Berkembangnya zaman beriringan dengan pesatnya laju teknologi. Banyak alat-alat modern dan canggih diciptakan oleh manusia, baik untuk yang sifatnya membangun ataupun menghancurkan. Disebutkan demikian karena beberapa kali diberitakan di media, alat-alat baru diluncurkan tetapi kemudian justru berakhir fatal.  Kefatalan itu itu justru dipicu oleh pencipta alat itu sendiri, yakni manusia. Mereka tidak saja menggunakan hasil kreasi ini untuk kebaikan, tetapi juga untuk menghancurkan. Salah satunya yang sangat familiar dengan kita adalah hand phone  atau telepon genggam.

Media sosial2

Saya masih ingat sekitar tahun 1990-an dimana hand phone  ini menjadi barang yang sangat mahal dan prestisius. Hanya orang tertentu yang memiliki hand phone  ini. Pemilik hand phone  adalah mereka yang terkategori benar-benar orang berpunya. Hal demikian terjadi karena produksi hand phone   masih terbatas dan harganya juga sangat mahal. Selain itu, kartu yang digunakna pun berharga fantastis. Sebuah kartu itu bisa mencapai ratusan ribu harganya.

Fenomena ini sangat berbeda dengan situasi terkini. Hand phone  sebagai alat komunikasi yang mobile bukan lagi barang mahal. Hampir semua yang bernyawa memiliki media komunikasi ini. Bahkan, hand phone  sekarang pun sudah terbilang sangat smart. Dia tidak hanya digunakan untuk berkomunikasi tulisan dan lisan saja, tetapi juga dapat digunakan untuk searching informasi menggunakan apa yang disebut dengan internet. Dengan bantuan intenet dan adanya hand phone, seseorang dapat melakukan banyak aktivitas, termasuk di dalamnya jual beli.  Bermodalkan sebuah hand phone  plus jaringan internet, manusia dapat melanglang buana kemana-kemana. Tidak hanya itu, ketersediaan jaringan internet yang gratis di area publik membuat duani semakin kecil.

Realitas inilah yang olah Yasraf Piliang (2015) disebut dengan dunia ibarat selembar kertas yang dilipat dan dilipat sehingga titik-titik bekas lipatan itu sudah bertemu. Tidak ada lagi space. Semuanya bisa dijangkau dengan mudah dan murah.

Di sinilah persoalan muncul.

Hadirnya smart phone yang selalu berubah model dan fitur setiap saat, ditambah dengan kecenderungan masyarakat yang bersifat konsumtif membuat laju perkembangan hand phone  semakin pesat. Masyarakat berlomba-lomba untuk mengganti hand phone  mereka secara periodikal. Brand hand phone   tertentu menjadi life style. Adalah gengsi tersendiri jika memiliki hand phone  bermerk tertentu.

Ironisnya lagi, kepemiliki hand phone   tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa saja, tetapi juga anak-anak. Beberapa hari yang lalu, saya dikirimi pesan oleh seorang sahabat, anak bersama teman-teman sekelasnya yang berusia sekitar 8-9 tahun (kelas 3 SD) sudah memiliki group menggunakan salah satu media sosial whatsapp.

Whatsapp merupakan salah satu media sosial yang dipasang melalui proses aplikasi menggunakan hand phone. Dengan media sosial hand phone, seseorang dapat berkomunikasi menggunakan media sosial ini. Whatsapp tidak hanya melayani bantuan komunikasi perorangan tetapi juga kelompok. Dengan whatsapp, sebuah komunitas dapat dibentuk sehingga komunikasi banyak arah bisa dilakukan.

Informasi terbentuknya group via whatsapp oleh anak-anak kelas 3 SD yang notabenenya bertemu tiap hari membuat saya mempertanyakan urgensi pembentukan grup ini. Dalam pikiran saya, untuk apa sebenarnya mereka membuat grup sendiri. Apakah pertemuan tiap hari di sekolah tidak lagi mencukupi untuk kebutuhan anak-anak kecil ini? Ataukah mereka terinspirasi dari orang-orang dewasa yang terlihat begitu asyik saat ber- whatsapp (WA) dengan grup mereka?

Akhirnya saya mencoba melakukan observasi kecil. Saya mendekati beberapa anak yang memiliki group WA ini. Saya pancing mereka dengan cerita enaknya berkomunikasi menggunakan media sosial. Keluguan dan kejujuran anak-anak membuat saya tidak perlu menunggu lama untuk memperoleh  jawaban atas pertanyaan di atas. Imitasi lingkungan, trend kekinian, dan gaya hidup yang mereka lihat dari media televisi menyebabkan mereka juga tidak mau kalah dengan orang dewasa. Menurut mereka, grup WA ini dipakai untuk menggosip tentang teman-teman, guru-guru, dan kejadian di sekolah. Selain itu, diskusi tentang situasi terkini, seperti apa yang terjadi dengan artis A atau public figure B termasuk menjadi bahan pembicaraan.

Yang menyedihkan adalah saat secara kebetulan saya mencuri dengar pembahasan mereka mengenai hasil chat  semalam, yakni bagi-bagi pasangan. Mereka rupanya sudah membagi-bagi kawan laki-laki A untuk si X, kawan laki-laki  B untuk si Y dan sebagainya. Saya sangat kaget. Namun, dengan santai dan tenang saya mencoba menggali, kenapa harus dibagi-bagi? Jawab mereka adalah karena si A memang sedang naksir si B, sementara si B naksir si C.

Kekagetan saya berlanjut dengan rencana mereka untuk melanjutkan chat  tentang topik ini malam berikutnya. Sambil tertawa sedih saya kembali kepo menanyakan apakah mereka sudah memiliki handphone masing-masing. Rupanya sebagian besar masih menggunakan handphone orang tuanya.

Kemana para orang tua tersebut? Apakah mereka tahu persis apa yang sedang didiskusikan anak-anak mereka melalui WA? Kalaupun mereka dapat membaca karena handphone  yang digunakan adalah punya mereka, bagaimana kalau setelah chat anak-anak ini menghapus pembicaraan tersebut?

Satu hal yang menjadi catatan bagi saya adalah bahwa sesungguhnya anak akan meniru apa yang mereka lihat. Orang tua adalah model pertama dari anak. Anak akan melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang mereka perhatikan dari perilaku orang tua. Beberapa kali saya mendapat cerita dari teman bahwa dia diingatkan karena lambat merespon pertanyaan anak disebabkan oleh sibuk chatting  melalui handphone. Dikatakan orang tuanya sibuk saja dengan chatting.

Statement  ini sebenarnya adalah tamparan buat para orang tua. Secara tidak sadar sebenarnya kita sudah mengajarkan sebuah nilai ketidakbenaran pada anak. Asyik dan fokus dengan dunia maya sementara yang nyata, yakni anak-anak yang berada di depan mata diabaikan. Barangkali ada baiknya anak-anak diberitahu bahwa ada saat dimana orang tuanya harus segera membalas atau menjawab pesan dari teman sehingga dia terabaikan. Akan tetapi, menurut saya, justru akan lebih baik lagi jika yang namanya chatting via handphone  di depan anak-anak atau saat berkumpul dengan anak-anak ditiadakan. Makanya program 19.00 – 21.00 perlu dimasyarakatkan. Dalam rentang waktu ini, say no to handphone. Orang tua akan fokus kepada mengisi kepala dan hati anak-anaknya dengan kegiatan yang menurut saya lebih “bemanfaat” dari sekedar hanya chatting  yang secara tidak langsung menggiring anak pada arah yang “keliru” dan bersifat negatif.

Semoga!

 

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris

FIB Unand

Sudah dimuat di Harian Singgalang, 13 Agustus 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation