Berhentilah menuntut ilmu karena ilmu itu tidak bersalah (Anonim)

 

Kutipan ini jika dibaca sekilas tidak ada yang aneh. Justru disaat diresapi maka akan timbullah tawa karena ini adalah permainan kata-kata lewat pemaknaan secara semantik.

Dalam linguistik ada istilah yang disebut dengan linguistic pun (baca linguistik pan). Di sini ada language play  yang digunakan orang untuk berbagai macam kepentingan, seperti untuk memperjelas identitas, eye catchy, atau untuk efek lucu saja.

Contoh penggunaan linguistic pun yang paling banyak ditemukan adalah di plat mobil dimana melalui urutan nomor yang kemudian bisa dibaca dan memiliki makna. Misalnya adalah plat mobil BA 1 K (baik) atau BA 99 DR yang dibaca dari sua huruf terakhir ‘dokter’ dan  gigi untuk angka 99 yang terlihat seperti huruh ge-ge  (gigi).

Linguistic pun ini juga digunakan sebagai merek toko atau kafe. Contohny adalah Takashimura yang terdengar seperti bahasa Jepang. Sesungguhnya ini adalah bahasa Jawa Tak kasih murah ‘saya beri murah’.

Fenomena ini menunjukkan betapa dahsyatnya bahasa. Melalui bahasa, ada banyak hal yang bisa dilakukan. Bahkan dalam sebuah artikelnya, (Revita, 2015) menyebutkan dalam bisnis, pilihan bahasa saja dapat mempengaruhi harga.

Harga setengah gelas kopi hitam akan tidak sama jika diberi nama di daftar menunya dengan black coffe. Begitu juga dengan ‘gado-gado’ yang digantikan dengan bahasa Inggris mixed vegetables with peanut sauce dressing akan memiliki harga berbeda.

Jika masih ada pendapat yang menilai persoalan berbahasa bukanlah hal yang penting, saya adalah orang pertama yang akan menolaknya. Satu kejadian  yang bertemali dengan ini  ketika saya pernah mengomentari kalimat-kalimat dalam sebuah pengumuman. Dalam pemahaman saya, kalimat itu sangatlah tidak berterima baik dari segi etika, estetika, atau kepatutan dan kepantasan. Apalagi ini berhubungan dengan permintaan.

C360_2017-01-10-14-57-18-790

Revita (2013) menyebutkan permintaan sangat berhubungan dengan orang lain karena berpotensi untuk ditolak. Agar permintaan itu tidak ditolak maka perlu dirangkai kata yang tidak jarang orang Minang menyebutnya lunak gigi pado lidah.  Dengan kata lain, diperlukan upaya yang begitu dalam agar permintaan itu tidak terkesan mengimpose dan mendikte orang yang dimintai.

Pandangan saya ini dinilai berlebihan. Bahkan dikatakan juga saya terlalu intricate untuk hal-hal yang tidak perlu. Disebutkannya masalah bahasa tidak penting.

Pernyataannya ini kemudian saya respon dengan pertanyaan. Bagaimana kamu menyapa anak-anakmu di rumah? Apakah memakai nama pengisi ‘kebun binatang’ atau justru panggilan yang membuat anak senang?

Jawabannya adalah sudah pasti dengan panggilan yang membuat anaknya senang. Tidak sopan serta tidak mendidik kalau anak-anak dipanggil seperti di ‘kebun binatang’. Panggilan adalah bahasa. Kata-kata yang digunakan adalah rangkaian bunyi yang bermakna dan kemudian disebut bahasa.

Andai semua orang berpikir bahwa bahasa bukanlah hal yang perlu dipikirkan, akan jadi apa dunia ini? Bukankah semua kata-kata itu adalah doa? Oleh karena itu, kita diajurkan untuk berkata yang baik.

Kejadian kedua adalah ketika saya bertemu dengan seorang teman yang saya sapa tetapi tidak merespon. Saya langsung protes. Tanggapan teman ini adalah tidak begitu penting merespon sebuah sapaan apalagi ketika ada orang lain yang hadir sudah memberikan respon.

Astagfirullahalazim!

Ada apa dengan dia? Apakah pikirannya sudah sedemikian rupa tercampur aduk sehingga gagal membedakan mana yang salam dan mana yang sapaan. Menurutnya, merespon sapaan bisa bersifat fardu kifayah seperti halnya salam. Jika demikian pikirannya, artinya kita pun tidak perlu menyapa dia lagi karena sudah diwakili orang lain.

Inilah realitas yang bertaut dengan kutipan berhentilah menuntut ilmu karena ilmu tidak bersalah.

Jika kata ‘menuntut’ dalam kutipan di atas dimaknai  sebagai meminta dengan keras bahkan sampai ke jalur hukum,  itu artinya ilmu sudah melakukan kesalahan sehingga harus dituntut.

Padahal ‘menuntut’ yang dimaksud di sini berarti ‘mencari’. Seseorang dianjurkan untuk selalu menuntut ilmu. Bahkan Rasulullah sendiri mengatakan untuk menuntut ilmu sejak lahir sampai  maut menjemput.

Salah satu indikator dari seseorang yang berilmu adalah kekuatan pemahamannya akan konsep yang kemudian tercermin dalam perilaku. Dalam kajian Sociolinguistics, banyak ahli mengatakan semakin tinggi ilmu seseorang yang terlihat dari tingginya pendidikan, semakin bagus tuturannya.

Tuturan yang bagus maksudnya mampu menggunakan bahasa yang tepat dan pantas. Hal ini berkait dengan linguistic repertoire  yang dimilikinya. Begitu beragamnya pilihan kata dalam kepala menyebabkan mereka tidak akan kehilangan dan bahkan salah dalam memilih kata-kata. Dengan kata lain, orang yang berpendidikan tinggi tidak akan ‘salah bilik’ saat bertutur.

Konsep ini barangkali lebih tepat dan banyak ditemukan di tahun 1970-an. Bahwa pendidikan akan linear dengan pola bertutur. Sekarang mungkin sudah berbeda. Tidak ada jaminan bahwa seseorang yang berpendidikan tinggi akan berhasil mengatur rangkaian kata-kata yang mencerminkan intelektualitasnya.

Seperti kejadian di atas. Pendidikan yang sudah di level pasca sepertinya tidak berimbang dengan bahasa yang asbun alias asal bunyi. Jika seseorang dikatakan asbun artinya dia sama dengan tong kosong. Pembicaraannya tidak berisi.

Untuk konteks seperti ini diam akan lebih baik. Dari pada berbicara yang membuat orang memberi penilaian rendah dan menganggap stupid, maka silence is gold lebih baik diikuti. Dengan semakin banyak bicara, akan semakin kelihatan betapa tidak berisinya pikiran.

Revita (2017) dalam artikelnya yang dimuat di Harian Singgalang menyinggung hal yang serupa. Diam tidak menjadikan seseorang itu tidak bernilai. Justru diam dalam konteks yang pas akan menggiring orang itu pada label kearifan dan kebijaksanaan.

Sapir-Whorf (Claire, 1998) menyebutkan adanya relasi antara bahasa, budaya, dan pikiran seseorang penutur. Jalan pikiran seseorang dapat juga dipantulkan lewat bahasa yang digunakan. Pikiran yang sistematis akan tergambar dari tuturan yang runut dan sistematis juga.

Makanya dalam linguistik (Pragmatik) bertutur itu akan dipangaruhi oleh beberap aspek eksternal, salah satunya adalah kondisi psikologis. Orang yang sedang ‘galau’ bahasanya juga akan galau.  Orang yang bermasalah secara kejiwaan akan terlihat dari bahasanya yang tidak jarang bersifat asbun.

Di sinilah peran kita sebagai manusia yang idealnya mampu memahami keadaan penutur yang ‘bermasalah’. Dengan paham kondisi psikologis penutur, kita sebagai mitra tutur tidak akan merasa heran, tersinggung, atau marah karena jawabannya sudah jelas.

Analoginya adalah ketika orang tidak waras mengeluarkan bahasa  yang penuh dengan carut marut apakah perlu direspon. Dengan memposisikan dia sebagai orang yang tidak normal, maka kita hanya mengaabaikan saja.

Implementasi sikap ini justru menjadikan hidup kita lebih tenang. Sukses dalam memposisikan diri dalam berbagai situasi. Tanpa harus hanyut dan disetir orang lain untuk bersikap akibat sikap orang lain yang tidak etis. Semoga!

 

 

 

 

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris

FIB Unand

Sudah dimuat di Harian Singgalang, 11 Juni 2017, Hal.A-5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation