Sebulan sudah umat Islam menjalankan ibadah puasa di Bulan Ramadhan. Di bulan yang penuh berkah itu, masyarakat berlomba-lomba melakukan kebaikan agar diperoleh amalan yang berlipat ganda. Bahwa setelah menjalankan puasa, diharapkan semuanya kembali fitrah. Dengan kata lain, Ramadhan akan menggiring umat Islam pada kondisi yang bersih dan suci. Melalui satu bulan berpuasa, kotoran-kotoran di hati bisa bersih. Perilaku yang dulunya tidak sejalan dengan aturan agama bisa berubah ke arah yang lebih baik.

Ramadhan dapat dijadikan media untuk introspeksi juga karena dalam keadaan lapar dan haus tidak jarang orang begitu mudah terpancing untuk emosi. Rasa marah dengan mudah datang begitu saja, meskipun hanya dipicu oleh persoalan sederhana.

Satu hal yang sering mengganggu pikiran dan menjadi pertanyaan bagi saya adalah ketika terjadi suatu kesalahan atau keburukan, puasa malah dijadikan kambing hitam. Pernah suatu kejadian yang kemudian langsung saya protes. Di saat mengurus surat di sebuah kantor pemerintahan di Kota Padang, saya mengalami sedikit kendala. Birokrasi yang terkesan berbelit-belit membuat saya merasakan seakan-akan dipersulit.

Karena sudah menyiapkan diri untuk kondisi itu, saya menganggap kesulitan itu sebagai bagian dari regularitas. Kejadian seperti ini bukanlah kali pertama saya hadapi. Berurusan terkait kepentingan pribadi diganjal dengan banyak dan ribetnya prosedur yang dilalui saya anggap sebagai bagian dari sebuah proses untuk melatih kesabaran. Apalagi saat itu di Bulan Ramadhan, saya tidak mau merusak ibadah puasa  hanya karena emosi.

C360_2017-01-21-16-57-54-082

Kesabaran saya semakin diuji saat tahap yang harus dilewati  semakin sulit. Perilaku yang prosedural rupanya tidak menjamin selesainya sebuah urusan dan terpenuhinya permintaan. Saya mulai merasa tidak nyaman. Ketidaknyamanan itu akhirnya berujung kepada protes karena ‘ketidakpahaman’ aparat menyebabkan surat yang saya butuhkan tidak diperoleh. Setelah dijelaskan secara lisan melalui pimpinannya, barulah mereka paham apa yang saya inginkan.

Dikejar waktu ditambah dengan ‘tidak becusnya’staf memahami perintah pimpinan membuat waktu saya habis percuma. Saat protes disampaikan, pimpinan  ini dengan ringan menyebutkan hal demikian terjadi karena puasa. Saya spontan protes  karena puasa tidak bisa dijadikan alasan untuk kelalaian menyelesaikan pekerjaan. Justru dengan puasa, harusnya pekerjaan cepat selesai karena tidak perlu memikirkan urusan perut dan lain sebagainya. Bekerja saat berpuasan justru menjadikan perolehan amal ibadah menjadi berlipat ganda.

Pimpinan itu seperti speechless atas pernyataan dan protes tersebut. Hanya saja, arogansi sepertinya masih bergayut di hati, respon ‘ngelaba’ pun dia lontarkan dengan menyebutkan bahwa bukan dia yang memiliki pendapat itu tetapi orang lain.

Cara pikir seorang pimpinan yang sedemikian menyebabkan saya akhirnya memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan urusan. Surat akhirnya saya tarik karena sepertinya berurusan dengan orang yang memiliki mindset ‘kalau masih bisa dipersulit kenapa dipermudah’ tidak ada gunanya.

Dalam perjalanan meninggalkan kantor tersebut, saya berpikir bahwa pimpinan tadi temasuk orang merugi. Karena sebagai seorang abdi masyarakat dia sudah melanggar salah satunya sumpahnya untuk memberikan servis pada publik. Selain itu, secara personal, di bulan ‘baik’ ini sebenarnya dia dapat melakukan kebaikan yang sudah pasti berlipat ganda nilainya.

Pikiran dan pertanyaan kedua muncul dalam konteks berbeda. Dalam sebuah rapat yang dihadiri oleh orang-orang yang boleh dikategorikan sebagai intelektual karena mereka sebagian besar berperan sebagai edukator terjadi diskusi yang relatif lancar dan aman. Diskusi yang membicarakan tentang aktivitas pendidikan ini mulai terasa ‘aneh’ ketika sikap hypocrite mulai muncul. Disebabkan demikian karena beberapa peserta rapat bersedia menjadi saksi atas sebuah ketidakbenaran.

Saksi ini adalah orang-orang yang sebenarnya punya misi pribadi. Untuk misi pribadi ini mereka berani menyatakan sesuatu yang sebenarnya tidak benar. Yang lebih parahnya adalah ketika persoalan agama ikut disinggung. Disebutkannya bahwa ilmu agama tidaklah perlu karena yang lebih penting adalah kehidupan beragama.

Naudzubillahimindzalik.

Statement  ini kemudian menjadi perbincangan di kalangan masyarakat pengguna kebijakan pihak pengundang rapat. Saya kemudian sempat ditanyai salah seorang peserta rapat makna dari statement  tersebut. Secara semantis, pernyataan ini dapat dimaknai dari elemen-elemen penyusunnya. Tidak diperlukan kedalaman ilmu linguistik untuk memperoleh maksud tuturan itu. Pertanyaan dan permintaan untuk memaknainya dari salah seorang kawan sebenarnya mengandung sarkasme. Sindiran terhadap yang punya statemen.

Bagaimana mungkin seseorang dapat menjalankan kehidupan beragama jika tidak punya ilmu agama. Ilmu agama apa yang akan diterapkan dalam hidupnya untuk melakukan kehidupan beragama tersebut. Contoh yang sederhana adalah bagaimana seseorang bisa melaksanakan rukun shalat jika dia tidak tahu rukun dan syarat sah shalat.

Pernyataan ini semakin menjadi viral karena keluar dari mulut seseorang yang di tangannya ada amanah orang tua agar anaknya dididik. Dari mulut seseorang yang akan mengisi kepala (otak) anak orang lain. Seperti apa isi dimasukkan ke dalam kepala seorang anak ketika ilmu agama sudah tidak lagi dianggap penting? Ilmu agama adalah pondasi paling penting dalam lini kehidupan. Dalam ilmu agama terkandung prinsip dasar mana yang benar dan salah.

Jika pemikiran seorang pendidik sudah seperti itu, bagaimana generasi ke depan? Apakah akan menjadi generasi religousless? Ini adalah sebuah ‘tamparan’ dan peringatan bagi kita semua.

Tanda bahwa kiamat sudah dekat semakin jelas. Banyaknya orang bermuka dua dan dengan mereka tenang saja membolak-balikkan fakta, meskipun dia tahu kebenarannya. Unsur agama sudah dianggap lagi tidak penting. Yang penting adalah keinginan dan kemauannya tercapai. Unsur agama sudah dianggap lagi tidak penting. Yang penting adalah keinginan dan kemauannya tercapai. Persoalan harus menjadi hypocrite atau meniadakan ilmu agama adalah nomor dua atau justru terakhir.

Idealnya, hal-hal seperti di atas dapat dikikis dan diminimalisir melalui puasa di Bulan Ramadhan. Puasa dapat mengurangi black spot dalam hati kalau diniati karena Allah. Tidak jarang puasa dijadikan pilihan bukan menjadi bagian dari tanggung jawabnya sebagai makhluk ciptaan Allah. Ada banyak modus yang membuat seseorang melakukan puasa (Revita, Singgalang, 2017).

Sekarang Ramadhan sudah berakhir. Fajar Syawal sudah muncul. Umat Islam bertakbir menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri. Hari raya ini disebut juga dengan hari kemenangan. Apakah semuanya menjadi pemenang? Hanya Allah dan manusianya yang tahu apakah dia sudah menjadi pemenang atau justru menjadi orang yang kalah karena gagal menggunakan kesempatan di bulan Ramadhan penuh berkah ini? Mereka gagal karena ;ebih memilih menjadi pecundang selama Bulan Ramadhan.

Semoga kita termasuk dalam kelompok pemenang ini. Tidak hanya di 1 Syawal tetapi sepanjang waktu dalam hidup. Aamiin.

 

Sudah dimuat di Harian Singgalang, 9 Juli 2017, Hal.A-5

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris

FIB Unand

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation