Perjalanan ke kampus dari rumah biasanya dalam situasi normal saya tempuh sekitar 40 menit. Namun, saat itu saya merasa jauh lebih lama. Beberapa godaan dan ujian dalam perjalanan membuat saya  harus memperlambat laju kendaraan. Padatnya arus yang diiringi dengan beberapa perbaikan jalan menambah hiruk pikuknya suasana dalam perjalanan.

Saya yang saat itu tidak terlalu terburu dengan waktu mencoba menikmati macetnya Kota Padang. Macet adalah suasana yang sebenarnya sangat saya hindari.  Kalau berkunjung ke Kota Metropolitan, Jakarta, biasanya saya akan segera menyelesaikan aktivitas sebelum waktu sibuk dan macet. Saya merasa belum terbiasa dengan  situasi seperti itu.

Sekarang realitas ini tidak bisa dihindari karena Padang adalah tempat saya berdomisili. Macet sudah mulai menjadi sarapan pagi, makan siang, dan kudapan sore bagi saya saat harus beraktivitas di luar rumah seharian. Untuk meminimalisir tekanan kalau terjebak dalam macet, saya mencoba mengatur waktu agar tidak berada di jalan raya di waktu-waktu rush hour.

Selama menikmati kemacetan, beberapa kali saya hampir kehilangan kontrol emosi akibat pelanggaran yang dilakukan pengguna jalan. Namun, saya mencoba untuk menahan diri dengan berpikir positif. Barangkali pengendara itu baru bisa mengendarai kendaraannya. Atau mereka sedang terburu-buru sehingga harus melanggar aturan lalu lintas.

Pernah timbul pertanyaan dalam pikiran saya, apakah Padang akan ikut mengejar Jakarta dalam hal kemacetan?  Apakah laju pertambahan jumlah kendaraan  tidak bisa dikurangi sehingga arus kemacetan dapat diminimalisir?

Ataukah etika pengguna jalan raya perlu di-up grade?

Ketiga pertanyaan ini muncul silih berganti saat saya melihat ketidasesuaian aturan dengan penerapan di jalan raya. Misalnya, di saat pengendara berbelok dengan yang berjalan lurus, yang mana yang harus didahulukan. Apakah yang berbelok dulu diberi prioritas atau yang berjalan lurus saja?

Hal-hal sederhana seperti ini sepertinya mulai diabaikan oleh pengguna jalan raya. Saya ingat beberapa kali kejadian. Dalam perjalanan menuju kampus Universitas Andalas, saya melewati jalan pedestrian  yang ada median-nya. Jalan seperti ini memiliki beberapa titik untuk berbelok. Beberapa kali saya harus menekan klakson panjang untuk mengingatkan pengendara motor dan mobil yang berbelok dan berputar seenak hati.

Tidak jarang saya dikagetkan dan harus menekan rem mendadak di saat pengendara mendadak berbelok tanpa memberi tanda. Saya hanya beristigfar dan mendoakan agar umur orang itu panjang. Pernah karena saking kagetnya saya segera membuka kaca jendela dan mengacungkan jempol kepada pengendara itu.

Yang paling ironis adalah ketika dalam waktu rush hour. Panjangnya antrian kendaraan semakin diperparah oleh angkutan kota yang berhenti seenak hati. Mereka seakan-akan tidak peduli bahwa ada banyak kendaraan yang menunggu agar mobilnya berjalan. Meskipun diingatkan dengan klakson, para supir angkutan kota itu seperti pakai head set. Telinga mereka seakan-akan disumbat. Mereka seakan-akan tidak mendengar teriakan lewat klakson agar di   beri jalan.

Beberapa hari yang lalu, dalam perjalanan pulang menuju rumah dari daerah Jati, saya terjebak dalam kemacetan di daerah Alai (persis di depan pasar Alai). Daerah yang memang selalu macet hampir di setiap waktu karena adanya pembatas jalan dan supir angkot yang berhenti seenak hati di simpang traffic light menghalangi lajunya kendaraan. Kemacetan saat itu rupanya dipicu oleh adanya penebangan pohon sehingga arus jalan dialihkan ke jalur kanan. Otomatis gerakan mobil jadi merangkak.

Saya mencoba mengikuti mobil yang di depan. Tapi tidak dengan beberapa kendaraan yang justru memotong dan mengambil jalan lawan. Akibatnya arus dari arah berlawanan tidak bergerak karena jalannya terhalang oleh mobil lain.

Herannya, mobil yang mengambil jalan lawan ini seperti tidak peduli bahwa posisinya sudah sangat menganggu arus. Tidak ada upaya untuk mengalah karena banyak mobil kemudian mengikuti langkah sopir yang salah ini.

Naudzubillahimindzalik!

Ada apa dengan mereka? Apakah mereka tidak berpikir untuk kepentingan orang lain kecuali dirinya sendiri?

15740849_10210309288621700_8392832493903495073_n

Saya pikir pada saat itu semua orang pasti ingin cepat sampai di tujuan karena hari sudah beranjak sore. Namun, dengan perilaku nan sakalamak di ati  ini justru semakin memperlambat perjalanan.

Untunglah seorang polantas segera turun tangan dan mengatur lalu lintas. Akhirnya kemacetan terurai. Kehadiran polantas ini masih diakali oleh pengguna jalan lain dengan ‘mencuri’ jalur. Akibatnya polantas ini terlihat marah dan mulai naik pitam. Teriakan kemarahan sepertinya tidak dapat ditahan.

Ingatan saya melayang saat jalur by pass menuju kampus yang belum dipasang traffic light. Bandelnya pengguna jalan raya menyebabkan beberapa polantas membiarkan semuanya jadi semrawut. Saya sangat menyadari betapa lelahnya petugas dalam mengatur. Semua orang pasti ingin cepat sampai ditujuan. Namun apakah dengan melakukan pelanggaran?

Inilah yang saya maksud dengan perlunya pendidikan etika (Revita, 2016) di jalan raya. Pernah saya menyaksikan seorang pengendara motor dengan pakaian seragam kampusnya menyeberang mendadak. Kecelakaan hampir saja terjadi. Untung sopirnya ligat sehingga laju kendaraanya dapat dihentikan.

Suara rem mobilnya mencicit dengan keras. Sopir mobil itu pun tidak bisa menahan marah dan mengejar mahasiswa pengendara motor ini.

Yang lebih parahnya adalah angkutan yang berhenti persis di tengah jalan persimpangan. Walau diklakson, mereka cuek seperti bebek.

Pemandangan seperti ini barangkali banyak dialami, ditemukan, atau dilihat oleh pengguna jalan raya.  Dimana lagi hati nurani dalam berkendaraan?

Pernah suatu waktu saya mengantar kakak ke pesta pernikahan. Saya diingatkan untuk memberi jalan kepada mobil yang sudah meminta jalan. Sewaktu diberi komentar bahwa inilah Padang, saya akhirnya diberi ‘ceramah’.

Salah satu ciri orang beradab adalah ketika mereka sopan di jalan raya. Jangan bangga dengan brand  mobil atau motor yang mahal kalau etika tidak ada.

Saya menjadi teringat dalam city tour di Kuala Lumpur. Saya sangat merindukan adanya suara klakson. Tapi itu sangat jarang bahkan tidak pernah saya dengar selama di jalan raya. Kenapa demikian? Karena semuanya sudah beradab. Semuanya sudah beretika di jalan raya. Jadi tidak ada yang perlu diingatkan.

Barangkali tidak mengherankan ketika masyarakat pengguna jalan di Yogyakarta menganut prinsip orang waras tidak marah di jalan raya. Jalan yang didominasi pengendara motor tidak ribut oleh suara klakson. Kalaupun ada yang melanggar aturan lalu lintas seperti berhenti di jalur yang sebenarnya bisa jalan terus, pengendara di belakang hanya diam menunggu.

Ini pulalah yang dikomentari sahabat saya dari Korea saat dibawa city tour selama di Indonesia. Menurutnya, salah satu ciri khas Indonesia adalah suara kor klakson di jalan raya.

Sinikal memang. Tapi itulah kenyataannya. Budaya sakalamak paruik  yang masih  bertahan. Sampai kapan? Entahlah!

 

 

 

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris

FIB Unand

 Sudah dimuat di Harian Singgalang, 23 April 2017, Hal. A-5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation