Tanggal 31 Mei merupakan hari yang bersejarah bagi sebagian masyarakat di Kota Padang. Di tanggal ini, ada barangkali tiga  kejadian luar biasa yang terjadi. Yang pertama adalah satu hari setelah tanggal  31 Mei, tepatnya 1 Juni masyarakat seluruh Indonesia merayakan Hari Kesaktian Pancasila. Tanggal 1 Juni ini merupakan hari lahirnya Pancasila yang oleh the founding father of Bangsa Indonesia disepakati sebagai ideologi dan dasar negara. Untuk memperingatinya, sesuai dengan Keputusan Presiden RI, setiap tanggal 1 Juni dijadikan hari libur nasional.

Kedua adalah di tanggal 31 Mei seluruh umat Muslim melaksanakan ibadah puasa karena Ramadhan sudah masuk beberapa hari sebelum tanggal ini. Di Bulan Ramadhan, ada banyak kebaikan yang berlipat ganda nilainya. Di bulan ini juga, Umat Muslim berlomba-lomba untuk   berbuat baik. Dengan kata lain, banyak Muslim yang berupaya menabung kebaikan dan amal di bulan ini.

Bulan Ramadhan disebut juga bernilai lebih dari seribu bulan. Sebegitu tingginya Ramadhan diposisikan dibandingkan 11 bulan lainnya. Nilai tinggi ini tidak berarti bahwa bulan lain tidak perlu. Justru setelah Ramadhan, manusia dianggap kembali suci atau fitrah. Di 11 bulan berikutnya hendaknya manusia tetap berbuat baik agar kesucian ini tidak ternoda oleh noktah kesalahan.

Ketiga adalah di tanggal 31 Mei 2017, masyarakat Kota Padang diuji dengan datangnya hujan lebat dan badai yang kemudian membawa banjir. Sebagian besar wilayah di Kota Padang digenangi air. Hujan yang turun dari tengah malam tidak berhenti sampai waktu shubuh.

Air yang sebenarnya membawa rahmat justru menjadi bencana bagi sebagian masyarakat. Genangan air yang tidak mengalir menyebabkan terjadinya banjir. Bahkan, di beberapa daerah, masyarakatnya barangkali harus melaksanakan sahur dalam kondisi banjir.

Dalam beberapa status yang saya baca, teman-teman banyak berteriak kebanjiran. Foto-foto berisi genangan air yang semakin menaik di dalam rumah, jalan raya, atau pun di tempat-tempat publik mulai diposting. Informasi bergulir sedemikian cepatnya. Bahwa sebuah daerah sudah tidak bisa dilewati karena tingginya air menjadi informasi bagi sebagian teman-teman yang akan melalui daerah tersebut.

Padang seperti kehilangan nyawa. Semua masyarakat terpaku pada kekhawatiran air yang makin naik. Tidak ada upaya yang dapat dilakukan selain doa. Karena semuanya sudah diatur Allah. Allah selalu punya rencana dalam setiap kejadian. Inilah yang dikatakan  Revita dalam artikelnya yang dimuat di Harian Singgalang (2017) bahwa sabar membawa berkah. Kesabaran menerima cobaan membuat hidup menjadi lebih tenang.

Ketika mengikuti perkembangan informasi, seorang sahabat menjapri saya menanyakan keadaan. Dia sepertinya khawatir kalau-kalau saya juga menjadi bagian dari orang-orang yang terkena banjir. Kekhawatirannya beralasan karena beberapa wilayah di sekitar tempat saya tinggal sudah parah tinggi airnya.

Pertanyaannya itu saya respon dengan menyatakan bahwa semuanya adalah berkah. Tidak ada rencana Allah yang tanpa berujung pada kebaikan. Saya ingat tahun kemarin, di bulan Ramadhan juga, banjir menggenangi Kota Padang. Meskipun sedikit kena imbas karena air masuk ke dalam garasi, tetapi bagi saya itu ada hikmahnya.

IMG_6211

Masuknya air ke garasi dianggap sebagai peringatan dari  Allah agar senantiasa menjaga kebersihan. Barangkali selama ini upaya membersihkan tempat ini tidak masimal. Air yang         datang dari jalan membantu membersihkan debu dan kotoran yang ada.

Teman ini sangat kaget dengan jawaban yang saya berikan.  Barangkali prediksi kawan ini jawaban yang saya berikan adalah berupa keluh kesah dan kekecewaan. Saya melihat tidak ada gunanya keluh kesah. Setiap kejadian adalah hasil dari sebuah proses. Banjir yang terjadi di Kota Padang tidak mungkin datang begitu saja tanpa melalui tahap.

Di saat kecil dulu, saya tidak pernah merasakan yang namanya banjir air. Beberapa daerah tertentu memang identik dengan banjir. Itu pun juga disebabkan oleh adanya pembangunan jalan yang tidak diringi dengan pembuatan drainase memadai. Oleh karena itu, daerah tersebut menjadi langganan banjir sekitar 25 tahun lalu.

Sekarang, Padang hampir merata dilanda banjir. Hanya sebagian kecil wilayah yang tidak terkena. Meskipun demikian, masyarakat di wilayah ini tetap tekena dampak. Mereka tidak dapat pergi kemana-mana karena jalan sudah digenangi oleh banjir yang tidak menjamin keamanan berkendaraan.

Banjir di tanggal 31 Mei, Bulan Ramadhan, ini adalah ibarat buah yang harus dipetik oleh manusia. Agar keadaan tidak berulang lagi dan berubah menjadi lebih baik, salah satu sikap yang dilakukan adalah introspeksi diri, baik secara personal maupun komunal.

Perilaku apa yang sudah dilakukan sehingga air tidak lagi mengikuti fitrahnya mencari tempat yang rendah. Justru air menggenangi ketinggian dan pusat kota. Ada apa?

Satu contoh fakta yang saya amati adalah lemahnya kesadaran individu bahwa dia sesungguhnya bagian dari masyarakatnya. Sehubungan dengan banjir, banyak masyarakat yang mengabaikan keberadaan selokan atau drainase.

Selokan ditimbun atau disemen karena dianggap mempersempit jalan. Yang ironisnya, ada yang berpikir bahwa kalau selokan dibiarkan ada, otomatis air kotor orang lain akan melewati tempat tinggalnya.

Alangkah mirisnya kita dengan orang-orang yang seperti demikian.

Jika semua manusia berpikir dan bersikap seperti itu, apa jadi dunia? Hujan sebentar saja pasti akan memicu banjir. Ego dan mau menang sendiri sudah membawa bencana bagi banyak orang lain.  Di sinilah idealnya kita dapat menanam kebaikan. Dengan senantiasa membiarkan selokan terjaga dan tidak ditimbun, kita sudah memberi kesempatan air mengalir sehingga sampai ke laut. Air tidak lagi tersangkut atau terhalang.

Kebaikan yang kita lakukan adalah amalan yang akan terus mengalir bahkan sampai kita sudah tiada. Apa yang dilakukan tidak akan merugikan diri sendiri sedikitpun. Justru, dengan tidak mengurangi yang ada, kita sudah menanam kebaikan. Hasilnya tidak hanya akan dipetik di dunia, tetapi juga di akhirat.

Realitas ini adalah salah satu refleksi dari betapa banjir di Bulan Ramadhan tetap harus disyukuri. Dengan berpikir positif, semuanya akan berubah menjadi lebih baik. Dengan selalu berhati-hati dalam berperilaku melalui sikap sabar dan ikhlas , keberkahan akan kita peroleh. Jadi banjir tidak hanya diisi oleh air tetapi keberkahan. Aamiin.

Selamat menjalankan Ibadah Puasa buat umat Muslim!

 

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris

FIB Unand

Sudah dimuat di Harian Singgalang, 18 Juni 2017, Hal A-5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation