Sekarang sudah tanggal 31 Desember 2017. Artinya, esok hari sudah memasuki tanggal 1 tahun 2018. Tanda-tanda bertambahnya jumlah tahun sudah terlihat beberapa minggu menjelang tanggal 31 ini. Pedagang terompet sudah mulai menjamur di sepanjang pinggir jalan hampir di semua wilayah. Suasana ini tidak membedakan apakah itu di kota atau di desa. Yang berbeda hanya mungkin kuantitas. Jika di  kota, jumlah pedagang relatif lebih banyak dibanding desa. Akan tetapi, model-model terompetnya hampir sama. Yang saya tahu, di malam pergantian tahun itu, keributan suara terompet di tengah malam buta tidak bisa dihindari.

 

 

 

IMG-20170507-WA003521743093_10212705812733305_8554116306995519131_n

Seperti halnya perayaan tanggal lahir, perubahan tahun ini secara filosofis menggambarkan betapa dunia sudah semakin tua. Di saat seseorang merayakan ulang tahun, ucapan selamat panjang umur pun secara semantis tidak tepat. Dikatakan demikian karena perayaan ulang tahun atau tanggal lahir sebenarnya adalah proses seseorang mendekati kematiannya.

Dalam ajaran Islam, ketika roh ditiupkan kepada janin, di saat itu Allah sudah mengatur semua perjalanan hidupnya. Jika masyarakat Minangkabau terkenal dengan nan ampek, yang diatur Allah juga nan ampek, yakni hidup, rezki, jodoh, dan kematian. Empat perkara ini sudha didisain Allah sedemikian rupa yang tiada seorangpun mampun merubahnya kecuali atas kehendak-Nya.

Sekarang tahun bertambah sudah. Umur bumi pun semakin. Pada suatu masa, usia bumi akan berujung. Ujungnya adalah kehancuran atau yang disebut dengan kiamat. Kiamat-kiamat kecil sekarang sudah mulai terlihat. Bencana gempa bumi, sunami, longsor, atau banjir bandang yang membawa banyak korban merupakan beberapa pertanda bahwa bumi memang sudah tua.

Tidak hanya itu, perilaku manusia pun sudah mengarah kepada indikasi tuanya alam semesta ini. Beberapa hari yang lalu, saya dan keluarga baru saja kembali dari aktivitas mengisi hari libur. Berkunjung ke propinsi tetanga menjadi pilihan anak-anak. Jalur darat pun menjadi putusan mereka dengan alasan menikmati keindahan alam.

Meskipun saya awalnya agak pesimis karena sudah parno  dengan perjalanan yang pasti melelahkan, sekian jam duduk di atas mobil. Akan tetapi, anak-anak meyakinkan bahwa perjalan akan enjoyable karena kami dapat berhenti di saat lelah sambil tafakur alam. Kalah secara aklamasi, saya pun mengikuti putusan anak-anak.

Apa yang saya takutkan tidak bertemu sedikitpun. Rasa lelah yang menjadi kekhawatiran awal tidakd bertemu sedikit pun. Justru, perjalanan ini membuat saya merasa semakin kecil di mata Allah. Betapa kuasa Allah atas ciptaan-Nya yang sangat luar biasa. Proses edukasi pun dapat saya jalankan karena anak-anak bertemu banyak kejadian dan pemandangan yang selama ini hanya mereka dengar ceritanya dan baca lewat buku.

Satu hal yang paling menarik adalah ketika sampai di kota yang dituju, dalam kemacetan tingkat dewa (demikian saya menamai sesuatu yang sudah sangat luar biasa), saya tidak mendengar bunyi klakson mobil yang riuh. Kemudian bahasa-bahasa kasar dan ‘kebun binatang’ pun tidak saya dengar dalam banyak kemacetan yang ditemui. Pertanyaan timbul dalam pikiran saya.

Apakah ini ciri-ciri kota besar atau ciri-ciri manusia yang beradab?

Saya pun melakukan observasi kecil-kecilan dengan berkunjung ke pasar tradisional. Di pasar ini saya mencoba mengamati tingkah laku dan tindak tutur berbahasa para pedagang dalam interaksi jual beli. Kembali saya menemukan kejutan karena pedagang di pasar terlihat sangat ramah meskipun harga  barang ditawar sangat murah.

Keluar masuk beberapa toko belum lagi merubah kesimpulan awal saya. Akhirnya saya mencoba memasuki supermarket dan mall. Saya berharap simpulan ini akan gugur. Ternyata, kenyataan yang ditemui semakin menguatkan. Keramahan dan tindak tutur pedagang ini membuat saya agak tercengang.

Realitas ini kemudian membuat saya secara tidak langsung membandingkannya dengan kampung halaman sendiri. Masyarakat daerah yang sangat kental dengan adat, tradisi, nilai-nilai positif, dan agama rasanya masih sering lupa untuk mengamalkan semua di atas dalam berperilaku dan bertindak tutur. Riuh rendah klakson kendaraan roda empat dan roda dua di perempatan dan pertigaan adalah pemandangan biasa. Suara carut marut dan bahasa kebun binatang di jalan raya bukan hal yang aneh.

Merasa masih tidak percaya dengan kenyataan yang ada, saya kembali melkukan uji coba bandingan di suatu daerah yang identik dengan  kota agama. Saya pun memasuki sebvuah toko di pasar tradisional. Menawar harga yang sesuai dengan kualitas barang pun saya lakukan. Baru di toko pertama, saya kaget ‘setengah dewa’. Respon dari pedagang itu sungguh luar biasa. Bahwa pembeli adalah ‘raja’ sepertinya tidak berlakuk di toko itu. Sambil beristigfar, saya pun meninggalkan toko tersebut.

Simpulan belum lagi saya ambil karena baru satu toko. Saya memasuki toko kedua, realitas yang tidak berbeda pun saya temui. Saya menjadi sedih bercampur kecewa. Karena kedua toko itu meluluhlantakkan ekspektasi saya terhadap  kampung halaman. Hingga di toko terakhir, kekecewaan saya sedikit terobati. Dilayani dengan penuh sabar dan tindak tutur yang ‘setengah dewa’. Rencana semula untuk hanya window shopping  malah gagal karena saya tergoda untuk bebelanja akibat  keramahan pemilik toko.

Dalam perjalanan pulang ke Padang, kejadian di atas masih menjadi tanda tanya dalam pikiran saya. Pertanyaan yang muncul memiliki jawaban yang spekulatif. Perlu dilakukan penelitian mendalam agar simpulan saya tadi itu benar. Yang dilakukan baru observasi awal yang memang masih membutuhkan banyak data dan fakta.

Ketika  Adzan Zuhur berkumandang, kami memutuskan untuk shalat di sebuah masjid yang indah yang belum pernah kami datangi untuk shalat wajib atau sunat. Meskipun sudah dekat dengan rumah, waktu yang sudah masuk dan rasa penasaran akan megahnya masjid menghentikan perjalanan pulang. Meskipun sedikit berputar-putar mencari tempat berthaharah wanita, saya pun akhirnya menemukan area untuk berwudhu.

Yang menarik adalah ketika saya mendengar dua remaja berinteraksi menggunakan Bahasa  Minangkabau saat antri untuk ke kamar kecil. Kebanggan saya kepada dua remaja ini adalah ketaatan mereka dengan waktu shalat. Jarang-jarang remaja yang begitu mendengar suara adzan langsung behenti dan mencari mesjid untuk melaksanakan ibadah shalat. Namun, rasa bangga itu tergerus saat panggilan yang digunakan adalah ang. Dalam Bahasa Minangkabau, ang  merupakan sapaan atau panggilan yang mengacu kepada orang sebaya atau  lebih kecil dan berjenis kelamin laki-laki. Sekarang dialog melibatkan dua gadis yang notabenenya adalah perempuan. Artinya, panggilan ang  tidak pas mereka gunakan.

Dalam kajian linguistik,  persoalan kata sapaan memamng memiliki fungsi dan makna yang beragam. Yang jelas, ada kepatutan dan kepantasan dalam pemakaian. Kepatutan dan kepatansan ini berbasis pada konteks (Revita, 2013).

Yang lebih menyedihkan adalah ketika mereka memasuki masjid bukannya untuk shalat tetapi berkodak-kolor. Mereka terlihat selfie dan welfie sana-sini.  Meskipun perempuan ada yang namanya ‘cuti’ shalat karena datang bulan tidak berarti mereka dapat berperilaku seperti itu. Suasana masjid yang tenang sedikit terganggu oleh cekikikan kecil mereka. Pandangan jamaah yang selesai shalat kepada mereka pun sepetinya tidak mempan.

Ini adalah realita.  Kejadian ini terjadi di tahun 2017. Tahun 2018 akan tiba. Apakah fenomena ini akan masih ada, berubah menjadi lebih baik, atau justru semakin parah?

Wallahualam! Kita  lihat saja nanti.

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sasatra Inggris

FIB Unand

 Sudah dimuat di Harian Singgalang, 31 Desember 2017, Hal-A-5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation