‘Berbicara itu mudah. Belajar untuk mendengarkan melalui matamu. Mengambil tindakan memiliki efek yang lebih besar dari sebuah kata-kata. Amati orang yang bertindak melebihi kata’ (Robert T. Kiyosaki)

‘We’ve got to put a lot of money into changing behavior’.

Kita harus mengeluarkan banyak uang untuk mengubah tingkah laku (Bill Gates)

 

Kutipan di atas saya ambil dari dua orang sukses di dunia, Bill Gates dan Robert T. Kiyosaki. Bill Gates merupakan orang terkaya nomor satu di dunia yang terkenal dengan bisnis micrsoft  dan perusahaan perangkat lunaknya. Sementara itu Robert T. Kiyosaki adalah seorang usahawan dan motivator yang terkenal dengan bukunya Rich Dad, Poor Dad.

Ike_5

Kedua orang dari negara yang berbeda, Amerika dan Jepang, ini meraih kesuksesan dalam hidupnya melalui jalur yang berbeda. Akan tetapi, keberhasilan dan ketenaran yang mereka peroleh merupakan produk dari perjuangan dan usaha yang sudah dilakukan dalam waktu yang tidak sebentar. Artinya, baik Bill Gates maupun Robert T. Kiyosaki melakukan dan mengalami perubahan dalam hidup mereka yang berujung pada kesuksesan.

Perubahan ini dalam ilmu linguistik bersandingan dengan apa yang disebut dengan metamorfosis. Metamorfosis dalam KBBI (2012) dimaknai sebagai perubahan bentuk atau susunan; peralihan bentuk (misalnya dari ulat menjadi kupu-kupu). Dalam metamorfosis terjadi rekonstruksi wujud. Jika dimisalkan pada kupu-kupu yang bermetamorfosis dari ulat, kepompong, hingga kupu-kupu, semua orang berpendapat bahwa perubahan yang terjadi adalah sangat bagus karena ulat yang menakutkan dan menjijikkan kemudian beralih wujud menjadi kupu-kupu.

Apakah ada metamorfosis yang buruk? Berubah dari positif dan negatif?

Pertanyaan inilah yang akan saya jawab dalam tulisan ini. Berangkat dari beberapa pengamatan dalam hubungannya dengan realitas terkini, ditinjau dari perspektif ilmu bahasa dan sentuhan humaniora, apa yang terpapar di sini diharapkan dapat mengetuk hati pembaca untuk bermetamorfosis ke wujud yang lebih baik.

Pilihan penggunaan kata metamorfosis ini berawal dari saat saya sedang mendampingi Faiz dan Aqeela belajar. Mereka asyik membahas tentang perubahan wujud mahkluk hidup. Samar-samar saya menangkap komentar si kecil Aqeela bahwa kita berubah karena kita sekolah. Mulai dari tidak tahu menjadi tahu. Yang menariknya adalah saat Abang Faiz memberi nasihat pada adiknya agar kalau sudah sekolah kita harus menjadi anak yang baik karena kalau berubah itu adalah dari yang buruk menjadi baik, seperti halnya ulat menjadi kupu-kupu.

Dialog Faiz dan Aqeela ini membuat saya tercenung. Apa yang mereka bincangkan menggiring saya pada beberapa kejadian yang teramati dalam perjalanan rutin saya dari rumah menuju kampus. Misalnya,  realitas yang terjadi di jalan raya.

Salah satu yang menjadi ciri berkembangnya sebuah kota adalah ketika infrastrukturnya ikut berkembang. Berkembang dalam arti kata bertambah jumlah, luas, atau fasilitas. Inilah yang terjadi dengan Kota Padang. Pembangunan fisik, khususnya jalan raya banyak dilakukan. Wilayah-wilayah yang dulu jalannya hancur sekarang mulai mulus. Beberapa tempat yang jauh tidak lagi dirasakan  jauh. Justru dengan jalan yang mulus, semuanya terasa dekat.

Sayang sekali, kemulusan jalan itu tidak berbanding lurus dengan sikap dan etika pengguna jalan raya. Beberapa kali saya menemukan terjadinya pelanggaran-pelanggaran yang justru menyebabkan keadaan menjadi kacau dan semrawut. Contoh yang paling sederhana adalah etika dalam mematuhi rambu-rambu lalu lintas.

Traffic Light didisain sedemikian rupa dengan warna-warna yang berbeda-beda adalah untuk tujuan agar tidak terjadi tumbukan pengguna jalan raya di petigaan atau perempatan. Bahwa warna merah adalah tanda behenti, kuning berarti siap-siap, dan hijau bermakna diizinkan  jalan belum lagi dirubah. Simbol-simbol ini disepakati dari dulu dan belum ada lagi perubahan kesepakatan akan arti masing-masing warna lampu ini saat menyala.

Terkait dengan simbol,  Morris (1925) menyebutnya sebagai sebuah tanda (sign).  Dikembangan oleh Pierce di abad 19,  tanda dibagi menjadi tiga, yakni ikon, indeks, dan simbol (1925). Ikon berarti tanda dengan objek yang disederhanakannya. Contohnya emotikon yang biasa digunakan dalam media hand phone yang merupakan penyederhanaan dari objek wajah yang sedang sedih, marah, gembira dsb.

Sementara itu, indeks adalah some sensory feature (sesuatu yang dapat dilihat, didengar, atau mudah tercium baunya) yang kemudian menghubungkannya dengan obyek tertentu. Misalnya, awan gelap tanda akan hujan atau asap tanda ada api. Sedangkan simbol berhubungan dengan kesepakatan manusia untuk memaknai sebuah tanda, seperti halnya traffic light. Artinya, tanda berupa simbol-simbol merupakan hasil konvensi atau kesepakatan manusia. Manusia membuat simbol  dengan makna tertentu yang disepakati untuk membantu memudahkan urusan manusia itu sendiri.

Realitas yang terjadi adalah kesepakatan itu dilanggar oleh manusia itu sendiri. Begitu banyak pengguna jalan raya yang tidak mau patuh dengan apa yang sudah disepakati untuk membantu dan memudahkan urusan mereka. Warna lampu di traffick light dimaknai sesuka hati. Sangat sering saya mendapati lampu merah diterobos sehingga menyebabkan kemacetan karena bertumburan dengan arus yang berlawanan.

Ironisnya, para pelanggar aturan lalu lintas ini juga tidak menyadari kekeliruan ini. Justru mereka berteriak marah karena merasa jalannya dihalangi oleh orang yang patuh dengan aturan. Beberapa kali saya mendengar adanya ribut kecil terkait masalah etika di jalan raya ini. Yang parahnya adalah ribut ini diiringi dengan keluarnya bahasa-bahasa ‘kebun binatang’ yang oleh pengguna jalan raya lainnya justru dijadikan tontonan.

Pernah suatu waktu saya melewati jalan komplek yang notabenenya pas  dilalui kendaraan roda empat ketika berselisih. Sebuah mobil parkir agak ke tengah sehingga menghalangi mobil yang lewat. Saat dibunyikan klakson, tidak ada respon. Pemilik mobil seakan-akan tidak punya (menutup) telinga dengan tanda klakson itu. Hingga saya akhirnya menunggu beberapa saat sampai urusan pemilik mobil selesai dan memacu mobilnya meningglkan komplek. Saya hanya bisa mengurut dada. Begitu ‘rendahnya’ nilai-nilai kebaikan dan norma’ karena walau sudah salah, tidak ada kata ‘maaf’ yang terucap.

Barangkali sebagaimana yang dikatakan Revita (Singgalang/2015) dalam tulisannya yang berjudul ‘Pentingnya mengajarkan 4 Kata Wajib pada Anak’ tidak diterima oleh pemilik mobil tersebut saat dia kecil atau justru sudah lupa ketika dewasa. Dia tidak memiliki kosakata ‘maaf’ sehingga walau sudah salah, ngacir  adalah sikap yang dia ambil.

Ini adalah realitas. Realitas terkini yang merupakan wujud dari metamorfosis etika manusia. Salah satunya di jalan raya. Fenomena yang berbeda ditemukan di tahun 1980-an. Masyarakat begitu menghargai dan komit dengan yang namanya kesepakatan atau konvensi. Sayang sekali karena metamorfosis berujung pada wujud yang justru dinilai  negatif.

Semoga metamorfosis yang kita alami jauh dari muara keburukan!

 

 

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris

FIB Unand

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation