Ketika seseorang menghina kamu, itu adalah sebuah pujian karena dia hanya menghabiskan waktu untuk memikirkanmu bahkan ketika kamu tidak memikirkan mereka (BJ Habibie)

 

Suatu hari saya menerima sebuah surat berisi pengumuman terkait kewajiban membayar iuran. Yang membuat saya geli adalah redaksi permintaan yang terdengar kontradiktif. Dikatakan agar  orang tua membayar makan minimal separuh dari harga yang biasa dibayar.

Yang menjadi pertanyaan saya saat itu adalah bagaimana mungkin orang mau membayar sesuatu yang tidak pernah dia terima. Apalagi itu sifatnya diwajibkan. Kalaupun jatuhnya adalah untuk sadakah atau infak, penggunaan kata ‘wajib’ harus disubtistusi.IMG_2155

Inilah awal dari sebuah diskusi alot yang melibatkan beberapa orang dalam sebuah kelompok di media sosial. Diskusi ini semakin menarik karena beberapa orang menanggapi dengan cara yang beragam. Ada yang menilai persoalan redaksi tidak perlu dipermasalahkan karena menurut mereka apalah artinya redaksi.

Di sinilah saya kemudian jelaskan bahwa di saat kita menyadari sebuah informasi keliru kemudian kita biarkan saja, artinya kita termasuk orang yang berlaku zalim. Kita membiarkan ketidakbenaran tetap berjalan sementara kita tahu bahwa itu tidak benar. Martin Luther King Jr mengatakan bahwa tragedi itu bukan kejahatan atau kekejaman oleh orang-orang jahat, tapi sikap diam dari orang-orang baik ‘The ultimate tragedy is silence over that by the good people’.

Sikap diam tidak selamanya bagus. Justru kebenaran wajib disampaikan meskipun itu pahit bagi banyak orang. Kebenaran yang disampaikan apakah akan akan diikuti atau tidak dikembalikan kepada si empunya hati. Karena itu berhubungan dengan hati dan keinginan yang bersangkutan.

Persoalan baru muncul ketika chat  yang sudah berjalan lebih kurang satu jam dan berujung pada sebuah kesimpulan yang manis dikomentari oleh seorang angggota dengan pilihan bahasa yang terkategori tidak sopan menurut Yule (2006). Kalimat demi kalimat yang ditulisnya terasa tidak nyaman dan menyakitkan. Pijar-pijar konflik tergambar jelas dari pilihan kata yang digunakan.

Saya menyebut bahasa yang digunakan benar-benar mencari lawan. Semua anggota yang tadinya ikut berkomentar menjadi terdiam. Di saat dia menulis panjang, tidak satupun yang memberi respon. Sikap diam untuk menjauhi konflik sepertinya diambil oleh anggota kelompok group yang lain.

Saya  melihat situasi seperti tidak terkendali. Anggota ini ibarat habis ‘makan mercon’ yang kemudian multunya meletup-letup tanpa terkendali. Seorang sahabat malah menyebut bahasanya tanpa bandrol. Bablas begitu saja seperti air kotor dan limbah yang menjadi bandang bagi orang lain.

Agar keadaan tidak semakin memburuk, sayapun menghubungi anggota ini via jalur personal. Saya mencoba mengingatkan dia untuk membaca kembali semua chatting kawan-kawan sehingga memahami konteks secara utuh.  Ketika berkomentar dalam diskusi multi jaringan seperti media sosial dan tidak memahami konteks pembicaraan sama halnya dengan ‘bunuh diri’. Saya katakan demikian karena justru akan menunjukkan apa yang kita katakan tidak nyambung dengan apa yang sedang dibicarakan orang lain.

Untuk itulah diperlukan kecerdasan dalam  berbahasa. Dalam KBBI (20018) cerdas diartikan sebagai sempurna perkembangan akal budinya untuk berpikir atau mengerti dan memiliki ketajaman pikiran.  Sementara itu bahasa merupakan alat untuk berkomunikasi. Oleh karena itu, cerdas berbahasa dimaknai sebagai kesempurnaan akal dan budi untuk berpikir menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi.

Saat berkomunikasi dan berinteraksi sudah pasti melibatkan orang lain. Orang lain itu sudah pasti tidak sama dengan kita. Dengan demikian, berbahasa tidak menutup kemungkinan orang lain aka tersakiti akibat perbedaan itu. Makanya dengan cerdas berbahasa dan mengetahui konteks pembicaraan, potensi-potensi orang tersakiti bisa dinimalisir.

Pandangan saya ini sepertinya disadari oleh anggota group yang ‘habis makan mercon’ ini. Dia kemudian meminta maaf. Namun, yang membuat saya menjadi terpingkal-pingkal adalah ketika dia mempertanyakan dengan bahasa yang marah apakah dia stupid karena saya memintanya untuk cerdas dalam berbahasa.

Di sinilah kemudian apa yang dikatakan Chaika (2010) tentang cerminan pribadi seseorang dari bahasa yang digunakan mulai terbukti. Kemarahannya kembali membuka mata saya bahwa dia adalah orang yang memang tidak mau diberitahu untuk kebaikan. Rasa arogansi  dan selfish nya dinilai sangat tinggi. Bahwa yang benar hanyalah dia meskipun semua orang sudah mengatakan dia keliru.

Diam kemudian menjadi pilihan saya dalam bersikap. Karena menurut saya marah adalah racun mental yg akan membuat hidup pelakunya terpental, jika diumbar secara asal. Kemarahannya diumbar begitu saja tanpa mempertimbangkan efek ke depan yang akan muncul. Berbicara dengan manusia yang bisa saja hatinya sudah tumpul atas kebenaran tidaklah ada gunanya.

Penasaran dengan penggunaan ‘berbahasa yang cerdas’ yang dipahami anggota group ini sebagai stupid kemudian saya coba ujikan di depan mahasiswa S1. Saya lemparkan pertanyaan  mengenai ‘cerdas berbahasa’ dengan tujuan untuk menggali pemahaman mereka. Semua  mahasiswa memberikan respon yang senada dengan yang saya pahami dan maksudkan. Bahwa cerdas berbahasa artinya mampu menggunakan bentuk kebahasaan atau linguistic device  yang tepat dalam konteks yang tepat juga. Bahkan pilihan bahasa yang digunakan pun menunjukkan kecerdasan seseorang dalam berbahasa.

Tidak jarang seseorang dengan bangganya menggunakan bahasa asing, seperti bahasa Inggris dalam berkomunikasi. Sering juga mereka melakukan alih bahasa atau mencampurkan bahasa asing ketika berkomunikasi. Sikap seperti ini tidak selamanya berterima. Justru orang akan merasa aneh saja di saat pencampuran dua bahasa atau lebih digunakan di waktu yang tidak pas. Parahnya lagi, sudah tatabahasanya salah, berbahasa yang ‘ngawur’ itu ditujukan kepada orang yang sudah fasih dengan bahasa asing. Di sinilah terlihat stupid  atau silly  yang dilakukan.

Pertanyaan yang sama pun saya lemparkan kepada mahasiswa pascasarjana. Jawaban dan analisis mahasiswa ini semakin membuat saya menjadi ‘geli’ karena justru menurut mereka pertanyaan anggota group ini justru seakan mengklaim bahwa dirinya memang stupid. Tiga alasan mahasiswa ini adalah penggunaan bahasa berupa mencampurkan bahasa Indonesia dan Inggris tidak pada konteks yang tepat, kesalahan dalam tata bahasa, dan ketidakpahaman akan makna cerdas berbahasa itu sendiri.

Analisis mahasiswa ini menjadikan saya berpikir bahwa sebenarnya banyak manusia yang merasa seakan-akan dia sudah hebat padahal justru orang lain mentertawakan perbuatan yang terkesan ‘konyol’. Kekonyolan itu menjadi senjata makan tuan bagi dirinya. Orang tidak memberikan penilaian positif, justru negatif.

Hal ini akan semakin memiriskan jika sikap arogan, selfish, dan tidak mau mendengar nasihat untuk kebaikan tetap dipertahankan di Bulan Ramadhan. Keberkahan Ramadhan seakan-akan menjauh dari  mereka. Alangkah meruginya orang-orang seperti ini. Yang sudah tertutup hatinya dan menjauh dari arah pebaikan.

Kejadian ini kemudian menjadi pembelajaran tersendiri bagi saya secara personal bahwa ada orang yang secara sadar dan sengaja melakukan kekeliruan. Ketika diingatkan, justru dia melakukan pembantahan dan pembenara atas kesalahan itu. Ironisnya, niat baik kita malah dihina.

Kalau memang demikian terjadi, kita tidak perlu sedih atau kecewa karena sebuah penghinaan adalah anugerah kepada kita. Justru orang-orang seperti itu hanya menghabiskan waktu memikirkan perbuatan  stupid  lainnya yang akan dia lakukan, sementara kita sendiri tidak pernah memikirkan dia.

 

 

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris

FIB Unand

Sudah dimuat di Harian Singgalang, 16 Juli 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation