Kalau di Indonesia, setiap tanggal 21 April masyarakat merayakan Hari Kartini. Demikian juga halnya di tanggal 22 Desember yang disebut dengan  Hari Ibu. Kedua tanggal ini sangan didentikan dengan perempuan.

Banyak iven bertemakan perempuan dengan perjuangannya dan kasih sayang yang melambangkan cinta seorang perempuan yang disebut ibu kepada anak-anak dan keluarganya. Di kedua hari ini, perjuangan perempuan seakan-akan di tayang ulang. Bagaimana perempuan bisa menikmati kesetaraan dengan kaum laki-laki serta bahwa perempuan adalah creature yang sangat luar biasa ditampilkan di kedua perayaan ini.

Selain di Indonesia, perayaan terkait perempuan juga banyak dilakukan di negara lain. Namun, ada satu tanggal yang sifatnya mengglobal yang terkait dengan perempua yang dikenal dengan  Hari Perempuan Sedunia.

Hari Perempuan Sedunia atau International Women’s Day dirayakan setiap tanggal 8 Maret. Di tanggal ini,  seluruh perempuan di dunia merayakan hari mereka.

Dalam pengamatan saya, Hari Perempuan Sedunia ini belum lagi memiliki gaung besar di negara kita. Hal ini bisa saja bertemali dengan telah adanya dua perayaan serupa–Hari Kartini dan Hari Ibu, yang dinilai lebih dekat dengan nilai historis dan budaya masyarakat Indonesia.

Melalui tulisan ini, tidak ada salahnya kita melirik sedikit sejarah lahirnya Hari Perempuan Sedunia atau International Women’s Day ini. Dari beberapa referensi yang saya baca dijadikannya tanggal 8 Maret sebagai Hari Perempuan Sedunia di awali oleh kisah dan kejadian di New York.

Perayaan ini salah satunya untuk memperingati kebakaran Pabrik Triangle Shirtwaist di New York pada tahun 1911 yang mengakibatkan 140 orang perempuan kehilangan nyawanya. Kemudian ada peristiwa lainnya yang terjadi pada 8 Maret 1857 di New York City. Kala itu, kaum perempuan dari pabrik pakaian tekstil mengadakan protes karena apa yang mereka merasakan kondisi kerja yang sangat buruk dan tingkat gaji yang rendah. Para pengunjuk rasa kemudian diserang dan dibubarkan oleh polisi.

Kaum perempuan ini kemudian membentuk serikat buruh pada bulan yang sama dua tahun setelah peristiwa tersebut. Di tengah gelombang industrialisasi dan ekspansi ekonomi yang menyebabkan timbulnya protes-protes mengenai kondisi kerja inilah gagasan perayaan International Women’s Day ini tercetuskan.

Oleh karena itu, untuk menghormati dan menghargai keberhasilan kaum perempuan dalam berbagai bidang, terutama bidang ekonomi, politik, dan sosial dijadikanlah tanggal 8 Maret ini sebagai sebuah hari besar yang dirayakan perempuan seluruh dunia.

Namun, sekitar tahun 1910 dan 1920-an, peryaan ini sempat menghilang tanpa alasan yang jelas. Perayaan ini dihidupkan kembali dengan bangkitnya feminisme pada tahun 1960-an. Lalu, pada tahun 1975, PBB mulai mensponsori peringatan Hari Perempuan Sedunia.

Seiring berjalannya waktu, peringatan ini semakin menggema karena semakin banyak perempuan-perempuan yang merayakannya. Para perempuan di masing-masing negara mengadakan berbagai acara yang diharapkan dapat memotivasi para perempuan untuk lebih mengembangkan dirinya sesuai dengan bidang yang diminatinya. Untuk itu,  setiap tahunnya, Hari Perempuan Sedunia selalu memiliki tema, untuk tahun 2013 tema yang diangkat adalah A Promise is a Promise: Time for Action to End Violence Against Women.

Inti tema tersebut adalah menyoroti janji-janji pemerintah dan berbagai organisasi tiap negara untuk menghentikan kekerasan yang masih sering terjadi pada perempuan di seluruh dunia, melihat banyaknya peristiwa kekerasan yang menimpa perempuan akhir-akhir ini. Seperti kasus India, mahasiswi kedokteran yang diperkosa secara brutal hingga akhirnya ia meninggal di rumah sakit karena luka-luka. Hal tersebut menimbulkan debat nasional tentang perlakuan perempuan.

Peringatan Hari Perempuan Internasional tahun 2016 mengangkat tema “Planet 50-50 by 2030: Step It Up for Gender Equality.” Menurut PBB, ide tema tersebut terkait dengan bagaimana mempercepat pencapaian agenda 2030, yang antara lain adalah kesetaraan, pemberdayaan seluruh wanita dan anak perempuan, dan memastikan pendidikan yang berkualitas dan inklusif untuk semua orang.

Dalam rangka memperingati Hari Wanita Internasional, berikut kutipan dan kata ucapan yang dapat menginspirasi tentang para wanita, seperti dilansir dari International Business Times (7/3/2016). A woman is like a tea bag – you can’t tell how strong she is until you put her in hot water. (Eleanor Roosevelt, former First Lady of the United States). Seorang wanita seperti sekantung teh. Anda tidak dapat mengatakan berapa kuat dirinya hingga anda menaruhnya di air panas.

If you want something said, ask a man; if you want something done, ask a woman. (Margaret Thatcher, former British Prime Minister). Jika anda menginginkan sesuatu, minta pada seorang pria; jika anda ingin sesuatu selesai, minta pada seorang wanita.

In our society, the women who break down barriers are those who ignore limits. (Arnold Schwarzenegger, Austrian-American actor). Di masyarakat kita, wanita yang mendobrak hambatan adalah mereka yang mengabaikan batasan.

Honor your daughters. They are honourable. (Malala Yousafzai, Pakistani activist). Hormati anak perempuan anda. Mereka adalah terhormat.

Women will never be as successful as men because they have no wives to advise them. (Dick Van Dyke, American actor). Wanita tidak pernah sesukses pria karena mereka tidak memiliki istri untuk menasihatinya.

Kutipan-kutipan di atas memperlihatkan bagaiman ssungguhnya posisi dan daya yang dimiliki perempuan. Bahwa perempuan adalah makhluk yang memiliki peran yang tidak sederhana tergambar jelas dari kutipan ini.

Dalam kaitannya dengan realitas kekininian, Revita (2015) dalam artikelnya menyebutkan bahwa ada empat peran yang relatif diemban seorang perempuan. Perempuan sebagai ibu, istri, partner suami, dan bagian dari kehidupan sosial. Namun, ada satu peran lagi yang dijalankan perempuan itu, yakni tonggak perekonomian keluarga.

Perempuan berperan multi ini mendominasi keberadaan perempuan di dunia. Meskipun demikian, dalam konteks masyarakat timur, Minangkabau khususnya, tidak ada sesal atau penolakan atas peran ganda ini. Justru perempuan Minangkabau dalam sejarahnya tidak perlu memperjuangkan yang namanya kesetaraan karena seungguhnya mereka sudah memiliki posisi yang terhormat dalam masyarakatnya.

Perempuan Minang adalah limpapeh rumah gadang. Mereka menjadi Bundo Kanduang bagi keluarga dan kaumnya.

Yang jelas, apa pun kondisinya, hendaknya tidak ada lagi tindakan kekerasan terhadap perempuan.  Dengan adanya peringatan Hari Perempuan Sedunia bisa memberi perubahan besar bagi semua perempuan yang berada di mana pun.

Perempuan tetap menjadi tiang negara. Kehancuran perempuan adalah kehancuran negara. Oleh karena itu, perempuan harus dijaga karena masa depan ada di tangan perempuan yang akan melahirkan generasi berikutnya.

Selamat kaum perempuan! Selamat Hari Perempuan Sedunia!

 

Penulis adalah

Dosen Jurusan Sastra Inggris

FIB Universitas Andalas

Sudah dimuat di Harian Singgalang 6 Maret 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation