Istilah bakaluntun puntun barangkali bersifat dialektis. Tidak semua masyarakat Minangkabau menggunakan dan memahami arti kata ulang  ini. Hal demikian saya coba dengan membuktikannya melalui pertanyaan kepada beberapa generasi muda Minangkabau. Dari hampir  50 mahasiswa yang ditanya, baik di level pasca ataupun sarjana S1, hanya 2 orang yang mengetahui arti bakaluntun puntun.ice_2017-08-06-12-21-34-853

 

Karena masih penasaran, saya  pun mencoba menanyakan kepada teman-teman sebaya dan yang lebih tua. Jawaban yang diberikan menunjukkan  beberapa teman memiliki pemahaman akan kata bakaluntun puntun ini. Pada umumnya jawaban yang diberikan tidak jauh berbeda dengan apa yang saya pahami. Bahwa bakaluntun puntun itu mengacu kepada sesuatu yang bergumpal dan kusut. Jika itu terjadi pada benang maka ujung dan pangkalnya sudah tidak jelas lagi. Jika itu terjadi pada rambut, maka rambutnya sudah terkategori melebihi kusut masai.

Ketika dicoba mencari di Kamus Bahasa  Minangkabau, saya tidak menemukan kata bakaluntun puntun ini. Justru di Kamus Kaskus yang merupakan  situs forum komunitas maya  terbesar dan nomor satu  Indonesia dan penggunanya disebut dengan Kaskuser (berasal dari kasak kusuk), bakaluntun puntun ada. Disebutkan bakaluntun puntun  berarti kusut/bergumpal.

Saya kemudian menjadi ingat ketika masih kecil dulu.   Saat melihat rumah berantakan, pekerjaan yang, kerja asal-salan, dan cucu-cucnya dengan tenang melihat situasi itu, nenek saya akan mengatakan, ‘bakaluntun puntun se karajo ko.’ Kami bisanya akan langsung tabang ambua mengejar sapu, merapikan rumah, atau beraktivitas yang tidak akan membuat si nenek menjadi marah besar.

Biasanya, sewaktu cucu-cucunya berkumpul, si nenek akan memberi penjelasan alasan beliau mengomentari apa yang kami, para cucunya lakukan. Selain  itu, si nenek akan memberi wejangan bagaimana seharusnya perilaku baik ditanamkan dari kecil. Perilaku baik ini harus diimplementasikan agar mengalir dalam darah hingga dewasa. Tidak beperilaku bakaluntun puntun. Tidak hanya di pekerjaan rumah tetapi juga dalam semua hal.

Barangkali cerita di atas akan menjadi bagian dari kisah masa lalu yang agak jarang lagi ditemukan. Bahwa seseorang itu harus meminimalisir perilaku bakaluntun puntun sehingga apapun bentuk dan jenis pekrejaan yang dialakukan, akan berujung pada sebuah achievement.

Beberapa kejadian saya amati dalam realitas sosial terkini dimana perilaku bakaluntun puntun sudah tidak lagi dianggap hal yang aneh, tetapi justru biasa. Misalnya, ketika seseorang diberi pekerjaan, pekerjaan itu harus dijalankan dengan baik. Pekerjaan itu didisain sedemikian rupa yang nanti akan berujung pada hasil yang harus dipertanggungjawabkan.

Jika pekerjaan itu terkait dengan diri sendiri, apa pun hasilnya tidak akan berefek pada orang lain. Akibat yang diterima hanya akan dirasakan oleh pribadi itu. Yang ironis adalah jika pekerjaan itu terkait dengan banyak orang dan masa depan orang. Misalnya adalah berhubungan dengan siswa sebuah sekolah atau mahasiswa perguruan tinggi. Seorang anak diamanahkan oleh orang tuanya ke sebuah sekolah untuk dididik dan diisi otaknya sehingga menjadi anak yang cerdas dalam ilmu dan perbuatan. Artinya, pihak sekolah bertanggung jawab penuh atas amanah itu. Pihak sekolah bertanggung jawab untuk menjalankan amanah itu. Kalau pun ada kendala, perlu dibicarakn dan didiskusikan dengan pihak orang tua atau pemerintah sehingga apa yang dititipkan oleh orang tua dan dimanahkan oleh negara dapat dipenuhi.

Hal yang serupa juga terjadi di perguruan tinggi. Seorang anak diarahkan oleh orang tuanya dan sekolahnya terdahulu untuk memilih perguruan tinggi dan program studi tertentu untuk dimatangkan kemampuannya di bidang ilmu tertentu. Amanah itu tidak hanya terkait dengan proses pembelajaran tetapi juga sampai mereka dipastikan mandiri, yakni mampu menghasilkan dan berpenghasilan. Selain itu, perguruan tinggi pun bertanggung jawab dengan adanya variable-variabel yang dibutuhkan alumni terkit perguruan tinggi tersebut saat alumni mencari kerja. Salah satunya adalah akreditasi.

Akreditasi menjadi salah satu poin wajib yang senantiasa diurus oleh sebuah program studi. Hasil akreditasi  program studi tidak jarang dijadikan bagian dari persyaratan atau penilaian untuk menerima seorang  bekerja. Artinya, program studi harus berpikir ke arah sana. Menyiapkan program studinya agar memperoleh nilai yang maksimal sehingga secara tidak langsung, amanah orang tua sudah diimplementasikan.

Yang mirisnya, ada program studi yang acuh saja dengan akreditasi ini. Mereka biarkan prodi berada dalam situasi gawat darurat yang menyebabkan mahasiswa tamatan menjadi ‘korban’. Alumni dikorbankan karena akreditasi ekspire. Yang lebih parahnya, mahasiswa pun ditunda menamatkan studinya karena akreditadi prodi sedang kosong.

Jika demikian halnya terjadi, siapa yang palin bertanggung jawab?

Ini adalah salah satu realitas akibat dari kerja yang   bakaluntun puntun  di dunia pendidikan. Kenapa hal demikian bisa terjadi? Dalam diskusi dengan beberapa pakar terkait penjaminan mutu dan Badan Akreditasi Nasional, fenomena ini mengindikasikan kelalaian. Lalai dan tidak awas dengan masa akreditasi yang sudah akan berakhir. Walaupun ada aturan yang mengatur dan mengingatkan, keteledoran pihak-pihak berkompeten menjadikan ada banyak orang yang kemudian dikorbankan.

Korban terdekat dan paling menderita itu adalah mahasiswa. Selain mereka ditunda menyelesaikan studinya karena tidak diizinkan untuk mengikuti wisuda, masa studi mereka pun terhitung lebih panjang. Hal ini  berkorelasi dengan tanggal mereka diwisuda dan tanggal terhitung mulai kuliah. Masa studi mahasiswa juga menjadi salah satu variabel dalam akreditasi. Artinya, ada sirkumstansi yang semuanya saling terkait.

Selain itu, ketika terjadi penundaan waktu wisuda, mahasiswa pun tertunda menerima ijazah mereka. Korelasinya adalah mahasiswa akan kehilangan kesempatan untuk ikut bersaing memperoleh pekerjaan.  Meskipun ada yang namanya SKL atau Surat  Keterangan Lulus, tetapi banyak perusahaan atau institusi yang menolak SKL tersebut. Mereka belum lagi meyakini surat keterangan itu. Kembali mahasiswa yang menjadi korban.

Realitas dari kerja yang  bakaluntun puntun. Itulah sebabnya, dalam sebuah artikel yang ditulis Revita di Singgalang (2017)  yang berjudul ‘Amanah’, seseorang yang diberi amanah seyogyanya mampu mengemban amanah itu dengan mengetahui apa yang harus dan wajib dilakukan sehingga tidak ada yang terabaikan dan  menjadi korban.

Ketidakpahaman dan ketidaktahuan sebagai seorang manusia adalah manusiawi. Akan tetapi ketidaktahuan itu tidak bisa dipertahankan terus meneru dan menjadi alasan. Harus ada upaya untuk mencari tahu dan mempelajari sesuatu yang tidak diketahui.

Jangan ‘tidak tahu’ dan ‘tidak mengerti’ selalu menjadi jawaban atas ketidakberesan dan kerja yang bakaluntun puntun . ‘Tidak tahu’ menjadi bumper atas kerja bakaluntun puntun. Sesuatu yang ironis karena  pengemban amanah itu pasti didulukan salangkah dan ditinggikan sarantiang.

 

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris

FIB Unand

Sudah dimuat di Harian Singgalang, 3 Desember 2017, Hal. A-11

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation