Padatnya aktivitas membuat saya harus bolak-balik ke beberapa kota di Indonesia. Meskipun larut dalam kerja tetapi satu hal yang tidak bisa saya tinggalkan adalah selalu mengamati fenomena sosial yang terjadi selama berkegiatan. Tidak jarang ada hal-hal baru yang membuat saya jadi berpikir betaoa dinamisnya kehidupan di dunia.

Di awali dengan kunjungan ke Makassar hingga ke Kota Metropolitan Jakarta. Selama di Makassar, boleh dikatakan saya tidak menemukan hal yang luar biasa karena secara umum, banyak kesamaan antara Kota Daeng ini dengan Padang (Sumatera Barat) (Revita, Singgalang: 2017). Bunyi klakson di jalan raya karena ingin mendahului atau lebih dulu dari kendaraan lain adalah pandangan yang biasa. Pedagang yang berjualan di trotoar sehingga mengganggu hak pejalan kaki juga menjadi pemandangan di Kota Daeng ini.

Hal yang  sama ditemukan di Kota Padang dan Ibu Kota Jakarta. Khusus untuk Kota Padang, Bapak Walikota sudah berupaya sedemikian rupa sehingga ada pengembalian hak pejalan kaki untuk berjalan di tempat yang sudah disediakan bagi mereka. Upaya-upaya untuk membuat masyarakat nyaman dengan jalan di Kota Padang sudah mulai terlihat.

Saat berada di beberapa wilayah di Jakarta, saya merasakan kekurangnyamanan saat berjalan kaki. Ini berhubungan dengan tidak adanya space bagi pejalan kaki karena sudah diduduki pedagang kaki lima. Untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain, ada rasa khawatir akan diserempet kendaraan karena harus memakai badan jalan untuk berjalan. Belum lagi tingginya polusi udara dan bunyi menjadikan ketidaknyaman ini berlapis dua.

Saya tidak punya pilihan karena saya memang harus sering datang berkunjung ke kota ini. Suka atau tidak suka, saya hanya punya satu pilihan, yakni tetap datang.

Urusan yang terkait pekerjaan serta beberapa kegiatan ilmiah menuntun saya untuk selalu datang ke Kota si Pitung ini secara periodikal. Dari waktu ke waktu saya tidak melihat adanya perubahan kecuali bertambah banyaknya gedung dan mall.

Bagi saya ini bukan ‘sesuatu’ karena saya bukan mallkaholic. Saya lebih senang menikmati dan mengamati saat terpancarnya sinar matahari dari balik gedung yang mencakar langit. Merindukan udara segar di pagi hari seperti api yang jauh dari panggang.

FB_IMG_1476790185501

Ini berbeda halnya saat saya pagi-pagi sekali keluar dari hotel tempat menginap di Makassar. Saya berjalan menelusuri jalan protokol. Lalu lintas yang terbilang masih sepi membuat saya merasa betah memandang matahari yang muncul di balik batang pohon yang merimbuni jalan.

Saya penasaran ingin tahu keadaanya ketika jam sekolah. Namun itu tidak bisa dilakukan karena saya harus kembali ke hotel bersiap untuk kegiatan berikutnya.

Satu catatan yang saya peroleh dalam kunjungan ke kedua kota ini dalam waktu berdekatan adalah bahwa keduanya merupakan kota besar. Kesimpulan ini saya ambil salah satunya dari interaksi antarmasyarakat.

Ketika bertemu dalam satu kegiatan ilmiah, saya melihat kurangnya interaksi antarpeserta khususnya dalam situasi informal. Makassar bukanlah kota pertama di luar Sumatera Barat yang saya kunjungi. Saat beristirahat (makan siang) biasanya ada komunikasi dengan orang terdekat meskipun tidak dikenal.

Perkenalan biasanya dilakukan. Di awali dengan menanyakan daerah atau institusi asal. Dilanjutkan dengan berbagi pengalaman sampai berbagi nomor hand phone.

Inilah yang jarang saya temukan di Kota Makassar. Dari empat kali kegiatan informal (makan siang dan  rehat sore), saya belum bertemu dengan yang lazim terjadi di di saat akademisi bertemu dalam ranah akademis. Meskipun pernah saya coba tetapi tidak berhasil.

Saat itu saya duduk dekat dengan seorang perempuan berusia sekitar 30 tahun. Pembicaraan saya buka dengan menanyakan institusi asal. Pertanyaan ini dijawab tetapi kemudian terhenti begitu saja. Dalam teori komunikasi dan kesantunan dalam berinteraksi, ketika ditanya sebaiknya kita pun balik bertanya. Karena itulah yang disebut interaksi. Kalau pertanyaan datang dari satu arah namanya interogasi.

Saat itu saya menyimpulkan mungkin perempuan ini pendiam, sedang galau, atau sedang sakit gigi sehingga mengurangi berbicara. Saya kemudian mencoba cara yang sama pada orang yang berbeda di kesempatan berikutnya. Kembali saya mengalami hal yang sama.

Kesimpulan kedua saya adalah barangkali caranya salah. Saya kemudian mencobakan pada orang ketiga dengan cara yang berbeda. Masih hasilnya sama.

Saya menjadi berpikir dan bertanya. Ada apa? Kenapa?

Pertanyaan itu akhirnya saya lontarkan kepada kedua sahabat saya di Makassar. Mereka hanya tersenyum sembari menjelaskan  sesuai dengan apa yang ada dalam pikiran saya. Beberapa alasan umum adalah jawabanya.

Hal ini pulalah yang bertemu dengan saya ketika berada dalam public transportation di Jakarta. Tingginya tingkat kecurigaan pada orang asing membuat masyarakat menjadi aneh saat ada orang baru yeng terkesan ‘berakrab ria’.

Saya tidak menyalahkan sikap seperti ini karena beragamnya modus kejahatan menyebabkan orang lain memasang perilaku yang mudah curiga pada orang baru dikenal. Perilaku ini di satu sisi adalah hal positif karena bisa menjadi kontrol sosial. Justru akan menjadi aneh bagi orang-orang yang belum tahu dan tidak terbiasa dengan yang namanya cuek  atau apatis.

Dalam linguistik dikenal yang namanya konteks. Konteks menjadi wadah seseorang dalam bertutur dan berperilaku (Revita, 2013). Tanpa adanya konteks, cukup sulit bagi seseroang untuk diterima. Hal ini sejalan dengan pepatah dima bumi dipijak, di sinan langik dijunjuang. Ada adaptasi dengan sesuatu yang berbeda. Ini pulalah yang saya sebut dengan sikap ‘tarik ulur’.

Ketika bersikap tarik ulur, ada kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan kapan harus maju atau mundur. Diibaratkan layang-layang, dalam tarik ulur, seorang pemain layang-layang akan melihat arah angin. Kapan benangnya harus ditarik atau diulur. Jika benang/layangan selalu ditarik atau diulur makan berpotensi untuk putus.

Demikian juga halnya dengan kehidupan. Perlu kedinamisan. Tidak selamanya yang kita lakukan harus diterima orang lain dan dianggap benar.

Saya jadi ingat pada satu kejadian ketika berjanji dengan seorang teman. Janji itu berhubungan dengan riset yang sedang saya jalankan. Hubungan kami yang akrab menginspirasi saya untuk melibatkannya. Beberapa bulan sebelum eksekusi kegiatan, teman ini mulai dilibatkan.

Beberapa informasi terkait kegiatan mulai dibagi. Urusan administrasi mulai dipersiapkan karena khawatir birokrasi bisa menjadi pengganggu aktivitas riset ini. Beberapa hari akan eksekusi, koordinasi masih tetap dilakukan. Tipikal saya yang semuanya well organized membuat saya terkesan nyinyir untuk memastikan semuanya bisa berjalan sesuai rencana.

Sampai kemudian beberapa jam sebelum eksekusi, saya kesulitan menghubungi teman ini. Hingga the last minute saya diberitahu bahwa  orang yang akan menjadi narasumber tidak berada di tempat.

Saya menjadi speechless. Segala sesuatu yang sudah dipersiapkan menjadi berantakan. Perjalanan jauh saya terasa sia-sia. Teman ini seakan begitu enteng melepaskan amanah yang sudah diembankan kepadanya. Seakan-akan tiada rasa salah dan sesal. Dia seperti pura-pura tidak tahu saja.

Kemarahan bagi saya saat itu tidak ada gunanya. Akhirnya saya pasrah saja dengan satu keyakinan bahwa Allah sudah menjanjikan sesuatu yang terbaik  untuk umat-Nya. Yang pasti semua perbuatan ada balasan, baik kebaikan atau kejahatan. Tidak akan ada satu perbuatan pun yang luput dari mata Allah.

Karena inilah dunia. Dunia yang penuh dengan dinamika.

Semoga kita bisa berjalan dalam koridor yang benar dalam tingginya dinamika dunia ini. Aamiin.

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris

FIB Unand

 

Sudah dimuat di Harian Singgalang, 15 April 2017, Hal.A-5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation