan yang dianggap lemah. Sesungguhnya dalam jiwa ibu, ada kekuatan yang fenomenal. Kekuatan yang tidak bisa terlawan karena dalam diri ibu tertumpang amanah dari Sang Penciptan. Amanah yang harus dijaga. Amanah yang pertanggungjawabannya tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat.

Semoga ibu dan hipnotisnya benar-benar dapat menjadikan anak-anak mereka sebagai manusia masa depan sesuai harapan. Aamiin.

 

 

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris

FIB Unand

Sudah dimuat di Harian Singgalang, 24 Desember 2017, Hal. A-5

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation