Suatu hari seorang teman menggerutu marah karena kesal oleh sikap seseorang. Kemarahan ini sepertinya tidak bisa dia sembunyikan. Teman yang selama ini saya kenal sabar terlihat seperti tidak bisa menahan amarahnya. Sampai kemudian saya mendengar teman ini menghibur dirinya sendiri dengan menyebut barangkali orang itu sudah fakir hati.

Saya sedikit terkaget dengan istilah fakir hati ini karena fakir biasanya identik dengan harta atau barang. Sekarang teman ini menggandengnya dengan hati.

Secara semantis, kata ‘fakir’ dimaknai sebagai orang yang sangat kekurangan atau orang yang terlalu miskin.  Sementara ‘hati’ adalah sesuatu yang ada di dalam tubuh manusia yang dianggap sebagai tempat segala perasaan batin dan tempat menyimpan pengertian (perasaan dan sebagainya) (KBBI, 2012).

Dengan demikian, fakir hati adalah orang yang sangat kekurangan terkait dengan  perasaan atau pengertian. Fakir hati ini juga mengacu kepada orang yang sangat miskin dengan rasa sehingga mungkin bisa disebut apatis.

Istilah fakir hati ini menggiring saya pada beberapa kejadian yang mungkin banyak dialami oleh pembaca. Yang pertama adalah ketika seorang teman berkisah atas pengkhinatan yang dilakukan sahabatnya sendiri. Pengkhianatan untuk meraih sebuah posisi dan jabatan.

Menurut teman ini, sahabat yang kedekatannya boleh dikatakan salapiak sakatiduran  dan sudah dianggap seperti saudara, tempat berkisah dan berbagi melakukan perbuatan yang tidak fair  demi sebuah posisi. Dalam pehamaman teman ini,  pengkhianatan menunjukkan bahwa hati temannya sudah tertutup sedemikian rupa.

Persahabatan yang sudah dibina belasan tahun rusak oleh hedonis dunia. Vaganza duniawi telah merasuki relung hatinya sehingga menghambat logika dan rasa.

Kisah kedua adalah seorang teman yang  merasa kecewa dengan logika berpikir   sahabatnya. Jika Revita (2015) menyebut berpikir dengan hati, teman  ini mengatakannya ‘pertemanan mencari lawan’. Persahabatan yang dibangun berbasis rasa percaya robek oleh sikap hipokrasi sahabatnya. Kembali itu karena jabatan.

Tiga kisah di atas membuat saya teringat  pada cerita sebuah film pendek yang dikirim teman lewat media sosial. Dalam film pendek ini dikisahkan seorang anak yang menocba merebut  mainan kakaknya. Kakak ini mempertahankan mainannya sehingga mereka pun tarik-tarikan. Akibatnya mainan itu jadi rusak.

Kakak ini mengeluh dan meminta adiknya meminta maaf. Si adik menolak dengan alasan tidak sengaja. Sampai akhirnya ayah mereka mereka terpaksa turun tangan untuk mendamaikan. Melalui penjelasan betapa meminta maaf bukan sesuatu yang berat dan menyakitkan, bahwa minta maaf adalah perbuatan mulia,  si adik pun mengucapkan maaf kepada kakaknya.

Sampai kemudian kejadian tidak nyaman dialami si adik ini di sebuah supermarket. Saat sedang memilih barang, seorang ibu mendorong adik ini dan terus berlalu tanpa meminta maaf.

Si adik merasa sangat tidak nyaman dan menyampaikan protes kepada ayahnya kenapa si ibu tidak mengucapkan maaf. Si ayah yang tidak mengenal ibu ini mencoba memberi pengertian untuk sabar. Namun, protes tetap disampaikan sampai akhirnya si ayah terpaksa mencari perempuan tersebut untuk meminta maaf kepada anaknya.

Yang ironis adalah perempuan ini memandang remeh atas persoalan yang terjadi. Baginya merupakan masalah sepele ketika secara tidak sengaja mendorong anak kecil ini. Maaf pun menurut dia tidak perlu diucapkan.

Dalam artikelnya yang dimuat Singgalang 2014 lalu, Revita mengatakan ada 3 kata sakti yang perlu diajarkan pada anak, yakni ‘maaf, tolong, dan terimakasih’. Ketiga kata ini bertemali dengan kedudukan manusia sebagai makhluk sosial yang membutuhkan orang lain.

Maaf  diucapkan tatkala ada perbuatan atau perkataan yang berpotensi membuat atau telah menjadikan  orang tidak nyaman. Tolong dituturkan ketika permintaan dan bantuan diharapkan untuk diberikan. Sementara itu,  terimakasih disampaikan ketika bantuan sudah diterima.

Apakah ada manusia yang luput dari dosa? Apakah ada manusia yang terbebas dari pertolongan orang lain?

Jawabnya TIDAK.

Mulai dari lahir, manusia sudah dibantu oleh orang lain. Semenjak melihat dunia, seorang manusia (bayi) sudah ‘berutang’ jasa kepada orang lain.

Sekarang, apakah kata maaf memang tidak perlu diucapkan? Apakah kata tolong dan terimakasih terlalu mahal untuk disampaikan?

Inilah yang terjadi sekarang. Bahwa yang namanya raso pareso  sudah mulai  luntur. Semuanya terlihat seperti tiada berbatas.

Adanya  orang tua, anak-anak, dan teman sebaya menjadi fenomena yang terlupakan. Karena yang ada hanya seusia sehingga ketika berbahasa dan berperilaku pun  tidak bervariasi tetapi satu. Dengan kata lain, perilaku bersikap dan berbahasa dipakai sama pada semua orang tanpa adanya pembedaan.

Kenapa hal demikian sampai terjadi?

Dalam riset yang saya lakukan pada tahun 2006 dan kembali diujicobakan di tahun 2012, terbukti bahwa perubahan mindset dan sikap ini tidak lebih dipicu oleh beberapa faktor. Di antaranya adalah tidak adanya pewarisan atau regenerasi akan nilai-nilai keberagaman itu.

Kemudian, tidak ada model yang patut dijadikan contoh. Yang terjadi adalah banyak tungkek nan mambaok rabah. Selain itu, kemajuan teknologi menjadikan masuknya nilai-nilai budaya lain tanpa dapat direm. Hal demikian terjadi karena filter itu sudah tidak ada lagi. Rem sudah blong sehingga semuanya bablas masuk tanpa hambatan.

Ketika pembiaran berjalan begitu saja, lama kelamaan akan muncul pikiran bahwa tidak ada yang salah dengan kekeliruan tersebut. Sikap permisif yang terus menerus membuat sebuah kesalahan menjadi kebiasaan dan akhirnya berujung pada keberterimaan.

Inilah fenomena kekinian. Banyak generasi muda yang raso pareso-nya mulai terkikis. Kikisan itu semakin banyak sehingga mereka mulai mendekati yang namanya kondisi kritis. Kondisi kritis ini menyebabkan hati mereka menjadi kering. Inilah yang disebut dengan fakir hati.

Fakir hati tidak hanya diderita oleh  kaum muda saja, tetapi justru paling banyak dialami oleh kaum tua. Dalam tulisan di Harian Singgalang Minggu lalu, saya katakan bagaimana seorang guru  kencing berlari tetapi masih ada muridnya yang kencing berdiri.

Attitude  pendidik mulai kabur. Namun, nilai-nilai kebaikan masih bertahan dalam diri anak didiknya. Dalam kefakiran hati, masih ada anak-anak yang kaya hati.

Ini adalah sebuah fenomena yang luar biasa.

Semoga kefakiran jauh dari kita semua. Aamiin.

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris

FIB Unand

 Sudah dimuat di Harian Singgalang, 12 Maret 2017 Hal A11

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation