Artikel ini tercipta bermula dari beberapa kejadian yang saya amati dan dialami oleh beberapa orang teman. Dimulai dari kisah seorang teman yang dikirimi pesan singkat oleh mahasiswanya yang menanyakan ‘Ibu dimana? Saya mau bertemu.’

C360_2017-01-11-09-29-50-320

Pesan singkat seperti di atas bukanlah kejadian pertama yang dialami teman ini. Begitu sering dia menerima pesan serupa dengan pola yang tidak jauh berbeda. Bahkan, teman-teman dosen lain pun tidak jarang mengeluhkan sikap berbahasa mahasiswa saat berkomunikasi dengan dosen mereka via media.

Sekarang ini, begitu banyak media yang dapat digunakan untuk berkomunikasi. Kehadiran smart phone dengan fiturnya yang bervariasi dan fasilitas aplikasi yang beragam membuat dunia terasa semakin kecil. Tidak ada lagi yang namanya jarak itu disebut jauh.

Menggunakan media sosial seperti line, whatsapp, messenger atau face book  komunikasi dapat dilakukan dimana dan kapan saja. Dengan hanya bermodal sebuah smart phone atau android, seseorang dapat berkunjung ke berbagai tempat tanpa harus berpindah tempat.

Tersedianya fasilitas internet gratis di banyak public area menjadikan kesempatan untuk surfing kemana-mana semakin tidak terhambat lagi. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Yasraf Amir Piliang (2014) yang menyebut dunia sekarang sudah dilipat. Ibarat kertas yang dilipat terus menerus, titik bekas lipatan itu sudah bertemu sehingga kertas ini sudah menjadi kecil dan tidak bisa dilipat lagi.

Kisah kedua adalah saat berdiskusi dalam sebuah pertemuan. Perbedaan persepsi membuat terjadi diskusi yang cukup hangat. Yang menariknya ketika salah seorang peserta diskusi ada yang begitu ngotot mempertahankan pendapatnya. Ngototnya peserta ini membuat dia mendobrak koridor-koridor dan norma-norma etika dalam masyarakat secara umum. Dia bahkan melupakan kehadiran orang-orang disekitarnya. Dia juga tidak menyadari posisinya pada saat dia berbicara.

Semangat yang begitu tinggi membuat dia berbicara dengan berapi-api. Tindak tuturnya seakan-akan sudah mararah kemana-mana. Kontrol bahasanya pun sudah mengabaikan etika yang lazim. Sampai di akhir diskusi pun sikap menantang dan pantang kalah masih terucap dari mulutnya.

Inilah realitas dunia sekarang.

Dalam beberapa tulisannya yang dimuat di Harian Singgalang (2016), Revita menyebutkan dalam sebuah masyarakat, selalu ada norma yang mengatur mereka dalam berperilaku. Perilaku itu tidak hanya berhubungan dengan etika tetapi juga dalam berbahasa.

Masyarakat Minangkabau, misalnya. Mereka memiliki kato nan ampek  sebagai rule of speaking  (Revita, 2008) dalam berbicara. Dalam kato nan ampek ini, pola-pola berbahasa dengan pilihan kata dan gesture-nya diatur sedemikian rupa sehingga seorang Minangkabau ini akan tetap dipanggil dan dikategorikan sebagai orang Minang. Yang ironis adalah ketika orang Minangkabau tidak lagi memiliki dan mengamalkan keminangannya sehingga dia akan bermutasi menjadi Minangkabau – Minang = Kabau.

Kabau  atau kerbau adalah hewan yang banyak digunakan oleh masyarakat Minangkabau. Selain untuk membajak sawah, dulunya hewan kerbau ini juga dipakai sebagai media transportasi pedati. Menggunakan tenaga kerbau, pedati ditarik untuk mengangkut apakah yang namanya orang atau barang. Kabau  juga diambil air susunya yang kemudian diolah menjadi makanan dadiah (hasil fermentasi susu kerbau). Dadiah termasuk makanan mahal dan berkelas.

Artinya, kerbau adalah hewan yang bermanfaat. Kerbau sangat banyak membantu masyarakat Minangkabau dalam hidupnya. Namun, adakah manusia yang mau berganti label menjadi kerbau?

Saya yakin tidak satupun yang berkenan dan suka jika disamakan atau disebut sebagai kerbau. Idealnya, ketidaksukaan itu hendaknya ditunjukkan melalui perilaku. Perilaku dalam sikap dan bahasa. Perilaku dan sikap yang menggambarkan bahwa kita adalah seorang manusia yang memiliki otak dan hati (Revita,  2015).

Otak disebutkan sebagai alat untuk berpikir. Karena atas perintah otaklah sebuah bunyi yang bermakna (bahasa) diproduksi oleh alat ucap (mulut). Akan tetapi, jika Odgen dan Richard (1923) menyebutkan simbol bunyi akan dihasilkan setelah melalui pikiran (otak) yang nantinya akan mengacu kepada benda tertentu, saya memiliki pendapat sedikit berbeda. Simbol akan diproduksi oleh alat ucap setelah melalui otak dan melewati hati (qalbu).

Kenapa demikian?

Jawabnya adalah qalbu akan menjadi filter bagi manusia untuk berbahasa dan berkata-kata. Dengan qalbu, seorang manusia akan memutuskan apakah sebuah tuturan layak dikeluarkan atau tidak. Inilah yang oleh masyarakat Minangkabau disebut dengan alur kepatutan dan kepantasan. Ma nan pautik  dan ma nan pantas.

Alur ini sesungguhnya menjadi koridor saat seorang Minangkabau bertutur. Sayang sekali, alur yang menjadi koridor dan frame dalam berbahasa justru didobrak.

Kenapa hal demikian sampai terjadi?

Tahun 2006, dalam risetnya Revita mengatakan terjadinya pergeseran nilai dalam pola berbahasa generasi muda Minangkabau. Ada beberapa faktor yang memicunya. Di antaranya adalah tidak adanya regenerasi dari yang tua ke yang muda, tidak adanya model yang bisa dicontoh, dan pengaruh  teknologi.

Dalam konteks di atas, pelanggaran etika berbahasa oleh seseorang dalam rapat saat berbicara kepada seniornya bisa jadi dipengaruhi oleh faktor lain. Kondisi psikologis penutur, contohnya. Ketika berdiskusi dengan beberapa teman terkait pola berbahasa dan perilaku penutur ini, terdapat satu kesamaan asumsi bahwa penutur memiliki masalah di psikologis.

Asumsi ini didukung data bahwa hubungan penutur dengan banyak orang terbilang bermasalah. Selain itu, keberterimaannya pada banyak komunitas sangat rendah. Lebih jauh lagi, dalam perilaku sehari-hari, ada kecenderungan penutur untuk berbuat seenak dan semau gue.

Kondisi psikologisnya  yang relatif tidak stabil menyebabkan dia berbicara ngelantur. Ibarat seseorang yang kepedasan setelah memakan cabe rawit,  omongan yang keluar dari mulutnya tidak berkisar dari rasa pedas yang dialami dan permintaan diberi air minum.

Seperti halnya orang yang tidak waras, apa yang dikatakannya tidak akan pernah memikirkan orang lain.  Apo nan takana, itu nan dikecekkan.  Hal seperti ini pulalah yang dialakukan oleh orang nan ka gadang-gadangan.

 

 

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris

FIB Unand

Sudah dimuat di Harian Singgalang, 27 Agustus 2017, Hal. A-5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation