Berkunjung ke Makassar pertama kali membuat saya eager untuk mengetahui apa yang harus dan ‘wajib’ dilakukan saat berkunjung ke negeri tempat Sultan Hasanuddin dilahirkan ini. Melalui dunia maya, saya lebih dulu melongok Kota Maksaar dan segala seuatu yang terkait dengannya.

Yang pertama saya cari adalah peta lokasi tempat saya mengadakan acara. Kemudian dilanjutkan dengan  mencari tahu penginapan yang berada di sekita lokasi saya menginap. Hal demikian dilakukan sebagai pemerkayaan informasi untuk mengetahui arah kalau tiba-tiba saya berkeinginan untuk melanglang buana menjelajah kota yang kadang dipanggil Ujung Pandang ini.

Surfing  saya lanjutkan dengan menelisik objek wisata yang ‘wajib’ dikunjungi saat datang ke Makassar. Beberapa objek sudah saya catat dan diniati untuk didatangi.

Selanjutnya saya berkelana di dunia maya ini mencari kuliner yang halal dan enak. Beberapa tempat makan dengan kekhasannya masing-masing menerbitkan air liru saya untuk dicoba.

Dari keseluruhan hasil surfing ini, saya memiliki feeling bahwa tidak ada banyak perbedaan antara masyarakat Makassar dengan Minangkabau. Apalagi secara historis, dari referensi yang saya baca ada hubungan antara penamaan Kota Makassar itu dengan seseorang yang berasal dari Minangkabau.

Dikisahkan Raja Gowa Baginda Raja Tallo ke-VI Mangkubumi Kerajaan Gowa, I Mallingkaang Daeng Mannyonri KaraEng Katangka bermimpi  melihat cahaya bersinar yang muncul dari Tallo. Cahaya kemilau nan indah itu memancar keseluruh Butta Gowa lalu ke negeri sahabat lainnya.

Sampai kemudian di esok harinya, masyarakat melihat sebuah perahu kecil merapat di Pantai Tallo. Layarnya terbuat dari sorban, berkibar kencang. Terlihat sesosok lelaki menambatkan perahunya lalu melakukan gerakan-gerakan aneh. Lelaki itu ternyata melakukan sholat. Cahaya yang terpancar dari tubuh lelaki ini menjadikan pemandangan yang menggemparkan penduduk Tallo.  Cerita ini pun  sampai ke telinga Baginda KaraEng Katangka.

Pesona sosok yang dibicarakan masyarakat ini membuat Baginda sangat takjub saat bertemu. Dia hanya bisa diam dan membisu saat bertemu. Kemudian tangan Baginda diambil oleh sosok ini dan ditulisi sambil mengatakan agar memperlihatkan tulisan ini kepada seorang laki-laki yang akan merapat ke pantai.

Ike2

Laki-laki yang dimaksud sosok ini disebutkan bernama Abdul Ma’mur Khatib Tunggal yang dikenal sebagai Dato’ ri Bandang. Dia berasal dari Kota Tangah (Minangkabau, Sumatera Barat).

Pertemuannya dengan orang yang dimaksud oleh sosok di atas sangat surprising  karena menurut Dato’ ri Bandang, tulisan itu adalah Dua Kalimah Syahadat dan yang menuliskan itu adalah Rasulullah.

Berangkat dari inilah nama Makassar berawal yang  diambil dari Akkasaraki Nabbiy  yang berarti  ‘Nabi menampakkan diri’.

Baginda Raja Tallo I Mallingkaang Daeng Manyonri KaraEng Katangka kemudian memeluk Agama Islam dan bergelar Sultan Abdullah Awaluddin Awawul Islam Karaeng Tallo Tumenangari Agamana. Beliau adalah raja pertama yang memeluk agama Islam di dataran Sulawesi Selatan.

Ada beberapa versi yang berbeda yang diyakini banyak ahli mengenai asal usul dan penamaan Kota Makassar. Namun, satu hal yang dapat dicatat bahwa ada yang namanya unsur Minangkabau dalam Makassar. Dengan kata lain, secara historis, seorang Minangkabau diamanahi Baginda Rasulullah untuk membuka hati seorang raja di daerah Makassar yang kemudian menjadikan Islam sebagai keyakinannya.

Mendekati kota Makassar, saya tidak henti-hentinya menjatuhkan pandangan ke luar dari dalam pesawat. Melihat Kota Makassar dari atas membuat saya semakin curious apakah saya akan menemukan hal yang sama dengan info yang sudah dicari.

Memiliki dua orang sahabat Ibu Dr. Kamsinah dari Makassar dan Ibu Dr. Asriani dari Bone sebenarnya tidak perlu membuat saya begitu ‘berdebar-debar’. Selama ini komunikasi kami sangat baik.

Meskipun dalam interaksi yang melibatkan dua budaya berbeda, kami tetap nyaman. Bahkan saya tidak melihat adanya perbedaan menyolok dalam berperilaku di antara kami bertiga. Bahwa kemungkinan terjadinya miskomunikasi dalam interaksi lintas budaya (Revita, 2013) hampir tidak pernah terjadi. Semuanya berjalan dengan sangat baik dan smooth.

Justru yang jadi ingin tahu saya adalah bagaimana realitas sosial yang terjadi dalam masyarakat Makassar. Kedua sahabat saya yang juga adalah linguist memiliki jam terbang yang cukup tinggi. Mereka sudah kemana-mana seputar Indonesia dan Asia. Dengan kata lain, pemahaman mereka berdua akan nilai-nilai toleransi atau tepa selira tidak perlu diragukan lagi.

Bahwa ada diversity dalam komunikasi begitu manisnya mereka atasi. Melalui tuturan yang menurut saya tidak jauh berbeda dengan masyarakat Minangkabau pada umumnya (perbedaan hanya di aksen).

Tempat pertama yang saya kunjungi saat itu adalah Pantai Losari. Pantainya boleh dikatakan tidak jauh berbeda dengan pantai-pantai di Indonesia yang pernah saya datangi. Hanya, karena hasil reklamasi, Pantai Losari tidak lagi memiliki pantai.

Bertemu banyak orang di tempat umum seperti ini membuat saya mulai menegakkan telingan dan memasang mata. Memperhatikan kalau-kalau ada sesuatu yang unik dan menarik perhatian, apalagi terkait linguistik.

Yang paling mengesankan saya adalah ketika azan berkumandang dari mesjid terapung yang terletak di pinggir pantai Losari ini sangat ramai dikunjungi. Semuanya seperti berlomba-lomba untuk menjalankan kewajibannya. Saya memperhatikan bagaimana mereka dengan teratur dan patuh menjalankan arahan-arahan petugas. Misalnya untuk melepas sandal di batas suci. Tidak ada keinginan nampak untuk sembunyi-sembunyi melanggar aturan yang ada.

Saya meyakini karena ini adalah cerminan Islam. Disiplin merupakan satu ajaran dalam agama yang dominan dianut masyarakat Makassar. Dan itu tercermin dalam perilaku mereka meski di tempat wisata.

Selanjutnya, saat makan Coto Makassar. Rasanya juga mirip dengan masakan Minangkabau. Bedanya hanya di ukuran pedas tetapi tetap sama-sama spicy.  Perjalanan di hari pertama kedatangan saya ke Makassar ditutup dengan makan Pisang Epe. Pisang ini sama dengan pisang apik yang banya ditemukan di sekitar Pantai Padang. Bedanya adalah tambahan  tangguli di atas pisang yang sudah diepe atau diapik.

Itulah Makassar yang dikenal juga sebagai Kota Angin Mamiri.

 

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris

FIB Unand

Sudah dimuat di Harian Singgalang, 19 Maret 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation