Bertemu dengan banyak pakar dari bidang ilmu yang sama merupakan suatu hal yang sangat menyenangkan. Saya katakan demikian karena akan banyak ide-ide lahir dari hasil diskusi. Selain itu, upgrade informasi terkait topik terkini juag dapat dilakukan.

Dalam  kunjungan saya Jakarta beberapa hari yang lalu, salah satu agenda adalah menghadiri helat  linguistik tahunan yang digawangi oleh Universitas Katolik Atmajaya. Kegiatan rutin kongres mengenai bahasa biasanya ramai dihadiri teman-teman linguis, pemerhati bahasa,  dosen, dan mahasiswa.

Saya relatif jarang melewatkan kesempatan ini karena selain curious  untuk menggali informasi kajian linguistik termutakhir, kongres ini juga menjadi ajang reuni. Hal demikian terjadi karena lokasi kegiatan yang terletak di tengah Indonesia memudahkan teman-teman sesama kuliah dari berbagai wilayah di  Indonesia dulu untuk hadir.

Kami bahkan mengatur janji untuk sama-sama hadir dan menyelipkan agenda bertemu kangen sambil  berdiskusi untuk berkolaborasi di bidang linguistik. Cukup sering pertemuan ini menghasilkan kesepakatan dan ide-ide brilian dalam mempertajam dan memperdalam kekayaan akan pengetahuan tentang linguistik.

Setiap tahun, ada kecenderungan trend dalam kongres ini. Trend ini biasanya bertemali dengan situasi yang sedang hangat. Tahun 2014 lalu, banyak kajian tentang tindak tutur gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama (BTP), yang sering dinilai kontroversial.

Gaya bertutur gubernur  yang dinilai berani ini diteropong dari berbagai perspektif linguistik. Ada yang melihat ketidaksantunannya, ada yang mengidentifikasi struktur internal, dan ada juga yang menelaah dari perspektif wacana kritis.

Beragamnya ‘kacamata’ yang dipakai dalam menganalisis tuturan BTP menunjukkan betapa bervariasinya bidang ilmu linguistik. Bahwa tuturan dapat dilihat dari aspek mikro dan makro menjadi bukti nyata betapa indahnya kajian linguistik. Bahwasanya tuturan bisa dilihat dari aspek internal dan eksternalnya terbukti dari keragaman topik kajian teman-teman peserta kongres. Bahkan tidak tertutup kemungkinan  kedua aspek ini dilihat secara sekaligus.

Hal inilah yang terjadi dalam sebuah diskusi  hasil presentasi teman saya dari Yogya. Saat ini perhatian masyarakat Indonesia tersedot  pada salah satu sidang yang sedang dijalani oleh BTP. Tuntutan adanya penistaan agama dalam tuturan BTP saat berkunjung ke sebuah wilayah  kerjanya menyebabkan masyarakat muslim Indonesia menjadi terluka. Kelukaan ini salah satunya mereka ekspresikan melalui adanya tuntutan secara  hukum dan protes damai.

Berjuta-juta umat muslim berkumpul di Jakarta (Monas) untuk menyampaikan ketidaknyamanan atas  apa yang sudah dikatakan BTP. Pemahaman mereka itu satu bahwa tuturan BPT adalah sesuatu yang dinilai tidak pantas dan tepat.

Dalam pemaparan makalahnya, teman ini memulai dari diputarnya kembali cuplikan video BPT saat berbicara  di depan masyarakat Kepulauan Seribu. Video ini  di-pause oleh teman di  bagian tertentu dan dijelaskannya maksud dari potongan-potongan ini.

Ada beberapa poin yang digarisbawahi oleh teman ini, seperti humor, penuh dengan keakraban, kehangatan, tidak adanya protes, dan sebagainya. Saya sebagai bagian dari peserta merasa sedikit tidak sependapat dengan teman ini. Yang saya pikirkan adalah adanya upaya penggiringan opini peserta pada satu titik.

Teman ini juga menegaskan bahwa ketika ada pendapat yang mengatakan BPT salah adalah keliru adanya karena dinilai lepas konteks. Selain itu, menurut teman ini, tidak adanya pembedaan antara tuturan dan kalimat menjadikan pemaknaan lepas konteks dan jauh dari nilai benar.

Kolita

Saya semakin yakin bahwa presentasi ini  sudah mulai menjauh dari yang namanya objektivitas. Unsur subjektivitas mulai berinterferensi.

Sanggahan-sanggahan keilmuan pun mulai berteriak di batin saya. Hingga akhirnya sampai pada sesi diskusi. Tangan ini tidak bisa dihentikan untuk tidak diacungkan. Pergulatan batin antara keilmuan dan posisi  sebagai muslim tidak dapat diredam. Sebagai orang yang bergelut dengan linguistik dan mempelajari bahasa dalam penggunaannya (pragmatik)  membuat saya tidak bisa mendiamkan sebuah informasi yang dinilai menutupi kebenaran  keilmuan.

Secara teori, tuturan itu merupakan maujud konkrit kalimat pada konteks yang sesungguhnya. Artinya, pesan dalam sebuah tuturan sangat tidak mungkin ditangkap dengan baik tanpa adanya konteks. Konteks menjadi landasan dalam menafsirkan makna sebuah tuturan (Revita, 2013). Hal senada juga ditambahkan Revita dalam artikelnya yang dimuat Singgalang (2017)  bahwa  konteks tidak terbatas. Context is everything.

Dalam kajian Pragmatik, konteks tidak dibatasi oleh variabel-varibel yang saklek. Konteks tidak hanya dibatasi oleh penutur dan mitra tutur saja. Kondisi psikologis mitra  tutur, tingkat pendidikan mitra tutur, atau budaya juga menjadi bagian  dari konteks.

Jika Hymes (1961) menguraikan delapan variabel konteks dengan akronim SPEAKING, maka Foley (1997) membagi konteks atas budaya, sosial, dan geografis. Ketiga macam konteks Foley ini saya kembangkan dengan menambahkan dua lagi, yakni agama dan ideologi.

Konteks itu ada yang dekat dan jauh.  Pengabaian konteks untuk fungsi komunikatif bahasa sama artinya menggantung tanpa tali. Itulah sebabnya ketika berbahasa ada yang namanya disebut common knowledge. Perlu adanya kesepahaman antarpeserta tutur. Dengan kata lain, seorang penutur harus memperhatikan siapa yang menjadi mitra tutur.

Selain itu, situasi tutur seperti apakah ada orang lain  yang ikut hadir di saat tuturan terjadi ikut menjadi pertimbangan. Adalah sangat tidak tepat bila membicarakan sesuatu di depan orang ketiga tentang  hal yang dapat membuatnya tersinggung. Orang ketiga inilah yang oleh Poedjosoedarmo (1989) menjadi salah satu variabel dari konteks.

Ketika kita membicarakan penyakit seseorang yang sudah gawat di  depan  yang bersangkutan adalah sangat  tidak berterima. Maksudnya, meskipun pembicaraan tidak ditujukan ke dia, tetapi mitra tutur rasa tidak nyaman tetap akan dirasa orang ini.

Hal inilah yang terjadi saat ini. Meskipun BTP menuturkan pendapatnya di depan masyarakat suatu wilayah di Jakarta, tidak berarti masyarakat lain di  wilayah Indonesia tidak boleh bereaksi. Apalagi jika berkait dengan persoalan akidah.

Itulah sebabnya Revita (2014) mengatakan dalam pepatah mulutmu harimaumu yang aka merekah kepalamu terkandung suatu pesan untuk senantiasa berhati-hati dalam bertutur. Hal senada disebutkan sastrawan besar Taufik Ismail dalam sebuah banner yang  terpampang di dinding Rumah Puisi Taufik Ismail bahwa kata-kata lebih tajam dari sebilah pisau.

Tatkala pisau melukai tubuh, diobati dan kemudian sembuh, rasa sakit pun hilang. Tidak demikian  halnya dengan kata-kata. Saat hati sudah tersakiti dan dilukai oleh kata-kata atau bahasa, seumur hidup akan selalu teras dan diingat.

Sehubungan  dengan ini, masyarakat  Minangkabau  mengajarkan  untuak mangango sabalum mengecek. Berpikir dulu sebelum berbicara. Filosofinya adalah untuk tidak langsung memproduksi bahasa begitu takana. Ada filternya yaitu raso pareso ‘rasa dan periksa’.  Dengan demikian, potensi-potensi untuk menyakiti orang lain bisa  diminimalisir. Tragedi yang menyakitkan bagi umat pun tidak akan terjadi.

Apalagi  bila persoalan berbahasa dihadapkan kepada kita sebagai orang yang berkecimpung di dunia simbol dan makna ini. Diperlukan kejujuran agar tidak ada pelintiran atas kebenaran.

Tidak perlu disembunyikan kebenaran  atas ilmu. Apalagi dilakukan oleh orang yang memahami ilmu itu.

Sekarang semuanya kembali kepada kita. Apakah kita mau berterus terang dengan membuka kebenaran. Atau justru pelintiran menjadi pilihan. Yang pasti, setiap perbuatan  ada pertanggung jawaban.

Semoga kita terhindar dari sikap yang memelintir kebenaran untuk sebuah kepentingan.

 

 

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris

FIB Unand

Sudah dimuat di Harian Singgalang, 10 April 2017, Hal. A-11

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation