Be the good cause Allah loves the goodness.

 ‘Jadilah orang baik karena Allah menyukai kebaikan’. (Anonim)

 

Kutipan ini tidak ingat lagi dimana pernah saya temukan. Yang paling berkesan adalah meskipun hanya disusun oleh delapan kata, kutipan di atas memiliki makna yang sangat dalam. Ada dua hal yang bisa diuraikan dari kutipan tersebut. Pertama, menjadi orang baik. Kedua, Allah menyukai kebaikan.

Being  good is prescribed variously by various people.  Setiap orang memandang ‘baik’ itu secara berbeda. Dalam KBBI (2012), kata ‘baik’ diartikan sebagai elok, patut, teratur yang dalam Bahasa Inggris disebut  beautiful, worth, dan regular. Artinya, baik itu adalah sesuatu yang dinilai elok, dianggap patut, dan dilaksanakan secara teratur.

Jika dihubungkan dengan situasi sekarang dimana seluruh umat Muslim melaksanakan ibadah puasa di Bulan Ramadhan, being good  ini adalah hal yang harusb dilakukan untuk memperoleh output menjadi seorang yang kembali fitrah. Pencapaian itu akan berhasil dilakukan dengan banyak melakukan latihan. Salah satu bentuk latihan itu adalah dengan  practice ‘mempraktikkannya’.

Di Bulan Ramadhan, kebaikan yang dilakukan digandakan nilainya oleh Allah. Satu amalan yang ditanam, akan berbuah berpuluh-puluh bahkan ratusan kebaikan. Hal ini juga sesuai dengan  janji Allah bahwa setiap perbuatan (baik dan buruk) sebesar atau sekecil apa pun pasti akan ada balasan.

Being good  adalah sangat mudah atau sulit bagi manusia. Jika being good sudah menjadi kebiasaan,  maka melakukan kebaikan itu seperti membalikkan telapak tangan saja. Semuanya diniatkan karena Allah. Apa pun yang dikerjakan adalah dikarenakan Allah.  Ini adalah sebuah tantangan sebagai makhluk Allah yang sudah diberi kesempatan hidup di bumi-Nya dan kelak nanti harus bertanggung jawab atas semua amanah yang sudah diberikan (Revita, 2017).

Akan berbeda halnya bagi mereka yang justru sebaliknya sudah biasa being bad. Being good adalah pekerjaan yang amat sangat berat. Kebiasaan bersikap dan berprilaku buruk sudah mendarahdaging yang menyebabkan besarnya godaan untuk beralih haluan menjadi orang baik.

Revita (2016, 2017) dalam beberapa artikelnya menyebutkan agar manusia berpikir dengan hati (kolbu). Hati dapat menjadi filter untuk meloloskan semua perilaku dan perbuatan. Melalui saringan hati, niat untuk being bad dapat beralih menjadi being good.

Meskipun demikian, tidak jarang terjadi, justru karena menurutkan hati maka niat baik malah beralih menjadi buruk. Karena menurutkan hati jugalah maka banyak manusia yang terjungkal dalam bencana sehingga menjadi manusia yang merugi dalam hidupnya.

Misalnya, ketika seseorang secara tidak sengaja menyenggol spion motor kita saat berhenti di perempatan traffic light. Orang itu sudah minta maaf. Karena keras hati dan menurutkan hati, justru permintaan maaf itu direspon dengan omelan dan marah-marah. Hal demikian terjadi karena si pemilik hati berpikir bahwa yang menyenggol ini tidak hati-hati dalam mengendarai kendaraannya. Judgement salah ini menyebabkan kita merasa benar dan akhirnya jadi marah.

Dalam Islam meminta dan memberi maaf adalah pebuatan yang mulia. Tidaklah akan merugikan ketika maaf diminta dan diberi. Memberi maaf juga tidak akan menurunkan harga diri seseorang (Revita, 2017). Justru pemberian maaf akan menjadikan kita sebagai orang yang terhormat. Dengan kata lain, being good sesungguhnya bukanlah sesuatu yang berat untuk dilakukan.

KL9_Sosio

Beberapa hari yang lalu, saya membaca beberapa statement  kawan-kawan dalam sebuah group yang diisi oleh kaum yang menurut saya idealnya berintelektual karena memang bertugas mengisi ‘otak’ anak-anak yang dititipkan oleh orang tuanya. Adapun topik diskusi terkait dengan sikap dan perilaku anak-anak didikan. Yang membuat agak terkaget-kaget adalah salah satu komen yang saya pikir benar-benar tidak mencermikan perilaku edukatif seorang pendidik.

Perilaku yang dimaksud di sini adalah perilaku berbahasa. Permasalahan yang dihadapi setiap anak didik pasti berbeda. Idealnya, diperlukan perlakua yang berbeda juga. Justru yang terjadi, tanpa mengetahui akar persoalan secara pasti, kawan ini langsung menyebutkan jika sudah tidak mampu, lebih baik terjun ke jurang.

Jika dilihat secara literal dan lepas kontek, tidak ada yang aneh dengan tuturan ini. Karena diteropong secara pragmatis melibatkan aspek-aspek eksternal, maka maksud tuturan bisa dipahami. Hanya yang disayangkan, pilihan kata atau diksi yang digunakan terkesan absurd karena keluar dari mulut seorang educator. Selain itu, pilihan bahasa atau code yang digunakan, yakni bahasa daerah menjadikan maksud ini dengan mudah ditangkap.

Teorinya, berkomunikasi menggunakan code atau bahasa yang sama-sama dimiliki sense-nya oleh peserta tutur semakin memudahkan menggapai makna sekaligus melancarkan komunikasi tersebut. Rasa bahasa yang sudah ‘dapat’ oleh masing-masing orang yang terlibat dalam pembicaraan menjadikan pesan itu mengalir begitu saja.

Kejadian senada juga terjadi masih dalam media sosial. Grup ini diisi oleh anggota yang heterogen dengan umur, jenis kelamin, tingkap pendidikan, dan status sosial yang bervariasi. Meskipun heterogen, mereka diikat oleh institusi pendidikan tempat mereka menuntu ilmu. Jadi, di dalamnya ada dosen dan mantan mahasiswanya. Rata-rata anggotanya sudah mencicipi pendidikan level pascasarjana. Artinya, kemampuan berbahasa sudah lebih baik karena seimbang dengan tingkat pendidikan tersebut.

Faktanya adalah meskipun Chaika (2006) menyebutkan pendidikan itu  in line dengan kemampuan beretorika, tidak demikian realitasnya. Pilihan kata yang digunakan dan tata bahasa menunjukkan adanya ketidaksantunan. Ada aturan yang dilanggar terkait dengan koridor-koridor etika berbahasa. Apalagi tuturan itu merupakan respon kepada orang yang dulu pernah memberinya ilmu (guru).

Hal demikian tejadi karena seseorang melihat sebuah persoalan dari cara pandangnya terkini. Andai dia berada di posisi orang tersebut, persoalan akan berbeda. Begitu juga dengan kedua kisah yang saya ceritakan di atas, andai pendidik ini masih ingat di saat dia masih dalam status sebagai mahasiswa, apakah cara pikirnya akan sama dengan yang sekarang. Andai anggota dalam grup ini menyadari bahwa dia berada dalam komunitas yang beragam, hendaklah dia menjaga mulut melalui penggunaan bahasanya (Revita, 2013).

Segala sesuatu akan melalui yang disebut dengan proses. Tidak ada kejadian yang datang begitu saja tanpa melalui tahapan. Setiap kejadian adalah hasil dari sebuah proses. Ketika seseorang belum mampu being good, itu adalah bagian dari proses being bad  ke being good. Proses itu ada yang memakan waktu sebentar dan ada yang singkat.

Bagi mereka yang sudah merasa being good, tidak perlu merendahkan orang-orang yang masih sedang berjuang ke posisi being good ini. Dengan sikap encouragement akan memberi motivasi ke perubahan dan percepatan untuk being good. Bukan merendahkan, mencemooh, dan menghina.

Apalagi di Bulan Ramadhan, ketika rasa haus dan lapar yang tidak jarang begitu mudahnya memancing orang untuk menjadi emosional, menjadi being good dapat mencegah kita dari perilaku yang dapat menyakiti orang lain. Perilaku yang berhubungan dengan sikap dan pola tutur. Dengan menjaga bahasa yang dikeluarkan, sesungguhnya seseorang sudah mampu untuk menerapkan yang disebut dengan being good.

 

 

Penulis adalah

Pemerhati Anak dan Perempuan,

Kepala Divisi Pengembangan Pendidikan dan Dosen Pasca Unand

 Sudah dimuat di Harian Padang Ekspres, 16 Juni 2017, Hal. 4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation