Memang lidah tak bertulang, Tak terbatas kata-kata
Tinggi gunung s’ribu janji, Lain di bibir lain di hati

 

Penggalan syair lagu berjudul ‘Tinggi Gunung seribu janji’ ini pernah hits dibawakan hanya omong kosong belaka. Apa yang dikatakan tidak sejalan dengan apa yang sebenarnya oleh almarhum Bob Tutupoli di era tahun 70-an. Lagu yang bercerita tentang kekecewaan ini menggambarkan bagaimana si lidah mampu mengukir kata-kata setinggi gunung. Sayangnya, itu diniatkan dalam hati.

Ketika apa yang dikatakan tidak sejalan dengan apa yang diniatkan mengindikasikan ketidaklinearan sebuah pernyataan. Dalam Islam, ini disebut dengan ‘munafik’ atau hypocrite.Ike_2

Munafik merupakan salah satu sikap yang tergolong dalam dosa besar. Hal demikian bertemali dengan ketidakkonsistenan antara perkataan dengan perbuatan. Kata yang terucap adalah A dan perbuatan yang dilakukan adalah B. Lain di depan, lain pula di belakang.

Ini adalah suatu perilaku yang sangat berbahaya. Dalam sebuah riwayat dikatakan, seburuk-buruk muka adalah yang bermuka dua. Dia datang pada suatu kelompok dengan muka X dan bermuka Y ketika di kelompok lain.

Dalam sebuah artikelnya, Revita (2016) membahas tentang bahasa topeng. Disebukan bahwa dalam berbahasa tidak jarang orang mengatakan apa yang bukan dia maksudkan karena tujuan utamanya adalah untuk memenuhi kepentingan pribadi. Melalui pilihan bahasa yang kamuflase penggunanya dengan gampang membolak-balikkan kenyataan lewat pernyataan-pernyataan bohong. Pernyataan ‘bolak-balik’ ini dapat terjadi karena lidah yang digunakan tidak bertulang.

Apa jadinya bila lidah sudah bertulang?

Untuk menjawab pertanyaan ini, saya mencoba melemparkannya lewat media sosial. Saya ingin mendengar bagaimana komentar para sahabat ketika lidah sudah tidak lagi bertulang. Respon yang diberikan bermacam-macam. Mulai dari adanya permintaan untuk bersikap diam, ada juga yang berkomentar bahwa jika lidah sudah bertulang membuat kita sudah bisa makan kaca, dan ada juga berpendapat jika tulangnya halus, seperti kawat dan lentur menyebabkan lidah semakin kuat untuk berbicara.

Tiga pendapat yang berbeda sebenarnya mengandung satu inti pesan, meskipun ditanggapi secara berbeda dan dengan perumpamaan yang bervariasi pula. Bahwa jika lidah sudah bertulang, seorang manusia akan punya keterbatasan untuk berkata-kata. Lidahnya tidak bisa dibengkokkan sana dan sini. Dengan kata lain, kebenaran tidak akan bisa disembunyikan. Kemampuan membolak balik lidah untuk sebuah kebohongan tidak bisa lagi dilakukan.

Apa filosofi dari ungkapan Lidah tidak bertulang?

Lidah tidak bertulang dalam KBBI (2008)  dimaknai sebagai orang yang mudah membuat janji dan mengingkarinya. Dikatakan demikian karena janji diumbar kemana-mana tetapi kemudian dengan seenaknya dibatalkan.

Fenomena seperti ini banyak terjadi dalam masyarakat, bahkan sudah cenderung menjadi sebuah trend. Revita dalam tulisannya di Harian Singgalang (2016) yang berjudul ‘Golongan Abu-abu’ menyebutkan salah satu contoh realitas kekinian dalam masyarakat adalah ketika seseorang mencoba menebar citra positif melalui janji-janji agar kelak dalam sebuah pemilihan apakah legislatif atau eksekutif, suara rakyat diberikan pada mereka.

Saat mereka sudah duduk dan memperoleh kursi yang diinginkan, janji itu hanyut di bawa air dan terbang dihembus angin. Mereka seakan-akan menutup mata dan telinga atas janji yang sudah diumbar.

Kenapa hal demikian sampai terjadi?

Jawabnya, salah satunya adalah karena lidah tidak bertulang. Tidak adanya tulang pada lidah menyebabkan lidah ini bisa dibelok-belokkan dan diputar-putar. Lidah sebagai bagian dari alat ucap digunakan untuk melontarkan tuturan-tuturan agar keinginannya dapat tercapai. Walaupun tuturan itu kontradiktif dengan realitas dan ‘kata hati’.

Dengan kata lain, melalui lidah, seseorang menebar harapan palsu atau sering yang dalam bahasa kekinian disebut dengan pe-ha-pe (Pemberi Harapan Palsu). Melalui pe-ha-pe, pencitraan dibangun. Menggunakan lidah, kebohongan diciptakan. Dengan lidah yang tidak bertulang, perilaku tidak jujur lewat bahasa tergambar.

Satu kejadian yang pernah saya saksikan adalah ketika dalam sebuah pertemuan, seorang peserta rapat memberikan komentar seakan-akan di adalah ‘pahlawan kesiangan’dari sebuah kejadian. Kronologis kejadian itu tidak dipahaminya secara utuh. Namun, lewat tuturan yang disampaikan tergambar seakan-akan dia adalah penyelamat untuk permasalahan yang terjadi. Bahkan, dengan santai dan tenang dalam statement-nya disebutkan solusi yang ditawarkannya adalah sebuah kewajaran.

Aneh dan ironisnya adalah, solusi ini justru tidak pernah dia terapkan. Dia termasuk salah satu orang yang ‘tidak patuh’terhadap aturan yang diusulkannya sendiri. Sesungguhnya dia adalah ‘maling yang berteriak maling’.

Setelah ditelusuri, rupanya ‘pahlawan kesiangan’ ini baru mengalami brain storming  oleh pangambil kebijakan yang juga pimpinan rapat. Ketidakpahaman dan adanya kepentingan pribadi kemudian menjadikan dia mau menyatakan sikap yang diyakini berlawanan dengan kata hatinya sendiri.

Ini adalah salah satu contoh bagaimana lidah yang tidak bertulang dimanfaatkan untuk memberi pernyataan yang justru merugikan orang banyak. Bahkan, ironisnya lagi, dalam situasi yang sama, ada orang lain yang mampu dan mau ‘menggadaikan agamanya’ hanya untuk kepentingan sesaat. Dikatakannya bahwa ilmu agama itu tidak berguna karena yang penting adalah kehidupan beragama.

Pernyataan ini kemudian menjadi viral dalam komunitas tertentu dalam ranah pendidikan. Seseorang yang notabenenya adalah pendidik dan orang tua dengan self-confident  penuh membuat pernyataan demikian.

Naudzubillahiminzalik!

Inilah dunia. Dunia yang penuh dengan trik dan intrik. Dunia adalah panggung sandiwara. Hidup ini adalah drama dimana manusialah yang jadi pemainnya. Pilihan sekarang ada di tangan  manusia itu sendiri. Akan menggunakan lidah yang tidak bertulang untuk sebuah kebenaran/kejujuran atau justru kebohongan/kemunafikan.

 

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris

FIB Unand

Sudah dimuat di Harian Singgalang, 2 Juli 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation