Anak bukan tamu biasa di rumah kita. Mereka telah dipinjamkan untuk sementara waktu kepada kita dengan tujuan mencintai mereka dan menanamkan nilai-nilai dasar untuk kehidupan masa depan yang akan mereka bangun (anonim).

C360_2016-09-01-10-31-04-670 

Anak adalah amanah yang dititipkan Allah untuk dibesarkan, dididik, dan disayangi. Ketika lahir di dunia, anak diibaratkan sehelai kertas putih yang akan diwarnai oleh orang tuanya, keluarga, dan lingkungan. Warna akhir yang diperoleh akan tergambar dari bagaimana anak tesebut diperlakukan  dalam hidupnya.

Dalam kutipan di atas disebutkan bahwa anak bukan tamu biasa. Kedatangan seorang anak bukan seperti sulap, sim salabim, yang langsung jadi. Diperlukan proses lebih kurang 9 bulan berada di dalam rahim ibu. Selama 9 bulan ini, si ibu akan rutin kontrol ke dokter agar terlahir anak yang sehat. Sebelum lahir pun, pasti ada perencanaan oleh orang tua terkait hal-hal yang berhubungan dengan proses membesarkan anak.

Kalaupun banyak orang tua yang sudah siap dan menyiapkan kedatangan seorang anak, jika amanah  belum diberikan, semua upaya tidak akan pernah berhasil. Mereka didatangkan ke dunia untuk dicintai dan ditanamkan nilai-nilai kebaikan masa depan. Dengan kata lain, adalah tanggung jawab orang yang diamanahi–orang tua, keluarga, dan lingkungan untuk menyediakan  itu semua.

C360_2016-05-31-14-30-19-300

Apa yang seharusnya diharapkan ini tidak selalu berjalan secara ideal. Banyak kejadian yang menggambarkan bagaimana masa depan seorang anak dihancurkan olek predator melalui  kekerasan. Kekerasan ini tidak jarang dilakukan oleh  orang-orang yang seharusnya bertanggung jawab dalam melindungi mereka. Sebagaimana yang diberitakan dalam Harian  Padang Ekspres (28 April 2017) tentang seorang anak yang sudah menjadi korban pencabulan. Anak ini dipaksa secara seksual untuk memenuhi ‘nafsu iblis’ predator ini.

 

Anak dan Hak Anak

Menurut Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, anak adalah seorang yang belum berusia 18 tahun dan termasuk anak yang masih dalam kandungan.  WHO memberi batasan usia anak adalah sejak anak di dalam kandungan sampai usia 19 tahun. Berdasarkan Konvensi Hak-hak Anak yang disetujui oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa pada tanggal 20 Nopember 1989 dan diratifikasi Indonesia pada tahun 1990, Bagian 1 pasal 1, yang dimaksud anak adalah setiap orang yang berusia di bawah 18 tahun, kecuali berdasarkan undang-undang yang berlaku bagi anak ditentukan bahwa usia dewasa dicapai lebih awal. Dari beberapa definisi ini dapat disimpulkan bahwa  anak itu memiliki rentang usia antara 0 tahun – 19 tahun.

Dalam konvensi hak anak yang sudah disetujui PBB 20 November 1989 dan ditandatangani oleh Pemerintah Republik Indonesia di New York pada tanggal 26 Januari 1990 melalui Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990 tentang Pengesahan Convention on The Rights of The Child, ada 4 butir pengakuan masyarakat internasional atas hak-hak yang dimiliki oleh kaum anak, yakni (1) Hak terhadap kelangsungan hidup anak; (2) Hak terhadap perlindungan; (3) Hak untuk tumbuh kembang dan; (4) Hak untuk berpatisipasi.

Seluruh masyarakat dan pemerintah berkewajiban untuk menghormati, melindungi dan memenuhi hak-hak anak sejak anak masih di dalam kandungan. Anak- anak ini  juga harus dipenuhi kebutuhan dasar mereka dalam bentuk asih (kebutuhan fisik biologis termasuk pelayanan kesehatan), asah (kebutuhan kasih saying dan emosi), dan asuh (kebutuhan stimulasi dini) agar terlahir anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

Hasil sensus penduduk oleh BPS (2013) disebutkan 37, 66% atau sekitar 89,5 juta jiwa adalah anak-anak. Sepertiga penduduk Indonesia adalah anak-anak. Anak-anak ini adalah masa depan yang membutuhkan pembinaan sedini mungkin. Mereka kelak akan menjadi orang-orang yang akan bertanggung jawab kepada masyarakat, bangsa dan agama. Pelanggaran atas hak-hak anak-anak adalah sebuah bentuk dari kekerasan.

 

Kekerasan Pada Anak  

WHO mendefinisikan kekerasan sebagai penganiayaan, penyiksaan, atau perlakuan salah. Kekerasan adalah penggunaan kekuatan fisik dan kekuasaan, ancaman atau tindakan terhadap diri sendiri, perorangan atau sekelompok orang atau masyarakat yang mengakibatkan atau kemungkinan besar mengakibatkan memar/trauma, kematian, kerugian psikologis, kelainan perkembangan atau perampasan hak.

Selain perempuan, makhluk yang paling rentan mengalami kekerasan ini adalah anak-anak (Revita, 2015). Sejarahnya, tindak kekerasan pada anak atau child abuse berawal dari  dunia kedokteran. Sekitar tahun 1946, Caffey–seorang radiologist melaporkan kasus cedera yang berupa gejala-gejala klinik seperti patah tulang panjang yang majemuk (multiple fractures) pada anak-anak atau bayi disertai pendarahan subdural tanpa diketahui sebabnya (unrecognized trauma).

Child abuse merupakan tindakan melukai berulang-ulang secara fisik dan emosional terhadap anak yang ketergantungan, melalui desakan hasrat, hukuman badan yang tak terkendali, degradasi, dan cemoohan permanen atau kekerasan seksual. Salah satu bentuk kekerasan pada anak adalah kekerasan seksual.

Kekerasan seksual merupakan bentuk kontak seksual. Menurut Matlin (2008), kekerasan seksual biasanya disertai dengan tekanan psikologis atau fisik. Perkosaan merupakan jenis kekerasan seksual yang spesifik karena dalam perkosaan terjadi penetrasi seksual tanpa izin atau dengan paksaan yang disertai oleh kekerasan fisik.

Kasus kekerasan pada anak ini seperti bola salju yang dari waktu ke waktu semakin membesar. Hal demikian terjadi karena kerentanan mereka sebagai korban terlihat seperti diabaikan. Kerentanan ini terjadi akibat mereka  sering  diklaim sebagai kelompok manusia yang ‘lemah’. Usia dan faktor kematangan psikologis dan mental membuatnya kerap kali terpinggirkan dalam pengambilan kebijakan.

Sumatera Barat termasuk provinsi yang tingkat kekerasan terhadap (anak) perempuannya cukup tinggi. Dari catatan Komnas Perempuan (2015), Sumatera Barat menduduki tingkat ke-3 tertinggi setelah  DKI dan Nusa Tenggara Barat. Ditemukan 1420 kasus dengan berbagai jenis kekerasan, seperti kekerasan pada anak, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan oleh pacar, dan kekerasan terhadap pekerja rumah tangga.

Untuk kekerasan seksual, data  Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Sumatera Barat menunjukkan terjadinya 165 kasus kekerasan fisik terhadap anak dan 393 kasus pelecehan seksual terhadap anak pada tahun 2016. Jumlah ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2015 yang  terdapat 426 kasus kekerasan pada anak di 19 Kabupaten/Kota di Provinsi.

Jika dirata-ratakan, di tahun 2016 terjadi lebih kurang 10 kali kekerasan terhadap anak setiap minggu di wilayah yang berfilosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah ini. Setiap hari, 1-2 anak menjadi korban kekerasan di Sumatera Barat. Angka yang cukup fantastis.

Apakah kita tetap tinggal diam?

Jika dibiarkan, predator-predator  masa depan bangsa akan semakin merajalela. Anak-anak adalah masa depan bangsa. Perlu segera dilakukan tindakan preventif (bukan hanya kuratif) agar bayang-bayang kelabu masa depan anak-anak  bisa terhapus.

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris FIB Unand

sekaligus Peneliti dan Pemerhati tentang Anak dan Perempuan

 Sudah dimuat di Harian Padang Ekspres, 29 April 2017, Hal.4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation