Kunjungan saya ke Makassar untuk melaksanakan kegiatan ilmiah meninggalkan banyak catatan dan kisah. Dimulai dari ketidaksabaran inign melihat seperti apa indahnya Kota Angin Mamiri ini. Kemudian diikuti dengan berkunjungnya ke beberapa objek wisata seperti Pantai Losari, Fort Roterdam, serta city tour  di sekitar wilayah Kota Makassar.

Satu kejadian yang jarang dan relatif belum pernah saya alami adalah terkepung dalam keramaian masa yang sedang demonstrasi. Dalam perjalanan menuju Universitas Hasanuddin, mobil yang saya tumpangi terjebak dalam kerumunan sekelompok orang berpakaian hitam dengan kepala terikat kain putih. Mereka berteriak-teriak memperjuangkan haknya.

Keramaian akibat demo di sebuah bundaran di jalan utama ini membuat sahabat saya Ibu Dr. Kamsinah Darwis menjadi cemas. Saya mencoba menikmati kondisi meski terjebak dalam kepungan para pendemo. Sambil memperhatikan tingkah polah dan tuturan mereka saat mengekspresikan keinginan saya coba cari tahu apa yang mereka tuntut.

Dari spanduk yang ada tertulis pesan agar hal mereka dikembalikan. Ada beberapa tuturan yang menarik perhatian saya, saat ada teriakan iyo  saat orator memberi semangat pada peserta demo. Begitu lepas dari kerumunan ini, karena pihak aparat sudah turun tangan, sahabat saya, Ibu Kamsinah langsung berucap, Wah, Ibu Ike jadi saksi sejarah juga nih hari ini. Saya hanya tersenyum karena bagian yang paling mengesankan adalah berada dalam kepungan demonstran tetapi tidak ada kecemasan sedikit pun.

Selain itu, penggunaan kata iyo  dalam teriakan demonstran juga semakin meyakinkan asumsi saya bahwa sepertinya ada hubungan antara Minangkabau dan Makassar (Revita, Singgalang 2017).  Keinginan untuk bertanya pada sahabat saya terhenti karena kami sudah memasuki kampus Universitas Hasanuddin yang hijau, teduh, dan memberi kesan ‘menggoda’.

Begitu sampai di Fakultas Ilmu Budaya, saya sempat bertemu dengan pihak pimpinan fakultas. Karena sudah sedikit telat dari jadwal yang direncanakan, segera saya meminta agar dibawa ke ruangan dimana kuliah umum untuk mahasiswa S1, S2, dan S3 dilaksanakan.

Yang sangat surprising adalah jumlah peserta yang tidak sedikit. Mereka juga terlihat sangat eager. Saya tidak bisa menginterpretasikan ekspresi wajah masing-masing peserta. Hanya terdengar bisikan di antara mereka bahwa mereka tidak mengira bahwa yang akan memberi kuliah itu adalah orang yang menurut mereka masih muda.

Saya hanya tersenyum kecil. Penampilan dan pemaparan yang bersifat semi formil sengaja saya buat agar interaksi dalam perkuliahan berjalan enak. Hal demikian untuk menjaga jauhnya jarak antara saya dengan mahasiswa. Dan ini memang terbukti, respon berupa banyaknya pertanyaan yang mereka lontarkan. Belum lagi pertanyaan yang terkait dengan keminangkabauan karena mereka berhadapan langsung dengan seorang native Minangkabau.

Dalam diskusi, muncul satu pertanyaan dari mahasiswa S2 terkait dengan iyo yang bertemali dengan apa yang saya amati saat terjebak dalam kumpulan orang yang sedang berdemo. Menurut mahasiswa ini, kalau dalam bahasa Minangkabau, hampir semua kata yang berakhiran a  berubah menjadi o. Salah satu contohnya iya  berubah menjadi iyo.

Kata iyo juga digunakan oleh masyarakat Makassar tetapi dinilai kasar. Justru yang sopannya adalah iye. Pertanyaan inilah kemudian menggiring saya pada jawaban pertanyaan yang ada dalam pikiran saya tadi.

Dalam proses menjawab pertanyaan, saya terlebih dulu menanyakan nama mahasiswa tersebut serta daerah asalnya. Tidak lupa saya menyapanya dengan menggunakan kata daeng yang sama artinya dengan uda (bahasa Minangkabau) atau mas (bahasa Jawa).

Di saat itu pulalah saya mencoba mengetes dengan memberi pilihan apakah si mahasiswa ini lebih senang disapa  daeng  atau mas. Rupanya sapaan Mas lebih dipilih dibandingkan dengan daeng.

Pertanyaan baru pun muncul dalam benak saya.  Kenapa? Apakah kecintaan pada budaya lokal juga sudah tergerus di Kota Daeng ini seperti halnya yang terjadi di Minangkabau dimana sapaan  mas  dan mbak lebih sering digunakan di wilayah publik dibandingkan uni  atau uda.

Rasa penasaran itu baru terjawab setelah saya sampai di Padang. Dari referensi yang dibaca mengenai penggunaan sapaan daeng dan asal usul Makassar disebut juga sebagai Kota daeng, rasa penasarana saya mulai berkurang.

Secara historis, di daerah Sulawesi Selatan terdapat dua suku besar, yakni Bugis dan Makassar. Dalam hubungannya dengan kata Daeng, kedua suku ini memaknainya secara berbeda. Dalam masyarakat Makassar, Daeng  berrarti panggilan untuk laki-laki yang lebih tua. Sama halnya dengan uda, mas atau  akang  dalam Bahasa Minangkabau, Jawa, dan Sunda.

Berbeda halnya dengan masyarakat Suku Bugis yang menilai kata daeng  itu sebagai cerminan dari kelas sosial. Dalam Suku Bugis, masyarakat dibagi atas beberap kelas sosial/strata. Pertama adalah Ana’ Arung (Bangsawan). Kedua adalah To Maradeka atau orang merdeka (Orang Kebanyakan). Ketiga adalah strata terendah yang disebut Ata atau budak. Hanya orang-orang yang dari kelas Ana’ Arung dan To Maradeka yang berhak memberikan nama gelar pada keturunannya. Sementara strata Ata tidak berhak untuk menggunakan nama gelar.

Bagi bangsawan Bugis (Ana’ Arung), gelarnya  adalah Andi, sedangkan bagi To Maradeka bergelar Daeng. Dengan demikian, panggilan daeng  dalam Suku Bugis mengacu kepada orang-orang dari kelas To Maradeka.

Realitasnya, penggunaan kata daeng sudah bermakna variatif secara sosial. Dengan demikian perlu kehati-hatian dalam menerapkan sapaan ini. Hal ini bertemali dengan berbedanya perspektif kedua suku besar, Bugis dan Makassar  ini dalam memaknai kata daeng.

Lebih jauh lagi, dalam interaksi di Kota Makassar, sapaan daeng sudah ditujukan kepada semua orang laki-laki yang dinilai lebih tua. Jadi, tukang becak, sopir pete-pete, atau laki-laki berprofesi yang dinilai umum pun dipanggil dengan daeng. Makanya ada daeng pete-pete (sopir angkot), daeng tukang becak, atau daeng kuli bangunan.

Hal ini sudah terntu memerlukan kehati-hatian dalam menggunakan kata daeng ini. Apalagi jika terjadi dalam konteks masyarakat Suku Bugis.

Ike_Makssar2

Itu pulalah yang menjadi alasan bagi mahasiswa ini untuk memilih sapaan mas disbanding  daeng karena interkasi terjadi di Kota Makassar yang secara umum tidak membedakan strata dan melambangkan perbedaan strata dalam penggunaan kata daeng. Mereka memilih sapaan yang aman  mas yang dinilai berlaku umum di seluruh Indonesia.

Empat hari berada di Kota Daeng memang meninggalkan kesan yang tidak pernah dilupakan. Indahnya pantai Losari dengan cafe di sepanjang pantai, banyaknya spot untuk berfoto, dan yang paling menarik adalah keberadaan masjid terapung di pinggir pantai yang sudah direklamasi menjadikan Kota Daeng ini semakin dirindukan untuk didatangi lagi.

Beberapa catatan terkait dengan perjalana saya ke Makassar adalah adanya beberapa kemiripan. Penggunaan iyo  dan iye yang salah satunya dinilai lebih kurang santun. Namun, setiap daerah punya kebijakan sendiri-sendiri. Meskipun iyo  di Makassar dinilai lebih kurang santun dibandingkan iye, tidak berarti Bahasa Minangkabau lebih kurang baik dari Bahasa Makassar.

Yang terjadi adalah lain lubuk, lain ikannya. Setiap daerah punya keunikan masing-masing yang harus kita katahui dan pelajari saat berkunjung ke daerah itu. Dengan demikian, tidak ada kesalahpahaman karena kita sudah memahami konteks budaya.

 

 

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris

 FIB Unand

Sudah dimuat di Harian Singgalang, 26 Maret 2017, Hal. A-11

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation