Perjalanan selama empat hari di Kota Makassar meninggalkan banyak kenangan dan kisah. Meskipun terhitung full pressed karena jadwalnya sangat padat tidak menjadikan kebiasaan saya untuk berwisata kuliner dan reliji tertinggal.

Didampingi sahabat Ibu Dr. Kamsinah Darwis beserta putrinya, Mb Rini, saya diajak keliling Kota Makassar. City tour demikian sebagian orang menyebutnya. Dengan gaya yang santai, Mb Rini, demikian saya memanggilnya, mengajak saya berkeliling Kota Daeng ini.

Kedatangan saya serasa diridhai Allah karena cuaca di Makassar sangat bersahabat. Tidak terlalu panas atau juga hujan. Padahal, beberapa hari sebelumnya Makassar diguyur hujan terus menerus.

Dimulai dengan mengunjungi Benteng Rotterdam. Benteng peninggalan Kerajaan Gowa ini berlokasi di pinggir pantai sebelah barat Kota Makassar. Karena sudah sore, kami hanya sempat berfoto-foto di depan pintu masuk.

Perjalanan pun dilanjutkan menelusuri pantai barat ini hingga bertemu dengan pantai yang menjadi ikon Kota Makassar, yakni Pantai Losari. Yang namanya pantai tidak berbeda dengan pantai di wilayah Sumatera Barat. Namun, Pantai Losari merupakan hasil reklamasi sehingga debur ombaknya tidak terdengar.

Pantai Losari dikenal juga dengan pantai yang memiliki meja makan terpanjang di dunia. Dikatakan demikian karena di sepanjang pantai ini bertebaran penjual makanan. Di sinilah saya mencicipi Pisang Epe, sejenis pisang apik kalau di Pantai  Padang yang kemudian disiram cairan gula jawa.

Di Pantai Losari ini banyak area untuk selfie karena berbagai macam tulisan, seperti Makassar atau Bugis dapat dijadikan spot untuk berfoto ria. Karena akhir pekan, Pantai Losari ini sangat ramai. Namun, dalam keramaian itu, satu hal yang menarik perhatian saya yaitu membludaknya kunjungan ke mesjid terapung saat adzan Magrib memanggil. Semua terlihat bergegas dan teratur menuju tempat ibadah ini untuk menunaikan Shalat Magrib.

Fenomena lainnya adalah terkait moda. Dalam sebuah acara di British Council, saya diberitahu bahwa alat transportasi umum di Makassar disebut dengan pete-pete. Pete-pete ini sama bentuknya dengan angkot yang ada di Kota Padang. Menurut cerita sahabat saya, Ibu Dr. Kamsinah, pete-pete ini berarti uang receh Rp. 5 dan Rp. 10 yang biasa digunakan untuk membayar ongkos. Sekarang recehan ini sudah tidak ditemukan lagi.

Selain itu, istilah pete-pete juga dikatakan berasal dari Bahasa Inggris Public Transportation (PT) yang dibaca pe-te. Entah mana yang benar, yang jelas perilaku angkutan umum apakah yang bernama angkot atau pete-pete tetap dinilai sebagai raja jalanan. Mereka menguasai jalan dan cenderung mengabaikan kendaraan lain. Artinya, baik di Padang, Jakarta, atau pun Makassar sama saja. Pengendara pribadi harus lebih banyak mengalah kepada pete-pete ini.

Yang juga menarik  di Makassar adalah pengguna jalan. Saya diberitahu Mb Rini bahwa pengendara kendaraan relatif tidak sabar. Disebutkan demikian karena hampir setiap pengendara seakan-akan berpacu untuk menyorongkan hidung mobilnya terlebih dulu. Uniknya, pengendara lain tidak marah karena sepertinya sudah ada kesepakatan. Saya tidak sempat mencari tahu apakah pengendara di Makassar memiliki slogan sepertinya di Yogyakarta yang menganggap Orang waras tidak akan marah di jalan raya.

Dalam berkomunikasi,  masyarakat di Makassar menggunakan Bahasa Indonesia dan bahasa daerah (Bugis dan Makassar). Seperti halnya masyarakat di Indonesia secara umum, bahasa daerah dan Bahasa Indonesia memiliki peran masing-masing.

Ike_Makssar2

Penggunaan bahasa daerah di Kota Makassar sama halnya dengan di daerah lain di Indonesia. Tidak jarang dalam konteks informal, bahasa daerah menjadi pilihan.

Inilah yang saya alami saat rehat dalam konferensi di UNM Makassar. Salah seorang peserta mengajak saya berbicara menggunakan Bahasa Makassar. Saya hanya tersenyum sembari meminta maaf karena tidak memahami maksud pertanyaan tersebut. Code switching segera dilakukan ke Bahasa Indonesia.

Dalam berbahasa Indonesia pun, beberapa diksi terkait pronomina masih digunakan. Terjadi interferensi sintaksis, demikian orang menyebutnya dalam istilah linguistik. Misalnya adalah penggunaan kata ganti kita. Misalnya Kita kapan presentasinya?  Penggunaan kita di sini tidak mengacu kepada penutur dan mitra tutur seperti halnya makna umum dalam Bahasa Indonesia. Justru kata kita mengacu kepada kamu.

Masyarakat Makassar menganut sistem non egaliter sehingga tercermin dalam berbahasa yang mengenal konsep speech level.  Fenomena yang tidak berbeda terjadi dalam masyarakat Jawa, Sunda, dan Bali dengan undha usuk, unggah ungguh, atau sor singgih Bali.

Salah satunya terlihat dalam penggunaan kata iye yang berarti iya. Iye memiliki level yang bervariasi. Dimulai dari iyo, iya, dan iye. Tingkatan ini dimulai dari yang dinilai kurang sopan sampai kepada paling sopan. Iye pun digunakan oleh masyarakat kelas atas berbeda dengan iyo  untuk masyarakat biasa.

Perbandingan dilakukan ke Bahasa Minangkabau yang menggunakan kata iyo  untuk maksud sama. Inilah yang jadi titik poin perhatian karena di Minangkabau tidak mengenal istilah egaliter. Tidak ada bahasa untuk masyarakat kelas bangsawan atau kelas biasa. Semuanya sama.

Perbedaan penggunaan antara iye dan iyo  tidak perlu dijadikan polemik karena masing-masingnya digunakan dalam konteks budaya berbeda. Inilah yang disebut dengan sosiopragmatik lintas budaya.

Sebagai ilmu yang mengkaji penggunaan bahasa dalam temalinya dengan konteks sosial, sosiopragmatik memandang berbedanya penggunaan iye  dan iyo  ini karena berbedanya kelompok masyarakat yang menggunakannya. Artinya, saat di Makassar, kata iye  dinilai lebih sopan. Namun, ketika digunakan di Ranah Minang, kata iyo sangatlah berterima. Tidak akan ada penilaian negatif atas digunakannya kata ini.

Sosiopragmatik memandang ini sebagai sebuah realitas berbahasa. Ketika terjadi interaksi lintas budaya, seorang penutur senantiasa memperhatikan konteks. Salah satunya adalah di wilayah mana dan dengan siapa dia bertutur. Yang paling penting adalah bahasa apa yang digunakan.

Bahasa adalah cerminan budaya. Demikian juga sebaliknya, dalam budaya tergambar bahasa yang digunakan masyarakatnya. Ini jugalah yang menjadi dasar dalam Hypothesis Sapir-Whorf.

Kedinamisan manusia dalam berkomunikasi seyogyanya terefleksi dalam interaksi lintas bahasa dan budaya ini. Tidak satu pun penutur bisa bertahan dengan bahasa dan budayanya saat berkomunikasi dengan orang yang berbeda dengan dia.

Ini jugalah yang disebut Revita (Singgalang, 2015) dengan tarik ulur dalam bertutur. Diperlukan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan konteks saat interaksi terjadi. Apakah tarik atau ulur?

Berbahasa dapat dianalogikan dengan musik. Ada beragam irama yang mesti diikuti dan dikuasai agar senantiasa diterima dalam berbagai situasi. Seperti halnya iye  dan iyo yang bermakna sama tetapi  berasal dari dua bahasa yang berbeda–Makassar dan Minangkabau. Kita tinggal memilihnya tergantung tempat dimana digunakan.

 

 

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris

FIB Unand

Sudah dimuat di Harian Singgalang 2 April 2017, Hal. A-11

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation