Beberapa hari belakangan ini saya mengisi hari-hari hampir penuh. Jika biasanya di Hari Sabtu dan Minggu saya menikmati akhir pekan di rumah, saat ini saya memilih bolak-balik ke kampus. Salah satunya adalah untuk ambil bagian dalam kegiatan yang bertemali dengan proses penjaminan mutu. Hal ini pasti akan dilakukan oleh semua institusi perguruan tinggi dimana mereka secara berkala dievaluasi untuk mempertahankan kualitas dalam standar tertentu.

19756828_10212084739686867_993365457802371002_n

Persiapan untuk penjaminan mutu ini memang tidak sederhana. Beberapa program studi tidak jarang menyiapkannya beberapa tahun sebelum masa evaluasi datang. Ada aturan yang mengharuskan kesiapan bahan beberapa bulan sebelum surat penjaminan mutu itu habis atau expire.

Kerja kebut semalam dan kejar tayang memang memiliki dinamika dan nuansa berbeda. Berkejaran dengan waktu, semuanya ngebut dan berkejaran agar masa expire itu tidak datang sementara jaminan mutu belum lagi terlaksana.

Ngebut semua pihak memang menantang adrenalin. Tanpa mengenal waktu dan lelah, semuanya dengan senang hati ikut ‘berlembur ria’ agar vonis expire  tidak dijatuhkan karena jika hal demikian terjadi, satu kartu mati sudah berada di tangan institusi. Disebutn]kan demikian karena puluhan atau ratusan masa depan manusia dan masa depan bangsa berarti akan dikorbankan. Di sinilah pentingnya sebuah sistem. Pentingnya pengetahuan. Perlunya rasa tanggung jawab.

Disebutkan demikian karena saya pernah dikirimi curahan hati seorang alumni yang terpaksa harus menjadi ‘korban’ akibat program studi tempat dia kuliah. Saat diwisuda, jaminan mutu program studinya sudah mengantungi yang namanya expire. Akibat ketidakpahaman, realitas ini tidak dia ambil pusing. Masalah muncul saat dia melewati serangkaian tes yang sangat ketat.

Tes demi tes dia lewati dengan sukses. Hingga ketika ijazahnya diteliti, ditemukan fakta bahwa ijazah dikeluarkan di waktu dimana rentang program studinya berada dalam rentang expire. Hingga akhirnya dia pun gagal.

Berusaha kian kemari memperjuangkan haknya karena harus menebus sesuatu yang dianggap bukan karena lalainya, alumni ini akhirnya pasrah. Sepertinya belum ada aturan yang berpihak dan memenangkan dia. Upayanya itu tidak membuahkan hasil meskipun sudah sampai kepada pihak di level tertinggi.

Kisah itu saya tidak ketahui lagi bagaimanya endingnya. Yang jelas kata ‘pasrah’ adalah jawaban atas usaha alumni ini. Dalam ilmu bahasa, jika kata ‘pasrah’ ini sudah digunakan, implikasinya adalah menyerahkan semuanya pada Ilahi. Ketika upaya maksimal sudah dilakukan, maka seorang manusia akan menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT. Pasrah dikatakan juga sebagai titik dimana manusia memposisikan dirinya sebagai makhluk yang tidak berdaya di mata Allah. Ketika pasrah sudah dilakukan, Allah akan berbuat sesuai dengan kehendak-Nya.

Kun fayakun! Alah akan lakukan apa yang dimau-Nya.

Di sinilah mungkin kita perlu bertafakur. Dalam KBBI (2012), tafakur diartikan sebagai berfikir, merenung, dan menimbang dengan sungguh-sungguh. Ali bin Abi Thalib bahkan menyebutkan  tiada ada ibadah yang  sepadan dengan tafakur.  Takafur juga dikatakan pelita hati. Saat tafakur sudah hilang, maka hilanglah pelita hatinya. Kalau sudah tidak ada pelita lagi dalam hati seorang manusia, artinya nur atau cahaya itu sudah menjauh dari jiwa orang itu.

Dalam beberapa referensi yang saya baca, ada lima macam takafur. Salah satunya adalah tafakur tentang kekurangan diri dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah, melahirkan rasa takut kepada Allah.  Tafakur akan kekurangan diri bermanfaat untuk mengetahui asal, fungsi dan tujuan manusia diciptakan, mengetahui bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, munculnya rasa malu dan sifat zuhud, cinta akhirat dan mengingat mati.

Dalam hubungannya dengan kisah di atas, apa pun yang terjadi pada diri kita sudah sepatutnya melakukan tafakur. Kalau istilah sekarang introspeksi diri. Semua kejadian adalah buah dari sebuah proses. Tidak ada kejadian yang terjadi begitu saja tanpa melewati proses.

Tafakur seyogyanya juga dilakukan semua pihak. Dalam konteks di atas, pengelola juga harus introspeksi diri. Ketika amanah diberikan untuk menjadi pimpinan, langkah awal yang harus dilakukan lebih dulu adalah memastikan amanah apa saja yang dilekatkan kepada diri kita. Hal ini sudah pasti berhubungan dengan seuntai kewajiban dan tugas.

Tidak jarang ketika seseorang diberi amanah, yang terbayang olehnya adalah hak yang akan diterima. Akibat sibuk memikirkan hak, kewajiban jadi lupa. Jika kewajiban yang terlalaikan berhubungan dengan diri sendiri, mungkin tidak akan terlalu jadi persoalan.

Yang ironis adalah ketika sudah berhubungan dengan masyarakat banyak. Kesibukan memikirkan hak dengan mengabaikan kewajiban menggiring ke persoalan lebih besar. Amanah menjalankan sebuah institusi yang terhubung dengan masa depan orang lain terbaikan karena ketidaktahuan, ketidakpahaman, dan tidak mau belajar atau berdiskusi dengan yang lain.

Akibat yang terjadi sudah dapat dipredikis. Institusi itu akan mandeg karena lokomotifnya penuh dengan ketidaktahuan. Bagaimana garbing akan bejalan jika lokomotif tidak tau arah mau berjalan kemana dan bagaimana cara berjalan.

Itulah sebabnya, Rasulullah menyebutkan agar memilih imam yang memang kompeten. Jikalau imam yang diangkat bukan orang yang tepat, maka kehancuran sudah menanti. Apalagi jika pemilihan dilakukan dengan sadar. Sadar bahwa imam itu sulit diikuti karena ketidakmampuan tetapi masih tetap dijadikan imam.

Ini adalah realitas. Tidak jarang  persoalan like  dan dislike menjadi dasar dalam mengambil keputusan. Bukan lagi kepentingan bersama yang didahulukan. Ketika sekolah dulu di tingkat dasar, saya masih ingat bagaimana guru PMP mengajarkan agar mendahulukan kepentingan kelompok di atas kepentingan pribadi. Apa pun keadaannya, dasar pemikiran adalah umat, bukan personal.

Inilah yang terjadi di kekinian. Dunia sudah terbalik. Ada banyak kelompok manusia yang hanya memikirkan diri sendiri. Akibatnya amanah itu jadi terabaikan. Apa yang sudah dijanjukan dengan mudah diingkari. Amanah ini dengan ringannya diabaiakan. Tidak ada rasa guilty. Yang ada hanyalah kepentingan-kepentingan sesaat.

Yang jelas, apa yang dilakukan akan dipertanggungjawabkan. Semua amanah, walau sebesar biji zarah, akan ditanya responsibilitynya. Memang tidak mudah memegang amanah dan menjadi orang yang amanah. Perlu tafakur agar timbul rasa takut dalam diri bahwa Allah Maha Melihat sehingga kita senantiasa menjadi orang yang takut untuk berbuat salah.

Semoga kita termasuk orang yang dapat menjaga amanah.

Aamiin.

 

 

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris

FIB Unand

Sudah dimuat di Harian Singgalang, 29 Oktober 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation