Kita memiliki dua telinga dan satu mulut, karena itu kita bisa mendengarkan dua kali lebih banyak daripada berbicara  (Epictetus).

 

Kutipan ini muncul begitu saja dalam sebuah media sosial ketika saya sedang merenung memikirkan beberapa agenda kerja yang harus segera diselesaikan. Saat stagnant  dengan rutinitas, saya merasa rindu untuk menulis melepaskan penat bergelut dengan bahasa-bahasa ilmiah.

Saat itulah ungkapan yang disampaikan oleh seorang filusuf dari Romawi Kuno, Epictetus (50 – 130 M) entah kenapa muncul di layar smart phone  saya. Awalnya tidak begitu saya hiraukan. Namun begitu dibaca ulang lagi, saya menjadi terketuk karena terkandung makna yang sangat dalam. Apalagi filusuf sekaliber Epictetus dikenal dengan pikiran-pikirannya mengenai moral dan etika.

Ada satu pendapat yang dikemukakan Filusuf Stoa ini bahwa manusia hendaknya memeriksa perilakunya masing-masing dalam hal hubungannya dengan pihak lain supaya ia tidak merugikan orang lain, melainkan menyejahterakan orang lain. Setiap orang lain sesungguhnya adalah keluarga besar manusia itu sendiri, sebagai penghuni bumi dan rumahnya.

Terdapat tiga hal yang bersifat substantif yang saya highlight. Pertama adalah memeriksa perilaku. Implikasi dari phrasa ini adalah agar manusia senantiasa menjaga sikap, perilaku, dan tutur bahasanya agar tidak ada orang yang tersakiti.

Saya teringat pada satu kejadian dalam sebuah diskusi kelompok di media sosial. Diskusi yang dikomentari oleh banyak teman terasa semakin menarik karena indahnya dinamika perbedaan. Masing-masing komentator seperti memahami keberagaman anggota yang ada di dalamnya. Semuanya berjalan terasa indah.

Sampai kemudian datang seorang anggota yang tanpa ba-bi-bu langsung komen dan membuat diskusi seperti terdiam terhenti. Pilihan  kata dan statement  yang diberikan  memperlihatkan seakan-akan dia ada masalah secara psikologis dan personal atas topik yang sedang diperbincangkan. Ketika diingatkan, bukannya berhenti, dia malah semakin menjadi-menjadi ibarat orang yang termakan mercon. Bahasanya pun mulai seperti tidak terkendali.

Karena diisi oleh orang-orang yang ‘berhati mulia’, akhirnya diskusi berhenti begitu saja. Tidak ada yang mau berkomentar lebih jauh lagi kecuali seorang Bapak yang dengan arif ‘menghantam’ si pembuat onar ini. Saya akhirnya dihubungi oleh beberapa teman dan bertanya ada apa dengan ‘pembuat onar’ ini?

Crystal (2007) menyebutkan salah satu kelemahan dalam komunikasi via media adalah potensi terjadinya miskomunikasi. Dikatakan demikian karena ada aspek-aspek nonverbal yang tidak bisa ditangkap secara utuh oleh pembaca sehingga memicu kekeliruan dalam memaknai apa yang dimaksudkan. Bahkan, tidak jarang emotikon yang digunakan pun menggiring pada salah tafsir.

C360_2016-10-29-09-27-52-983

Ini pulalah yang disebut Revita (2013) dengan pragmatic failure. Dalam pragmatic failure terjadi kesalahan dalam menangkap maksud pembicaraan seorang penutur. Fenomena ini akan lebih berpotensi besar terjadi jika melibatkan peserta tutur yang tidak begitu kenal baik satu sama lain atau yang berasal dari budaya berbeda. Dengan kata lain, saat kita tidak paham dengan apa yang dibicarakan orang atau belum mengetahui konteks secara utuh, lebih baik diam.

Kedua adalah menyejahterakan orang lain. Setiap nyawa diberi rezki oleh Allah. Dalam rezki kita itu tertumpang rezki orang lain. Untuk itulah perlunya zakat. Zakat juga mengimplikasikan adanya upaya membantu saudara yang kurang beruntung. Tidak jarang melalui zakat, kehidupan perekonomian seseorang bisa terbantu dan terperbaiki.

Pernah suatu ketika saya dihubungi seorang teman untuk dicarikan penerima zakat berupa sepasang kambing. Tujuan teman ini adalah dengan memberi zakat kambing, si penerima diharapkan dapat memelihara kambing itu  menjadi berkembang biak sehingga dapat membuat kehidupan perekenomiannya menjadi lebih baik.

Apakah menyejahterakan hanya dalam hal finansial? Jawabnya tidak. Sejahtera juga dapat diwujudkan melalui lidah atau mulut. Dengan mengeluarkan bahasa yang baik, yang tidak menyakiti atau melukai perasaan orang lain, secara tidak langsung kita sudah berupaya membuat orang lain bahagia. Melalui tutur bahasa yang santun, sopan, dan jauh dari yang menyebabkan orang lain tersinggung sesungguhnya kita sudah menjadikan hidup orang lain sejahtera. Mereka bahagia dengan tuturan-tuturan kita.

Ketiga adalah keluarga besar manusia. Manusia, apalagi muslim adalah bersaudara. Semua manusia adalah turunan dari Nabi Adam. Berasal dari satu nenek moyang yang sama dan kemudian kembali ke tempat yang sama, yakni tanah seyogyanya menjadikan kita sebagai makhluk yang harus selalu mampu  untuk saling menjaga. Ada tepa selira. Menjaga untuk tidak saling menyakiti.

Jikalaupun ada satu kelebihan yang diberikan  pada kita, bukan berarti dijadikan alat untuk membuat kita sombong. Kesombongan sesungguhnya adalah  milik orang-orang yang kekurangan. Ketidakmampuannya ditutupi lewat kesombongan yang dia pamerkan di muka bumi.

Everyone has millions ways to lift their life. But they have only one way to keep it, “Stay humble” ‘Setiap orang mempunyai jutaan jalan untuk mengangkat derajatnya. Tetapi mereka hanya punya satu jalan untuk mempertahankannya, “Tetaplah rendah hati”. Kutipan ini jelas mengatakan bahwa menjadi orang rendah hati, jauh dari sikap sombong  merupakan satu upaya mempertahankan ketinggian derajat orang itu. Menjadi orang sombong tidak akan menaikkan derajat seseorang. Justru kerendahan hati membuat dirnya akan semakin terhormat.

Ketiga variabel yang saya uraikan ini merupakan salah satu ekskalasi menjadi orang yang bermoral, beretika, dan civilized. Sering orang mengukur dirinya melalui ilmu yang dimiliki. Hal ini kemudian ditunjukkan melalui penggunaan bahasa asing yang juga belum tentu benar dan berterima.

Yang ironisnya, pernah suatu kejadian ketika seseorang merasa ilmunya sudah begitu tinggi dan mungkin sudah merasa hebat sehingga ketika berinteraksi dalam media sosial dia pun selalu menggunakan bahasa asing. Padahal di media itu banyak orang-orang yang bahasa asing itu sudah menjadi ‘makanannya sehari-hari’, tetapi sikap humble  membuat mereka ini tidak perlu show off  lewat language choice  yang dinilai memang kurang tepat digunakan saat itu. Sampai kemudian ada anggota lain yang mengingatkan bahwa dia sebenarnya sedang berhadapan dengan master bahasa itu.

Normalnya, manusia akan terpukul dan merasa malu dengan peringatan tersebut. Justru yang anehnya adalah dia seperti merasa over self-confident dengan apa yang dimiliki. Kekeliruan dalam berbahasa pun sepertinya membuat dia sudah seperti kehabisan ‘urat malu’. Kalau ‘urat malu’ manusia sudah tidak ada lagi atau putus, manusia seperti apakah itu?

Dalam ilmu psikologi, ada yang disebut dengan tumpul hati. Artinya, manusia yang bertumpul hati ini salah satunya memiliki ciri seperti di atas, sombong, tidak mau diberitahu untuk kebaikan, dan putus urat malunya. Yang lebih menyedihkan adalah ketika satu lidah dan satu mulut yang dia miliki bekerja lebih banyak dibandingkan dua telinga. Dia lebih banyak berkata (yang bisa saja menyakiti hati orang lain) dibandingkan mendengar nasihat.

Filosofi Allah memberi dua telinga untuk mendengar serta satu mulut dan satu lidah untuk berbicara sepertinya terabaikan. Untuk itulah gunanya qolbu. Melalui qolbu, lidah dan mulut yang sudah terdorong bisa dimundurkan lagi lewat kata ‘maaf’ dan keinginan untuk tidak lagi mengulangi. You can keep your tongue via your heart. Semoga!

 

 

 

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris

FIB Unand

Sudah dimuat di Harian Singgalang, 21 Mei 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation