Saat surfing  di dunia maya, saya membaca beberapa status teman. Dari sekian banyak status yang ditulis, ada salah satu yang sangat menarik perhatian. Sebuah ungkapan dengan picture Barrack Obama sebagai latar belakang mengatakan  ‘Anda itu bukanlah  apa yang anda katakan, tetapi apa yang anda lakukan’.

gadang ruok2

Karena penasaran, saya pun menghubungi teman itu untuk menanyakan maksud dia memilih ungkapan itu sebagai profil gambarnya. Teman ini awalnya mengelak dengan mengatakan bahwa sepertinya ungkapan itu bagus. Panjangnya obrolan akhirnya menyibak dan memberi jawaban atas alasan pemilihan profil tersebut.

Rupanya si teman baru saja mengalami kejadian bertemu dengan orang-orang yang membuatnya tidak nyaman. Ketidaknyamanan itu salah satunya dipicu oleh tutur bahasa yang dinilai lebih banyak bohong dan ota saja. Ota dalam bahasa Indonesia disebut juga dengan obrolan. Akan tetapi, saat kata ota  bergabung dengan gadang ‘besar’, gadang ota¸ maka yang lahir adalah makna konotatif ‘omong kosong’.

Inilah yang sering juga disebut orang dengan NATO = No Action Talk Only. Ungkapan berbahasa Inggris yang berarti banyak omong tanpa ada tindakan mengimplikasikan orang yang hanya bisa berbicara tetapi jauh dari kenyataan yang sesungguhnya.

Masyarakat Minangkabau terkenal dengan pola berbahasa yang bersifat metaforis. Ada banyak perumpamaan yang digunakan untuk menggambarkan suatu keadaan atau perilaku seseorang. Orang-orang yang memiliki sikap seperti di atas disebut juga gadang ruok.

Kenapa gadang ruok?

Secara semantis, ruok atau busa dalam KBBI (2008) diartikan sebagai gelembung-gelembung putih kecil seperti pada sabun atau suspensi gas dalam zat cair yang cukup stabil (dihasilkan oleh kocokan atau dengan bantuan zat kimia). Sementara gadang  atau besar bermakna lebihd ari sedang atau lawan dari kecil.

Dengan demikian,  gadang ruok  berarti  gelembung putih besar yang muncul sebagai akibat dari hasil kocokan. Gadang ruok  ini dalam konteks keminangkabaun tidak dapat diliteralkan menjadi besar busa, meskipun disusun oleh dua kata gadang = besar  dan ruok = busa. Hal demikian terjadi karena gadang ruok merupakan ungkapan yang ditujukan kepada orang yang berperilaku tertentu.

Perilaku gadang ruok  berhubungan dengan sikap tutur seseorang. Dalam ilmu Pragmatik (Linguistik) dikenal salah satu konsep yang dinamakan dengan cooperative principle (Prinsip Kerjasama). Konsep ini dilahirkan oleh seorang filusuf yang bernama Paul Grice. Menurut Grice (1976), dalam berbicara, seseorang itu hendaknya harus tegas, jelas, langsung ke pokok permasalahan, berbicara dengan jujur dan secukupnya.

Prinsip kerjasama ini pada dasarnya menuntun seseorang untuk berbicara seperlunya. Dengan kata lain, dalam konteks tertentu, ada saatnyatidak dibutuhkan berbahasa yang berbelit-belit. Apalagi yang sifatnya lebih banyak memberi PHP (pemberi harapan palsu) dan penuh dengan janji-janji manis serta dusta.

Manusia yang berbahasa berkelebihan dan tidak benar adanya serta  memberi janji yang tidak ditepati disebut juga dengan orang munafik. Inilah manusia yang oleh Revita (2016) disebut dengan manusia gadang muncuang.

Selain itu, ada juga manusia yang memang mencoba menebar pesona atau istilah sekarang disebut dengan TP (tebar pesona). Pesona ini ditebar untuk meraih simpati masyarakat banyak sehingga percaya tercurah kepadanya. Padahal TP itu tidak lebih dari sebuah casing  yang diisi dengan barang rongsokan.

Manusia banyak tertipu dengan kecantikan dan tampilan luar dari pembungkus sebuah informasi. Bahasa digunakan semanis mungkin tetapi penuh dengan kebohongan, tipu daya, dan akal bulus yang nanti tidak tertutup kemungkinan menjadi jebakan bagi orang-orang yang sudah di-PHP atau di-TP.

Sebuah peribahasa menyebutkan ‘tong kosong nyaring bunyinya’. Inilah yang pas ditujukan pada manusia gadang ruok ini. Dalam banyak kesempatan, dia berkoar-koar mengatakan ini dan itu. Saat dibuktikan, omongannya tidak ada satupun yang terbukti.

Istilah gadang ruok  diasumsikan  bermula dari apa yang dilihat, digunakan, dan dialami oleh masyarakat Minangkabau. Alam merupakan guru bagi masyarakat Minangkabau ini. Dari alamlah mereka belajar.

Gadang ruok  bisa jadi muncul dari fenomena teh talua. Teh talua  merupakan sejenis minuman yang terdiri dari telur ayam kampung yang dikocok sampai berbusa kemudian diseduh dengan air teh yang panas sekali. Ditambah dengan gula dan tidak jarang diberi jeruk nipis, rasa teh talua ini begitu menggoda dan menggoyang lidah.

Kemampuan membuat the talua ini tidak dimiliki semua orang Minangkabau. Meskipun prosesnya terkesan sangat sederhana, pembuatan teh talua juga menuntut skill tersendiri sehingga busanya menjadi banyak dan rasanya pun  tidak amis.

Saya awalnya sangat tidak menyukai minuman teh talua ini. Namun, saat pertama kali mencicipi minuman yang berwarna coklat ini, saya malah menjadi ketagihan. Warna yang menarik, dengan busa yang menggelembung tinggi, dan rasa yang sama sekali tidak menyiratkan bahwa minuman ini berbahan dasar telur membuat saya menjadi ketagihan. Selain enak, teh talua juga diyakini berkhasiat untuk menambah energi dan meningkatkan stamina.

Ada semacam kebiasaan bagi sebagian masyarakat di Minangkabau untuk meminumkan teh talua  ini kepada perempuan yang selesai melahirkan. Dengan minuman ini, diyakini energi perempuan ini bisa pulih kembali.

Selain manfaat yang bagus, dalam teh talua terkandung pesan yang tidak sederhana. Disebutkan demikian, ruok atau busa yang terdapat di dalam teh talua ini biasannya tidak diminum atau dibuang. Akan tetapi, teh talua tanpa busa juga diyakni tidak enak karena dianggap kocokan telurnya tidak sempurna.

Inilah yang saya maksud dengan gadang ruok. Seperti halnya busa teh talua yang terlihat besar, tinggi, dan indah tetapi tidak berguna karena hanya akan menjadi penghias dan dibuang. Selain itu, ruok  juga jika dibiarkan lama-lama akan mengempes. Ruok  hanya berisi angin. Waktu akan membuat ruok ini menghilang.

Jika dianalogikan kepada manusia, yang disebut gadang ruok adalah mereka yang banyak bualannya. Omongannya tidak berisi tetapi hanya sekedar ota.

Manusia gadang ruok ini banyak ditemukan dalam lingkungan masyarakat. Bahkan fenomena gadang ruok ini seperti sudah menjadi media untuk membangun citra positif. Misalnya adalah saat seseorang sedang mengejar posisi atau jabatan, melalui ruok­-ruok  yang ditebarnya, diharapkan masyarakat akan percaya dan memilihnya. Sayang sekali, ruok-ruok ini hanyalah fatamorgana yang memberi harapan palsu pada pendengarnya.

Apa pelakunya? Mulut!

Gadang ruok lahir dari mulut manusia. Melaui mulut sebagai alat ucap, keluar tuturan-tuturan yang bersifat ota  atau bohong belaka. Ini terjadi karena dipicu oleh beberapa faktor, seperti ingin terlihat hebat (untuk pencitraan) atau tidak mau kalah dengan orang lain.

Yang jelas, gadang ruok identik dengan kebohongan. Kebohongan adalah sebuah perbuatan yang bertentangan dengan ajaran agama karena sama halnya dengan munafik. Menjadi gadang ruok hanya akan merugikan diri sendiri. Akan lebih baik berbuat dan berperilaku apa adanya tanpa harus  mengarang sesuatu yang tidak pernah ada.

Semoga kita tidak termasuk ke dalam golongan manusia gadang ruok. Aamiin.

 

 

 

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris FIB

Universitas Andalas

Sudah dimuat di Harian Singgalang, 20 Agustus 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation