You can teach a student a lesson for a day; but if you can teach him to learn by creating curiosity, he will continue the learning process as long as he lives

(Clay P. Bedford)14102631_10208822921542952_4843916666509871026_n

Kau dapat mengajarkan sebuah pelajaran pada seorang siswa selama sehari; tapi jika kau mengajarinya belajar dengan menciptakan keingintahuan, dia akan lanjutkan proses belajarnya selama dia masih hidup

Kutipan di atas mengingatkan saya pada  beberapa berita terkait dengan murid, guru, dan sekolah. Tiga elemen ini memiliki peran yang tidak sederhana dalam membentuk suatu negara. Melalui institusi sekolah dan lewat tangan guru seorang anak dididik sehingga menjadi manusia yang berguna bagi umat manusia lainnya.

Dalam sebuah media nasional diberitakan seorang guru mencubit siswanya di sekolah. Selain itu, yang lebih ironis, seorang siswa sekolah dasar dipukuli gurunya hanya karena tidak mengerjakan pekerjaan rumah. Dua berita ini cukup menjadi viral karena terjadi pro dan kontra atas tindakan tersebut. Di satu pihak, ada pembenaran atas kejadian ini. Namun, di sisi lain, sangat banyak yang tidak menyetujui adanya hukuman fisik terhadap murid akibat kesalahan yang dilakukan.

Dalam sebuah wawancara dengan harian Kompas (2012), mantan Menteri Pendidikan dan kebudayaan Mohammad Nuh mengatakan bahwa hukuman, misalnya fisik, itu dinilai pelajaran juga, selama tidak dalam bentuk berlebihan. Lebih jauh lagi, hukuman fisik ini dinilai sebagai pilihan terakhir dalam upaya pendidikan sebagai bagian dari penanaman pemahaman pada anak.

Artinya, meskipun dinilai wajar tetapi menjadi jalan terakhir setelah sebelumnya dilalakukan dengan upaya-upaya edukatif yang bersifat persuasif, edukatif, dan tidak mengintimidasi, apalagi menimbulkan trauma. Ada alasan logis yang menjadi koridor diambilnya putusan untuk memberikan hukuman fisik kepada anak di sekolah.

Berbicara tentang hukuman fisik bertemali dengan kewenangan dan otoritas. Salah dan benar itu juga bersifat relatif. Ada banyak celah untuk pembenarana atas sebuah kesalah  atau penyalahan untuk sebuah kebenaran. Ini semua tergantung dari pemilik otoritas. Misalnya di rumah, pemilik otoritas adalah orang tua dan di sekolah pemilik otoritas adalah guru, kepala sekolah, atau ketua perguruan untuk beberapa sekolah swasta.

Di saat berinteraksi sehari-hari, mausia tidak luput dari yang namanya kesalahan. Tidak jarang ditemukan ketidak benaran atas suatu hal, karena bagaimana sempurnanya sebuah sistem yang sudah di bangun, dalam pelaksanaannya pasti ada saja cacatnya.

Seorang artis dari Indonesia sering saya dengar mengatakan, ‘Kesempurnaan hanya milik Allah dan kesalahan adalah milik saya sebagai manusia’. Kutipan ini tegas menggambarkan bahwa manusia adalah makhluk yang penuh dengan tidaksempurnaan. Potensi untuk melakukan kesalahan selalu ada.  Selama masih manusia yang membuat, tidak akan bisa sempurna. Namun,  yang penting adalah usaha untuk menyempurnakannya. Karena itulah yang dinilai sebagai kerja keras.

Salah satu upaya meminimalisir terjadinya kesalahan itu adalah dengan membuat sistem. Di dalam sistem pendidikan, misalnya, dibuat skema pembelajaran yang terdiri dari Perencanaan, Manajemen, Pelaksanaan, dan Pengawasan, yang semuanya bermuara kepada target, capaian ataupun sasaran yang jelas. Realitasnya tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan. Sistem yang tertulis itu tidaklah semudah menuliskan di atas kertas karena yang diatur adalah manusia.

Manusia bukan robot yang tidak punya perasaan atau kalbu. Manusia bukan mahkluk yang manut saja sesuai perintah. Manusia punya berbagai keinginan, kebutuhan dan kepuasan yang berbeda tiap orangnya. Melalui sebuah sistem yang memungkinkan diatur pengelolaan sebuah organisasi yang kecil atau besar.

Keluarga saja yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak juga memiliki sistem. Walaupun memiliki hubungan orang tua dan anak dan merupakan darah daging sendiri, sistem tetap diciptakan agar hakikat manusia yang tidak luput dari salah dapat dipersempit. Salah satu pengenalan sistem pada anak adalah lewat dunia pendidikan. Lewat sekolah.

Sekolah idealnya memiliki kebijakan sebagai wujud dari sistem yang ada. Melalui kebijakan yang tertuang dalam aturan, aktivitas di sekolah terkait hubungan guru dengan guru, guru dengan murid, atau murid dengan murid  akan berjalan dengan baik.

22814204_10214766778548458_8728010164954883102_n

Saat di kelas pemula, setelah mengikuti Mata Pelajaran Kewarganegaraan, saya ingat sekali bagaimana putra saya Faiz mengingatkan agar tidak lupa aturan karena aturan dibuat agar semuanya menjadi tertib. Bahkan adiknya Aqeela pun tidak jarang mengingatkan anggota keluarga agar senantiasa mengamalkan kebaikan berupa mematuhi aturan sesuai dengan ilmu yang mereka peroleh dari guru-guru di sekolah. Saya bangga ketika anak-anak mampu untuk saling mengingatkan untuk hal positif sebagai implementasi dari ilmu yang mereka peroleh di sekolah.

Hal ini sewajarnya akan sejalan dengan apa yang terjadi di sekolah. Melalui kebijakan yang diatur dalam peraturan, dilaksanakan secara konsisten, diberlakukan pada semua anggota sekolah, tidak tebang pilih dalam menerapkan aturan menjadikan kebijakan itu sesuai dengan bentuk dasarnya, bijak. Dalam kebijakan ada kebijaksanan orang-orang yang memangkunya.

Untuk itulah perlu banyak orang yang bisa mengingatkan agar pemangku kebijakan ini tidak jauh dari yang namanya arif dan bijaksana saat mengambil suatu putusan. Hakikat bahwa manusia tidak sempurna perlu dijadikan dasar kerja tim pembuat kebijkakan di sekolah. Di sini pulalah perannya komite sekolah (Permendikbud nomor 75/2016 tentang Komite Sekolah).

Melalui komite sekolah, mutu pendidikan dapat ditingkatkan. Adanya peran orang tua sebagai bagian dari masyarakat akan menjadikan  mutu pelayana pendidikan semakin baik. Mendikbud Muhadjir Effendy menyebutkan bahwa komite sekolah bukan hanya melakukan penggalangan dana dan sumber daya pendidikan tapi juga menindaklanjuti keluhan, saran, kritik, dan aspirasi peserta didik.

Dalam peraturan Mendikbud ini jelas diatur juga siapa yang berhak menjadi anggota komite sekolah. Dikatakan anggota komite sekolah maksimal 15 orang dan paling sedikit 5 orang. Anggotanya berasal dari orangtua wali yang masih aktif di sekolah bersangkutan paling banyak 50 persen, tokoh masyarakat maksimal 30 persen dan pakar pendidikan maksimal 30 persen. Kualifikasi tokoh masyarakat yang boleh menjadi anggota komite sekolah yakni memiliki pekerjaan dan menjadi panutan masyarakat setempat dan bukan pengurus partai politik.

Tim inilah yang nanti ikut membantu sekolah agar amanah dari   orang tua  yang menitip anak-anak mereka ke sekolah untuk diedukasi, diisi kepalanya dengan pengetahuan empiris, dan  diajarkan nilai kebaikan dipastikan dapat terpenuhi. Dengan demikian, yang namanya kekerasan fisik dan bentuk-bentuk hukuman yang tidak mendidik dapat dikontrol oleh komite sekolah.

Yang jelas, apa pun alasannya, yang namanya hukuman fisik tidak sesuai dengan apa yang diajarkan Rasulullah. Saya mengutip Sabda Rasulullah yang artinya ‘Sesungguhnya tidaklah kelemahlembutan ada pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya, dan tidaklah kelemahlembutan tercabut dari sesuatu kecuali akan menodainya’. Sabda Rasulullah beikutnya adalah ‘Barangsiapa yang diharamkan kelemahlembutan baginya, berarti ia telah diharamkan dari kebaikan’.

Semoga anak-anak kita jauh dari yang disebut dengan hukuman fisik saat mereka lupa aturan akibat keterbatasan sebagai manusia dan keterbatasan pemahaman karena usia yang masih muda. Semoga guru-guru di sekolah senantiasa ingat bahwa hukuman fisik bukan satu-satunya cara untuk mendidik anak-anak yang diamanahkan kepada mereka. Mereka adalah anak-anak yang harusnya disayang bukan dijadikan anak yang malang karena akibat dihukum fisik.

Aamiin.

 

 

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris

FIB Unand

Sudah dimuat di Harian Singgalang, 22 Oktober 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation