Mulut adalah suara hati.

Hati yang baik menyuarakan kebaikan dan menyejukkan (Anonim).

 

Bulan Ramadhan tinggal beberapa hari lagi. Aroma memasuki bulan yang di dalamnya terdapat malam yang senilai dengan seribu bulan ini mulai terasa. Bahkan masyarakat terlihat mulai mencicil kebutuhannya untuk menyambut bulan yang penuh dengan keberkahan ini. Termasuk di dalamnya juga persiapan menunggu kedatangan Lebaran Idul Fitri yang akan dirayakan setelah lebih kurang 1 bulan melaksanakan puasa.

Datangnya Ramadhan dimaknai bermacam-mcam oleh sebagian orang. Ada yang bahagia karena di bulan ini mereka dapat mengumpulkan amal ibadah sebanyak mungkin. Begitu banyak kebaikan yang nilainya berlipat ganda saat dikerjakan di Bulan Ramadhan. Ada juga yang bahagia karena datangnya Ramadhan akan diikuti dengan dekatnya kedatangan Hari Raya Idul Fitri yang berarti berkumpul dan bertemu dengan sanak saudara.

Beragamnya penafsiran kebahagiaan atas kedatangan Bulan Ramadhan ini diharapkan tidak akan mengurangi nilai dari Ramdhan itu sendiri karena ada satu kegiatan utama yang dilakukan di Bulan Ramadhan ini, yakni berpuasa atau shaum.

Istilah shaum dan puasa bagi sebagian orang mungkin dianggap sama.  Masyarakat Indonesia pada umumnya lebih mengenal dan familiar dengan kata puasa dibandingkan shaum. Secara etimologi, kedua kata ini berasal dari bahasa yang berbeda. Puasa berasal dari bahasa Sanskerta upa  yang berarti ‘dekat’ dan wusa ‘Maha Kuasa’. Puasa diartikan sebagai upaya untuk mendekat kepada Tuhan.

Sejarahnya, penggunaan istilah puasa dipakai oleh masyarakat pemeluk agama Hindu dimana mereka melakukan puasa  selama 40 hari 40 malam tanpa makan dan minum. Termasuk di dalamnya juga larangan melakukan hubungan suami istri.  Karena penyebaran Islam yang tidak pernah memaksa tetapi secara perlahan menyesuaikan dengan budaya masyarakat pada saat itu, istilah puasa pun tetap dipakai hingga sekarang ini.

C360_2017-01-12-09-54-47-849-1

Sementara itu, shaum berasal dari bahasa Arab Shaama-Yashuumu yang berarti menahan.  Lebih rincinya lagi shaum  adalah menahan dari makan, minum, jima’ dan yang lainnya pada waktu siang hari dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Kalau dalam puasa, larangan makan dan minum berlaku selama 40 hari 40 malam,  tetapi tidak demikian halnya dengan shaum yang hanya menahan dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Artinya, makan dan minum bisa dilakukan ketika waktu berbuka, yakni setelah matahari terbenam.

Secara harfiah, terdapat perbedaan makna dari puasa dan shaum itu sendiri. Namun, sebagai masyarakat yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasionalnya, kata shaum itu sendiri belum dikodifikasi. Dengan kata lain, dalam KBBI belum ditemukan kosakata ini sehingga kata shaum masih merupakan borrowing dari bahasa Arab.

Dalam interaksi dengan banyak teman, shaum sudah sering digunakan dan dimengerti oleh banyak orang. Barangkali, waktu bisa menjawab dan mendudukkan posisi kata shaum ini, apakah bertahan sebagai pinjaman (bahasa asing) atau suatu saat akan menjadi bahasa Indonesia, seperti banyak kosakata yang berasal dari bahasa Arab lainnya.

Akan tetapi, dalam tulisan ini, saya lebih cenderung menggunakan kata shaum karena memiliki efek psikologis yang berbeda. Yang jelas, pelaksanaan shaum di Bulan Ramadhan idealnya tidak semata menghasilkan rasa lapar dan haus saja, nilai-nilai dan filosofi yang tertanam dalam aktivitas ini hendaknya juga ikut melekat. Hal demikian terkait dengan banyaknya orang yang hanya memperoleh rasa letih akibat menahan makan dan minum tetapi belum mendapatkan kenikmatan saat shaum.

Ketika makan dan minum tidak dilakukan, salah satu organ tubuh tempat makan dan minum lalu, yaitu mulut pun berkurang perannya. Mulut berkurang kerjanya karena tidak boleh ada  makanan dan minuman yang  dimasukkan melaluinya. Walaupun demikian, satu peran mulut sebagai alat bicara tidak jarang tidak bisa dikurangi.

Untuk itulah dalam shaum, mulut pun harus ikut menahan. Menahan untuk tidak bicara yang tidak perlu dan menahan untuk tidak menggunakan mulut untuk  perkataan yang dapat menyakiti orang lain.

Suatu ketika, saya ditelepon seorang sahabat. Sahabat yang sudah begitu lama tidak berkomunikasi langsung dengan saya seperti merasa kehilangan atas berkurang dan menghilangnya para sahabat dalam sebuah komunitas yang dibangun untuk media penjalin silaturahim antarkami. Saya yang sudah memperkirakan akar permasalahan mencoba memastikan jikalau asumsi saya keliru.

Apa yang saya kira memang persis seperti yang diceritakan. Salah satu pemicu banyaknya sahabat lain yang keluar dari group adalah perkara mulut. Mulut menyebabkan terjadinya konflik.

Ketika ada anggota dalam group yang dinilai menyinggung dan menyakiti anggota lain, salah satu reaksi yang muncul adalah merespon, diam, atau keluar. Berbagai macam reaksi ini merupakan respon atas ketidaknyaman yang diciptakan oleh mulut yang tidak mampu direm. Kebablasan dalam berbahasa berefek tidak sederhana. Tidak jarang perkelahian masal terjadi karena kelalaian dalam menahan mulut untuk tidak menjadi provokator.

Bahkan sahabat yang lain menyebutkan bahwa diamnya dia menjadikan hidupnya lebih tenang. Justru saat dia sering berkomentar dalam group membuat dia merasa sering bersalah karena khawatir teman-teman lain akan tersinggung dan sakit hati atas apa yang dikatakannya.

Yule (2006) mengatakan bahwa salah satu ciri dari orang yang santun adalah saat tuturannya menciptakan sebuah harmoni bukan konflik atau masalah. Bahasa yang santun disebut juga oleh Revita (2017) bahasa yang mencari kawan, bukan mencari lawan. Dengan bahasa santun, orang lain merasa nyaman dan sejuk saat mendengar rangkaian kata-kata dari mulut kita.

Sebuah kata bijak menyebutkan mulutmu harimaumu yang akan menerkam kepalamu. Ungkapan ini menggambarkan betapa mulut dapat menjadi bumerang bagi pemiliknya. Kelalaian dalam menggunakan mulut secara bijak berpotensi menghancurkan si empunya mulut sendiri. Makanya lidah juga dikatakan lebih tajam dari sebilah pedang.

Lidah tidak bertulang dan lidah tidak akan terkilir saat bertutur menggunakan bahasa yang santun. Bahkan kata-kata yang keluar dari mulut menggambarkan jelas kualitas kita. Hal senada disebutkan Chaika (2000) bahwa language as social mirror. Language reflects social identity.

Keberadaan seseorang dapat diukur dari bahasa yang digunakan. Ketika bahasanya terdiri atas carut marut yang hanya menyakiti orang lain, tidak tertutup kemungkinan kepribadian orang itu juga ‘sakit’ dan penuh dengan ‘carut marut’. Bahkan sistematika berbahasa seseorang pun disebutkan mencerminkan cara berpikir orang itu.

Uraian di atas menggambarkan betapa mulut itu perlu dijaga. Muluik manih kucindan murah, demikian ungkapan dalam bahasa Minangkabau. Seseorang yang berkata baik dan lemah lembut akan mudah mendapatkan simpati dari bayak orang. Orang akan impressed oleh bahasa yang mengalir melalui mulut.

Di sinilah prinsip silence is gold terpakai. Saat apa yang akan kita katakan hanya akan  menyakiti dan mempermalukan orang lain, lebih baik diam. Diam adalah best solution. Dengan shaum mulut tidak akan menjadikan kita orang yang tidak terhormat. Justru diam menjadikan kita lebih bijaksana karena cerdas dalam mulut di  waktu yang tepat.

 

 

                                                                                                                                     Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris FIB Unand

Tulisan ini sudah dimuat di Harian Singgalang, 27 Mei 2017 Hal A-5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation