Kata hipnotis menurut KUBI (2012) diartikan sebagai   membuat atau menyebabkan seseorang berada dalam keadaan hipnosis. Sementara itu, hipnosis artinya keadaan seperti tidur karena sugesti, yang pada taraf permulaan orang itu berada di bawah pengaruh orang yang memberikan sugestinya, tetapi pada taraf berikutnya menjadi tidak sadar sama sekali.

Hipnotis adalah cabang ilmu psikologi yang mempelajari pengaruh sugesti terhadap pikiran manusia. Hipnotis juga menjadi sebutan bagi  orang yang melakukan hipnosis.

Secara etimologi, hipnotis disebut hypnosis atau hypnotism yang berasal kata hypnos, nama dewa  tidur dalam mitologi Yunani Kuno. Sejarahnya, kata hipnotis pertama kali diperkenalkan oleh James Braid, seorang dokter  ternama di Inggris yang hidup antara tahun 1795 – 1860.

Sementara itu, cinta diartikan sebagai  suka, sayang, kasih, dan ingin (KUBI, 2012). Dengan demikian, ketika hipnotis bergabung dengan cinta dan menjadi hipnotis cinta dapat dimaknai sebagai upaya untuk membuat atau memunculkan rasa sayang atau kasih. Dengan kata lain, hipnotis cinta dilakukan agar atmosfir kasih sayang lahir dalam suatu ranah.

Apa yang ingin saya tuliskan dalam artikel ini terinspirasi  dari beberapa lirik lagu tentang kasih sayang. Misalnya kepada orang tua oleh group Sheila on 7 just my mom can wipe my tears, just my mom can be here, Melly Goeslaw dengan tangan halus dan suci, telah mengangkat tubuh ini, jiwa raga dan seluruh hidup, rela dia berikan  dan Opick dengan terbayang satu wajah, penuh cinta, penuh kasih, penuh kehangatan, kau Ibu.

Begitu juga syair lagu cinta kepada pasangan atau kekasih, Christina Perri dengan darling don’t be afraid I have loved you for a thousand years atau John  Legend cause all of me loves all of you dan begitu banyak lagu yang bertemakan cinta dan kasih sayang.

Berbicara tentang kasih  sayang, ada beberapa bulan yang identik dengan ini. Di antaranya adalah bulan Februari dan Desember. Jika bulan Februari ini identik dengan kasih sayang sepasang kekasih, berbeda halnya dengan bulan Desember yang di sana ada hari ibu sebagai wujud kasih saya ibu pada anaknya.

C360_2016-12-22-13-28-12-517

Di bulan Februari ini biasanya sebagian anak muda disibukkan dengan hunting kado untuk acara tukar kado sebagai perwujudan rasa kasih antarmereka. Namun bagi saya, kasih sayang itu hendaknya tidak berbatas dan terbatas. Tidak ada batasan waktu dan tempat untuk merealisasikan perasaan sayang ini.

Tiada hari tanpa yang namanya kasih sayang. Kasih sayang pada orang tua, pada sahabat, atau  pada sesama umat manusia.

Kisah kasih sayang ini mengingatkan saya pada dua kajadian. Pertama adalah kisah seorang gadis kecil. Saya pertamakali melihatnya dalam perjalanan menuju pulang dari kampus. Saat itu tidak ada yang menarik dari gadis kecil ini. Memanggul sebuah karung yang sudah kusam sambil memunguti botol plastik. Yang jelas itu adalah aktivitas seorang pemulung. Beberapa kali saya melihat gadis kecil ini berjalan di daerah yang berbeda dan cukup jauh.

Rasa penasaran semakin tinggi saat saya melihat wajah mungilnya yang teduh dan cantik. Saya menjadi penasaran. Sampai suatu saat saya melihat dia sedang mengaso di depan sebuah toko. Mobil saya ketepikan dan saya perhatikan bagaimana dia sedang asyik menikmati sebatang es lilin.

Akhirnya gadis kecil ini saya hampiri. Senyuman saya dibalasnya dengan senyum tulus. Wajah tanpa dosa itu terlihat sangat cantik apalagi dengan lesung pipit. Saya menanyakan nama dan tempat tinggalnya. Saya juga sempat menanyakan sekolahnya.

Di sinilah saya merasa terenyuh karena dia sudah tidak sekolah lagi. Jumlah saudaranya yang banyak  ditambah dengan posisinya sebagai anak tertua membuat dia memilih untuk tidak bersekolah. Rasa tanggung jawab sebagai anak tertua dan rasa sayang kepada orang tua membuat dia harus mengalah untuk adik-adiknya.

Tidak ada terlihat sesal atau pun kesedihan. Dia tetap tersenyum memperlihatkan semangat untuk membantu orang tuanya. Saya jadi speechless.  Saya tidak mampu melanjutkan tanya.

Yang ada dalam pikiran saya saat itu adalah anak seusia 10 tahun ini dan memiliki 5 orang adik sudah mampu berpikir sebijak itu. Sangat kontradiktif dengan sebagian anak-anak zaman kini.

Saya coba hubungkan dengan fenomena yang terjadi di kalangan sebagian mahasiswa. Mereka yang sudah beruntung karena lolos dalam kompetisi masuk ke perguruan tinggi negeri relatif gagal menjaga amanah dari orang tuanya.  Di saat ada kesempatan untuk memperdalam ilmu malah tidak dipakai maksimal.

Kenapa saya katakan demikian?

Contohnya adalah kejadian yang sederhana di pertemuan awak perkuliahan. Ada kecenderungan mahasiswa untuk tidak masuk alias bolos. Alasan mereka adalah mengambil jatah. Kok bolos dijatahi?

Terlihat betapa  mereka belum lagi memiliki pemikiran-pemikiran yang menunjukkan kedewasaan seorang siswa yang sudah terkategori ‘maha’’. Dalam artikel saya di Singgalang (2015) pernah saya sebutkan bahwa mahasiswa tidak hanya berarti ‘amat’ tetapi juga ‘mahal’. Kata maha dalam Bahasa Minangkabau bersanding dengan ‘mahal’ dalam Bahasa Indonesia.

Perlu perjuangan yang tidak sedikit untuk mencapai menjadi mahasiswa. Diperlukan juga pengorbanan dana yang tidak sedikit. Dengan persaingan yang ketat ditambah mahalnya biaya kuliah idealnya membuat mereka menjadi lebih bijak.

Mahasiswa bukannya berbangga-bangga dengan label yang dimaksud tetapi harus konsekwen dalam sikap dan perilaku. Senantiasa menjaga amanah orang tua dengan berlaku yang dapat mencerminkan rasa kasih sayang dan terimakasih  terhadap orang tua.

Tidak tertutup kemungkinan orang tua harus bertungkus lumus  untuk mencarikan dana bagi kuliah anaknya. Tidak jarang orang tua harus berutang sana dan sini agar uang kuliah anaknya lancar. Ada harapan dalam perjuangan orang tua.

Apakah semua itu tidak perlu dihargai?

Perlu dan sangat perlu. Semuanya berkewajiban agar rasa kasih sayang ini dapat tercipta. Semua lini– anak, orang tua, masyarakat, institusi pendidikan, pemerintah, dan banyak pihak lainnya–harus berkolaborasi agar hipnotis cinta senantiasa terpancar dalam masyarakat.

Kejadian kedua adalah ketika sekelompok orang  tua berjuang untuk memperbaiki sistem pendidikan di sebuah sekolah tempat mereka menitipkan buah hatinya untuk dididik di bidang akademi. Orang tua ini begitu getol memberi masukan untuk kebaikan semua aspek di sekolah.

Walaupun harus bertentangan dan berseberangan dengan pihak sekolah, para orang tua ini tetap gigih memperjuangkan sesuatu yang mereka yakini berdasarkan fakta dan data. Ini adalah wujud dari cinta. Ini adalah wujud dari kasih sayang untuk menciptakan lingkungan yang berkarakter untuk anak-anak mereka.

Yang jelas, apa pun namanya bentuk sebuah perjuangan, ketika dilandasi dengan tujuan untuk kebaikan dan kemaslahatan banyak umat layak diberi nilai positif. Semuanya adalah wujud dari kecintaan sehingga lahir perjuangan untuk kebaikan dan kebenaran. Semuanya karena cinta.

Selamat menebar hipnotis cinta!

 

 

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris

FIB Unand

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation