Pendidikan yang berkarakter akan menciptakan banyak intelektual terpelajar

bukan intelektual kurang ajar (anonim)

 

Kutipan ini terdengar cukup vulgar karena secara eksplisit menyebutkan adanya intelektual yang kurang ajar. Selain itu, betapa pendidikan juga menjadikan seseorang mernjadi terpelajar.

Fenomena pendidikan berkarakter menjadi wacana beberapa tahun yang lalu. Pendidikan berkharakater  digadang-gadangkan sebagai pola mendidik yang urgent saat ini. Melalui pendidikan yang berkarakter diharapkan akan lahir generasi muda yang cerdas, tidak hanya di intelektual tetapi juga emosi.

Seperti apakah pendidikan berkarakter itu?

Secara semantis, pendidikan diartikan sebagai proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan (KBBI, 2008). Dalam  UU Sistem Pendidikan Nasional  No. 20 tahun 2003  pendidikan  adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual  keagamaan,  pengendalian diri,  kepribadian,  kecerdasan,  akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dalam masyarakat.

Karakter adalah tabiat; sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain; watak (KBBI, 2008). Sementara itu, berkarakter artinya mempunyai tabiat atau kepribadian. Dengan demikian, pendidikan berkarakter merupakan proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang sehingga mempunya tabiat atau kepribadian.

Kepribadian atau tabiat seperti apakah yang ditargetkan dalam pendidikan berkarakter ini?

Dalam beberapa referensi yang saya baca, situasi moral terkini sudah mulai meresahkan. Moral atau yang sering juga disebut etika  dianggap bukan lagi hal penting untuk dijaga dan diamalkan dalam perilaku sehari-hari. Tergerusnya nilai-nila kebaikan dalam attitude  sudah menjadi pemandangan biasa. Hal demikian salah satunya  dipicu oleh lemahnya regenerasi.

Lemahnya regenerasi menyebabkan semakin berkurangnya pemahaman nilai baik dan buruk dalam sikap generasi muda. Kurangnya percontohan dan tidak adanya model menjadikan generasi sekarang relatif gagal melanjutkan kebaikan-kebaikan yang sudah dibangun nenek moyang mereka. Budaya lokal dan tradisional yang menjadi koridor berperilaku dalam ranah putra daerah bahkan dianggap sudah kuno dan jadul. Jadi tidak perlu dilanjutkan atau diikuti.

KL4_Sosio

Revita (2006) dalam risetnya menyebutkan ada beberapa penyebab ketirisan nilai budaya dalam masyarakat terkini. Di antaranya adalah (1) adanya perubahan mindset bahwa budaya lokal dan tradisional tidak lagi efektif; (2) tidak danya regenerasi terhadap nilai-nilai moral tentang kebaikan yang berlaku; dan (3) model yang bisa ditiru sudah semakin jarang ditemui.

Riset yang sama kembali dilakukan oleh Revita pada tahun 2010, hasil yang ditemukan tetap sama tetapi dengan tingkat krisis yang semakin mengkhawatirkan. Dengan kata lain, kepribadian yang disebut berkharakter semakin menjauh dari tujuannya. Untuk itu memang perlu disikapi dengan serius dan komprehensif.

Dalam pendidikan berkharakter dikatakan ada penguatan pendidikan moral. Untuk konteks sekarang, moral sudah mulai keropos. Revita dalam Singgalang (2016) menyebutkan moral ini sudah mulai mengeropos.

Meningkatnya pergaulan bebas, maraknya kekerasan pada remaja, anak, dan perempuan, penyalahgunaan obat-obatan, pornografi, pengrusakan di lingkungan sosial belum lagi teratasi.  Bahkan Sumatera Barat secara kuantitas dinilai menduduki tingkat tertinggi angka kekerasan seksualnya di Indonesia. Naudzubillahiminzalik!

Di sinilah pentingnya pendidikan berkarakter. Pendidikan berkarakter ini bahkan telah menjadi perhatian berbagai negara dalam rangka mempersiapkan generasi yang berkualitas. Bukan hanya untuk kepentingan individu warga negara, tetapi juga untuk warga masyarakat secara keseluruhan.  Pendidikan berkarakter dapat diartikan sebagai the deliberate us of all dimensions of school life to foster optimal character development ‘Usaha kita secara sengaja dari seluruh dimensi kehidupan sekolah/madrasah untuk membantu pembentukan karakter secara optimal’.

Propinsi Sumatera Barat yang identik dengan suku Minangkabau sebanarnya dari dulu sudah mencoba mengembalikan sendi-sendi kehidupan  yang berakar pada budaya lokal. Contohnya adalah kembali ke surau. Dalam konsep kembali ke surau sebenarnya tersimpan nilai-nilai budaya yang mampu menggiring generasi muda kepada manusia yang berkharakter.

Dari kecil seorang anak Minangkabau sudah dididik untuk menjadi pribadi yang sederhana, bertanggung jawab, dan eager untuk mencari ilmu. Tinggal di surau untuk mempelajari ilmu  bela diri dan belajar tentang menghadapi hidup yang akan menjadi modal untuk merantau kelak. Dalam  budaya kembali ke surau  ini ke -18 terdapat nilai-nilai karakter yang berlandaskan budaya bangsa Indonesia dan masyarakat Minangkabau.

Salah satu contoh yang paling sederhana dapat dilihat dalam perilaku berbahasa. Kharakter distingtif pola bertutur dalam bahasa Minangkabau adalah yang disebut dengan kato nan ampek. Dalam kato nan ampek ini sudah diatur bagaimana bertutur yang diatur oleh koridor budaya Minangkabau. Ada kato mandaki¸malereang, manurun, dan mandata.

Masing-masing  kato  ini menjadi rule of speaking (Revita, 2008) seorang Minangkabau dalam bertutur. Bentuk kebahasaan saat bertutur kepada mitra tutur yang lebih tua, yang dihormati, yang lebih kecil, atau sama besar tidaklah sama. Diibaratkan sawah yang berpematang, tetap ada batas-batas yang harus dijaga sehingga membuat semuanya tidak bercampur.

Yang memiriskan adalah sekarang ini koridor kato nan ampek   mulai membias. Sawah sudah mulai kehilangan pematang. Hal ini tercermin dalam sikap berbahasa yang menyamaratakan mitra tuturnya. Bertutur kepada orang tua bahkan guru disamakan saja dengan bertutur kepada teman.

Berhubungan dengan ini, beberapa kali kejadian dikeluhkan teman dosen yang menerima pesan singkat dari mahasiswa. Konsep-konsep kesantunan berbahasa yang sesungguhnya sudah diajarkan dan diintegrasikan dalam proses pembelajaran seperti tertinggal dalam buku catatan mereka. Hasil pendidikan berkharakter yang menggiring kepada siswa yang bermoral kuat seperti jauh bibir dari cawan.

Apakah pendidikan berkharakter ini hanya tinggal cerita?

Beberapa hari yang lalu, tepatnya setiap tanggal 2 Mei, Bangsa Indonesia merayakan  Hari Pendidikan Nasional. Perayaan yang sepertinya tidak semeriah masa-masa ketika saya masih sekolah dulu seakan-akan ikut  mencerminkan dan mengimplikasikan kurangnya konsiderasi dan keseriusan pada pendidikan generasi muda.

Bahwa pendidikan sebagai usaha sadar yang bertujuan untuk menyiapkan peserta didik dalam belajar melalui suatu kegiatan pengajaran disertai bimbingan untuk peranannya dimasa yang akan datang bukanlah sesuatu yang dapat dinomorduakan. Justru melalui pendidikan berkharakter akan terlahir anak-anak yang ‘baik’. Sebuah ungkapan yang saya kutip  bahwa  Tanpa pendidikan, kita takkan pernah tahu bahwa ada yang namanya cinta sejati, hidup setelah mati, dan dunia abadi diluar sana. Jika kita telah mengetahuinya maka bersyukurlah itu artinya pendidikan telah ada dalam diri kita.

Sekarang semuanya kembali kepada kita. Apakah membiarkan generasi sekarang berjalan tanpa frame yang jelas sehingga kharakter mereka pun menjadi blur. Belum ada kata terlambat karena better late than never at all.

 

 

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris

FIB Unand

Sudah dimuat di Harian Singgalang, 7 Mei 2017, Hal. A-5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation